Last updated by at .

25 OctRencana-Rencana Kecil dan Doa di Pagi Hari

secangkir kopi hitam di pagi hari, dan rencana-rencana kecil sepanjang hari. demikianlah hidup mesti dijalani

kokok bekisar di pagi hari, cericit burung meningkahi, keindahan rasa syukur, terima kasih kepada pemberi hidup yang hakiki

adalah doa: bahagia untuk semua. mengkikmati hidup, memberi makna pada detak detik napas. sebagai cinta.

Tags:

25 Octkunang-kunang beterbangan dari mata kenang

di langit yang tenang, di hitam yang lengang, lengkung bulan keemasan

kunang-kunang beterbangan dari mata kenang, dongeng masa kanak, kejernihan yang hilang, bersama waktu menua

ingatlah sebiru apa langit di saat siang sebiru itu pula kenang kembali pulang mengulang

bintang berkerlip di langit terbentang, bulan sabit mengintip, engkau menatap keluasan

di matamu kanak, cinta adalah keriangan tanpa prasangka dan pura-pura

bening dan hening, menatap dalam ke kedalaman, aku berkaca: cinta

Tags:

11 JanPuisi

Puisi

 

PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
NANANG SURYADI @PENYAIRCYBER
MEMO PADA SUATU KETIKA
tiba-tiba kau datang mengirim pesan:
datanglah, saat senja. aku menunggumu, dengan segala impianmu tentang
diriku. kau pernah berpikir bahwa aku bersayap? ya, sayapku berupa
warna-warna gemerlap. mungkin akan mengagumkanmu. mungkin tidak. karena
segalanya kau impikan. diriku diselubungi segala cahaya.
katakan, jangan menangis, padanya. yang mungkin akan kehilangan. jangan
takut. karena segala yang fana akan pudar. akan tamat.
jangan lupa, saat itu
KAU BEGITU MENYEBALKAN
sungguh, kau begitu menyebalkan. dengan impian-impianmu. dunia sudah
sedemikian susah. mengapa kau terus gaduh di situ. mari kita diam saja.
hai, mengapa kau terus mengomel? dasar pemimpi!
“tapi dunia sudah demikian tak memiliki hati. hidup menjadi lintasan
video klip. berkelebat ke sana ke mari. ledakan bom di kota-kota tak
membuat hati kita sedih. pipi cekung kanak-kanak kelaparan tak membuat
kita iba. apa yang salah pada nurani kita? mungkin telah menjadi
batu…”
sungguh, kau begitu menyebalkan, dengan pertanyaan-pertanyaan seperti
itu, membuatku malu…
BUNGA SEKUNTUM
aku ingin sematkan bunga, sekuntum, pada telingamu, agar matamu yang
hitam itu, semakin bercahaya,
ya, bunga-bunga demikan liar bertumbuhan di rumputan, padang terbuka,
mungkin tak sewangi geriap rambutmu, pada angin, menyentuh,
wajahku
ABSTRAKSI KENANGAN
lalu kau tuliskan segala kenangan, pada udara,
seperti guratan hari-hari kita, demikian abstrak,
tak jelas jelas canda atau petaka,
tak jelas nama atau bencana,
lalu, kau hapus segala kenangan,
begitu saja
ya, begitu saja
PADA AIRMATA
(kau ingin rasakan keheningan ini, seperti cucuran airmata, beterjunan
kanak-kanakmu, dalam segala moyak harapan)
sudah lama aku kehilangan air mata, tangisku menjadi api menyala,
jangan, jangan membuatku menangis, karena kota-kota sudah menjadi
puing, kanak-kanak sudah demikian damai dalam lubang besar pemakaman,
(kau ingin rasakan kesunyian ini, seperti cucuran airmata, beterjunan
aku, mencari cintamu)
sudah lama aku kehilangan cinta, tak ada yang tersisa, mungkin pada
pecahan granat atau bau bensin dan pecahan botol, tiada, tiada lagi
yang tersisa, kau lihat sepatuku, perhatikan, di ujungnya, ya merah dan putih,
darah dan sedikit cairan otak, eh ada berhelai rambut juga
(kau ingin rasakan keindahan ini seperti cucuran airmata, beterjunan
mereka, mencari cahaya)
sudah lama aku tak ada cahaya, di sini, dalam hatiku…
cilegon, 1999
DEBU DI LEKUK BENANG
pada kanvas ini, aku serupa titik, mungkin di sela, di lekuk benang,
debu? satu dalam bermilyar debu yang menghambur, menyeru: Kekasih
warna-warna dipulaskan di kanvas: bintang biru, atau pelangi pagi hari,
mungkin juga raguku
depok, 1999
EPISODE PINOKIO
boneka itu, minta menjadi manusia, pinokio, si hidung panjang. aduh,
padahal jadi manusia susah sekali. sudahlah, jadi boneka saja, biar
ditimang, biar kuelus, biar menangis, asalkan kau bukan manusia, yang
punya banyak impian dan masalah
“dan berbunuhan”, kata malaikat kepada Tuhan sebelum dicipta Adam
depok, 1999
STASI TAK TERHINGGA
      buat: eka budianta
tak hanya jakarta, chris
kudatangi negeri-negeri asing
persinggahan tak terhingga
dalam mimpiku
seorang yang mabuk kata-kata
menulis surat untukmu:
“inilah negeri itu,
kita bertatap mata,
rindu sekali”
depok, 1999
DUA PULUH EMPAT SENJA 
tataplah warna keemasan, tataplah dengan hatimu, di langit, adakah
namaku? mungkin di hatimu, kanak-kanak berlarian, dua puluh empat senja,
catatlah dalam-dalam, pada kenangan, sudah habis cucuran airmata, tiada
lagi kesedihan, atau teriakan, memecah sunyimu, dua puluh empat senja,
aku datang padamu, mengalungkan bunga, kanak-kanak yang tertawa
berceloteh, atau lelaki yang membaca, puisi begitu memabukkan,
kata-kata menjadi gelembung, aku bawakan balon warna-warni, dua puluh
empat senja, lilin yang nyala
depok, 5 nopember 1999
ROMANTISME MUSIM
:dp
Aku serasa mencium musim-musim
Bertumbuhan dalam udara
Kemarau yang hijau
Gerimis yang manja
Salju yang tulus
Daun jatuh di musim gugur
Kau ciptakan lagi dongeng
Dalam hatiku yang jauh
Mungkin telah padam
Di hembus angin
Ingatan pada engkau
Cinta, segurat luka
Tapi kucium musim
Melambai dari sunyi
Wajahmu
depok, 1999
INTRO
aku tak mengerti, katamu
pada sajak banyak ruang terbuka
terjemah kehendak, pada langit luas
atau gelombang berdentaman, dalam dada
mungkin cuma gurau melupa duka, karena
manusia menyimpan luka,
berabad telah lewat, apa yang ingin
didusta? pada bening mata
tak bisa sembunyi
pura-pura
CATATAN PADA GERIMIS
buat: dp
Pada dering, mungkin gerimis
Menyapa wajahmu
Harap yang ditumbuhkan
Katakan saja, bahwa kita membutuhkan
Mimpi itu
Menjelma
Seperti dikabarkan langit
Ketentuan itu
Seperti rimis
Menyentuh
Hidungmu
Seperti dulu
depok, 1999
TERJEMAH HUJAN
apa yang diterjemah dari hujan? senyap dan senyap
kenangan dicipta dari dingin, sepotong raut
melambailah engkau dari lampau yang biru
dari gerai rambut, mata bercahaya, ……
tak henti-hentinya, berkelindan, terajut dalam
perca bertaut,
hai, apa kabar?
hujan begitu gaduh katamu,
tapi ia adalah suaramu, begitu merdu
suaramu, dalam senyap
hatiku
cilegon-depok, 1999
SEMARAK CAHAYA
Melintas Insanul kamil
Pada jalan matsnawi, diwan dan rubayat
Sanggupkah ditatap
Semarak cahaya: O Cinta
Pecinta menari dalam kerinduan:
Adawiyah, Ibnu Arabi, Halaj, Jenar,
Sumirang, Sakhrowardi, Attar, Rummi,
Tabriz, Fansuri, Iqbal, Tagore, …..
Cahaya O Maha Cahaya
Cinta O Maha Cinta
Berjumpa
Di hati
Sendiri
depok, 1999
 TARIAN PECINTA
O Pecinta
Menarilah menari
Berputar-putar
Dengan gemulai
Keindahan Cinta
Ada yang berputar dalam atom
Ada yang berputar dalam masjidil haram
Bumi berputar
Planet berputar
Galaksi berputar
Alam Semesta berputar
Dalam Cinta
depok, 1999
INTERTEKS
Ke dalam dada merasuk teks-teks purba
Pengetahuan yang diajarkan pada Adam
Teks terbuka
Pada kitab suci
Pada alam semesta
Manusia mencari hikmah
Di balik yang nyata
Ada banyak tanya
Rahasia
depok, 1999
POTRET PANORAMA KERINDUAN
Bacalah dengan hatimu, keindahan
Panorama sekeliling,
Mungkin kata-kata tak sanggup mengungkap
Puisi
Tapi ada yang ingin berbagi
Cerita
Karena manusia adalah
Cinta
Karena semesta adalah
Cinta
Dipahat kerinduan pada
Maha Cinta
depok, 1999
DI UJUNG LORONG ADA BERKAS CAHAYA
mata, pada pelupuk, dicium angin,
manusia: mimpi, kenangan juga kesunyian, …..
hidup menjadi lorong-lorong
cahaya di ujung
pada berkas
ada harap
mungkin kekalahan juga
atau sesal
mengendap
pada tatap
atau malam
yang ratap
tapi gapai tak sampai
tangis tak usai
terjemah kehendak
atau takdir
tuhan
                                   cilegon-depok, 1999
PADA MATA KANAK
mungkin pada kanak kau temukan harapan,
embun kedamaian terangkum tangkup tangan-tangan mungil.
mata bening yang menghibur hatimu duka
tapi kanak-kanakmu tersesat di chanel televisi 24 jam,
yang mengajari mereka cara membunuh
belajar pada dentum, headline yang tebal,
pada desing, tusukan, rudapaksa, api. siapa mengaduh?
kita mungkin telah kehilangan harap pada dunia, tapi
dapatkah lari dari kehancuran
begitulah kita bermimpi…
seperti kuarungi
matamu
depok, 1999
ILUSI LELAKI
“adakah sedikit saja, untukku,” mungkin ilusi,
bagi lelaki, seperti ditatap, pada penghujung
cerita dibangun dari coretan, goresan, pada usia
mungkin namamu, mungkin bukan namamu,
tapi engkau yang tersedu,
memecah sunyiku
depok, 1999
REPORTASE NOL-NOL
serangkum sepi, perempuanku, merenggut dadaku, mata yang binar, senyum
merahasia, kota-kota, tetap saja, gelisah, seperti duka, tarianmu,
ilalang tertiup angin, mengombak, mengalun, serupa mimpi, bertabur
dalam, bertabur diam, bertabur apa, mungkin di langit, serupa bintang,
pelangi, awan kelabu, omong kosong, yang lain, tembok putih, jeruji,
helaian kertas, seonggok…
kau bunga?
hm, ke mana harummu!
depok, 1999

COBA TOREH
coba toreh, pada dada, ada apa, mungkin darah, cinta, atau luka,
abad-abad mabuk, terjungkal, beri aku apa saja, mungkin gemulai, atau
tatapan, sedingin es, atau senyuman sepanas matahari, atau tubuhmu?
(pada jamuan terakhir, seteguk anggur sepotong roti: makan dan
minumlah…)
tak seperti rummi, ternyata, tarian para peniru darwis itu, tak ada
pecinta yang sungguh-sungguh merindukan, dengan kata-kata, seperti
bibirku, berdarah dan luka, seperti kebohongan yang kusulut diam-diam,
seperti?
api yang meledakkan rumahmu, dengan sekam, dengan bara, dengan nyala,
dengan dendam tak bermata, dengan cekam, dengan geram, dengan?
tatap matamu, sungguh
menyilaukan
depok, 1999
AKU BERLINDUNG PADA ALLAH
aku berlindung pada Allah,
dari kebodohan napsu,
yang dihembuskan setiap detik waktu,
aku berlindung pada Allah,
dari kesesatan pikiran,
yang merajalela
aku berlindung pada Allah,
dari segala kegamangan,
aku berlindung pada-Mu
sungguh,
jangan tinggalkan aku
depok, 1999

DZIKIR TELEVISI
pada petang menangkup
apa yang diseru? musik berdentangan di televisi
selewat adzan, bersambung nyanyi
pada kabel didzikirkan syahwat, mencuat
pada gelas, didawamkan tipu daya
pada Engkau? begitu penat lidahku, semenit saja
inikah hamba yang mengharap sorga?
inikah manusia yang tak mau dijilat api neraka?
Allah, betapa mudah kutipu diri sendiri….
depok, 1999
HUJAN YANG TURUN SENJA HARI
mungkin engkau menangis kekasih, di ujung senja, aku tahu mengapa
tak usah lagi dikata, karena derita manusia datang sebagai coba,
mari, kita tatapi senja yang turun, bersama pelangi, langit jingga
mungkin doa, hanya doa yang pantas kita bacakan,
begitu lindap warna-warna yang ada dalam benak kita, nuansa
sebagai bayang-bayang samar,
sebuah kesaksian, sebuah impian
mungkin hanya itu milik kita
depok, 1999

GURATAN PUKUL 23.55
apa yang kau ingat, dari 23 jam 55 menit yang lalu
kaukah manusia yang merugi?
kemarin dan hari ini telah terjalani,
pada neraca akan terlihat
dan esok? masihkah kita melihat matahari
terbit dari timur
tak kutahu. sungguh tak kutahu
Depok, 2 Desember 1999

BIOGRAFI PENYAIR
        buat: arisel ba
Puisi telah mengalir dalam tubuh
Sebagai darah
Helaan napas
Ketukan jemari
Menuju Yang Satu: Allah
Di balik kata ada hikmah
Asam garam kehidupan
Juga kenangan pada: nenek, ibu, ayah dan guru
Ada seorang menulis sajak
Ia menuliskan hidupnya yang puisi
depok, 1999

KAMERA
 buat: fudzail
Wajah bangsa dipotret, mungkin redup
Tapi ia wajah kita sendiri, menyeringai
Mungkin malu
Atau kesakitan
Sungguh, teramat sulit untuk bicara jujur
Ketika ketakutan mengepung di mana-mana
Ada seorang memotret, dengan jemarinya
Mungkin wajah kita di situ
depok, 1999

SEPATU ITU MASIH DATANG, TEHRANI?

 buat: tehrani faisal
Sepatu itu masih datang,
Padamu?
Dengan derap
Yang mungkin menggetarkan lantai
Tapi tidak hatimu
Karena kekuasaan manusia
Bukan untuk ditakutkan
Karena suara sepatu
Hanya derap menggetarkan pada jalanan
Tapi tidak hatimu
Ada kawanku,
Dengan keberanian
Meyakini itu
depok, 1999
GUMAM PUKUL 23.15
sebentar lagi, ya sebentar lagi,
pada malam, keheningan yang menciptakan rindu
“ternyata kita tak lebih baik,” katamu
terlihat capek, dengan segala perasaan sia-sia
ke mana kita akan pergi, pada kelam atau silam?
wajah itu demikian kusam, tak seperti kanak
ya, tak seperti impian kita, dunia yang damai
penuh cinta, pada dongeng wonder land
tapi  ia akan datang juga
mengganggu kita, hook dengan tangan kait besi
menjangkau sayap mungil, dan menghancurkannya
tak berkedip, tak berkedip
mari kita tidur saja, semoga perompak itu
tak merampok kebahagiaan dalam mimpi kita
malam ini
depok, 1 Desember 1999

DONGENG Y2K PUKUL 23.35
merangkak detik dari 23.35 mungkin menggigilkanmu
jam akan datang pada abad 00.00
(2000 tahun manusia dirayakan, seekor kutu
terselip dalam layar monitor, ucapkan: selamat datang!)
cahaya itu begitu menyilaukan
dari mana datangnya, mungkin dari benua ketiga
(2000 tahun manusia dirayakan, seekor kutu
terselip dalam hulu ledak nuklir, ucapkan: selamat tinggal!)
“halo…halo..james,
h…a…aa..l…o ma…i…h di …siiitu?”
krrrrreeeezzzzzssskkk
mungkin itu, gemerisik terakhir
dari pesawat telponmu
depok, 1 Desember 1999

DUA DAN SATU KERINDUAN
mari,
kugenggam jemari,
engkau yang cahaya purnama,
mari menari,
dalam hari
engkau yang tertawa bahagia,
mari, ke mari
di sisiku bidadari
engkau yang ku cinta
malang, 11 oktober 1999
SUPERMAN
buat: tomita dan suhra
1.
“aku ingin jadi hero, pahlawan pembela kebenaran”, kata kanak dengan
mata berbinar,
mungkin ia dari masa lalu, seperti buku komikku menguning, seperti
louis & clark, batman dan robin, zoro, janggo, phantom, gundala, flash
gordon, ….
“aku ingin jadi super man”, kata seseorang
aku seperti pernah mendengar entah siapa bicara, mungkin lelaki,  dari
sebuah negeri yang jauh, mengatakan: “kita telah membunuhnya”
dan aku tak percaya bualnya
2.
dan ia datang padaku, membisikkan: “telah diringkus promotheus, dan ia
menjadi bait puisi, karena mencuri api, karena ia mencuri api”*

SEPOTONG SENJA DI KOTAMU
buat: medy
ada yang bercerita, tentang senja, maghrib yang lengang di televisi,
aku tatapi senja, “aduh seno, jangan kau potong senjaku… biarlah
alina..biarlah.” senja begitu indah, cahaya disela awan,
bahtiar,  mochtar, ada yang nyala di buku, seperti
mimpi
depok, 1999

LABIRINTH MUMET ATAU MOZAIK PERCA
kenangan untuk: raymond valiant
malam yang merangkak di bawah rembulan sepotong, bercangkir kopi, kita
nyalakan tanya: tentang cinta, perempuan dan tuhan?
“aku ingin lari dari belenggu harapan,” kata kinyur menunjuk erich fromm.
“dimanakah engkau wanitaku?” dedi begitu parau menyuarakan sepi, seperti
willy
ah, mengapa teks mitos dan logos terbakar. mengapa? adakah yang membenci
kebenaran? suara senyap yang menggigilkan ujung tanya
ada yang bertanya padamu: habermas, mana jalan ke frankfurt? lewat watu gong
atau betek? atau sepi perpustakaan, buku berdebu, internet yang nyala…
(ada dering di kejauhan, halo di mana kamu?)
depok, 1999

KAUKAH PEREMPUAN ITU
kau menyeru: “ibu, ibu, habis gelap terbitlah terang!*”
kaukah perempuan itu, yang datang dalam mimpi, selepas malam,
udara begitu buruk, dan kau masih tetap di situ, menulis gelap,
dengan jemarimu, yang luka
ada kuingat, perempuan di titik nol; masihkah kau ingin perdebatkan lagi
tentang clitoris yang dipotong habis,
aku begitu menggigil, seperti malam keramat, mahfoud mengabarkan perempuan yang
mendongeng, kau ingat: bayi yang ditimbun pasir, dilempar ke got, …..
ia manusia, dan
aku mencintainya
depok, 1999

DONGENG NEGERI DONGENG
pada catatan pinggir, goen, ada warna sepia? kamus terbuka, terumbu,
kersik, lokan, poci, confety, menjadi abadi? lalu berjejalan di
kota-kota semangka, sepatu, migrasi dari kamar mandi, 100 meter dari
kota ciledug, sedekat malna menulis surat untukku? atau kapak, ngiau,
rabu yang ditakik? tarji tergelak
ilalangtelahdinikahkankah rosa? serupa dingin, beringsut di angin,
mungkin sebuah perubahan, gus, mungkin serupa didaktika catur…
tapi kota-kota mulai gelap, chairil, seperti karet, karet tempatmu
y.a.d, mungkin pula pada pelabuhan tempat laut hilang ombak…
tapi ada yang bergegas, dengan tegas, saut, ke mana sobron, ke mana,
kemana wispi, ke mana iramani, ke mana mimpi itu pergi? ke mana,
hamzah, ke mana taufiq, ke mana willy, ke mana?
sobron menulis:, aku buat tape ketan, rendang, di negeri orang, wispi
dulu di nanking, iramani? coba tanyakan pram, mungkin ia tahu di mana…
heh, hamzah berdiri di senja senyap, taufiq di padang ilalang bertopi
jerami mungkin ingat umbu, atau malu menjadi orang indonesia, dan willy
duduk di samping seonggok jagung…
dan sepotong senja, di tangamu seno, serupa mimpiku, segera kan
tenggelam….
seperti
matanya
depok, 1999

DONGENG NEGERI
Jangan Kau Dongengkan Lagi Untukku
Impian Kosong
Aku Sudah Bosan Dengan Segala Janji
Aku Sudah Jemu Dengan Segala Khayalan
Kita Tak Berada Dalam Surga
Dari Barat Sampai Ke Timur
Itukah Milik Kita?
Jamrud Khatulistiwa, Indah Beraneka, Rimbun Pohonan,
Biru Lautan, Tambang Emas Permata, Siapa Punya?
Pipi Cekung, Mata Melotot, Daki Menempel, Ingus Di
Hidung, Pengap Kereta Api, Perut Lapar, Siapa Punya?
Jangan Lagi Bicara
Jika Hanya Janji Untuk Diingkari
Jakarta, 1999
CATATAN 12 MEI 1998
Anak Muda Tak Tahu Apa
Menganga Luka
Dari Senjata Siapa?
CATATAN 13-14-15 MEI 1998
Apa Yang Harus Ditulis
Dari Tubuh Terbakar
Hangus
Perangkap Menjebak
Orang Lapar
Seperti Tikus Menggelepar
Ditelan Panas
CATATAN 20 MEI 1998
Bapak, Kami Sudah Bosan
Dengan Segala Dusta
Turunlah Segera!
 AMBON
Dua Saudara Berhantam
Siapa Tertawa?
ACEH (1)
Bapak, Rencong Yang Dulu Menusuk Dada Kape
Haruskah Ditusukkan Ke Saudara Sendiri ?
ACEH (2)
Sepatu Lars Hitam,
Topi Hijau
Di Tengah Pekik Ketakutan
PETAKA (1)
sepotong roti
serentetan tembakan
senyum
siapa?
di lorong gelap
malam serasa kelam
walau api menyala
di mana-mana
jakarta, 1999
PETAKA (2)
ada yang dipecahkan, dari kenanganmu
sumpah pada kebenaran, kesejatian
“berbahasa satu bahasa kebenaran!”
lalu siapa khianat?
pat gulipat di balik punggung
tak kutahu bahasa uang
tapi molotov
siapa yang nyalakan?
jakarta, 1999
CATATAN PADA BUKU BAPAK IBU
bapak ibu, lelehan darah dan airmata
menggenang di aspal hitam,
kau catat di buku harianmu?
nama-nama siapa sepanjang pidie, ambon, semanggi,
priok
mungkin kau tahu
mungkin kau tak ingin tahu
jakarta, 1999
GUGURAN BUNGA
temanku tertembak siapa seusai unjuk rasa, di
tangannya segenggam roti,
tahun yang lalu temanku yang lain tertembak di
kampusnya,
hari-hari kemarin teman-temanku hilang begitu saja,
entah ke mana?
siapa menabur bunga baginya? bapak ibu lupa
menyampaikan salam untuk mereka. mungkin kalian lupa.
tapi tak kulupa. mereka pemberani menentang bahaya…
bunga yang gugur
bunga yang sedang mekar
tak kau catat pula di hatimu?
jakarta, 1999
TELEVISI OKTOBER
mungkin bukan musim bunga hongaria, ketika kau rayakan
kemenangan taburan pujian dan harapan, mungkin letusan
petasan atau ucapan syukur:
“interupsi!”
itukah demokrasi? impian surealis yang kau bayangkan
di tengah gemuruh demonstrasi. perdebatan di ruang
diskusi. janji di kerumunan kampanye.
“interupsi!”
lalu ada yang kecewa dan meledakannya dengan api.
karena ibu tak berdiri di mimbar. karena ibu
dikalahkan terus…
“interupsi!”
ibu berdiri di mimbar. tapi masih ada juga yang
kecewa. masih ada yang menyimpan sesal!
“interupsi!”
jakarta, 1999

OBITUARI
lelaki yang menatap malam: kesunyian, warna hitam
pada silhuet panorama,  negeri yang menangis,
orang sendiri membaca diri,……..
lelaki pemimpi: eksistensi! lalu wajah-wajah menari-nari:
marx, darwin, hegel, nietszche, jesper, camus, heideger, foucoult, walter
benyamin, adorno,……
obituari? penguburan segala kenangan. requiem sepi.
begitu lengang rumah sakit jiwa ini. juga pemakaman!
1999


sajak buat suhra
kemudian kuusap matamu: tak ada airmata!
tapi tergenang cerita masa ke masa
ada yang menari, suhra, di langit
mungkin bidadari
mari ke mari, bintang biruku
sebelum maut berpaut
: ada senyum
juga cahaya
terang sekali

MENCATAT PERPISAHAN
buat: fudzail
apa yang harus disesalkan dari sebuah perpisahan? pertemuan! kata
seseorang. bukan, karena sebuah perjumpaan menciptakan kenangan indah,
ucapkan syukur atas segala yang terberi…
“tapi aku akan merindukanmu”, katanya mengusap mata
sebuah sore, akhir pertemuan, ada yang bernyanyi: sayonara…sayonara..
sampai berjumpa pula, buat apa susah…buat apa susah…susah itu tiada
gunanya

SERIBU BULAN
ada yang mencarimu dengan tak sungguh-sungguh mencari karena
manusia ini tak pintar bersyukur tak pintar memuji tak pintar menahan
diri tak pintar mengaji tak pintar merendahkan hati karena
mungkin bengal mungkin bebal mungkin kesal mungkin sial mungkin
tapi ingin diraih bulan seribu bulan bersinar cemerlang seperti surga
seperti janjimu seperti orang-orang yang berjalan di jalan yang lempang
dan lurus
duh gusti, ajari aku, menjadi…

HAI, KATAMU (I)
hai, katamu. lalu kita bersalaman. berjabatan erat. genggaman
ketulusan. lalu kita cipta angan-angan. merangkai bulan. merangkai
mimpi. aku ingin terbang. aku ingin terbang…
“hebat, bisa terbang”, katamu
lalu kau beri aku replika pesawat. menderu-deru dalam benak kanakku.
aih, jangan cemberut begitu. bolehlah kau ikut. ke ujung dunia. ke awal
atau akhir kata. ke mana kau mau?
“emang di bulan ada coklat?”, katamu menggoda
lalu tubuhku menjadi menjadi supermarket: pasta gigi, sabun, wastafel,
sosis, …. aha! kau tertawa. mentertawakan dunia? sekarat dan sakit
jiwa
kita bergenggaman jemari. bergenggaman….
HAI, KATAMU (II)
hai, aku ingin sekejap saja memicingkan mata dari mimpi-mimpi manusia.
seperti diledakan dalam kepalaku. deretan gambar dan huruf bergetar
dari tabung-tabung: mampuslah manusia! mampuslah kemanusiaan!
aku menemukan diriku etalase benda-benda. tubuh yang hanya daging.
berdenyut. denyut. ih, mengapa dilempar ideologi ke kamarku?
sudahlah, lupakan saja apa yang kita bicarakan, seperti waktu lalu.
seperti waktu lalu…
kita susun kembali rumah pasir. kita susun lagi…
HAI KATAMU (III)
hai, apa yang bisa disembunyikan oleh manusia. tatap-Nya begitu tajam
mengiris-iris. apa yang bisa dirahasia manusia? tiada! karena gerak
tetap terlihat. karena tindak akan tercatat. karena….
kebusukan akan terbaui juga akhirnya. pada jalan sebentang. pada
jembatan timbangan. pada layar…
neraca! usia sia-sia! defisit! merugi semata!
PANORAMA KEMATIAN
engkau tersedu? waktu telah menutup
mungkin bunga di tabur
tonggak ditancapkan
serupa ingatan? musim berguguran
beringsut mendekat
perlahan menuju
engkau kekasihku? wajah dipalingkan
duh, rindu tak sampai
lintasan tak usai
karena nyala? usia dihabiskan sia-sia
depok, 1999
SEPUCUK SENJATA SEIKAT KEMBANG
karena manusia ingin kuasa
jangan lagi, kau letuskan pada hari
dustamu melantakkan kepala & dadaku
apa arti manusia bagimu? daging hidup!
pada gelembung ludah, dicipta mimpi
teror menghantu, ladang-ladang mayat
duh, berapa airmata lagi kan dialirkan?
TANYA
ada yang gelisah mengetuk-ngetuk pintu tapi langit tak terbuka bagi
pertanyaan pertanyaan seperti hitam seperti kelam seperti malam
tersaruk saruk membawa lampu dimatikan sekilat cahaya berjalan guruh di
telinga tak terdengar terang cahaya tak terlihat karena sesat menjerat
karena telah dikutuk laknat
siapa berani terombang ambing dalam gelombang tak henti henti tak
menepi tak berujung tak habis tak habis duka lara duka gelisah racauan
resah manusia
sepucuk senjata sejuta taburan bunga sekering pipimu anak-anak di
pingir pinggir disepak ke sana ke mari sebagai bola sebagai impian
busuk dan buruk
mengapa risau juga lalu tanya seperti apa tapi manusia tak punya kuasa
karena
tanya
KOTA YANG KEHILANGAN
kemudian kota-kota berguguran,
kehilangan cinta
di mana kau sembunyikan?
tak ada mimpi di sini,
milik penyendiri
di mana kau letakkan?
pada geriap rambut,
atau teduh mata
di mana kau simpan?
pada telapak sepatu
atau bianglala
di mana kau tuliskan?
sebaris sepi
atau kerinduan
duh, mengapa rahasia juga?
tanya manusia
tanya manusia!
=aiueo? kosa kata=
apa yang terbakar pada hari-harimu adalah usia sia-sia berangkat pada
senja tak tahu mengapa hendak apa menerjuni kata menerjuni dusta
berdentuman tanya menjelma apa ada gema ada suara ada sia!
tiada siapa siapa ada siapa di mana suara? pecahlah rahasia!
meluncur mendesak menekan merangsak menetak menyalak : ach! dada dada!
kehancuran! nisbi! kenihilan! beri aku tanda!
begitu gemuruh begitu luruh begitu lumpuh begitu utuh begitu: tubuh!
: tak henti-henti meruntuh
=wak wak diputar wek wek memutar mutar wak wak berputar putar=
kemudian berputaranlah engkau dalam ruang sebagai gasing berputar putar
sebagai dalam labirin berputar putar sebagai dalam gelas berputar putar
sebagai dalam botol berputar putar sebagai dalam udara berputar putar
sebagai tanya berputar putar sebagai rahasia berputar putar sebagai:
tiada!
kemudian diputar putar kelamin diputar syahwat diputar putar dusta
diputar putar curi diputar putar syak wasangka diputar putar belati
diputar putar kuda tunggangan: manusia sepotong napsu membara
kemudian memutar waktu memutar millenium memutar abad memutar generasi
memutar windu memutar tahun memutar bulan memutar jam memutar menit
memutar detik: tik..tik tiba di ujung siapa gigil siapa rintih siapa
takut siapa? nyala!
BERHENTILAH!
berhentilah sejenak berhentilah nanang jangan terus berlari mengejar
bayang bayang ke ujung cakrawala ke ujung impianmu tak ada habis
habisnya huruf dideret dileburkan dalam darah dalam airmata dalam dalam
begitulah sepi memagut cinta melarut sebagai sungai melaut melintas
berputar menguap ke udara ke udara
metamorfosis? seperti kupu kepompong ulat telur kupu: hai pertapa!
berapa sunyi maumu berapa laut hausmu berapa langit harapanmu berapa
mimpi impianmu berapa cinta pintamu
berhentilah sejenak berhentilah nanang jangan menangis lagi jangan
terus menulisi udara bertuba darah mengalir otak tercecer daki menempel
pipi kering luka menganga gelisah manusia api menyala bom meledak kanak
tersungkur
berhentilah!
GERIMIS DI HUTAN
buat: yono
sepucuk surat: hutan begitu gelap kawan, hutan begitu gelap…
lalu keriuhan hewan berdengung di pohonan, aku merindukanmu, suara
dari kesunyian
tak sanggup kutatap mata, karena cerita akan ditemu juga, berkelebat
bayang-bayang melintas, panorama
dari kegundahan
biarlah, mimpi kucipta sendiri, biarlah pada benakku sendiri, biarlah
gerimis di hutan kunikmati sendiri, seperti
sepiSila ditengok juga:

29 DecSajak-Sajak Nanang Suryadi 2011

KUCARI ENGKAU, TAPI KATAMU KAU CARI DULU DIRIMU SENDIRI

kota demi kota menyimpan jejak kakiku, kenangan demi kenangan menera peta dalam sajakku, tapi dimana diriku sendiri?

dari ceruk ke ceruk, dari palung ke palung, kucaricari rahasia diri, dimana sembunyi jawab atas tanya, o dimana?

di tanur tanur rindu cintaku ditempa, hingga muai oleh api cemburu, hingga murni, cintaku padamu

berkali-kali aku gawal dalam uji, berkali-kali kau ampuni, karena cintamu kutahu, karena cintamu. memberi arti

di puncak malam ada yang tugur, menunggu sunyi gugur, sebagai airmata yang bercahaya, melarutkan kesah ke lautan maha Cinta

Malang, 2011

DENGAN SAJAK  KUKABARKAN PUISI

 

Sajak adalah mata kanak kanak yang bening tak berdosa, temukan rahasia di balik teka teki waktu, sebuah kehendak

Kau tak dapat berbohong dengan sajak, karena sesungguhnya hatimu telah menera jejak

Jika kabar demikian samar, sajak mengajakmu untuk menebak, teka teki kehendak

Puisi telah memenuhi ruang kepalaku, riwayat riwayat yang minta dicatat, keindahan yang minta dikabarkan

Dari hati kembali ke hati, dari cinta kembali ke cinta, demikian puisi akan kembali kepada puisi, di dalam diri

Bukankah menginginkan rumah yang nyaman, demikian pula puisi, ingin layak diletak di rumah sajak

Malang, 2011

KAU MERASA MENJADI SESUATU YANG TAK KAU PAHAMI

serupa gerimis, puisi menyimpan tangismu diamdiam, turun perlahan, di malam yang tak pernah kau akui mencintai sepinya

sebuah sajak kau nyalakan di malam yang demikian rapuh, serapuh dadamu yang tak mampu menahan tangis

kau merasa menjadi malam yang tak pernah dicintai, selain dikutuk mercusuar yang sepi, laut yang gaduh dan perahu yang kehilangan arah

engkau merasa menjadi perahu kecil yang terombang ambing di laut badai di kerdip pasi cahaya mercusuar yang sepi

engkau merasa menjadi badai di laut yang gaduh memecah di pantai yang jauh menghempashempas tak henti

kau merasa menjadi mercusuar di laut badai, kerdip demikian sepi, di dalam deru, demikian pasi cahaya, demikian sepi

Jogja, 2011

 

HURUF-HURUF MENGGELETAR

langit yang lengang, udara panas, tapi aku menggigil dalam sajakku sendiri. huruf-huruf meminta dituliskan dalam darah. dalam derita airmata

huruf-huruf menggeletar menggelepar memburu jawabku: “cintamu palsu, nafsu birahi melulu! apakah kau dengar jerit pilu di lapangan eksekusi?

“masihkah engkau ingin menulis sajak cinta, saat keadilan teraniaya?” demikian sebuah suara. dan aku tergagap gila.

ya, kita terlalu banyak berbicara, memperdebatkan yang hanya bisa dirasakan, di dalam dada kita sendiri.

ada apa di luar sana, masihkah cinta diperdebatkan, udara tropis yang panas tapi aku gigil mengeja cinta yang berteka-teki

aku bayangkan ada serpihan-serpihan salju meluncur dari langit yang lengang, langit abu-abu, di saat gigil memandang jendela

Malang, 2011

MALAM MENYIMPAN AIRMATA

malam menyimpan airmata, dan mengembunkannya di pelupuk mata, matamu. serupa sajak, yang menerima kesah, tanpa menggerutu.

malam telah menegaskan kelamnya, kita menggambarnya dengan cahaya, lampu lampu berkedipan, berpendar di kejauhan

peluk aku, sebelum waktu berlalu beku, sebelum padam segala damba. peluk aku!

kita menuai ingatan ingatan, yang berlepasan, semacam rasa bahagia yang diputar kembali, dalam benak yang menyimpan senyuman

ada suara bergema dari masa lalu, denting piano, getar senar gitar, sajak-sajak yang menyimpan pedih, sejarah airmata

ada yang mengulang ulang kabar, mengeja airmata, karena cuma itu yang tersisa, mengingat jejak yang kian pudar

apa yang terlukis, mungkin gelisah waktu, detak jam dalam jantungmu, menyerunyeru

kita mengeja isyarat tanda, jejak pada sajak, mimpi di dalam puisi, wajahmu wajahku pulalah tercermin di sana

pada gigil udara kita mengeja isyarat semesta, yang mengada dan meniada, hanya satu adanya

Malang, 2011

 

Kepada Tuan Sapardi

Kanak kanak yang melipat kertas itu, kini menemuimu tuan, mencari perahunya yang terdampar di bukit, mimpimu saat itu

Hujan yang turun di bulan itu tuan, kabarkan pohon tak lagi tabah, menunggu kemarau yang tak menepati janjinya sendiri

Kanak yang membayangkan rumahmu, melukis dengan cat air: tiang listrik yang marah pada angin, “Jangan ganggu mimpi anak itu”

Siapakah kanak kanak yang membayangkan hidup demikian keras, mungkin engkau yang menggambar demikian tergesa, di dalam mimpimu malam ini

Malang, 2011

 

sungguh darimu cinta berasal, kepadamu cinta akan kembali

aku terima cintamu seikhlas hatiku, sungguh engkau maha pendengar segala keluh

segala adalah milikmu, segala adalah cintamu, aku berada di dalam rengkuhmu

jika rinduku adalah rindu yang dusta, jika cintaku adalah cinta yang dusta, tapi mengapa debar di jantungku selalu menyebut namamu?

jika mencintaimu adalah ujian, beri aku kesempatan lulus mencintaimu

jika hatiku terus bergalau, adalah ruhmu dalam diriku yang terus menyeru, merindurindu cintamu

sungguh aku teramat lelah, beri diri ketulusan berserah, di dalam pelukmu aku istirah

cintaku teramat rumit, menerjemah cintamu yang sederhana

akulah debu, dan engkau keluasan tak terhingga, aku debu yang tak sanggup menerka rahasia cintamu

berulangkali aku meruntuh, tapi cintamu tetap utuh

aku galau yang meriuh, dan engkau keheningan yang menerima segala aduh

suara suara yang diterbangkan angin, menggema di relung-relung, suara suara yang memanggilimu, rindu

doa-doa yang memenuhi langit bumi, entah berbisik entah memekik, ingin menyibak tabir rahasia: cintamu utuh

wahai, para perindu berbondong-bondong memburu cahaya, dengan sepenuh harap, kau catat: rindu yang bercahaya

karena cinta bersedih jika tanpa balas, maka jangan kau pupus harap perjumpaan denganmu. hidupku fana, tapi cintamu kekal

jangan tolak rindu cintaku, karena tanpa cintamu hidupku akan hampa, tak berarti apa-apa

aku tak akan menyeka airmata tangisku, karena telah menjadi saksi cintamu memang pantas dirindu selalu

aku menulismu dengan huruf besar atau huruf kecil, aku tahu kau tahu seberapa besar rinduku

aku telah luluh, merindumu seluruh, sebagai daun yang luruh tulus mencium bumimu menerima isyarat cintamu penuh

aku dan engkau, perindu dan yang dirindu, saling merindu untuk bertemu, walau tiada jarak cintaku cintamu

jika mata lahirku tak mampu memandang cintamu, mata batinku silau oleh cahaya cintamu. tersungkur aku, gemetar dalam sujudku

duhai, jika puisiku adalah kebohongan, maka telah tersesat aku di lembah kata-kata, mencarimu

aku peminta-minta, mengemis cintamu senantiasa, dan engkau maha kaya

jika aku selalu saja lupa dan melupakan dalam khilaf alpa, maka sungguh engkau tak pernah lupa

sajak sajak berlepasan berhamburan ingin bicara padamu, duhai awal mula kata

kalimat kalimat berlepasan berhamburan ingin bicara padamu, wahai awal mula kata

kata-kata berlepasan berhamburan ingin bicara padamu, wahai asal mula kata

huruf-huruf berlepasan berhamburan, ingin bicara padamu, wahai engkau mula segala mula

dan kesenyapan menyapa, senyap yang melebur segala gaduh ramai dalam diri, hanya airmata duhai kekasih yang dirindu cintanya

sayapsayap cahaya menerang langit cintamu, membuka fajar, harap bertumbuhan sebagai tunas yang menyapa semesta penuh bahagia

sungguh darimu cinta berasal, kepadamu cinta akan kembali

Malang, 2011

 

Kita adalah jiwa yang saling menyempurnakan

Kita adalah jiwa yang saling menyempurnakan. Aku separuh jiwamu. Kau separuh jiwaku. Kita adalah jiwa yang utuh. Setubuh

Kita belajar untuk tabah, pada mata kanak yang menatap kita penuh harap: cinta yang tulus, setulus mata itu, bercahaya

Kita lewati peristiwa demi peristiwa, peta nasib yang digambari langkah kaki: cinta yang tabah dan sabar

Kita sandarkan angan dan ingin tidak pada angin, dengan jejemari kita susun bata demi bata kebahagiaan, di rumah cinta

Kita berdekapan, cintaku dan cintamu menyatu di dalam cinta-Nya yang satu

Malang, 27 Agustus 2011


 Tiba-Tiba Aku Teringat Malna

tiba-tiba aku teringat malna. apa kabar malna? aku menggali kedalaman airmata dan menemukan orang-orang menangis: dimana diri sendiri?

hidup berputar dari huruf ke huruf, sesempit ruang tamu, ruang tidur dan kamar mandi. apakah kamu sudah mandi? memadamkan kepala dan bantal yang berasap

aku telah bertemu acep syahril, dia bilang malna ingin menulis di luar puisi. jangan menangis, seperti puisi yang tak bersedih. memang udara memar

bermainlah dengan jilan. batu-batu akan pindah ke halaman. sapi-sapi tak akan lagi melenguh mengeluhkan paru-paru penuh batu

nomer telponmu hilang. hapeku rusak terbanting. aku tak bisa kirim sms ucapkan selamat lebaran. bulan ditebak di langit hitam

apa yang kau lihat di malam lebaran malna? apakah seperti sitor melihat bulan di atas kuburan. serupa tanda. puisi yang meremang. isyarat

ah bulan, bulan yang samakah tertusuk ilalang? mungkin kau ingat garin dan zawawi. atau sapardi?

di restoran itu, aku lihat kau kenakan kalung pemberian teman. bukan ole-ole buat si pacar. ah, chairil dia menyimpan bulan memancar

apa kabar malna? aku menulis puisi dari ingatan sejarah yang melepuh. migrasi bahasa 140 karakter. ada  tardji yang kerap kusapa di sini

apa kabar?

Malang, 8-9-2011

 

Sajak Yang Bersyukur dan Merdeka

Sajakku pagi ini adalah sajak yang tak henti berucap terima kasih, rasa syukur tak terhingga, sebuah doa

Kita menunggu secercah fajar, harap yang lahir senantiasa, di penghujung malam, kita berdoa: bahagia untuk semua

Kita terus berdoa, berterima kasih, karena kita tetap manusia, yang punya harap dan cinta

Adalah gema, dalam dada, ucapkan cinta, kepada kehidupan, o manusia merdeka!

Malang, 17 Agustus 2011

 

Huruf yang Letih dan Kesunyian Penyair

menatap huruf huruf yang letih,

biarlah tertidur dalam istirah,

biar lelah lebur dalam sunyi yang mendalam

para penyair berumah di dalam puisi,

berdiam dalam sunyi

di dalam sunyi

penyair membaca makna

rahasia diri

 

di dalam sunyi

penyair menghikmati cinta

menghidmati rindu,

keabadian dan kebenaran sejati

Malang, 16 Agustus 2011

 

di sunyi itu ada yang memintamu membaca

malam kuyup dengan cahaya bulan, dan gundah ini? kuyup dengan cahaya matamu

apa yang digelisahkan dari ketiadaan? tiada. hanya kesunyian tak berbatas tepi. sepi. teramat sepi

di sunyi itu. ada yang memintamu membaca. bacalah! bacalah! dan engkau akan mengerti: Diri

Malang, 16 Agustus 2011

 

Di Pagi Hari

Kabut menyapa jalan-jalan. Kabut masih menunggu cahaya, yang akan menjemput. Bersama senyum matahari.

Di gigil udara, puisi mendaras embun ingatan, hingga cahaya menghangatkannya

Bulan di puncak bukit. Perlahan sembunyi. Ucapkan selamat pagi kepada matahari

Jalan-jalan masih menyisakan cahaya lampu, yang tak tertidur sepanjang malam. Selamat pagi. Tidurlah segera, kata matahari

Malang, 15 Agustus 2011

 

Mencintaimu

: kunthi hastorini

Aku hikmati hidup ini,

dengan mencintaimu setulus hati,

ungkapan syukur tiada henti

 

Aku hikmati hidup ini,

sepenuh khidmat, usia demi usia semoga tak tersia,

mencinta karena Maha Cinta

 

Karena mencintaimu

adalah ibadah hidupku,

mensyukuri sebuah karunia

 

Di dalam Cinta, kita berdoa

Malang, 7 Juli 2011

 

AKULAH BURUNG YANG MENYAPA SETIAP PAGI

sayapku terlalu mungil untuk mengepak jauh ke langit rahasiamu. hening yang asing. sunyi yang tak terkira

kicauku terlalu parau terlalu sengau kabarkan cinta yang remah di tangan manusia yang saling curiga. aku mematuki rahasia

paruhku yang kecil mengetuk dinding sunyimu. rahasia kehendak. garis takdir. Cintamu yang abadi, kueja berulangkali

aku hinggap dari ranting ke ranting, menerjemah gugur daun, menerjemah geliat ulat di paruhku, menerjemah embun dicium cahaya matahari di pagi hari

kau dengar kicau syairku, di halaman rumah, di pohon yang ranggas oleh kemarau, kicauku yang manis terdengar, adalah tangis

sayapku terlalu letih membentur badai tanyaku sendiri, bumi yang nelangsa, dunia yang membuatku mabuk tak berdaya

Malang, 26 Juli 2011


Akulah Air

Akulah air yang mengalir dari hulu ke hilir. Mungkinkah airmatamu? Membawa remah sampah luka manusia hingga ke muara, hingga ke lautan penampung segala kesah segala susah

Akulah air, akulah air, mengucur dari langit kenangan. Kenangmu pada airmata. Kenangmu pada cinta. Surga yang cahaya

Akulah air yang menyangga perahu perahu pengelana, dari gemericik kecil menjelma sungai sungai membelah kotamu membawa pesan gunung kepada lautan membawa pesan mata air ke gelombang lautan

Akulah air membawa saripati pegunungan, melarutkan garam kehidupan. Bagimu. Bagimu. Kupersembahkan cinta

Akulah air. Akulah air mengalir dalam tubuhmu. Mengalir dari matamu

Sebagai cinta mengalir. Sebagai rindu mengalir ke muara cintanya. Akulah air. Airmatamu!

Palembang, 2011

 

Melintasi Malam

pada buku berdebu, kau ingin membekukan waktu. karena secuplik ingatan, detik yang ingin terus tersimpan. serupa sajak, menyimpan jejak

demikian liris, demikian lirih, bisik angin pada angan. serupa rimis, menyapa miris, menitik di puncak detak. jam menggigil di dentangnya

malam kian menebal. cinta membuatnya kian bebal. dan rindu yang banal. ah, kenangan yang bengal! semakin tak kau kenal

Malang, 2011

 

MUSI MALAM HARI

Bulan mengambang

di langit lengang.

Jembatan ampera menyala di kejauhan
menyeberangkan angan

di musi yang mengalir tenang

Palembang, 2011

 

SENJA DI LANGIT LOSARI

 Senja itu menyemburat di langit. Losari yang mulai menyalakan lampu lampu.

Senja di langit losari. Ucapkan salam pada pantai. Ucapkan salam pada tiang tiang pancang. Senja. Senja

Makassar, Juli 2011

 

Losari Siang Hari

Pantai Losari bermandi cahaya matahari.

Biru laut. Laut biru. Kapal dan perahu melaju.

Hari yang cerah. Langit yang biru.

Tersenyum padamu

Makassar, Juli 2011

 

SERUPA KABUT

serupa kabut, rahasia demi rahasia, menutupi mata, siapa hendak menerka isyarat dingin menusuk sumsum tulang. o petualang sibaklah

jam-jam mendetikkan jarumnya menusuk ke dada waktu. aku terhuyung bertiktak tak henti. menuju puncak. menuju puncak. ah, letihnya

kalimatku telah demikian parau. membahasakan suara-suara bergalau. ini gebalau tak tentu. gebalau kacau menyamarkan pandangku.

suara berdengung. mendengung. mikropon rusak. spiker sengau. penjual obat dan kursi bersitegang di balik pintu menandak mabuk di atas meja.

serupa kabut. mengacau pandangku. menebal tebal di perjalanan waktu. o engkau sibakkan dengan cahaya. cahaya yang menerobos kebekuan!

Malang, 12 Juli 2011

 

RINDU YANG NYERI!

telah kutapaki usia tahun demi tahun kepedihan mengingat dan melupakan, kehilangan dan menemukan cintamu

di dinding jam berdetik, di dada jantung berdetak, membayang waktu yang fana, hidup yang sementara

di hunus tajam runcing pedang cintaMu aku menyerah

tikamlah lagi hingga ke lubuk rahasia cintaMu hingga pecah karena diriku hanya menunggu waktu menatap wajahMu

mungkin perlahan aku membunuh diri sendiri. pelan pelan kan sampai padamu. Rindu yang nyeri!

pada akhirnya aku akan mati. dan segala degup akan berhenti.

Malang, 11 Juli 2011

 

Di Usia Tiga Puluh Delapan Tahun

aku mengucapkan terima kasih, atas segala kasih yang kuterima, cinta yang selalu menyala di dalam dada

aku pungut tangis dari matamu, kita yang berbeda, menemu yang sama dalam airmata

Malang, 8 Juli 2011

 

Serupa Jarum Yang Menghujan

serupa jarum menghujan suatu ketika, kenangan meluncur tak habis-habis dari langit masa lalu, ingatan tak henti memutar bayang

jarum-jarum yang meluncur menancap di kepala, bayang memutar, ingatan seperti sekeping cakram yang memutar film berganti ganti: tawa tangis sedih gembira

menari di dalam ingatan yang berputar dalam kepala, dan kenangan merajam menghujani dengan jarum-jarum ke dalam benak

ingatan tetap menghujanimu dengan jarum-jarum. kenangan o kenangan menghujan hujan. dan engkau menari dengan pedihnya

o kenang yang menghujan!

Malang, 31 Mei 2011

 

 

Serupa Pohon

serupa pohon, tak inginkah hidupmu mengakar? serupa pohon tak inginkah riwayatmu berbuah lezat. dan kami semua berterima kasih

mungkin ingin kau rencanakan riwayat khianat, tapi kami akan segera tahu. jika kamipun tertipu, tapi kau pun tahu Tuhan tak pernah akan tertipu

jadilah pohon yang baik, riwayat yang tak henti dikenang doa-doa

Malang, 31 Mei 2011

 

PRANG!

benderang terang siang yang garang. adakah yang sedang membayang kenang? hingga angan menjalang menyalang ingin menerjang terjang.

melayanglah melayang angan menerbang terbang ke awan tinggi ke langit harap menjulang julang hingga menyeberang gegap mengerang hilang

serupa cenayang melihat bayang membayang bayang di cermin yang timbul hilang berseru seru: o sayang o sayang tak kau pandang diriku meriang?

tak usahlah berang serupa berang-berang mengamuk menabuh genderang menarik temberang layar kapal perang

Malang, 31 Mei 2011

 

Kau Bangun Dinding

:bagi para penguasa yang menjauh dari rakyat

dan jarak sanggupkah engkau mengukurnya, dinding yang dibangun terlalu tebal untuk bisa menjangkau hati yang menyimpan cinta

dan batas sanggupkah engkau melintasinya, karena bara api menyala, mendidihkan isi kepala

ada yang mengaduh, aduhnya sampai ke bulan. ada yang memendam pedih, mendungnya menutup cahaya matahari

Malang, 30 Mei 2011

 

Malam yang ditikam Sepi

malam rebah, takluk pada sunyi. diam yang tabah, menakluk bunyi.

malam ditikam sepi tikamannya sampai ke lubuk hati puisi

aku berdiam pada semesta tanda, terjemahkan isyarat dari kedalaman jiwa

Malang, 30 Mei 2011

 

Karang Yang Mengeluh Rapuh

gelombang menghantam-hantam karang yang merapuhrapuh duh kenapa hanya keluh? sepercik keluh menggelombang kian kemari

jika engkau adalah menara mercu suar, mengapa lampumu padam, tak kau tunjukkan arah para pelaut? hingga kapal-kapal akan karam di karang

tak perlu airmata itu, jika untuk dirimu sendiri! setiap kali kami bertarung dengan gelombang hidup, apakah engkau peduli?

kami gusar dengan kesulitan hidup, engkau gusar dengan bayanganmu sendiri

kami harus megap-megap di lautan lumpur, lautan kemiskinan engkau dimana?

baiklah, tak ada yang perlu ditanyakan lagi. kami tahu, dan berbelas kasihan kepada orang yang mengasihani diri sendiri.

Malang, 30 Mei 2011

 

Menatap Cermin Diri Dinihari

apakah aku ada? aku bayang bayang jika cahaya ada

yang sunyi. yang sunyi. menatap cermin diri. di tepi dini hari

aku ingin diam, karena hati dan otakku cerewet sekali

aku menadah embun, langit luas tak terkira heningnya

dinihari menunggu matahari menjemput embun di pagi hari

segala akan tiada, segala akan kembali ke asal mula

Malang, 30 Mei 2011

 

Kepada Para Pembaca Puisi

aku ingin menyapamu dengan kata-kata yang tak mudah dilupakan, kata-kata yang dipungut dari jemari waktu yang ingin kekal

aku bersandar di dinding angin. angan yang melepuh di terik matahari. hidup sukar dimengerti, pun cinta yang bertekateki

jika di dalam dadamu ada sumber mata air, mengapa tatap mata mendidih oleh marah? serupa bumi yang resah, ingin muntah

berlabuhlah angan, di pelabuhan mimpi, berlabuhlah di dermaga yang menunggu. pelaut yang lelah menerjang badai, istirahlah

Malang, 23 Mei 2011

 

Di Larut Malam, Mengapa Kuingat Neruda Menulis Sajak Kesedihan?

detak jam, detak jantung, berganti ganti, di puncak malam, hening adalah jeda, detak demi detak, membuatmu terus terjaga

mengapa tak kau tulis saja sajak tersedih, hingga tak tersisa lagi airmata dari kata, hingga sempurna pedihnya!

malam telah larut, telah larut jugakah segala kenang? ke dalam mimpi, ke dalam mimpimu

di dalam mimpi, ada yang melayar, layar yang berkibar kibar, mengabar kabar, menahan debar

selamat malam, huruf huruf memburu langit, temaram yang demikian lapang

tapi mungkin bukan dirimu yang menorehkan kata luka, di langit malam. karena heningnya demikian bersahaja

jam jam tak lagi mengaduh, detaknya bertingkah dengan degup, semacam gugup? cahaya yang meredup

pernahkah engkau berdoa. dan detak jam mengaminkan tetes airmatamu?

rasakan keheningan itu, rasakan malam yang memberat di pelupuk mata, memberat dengan ingatan ingatan

malam, seribu bayang bayang, malam, semayam kenang, malam, selamat malam. dan bayang dan bayang!

Malang, 23-24 Mei 2011

 

angan membakar, jiwamu sepi

ah, jiwa yang hampa, melayang di langit mimpi, angan membakar, jiwamu sepi

sesayap patah, sesayap mengepak lelah, di mana tuju kiranya!

apakah ini senja penghabisan? petualang tak ingin segera pulang. sebelum sampai pada airmata!

para petualang menapak di awan di awang-awang menari-nari di gelombang garang. sambil berteriak: mana mautku! mana cintaku!

mereka telah belajar memanah matahari. yang teriknya demikian pongah. mereka telah berburu ajalnya sendiri.

ujar mereka: dapatkah kau bedakan laut atau langit? karena di birunya aku tangkap paus yang terbang. karena di birunya burung berenang

ah, engkau yang tak tahu arah, berburu ke lembah-lembah, membawa lembing panah kata, bertualang dari mimpi ke mimpi, dari ilusi ke alusi

kau tahu, hanya sepi dan sepi yang dapat dijangkau!  seperti dalam racau yang tak habis, dalam galau yang tak selesai. sepi. cuma. sepi

sepi yang kemarau. sepi yang penghujan. sepi yang bermusim-musim. sepi yang menjalar gatal di seluruh tubuh. selalu ingin digaruk.

sepi yang mengamuk: mengutuk kutuk!

ah, jiwa yang hampa, melayang di langit mimpi, angan membakar, jiwamu sepi

Malang, 23 Mei 2011

 

hidup memang telah terlalu rumit, dan aku ingin yang sederhana saja

hidup memang telah terlalu rumit, dan aku ingin yang sederhana saja

tak ada yang perlu kita khawatirkan, sejauh jalan terbentang, kita selalu bersama, menempuh leliku hidup

kemana kita akan pergi? harap adalah kaki cakrawala yang selalu menjauh,

tak ada yang perlu kita khawatirkan, biarkan dunia berdusta, cinta kita tetap jujur adanya

kau tahu, di dalam puisi tak ada yang bisa sembunyi, karena kata selalu membuka rahasia hati kita

kita berada pada jeda demi jeda, perhentian demi perhentian, hidup hanya seteguk teh, kita akan pergi lagi

jiwa kita jiwa yang merdeka, jiwa yang merdeka menentukan jalannya

namun ke dalam cinta-Nya kita akan kembali

Malang, 19 Mei 2011

 

ada gempa di kepalaku

 

ada gempa di kepalaku. ada gempa

gempa menggoyang goyang isi kepalaku. pengetahuan muntah!

ada yang bergoyang dalam kepalaku. perahu oleng

dimana banjir itu? pengetahuan yang meledak di angkasa sepi

serupa gelembung yang ditiup. meledak di langit yang hitam. tak ada suara. kau dengar? ada gempa di kepalaku

bidiklah setepat mungkin: bulan bundar kuning keemasan. di langit yang hitam. bikin terangnya semakin benderang.

tapi kepalaku bergoyang. gempa menggoyang-goyang kepalaku. kakiku lunglai. goyah lemah. tak bisa membidik rembulan. tak

aku merangkak. di puing-puing ilmu pengetahuan. big bang pertama. big bang kedua, big bang ketiga. aku meledak!

rasakan sunyi. raskan sunyi tak terhingga. demikian sunyi. hingga ada kata. kata yang membuat ramai semesta.

demikianlah. segala yang sunyi akan kembali ke sunyi tak terhingga. tak terpeta di sunyi mana pun juga.

demikian sunyi. di dalam kepalaku ada gempa. tak kau dengarkah?

Malang, 18 Mei 2011

 

Masih Kau Ingat Mei 13 Tahun Lalu?

 di bulan mei, masihkah kau ingat cinta yang terbakar di kerusuhan itu

hanya cinta yang dapat menumbangkan tirani! karena kebenaran dan hati nurani, cinta bermula

ya, hanya yang ingin melupakan cinta, tega aniaya!

Malang, 12 Mei 2011


demi waktu. demikian waktu

di keluasan semesta, kita hanya debu, setitik di detik yang fana

pernahkah kau bayangkan, kita ada di dalam setitik embun yang jatuh dari daun itu. menunggu sirna dicium cahaya matahari

di detik itu mungkin ada detak yang ingin kau rasakan, semacam ingatan dari masa lalu, sebelum waktu menaklukkan

di lubang hitam waktu berhenti, dan kita abadi, ketiadaan yang abadi

demi waktu. demikian waktu

Malang, 11 Mei 2011

 Insomnia: Ada yang berloncatan di dalam kepala 

dapatkah kau bedakan suara jangkrik dan ular di malam hari?

malam tak benar benar senyap, kucing mengeong berkelahi di atap rumah tetangga

di dalam kepalaku ada penyair membaca puisi

tidurlah! kata penyair membacakan puisinya di dalam kepalaku yang semakin berat, menahan pusing

jangan bermain perkusi dalam kepalaku!

haha. malah peta peta digambar, peta nasib, geografi diri, anatomi pengetahuan

malam yang melantur melentur melenting di lampu yang redup membentur bentur mimpi yang tak mau tidur

aku enggan menyapamu! suara suara bercakapan sendiri, menjawab, bertanya, menjawab, hahahihi

yup! mulai. gergaji menggergaji hutan hutan tumbang dalam kepalaku. palu palu berdentangan memukul paku paku. sabit memotong langit

jangan genit ah! kata kata bersolek untuk apa? dipulas poles tak habis, akan secantik semolek apa? Kata!

malam malam begini, dapatkah kata mencipta nasi goreng atau mie instan rebus, spesial pakai telor? sia sia permintaan kala sepi begini

hei, gergaji tidurlah! palu tidurlah! sabit tidurlah! jangan terus bekerja di malam hari. tidur, di dalam kotak perkakas dalam kepalaku

tak ada yang peduli. tak ada. semua bermain-main seenaknya dalam kepalaku. mereka bilang: BIAR!

11 Mei 2011

 

DONGENG PENYAIR

; arthur rimbaud

mendongenglah tentang penyairmu itu, yang berlari di tengah hutan belajar menulis puisi

seorang penyair, masih belasan tahun umurnya, usia birahi pada kata kata

dia terus berlari berkilometer jauhnya menembus hutan, hanya untuk sebuah kata yang ingin ditulisnya, birahi cintanya

dia memungut kata dari luka, onak duri menusuki tubuhnya, dia terus berlari, menembus kabut di pagi dan senjahari, hutan yang gelap

satu kata dua kata tiga kata seribu kata sejuta telah terkumpul dalam kitab di kepalanya. kata kata berpesta pora

kau tahu, penyair itu akhirnya pergi, dari hutan kata kata, karena katanya: itu hanya permainan kanak, usia remaja

ia tak lagi peduli pada kata. tak peduli namanya disanjung dipuja, penyair penemu kata. dia berkelana, menjadi pedagang budak saja

sesekali ikut berperang, membawa senjata api, membawa sangkur belati. dan mati. sekian

Malang, 11 Mei 2011

 

aku adalah cahaya, di dalam mimpimu

kumasuki negeri-negeri asing, di mana entah, mungkin dalam kepala yang menyimpan dongeng,

kita adalah para pendongeng, yang menyimpan ingatan, sekecil apapun peristiwa,

terkalah dimana akan berakhir cerita, terkalah, hingga dipahami segala, mungkin mimpimu menjelma

aku ingin mendongeng untukmu, dongeng yang entah, dongeng yang tak pernah ada, hingga kau takjub

mungkin tentang engkau yang menelusur jalan ke cakrawala, membusurkan harap ke bintang-bintang yang jauh,

aku ingin dongeng yang selalu berbahagia, mungkin bunga-bunga mekar, atau cuaca yang selalu cerah ceria, katamu

mari, aku dongengkan tentang malam yang pekat, dan setitik bintang, terang yang nyata di kelam langit

sebutir bintang di langit yang hitam, cahayanya sampai di matamu, mungkin rindu yang diisyaratkan, dari balik waktu

dari balik waktu, dari bilik waktu, merambat cahaya secepat cahaya, ukurlah jarak rindu terjauh,

cahaya yang berbeda, cahaya yang hanya ada di dalam sebuah mata, penuh cinta

mari kita tafsirkan isyarat, kerdip cahaya, bintang di kejauhan: bunga-bunga yang mekar, wewangian murni, harum tubuhmu

jangan lekas tertidur, dongengku belum selesai, atau mungkin kau bosan? mendengar dongeng di dalam kepalamu sendiri

penunggang cahaya, pangeran yang merindu cahaya mata, mengisyaratkan rindu, dengan titik debu bintang, kerdip yang sampai

di matamu cahaya berenang-renang, kesenyapan yang menghisap segala kenang, dari balik waktu, dari bilik waktu, cahaya

dan aku adalah cahaya, di dalam mimpimu, yang mendongeng malam ini, untukmu

Malang, 5 Mei 2011

 

Langit Hitam

langit hitam, langit hitam, bintang bersemayam
langit malam yang hitam, bintang kecil berkelip di kejauhan

malam beranjak malam beranjak dalam diri merangkak kelam ke dalam hitam ke dalam kelam langit hitam

Malang, 4 Mei 2011
Akulah Syair, Dirimu Sendiri

 

aku adalah syair, lukamu sendiri. kau baca diriku, kau gali kenangmu sendiri.

aku adalah syair, sepimu sendiri. kau eja aku, kau bertemu dirimu sendiri, yang sepi, yang hampa, membelah malam dalam diri.

akulah syair, airmatamu sendiri. mengalir aku, di dalam hariharimu yang tawa yang tangis yang suka yang duka.

akulah syair, dirimu sendiri

Malang, 4 Mei 2011

 

PELAJARAN MEWARNA

aku memilih warna hijau untuk warna langit. langit demikian hijau. sehijau mimpiku. seperti juga laut yang hijau.

aku memilih warna biru untuk gambar daun dan rerumput yang tumbuh di halaman. warna yang kuambil dari sebalik kenang

Malang, 22 April 2011

 

aku sakit, kata bumi, kau tak menjenguk dan merawatku? 

 

bumi yang demam mengigau memanggil manggil

dalam gigil bumi tak ingin kehilangan pohon pohon yang kerap memeluknya hangat dan akrab

dalam gigil bumi berteriak menderaskan keringat lava, menggempa gempa, melongsorlongsor, membanjirbanjir

aku sakit, kata bumi kepadamu: kau tak menjenguk dan merawatku?

Malang, 22 April 2011

 

Hanya Airmata yang Berkata 

di puncak sedih atau gembira, di puncak suka atau duka, kau tahu hanya airmata yang bisa berkata leluasa

kesedihan adalah kegembiraan, di keping yang sama, keping kehidupan

aku tak bisa mencegahmu bersedih, karena dengan kesedihan kau mengenal kegembiraan

Malang, 25 April 2011

 

aku ingin mencium sembab mata 

aku ingin mencium sembab mata, agar kutahu asin airmata, yang kau katakan sebagai cinta

di danau airmata aku pernah tenggelam, mencari dirimu, mencari dirimu

biarlah aku tanggung luka, jika sebenar-benar cinta di dalamnya. biarlah kutenggelam dalam airmata, jika kutemu makna sesungguhnya

dari langit jiwamu aku rengkuh kesenyapan. airmata yang mencari diriku sendiri.

Malang, 25 April 2011

 

Jika 

jika dada penuh amarah, hanya airmatamu yang dapat mengembunkannya

jika cinta hilang arah, hanya tatap matamu yang menunjukkan jalan pulangnya

jika malam membenam pekatnya, hanya cahaya cintamu yang terus menyala

jika huruf huruf kian memburam, hanya kata cintamu yang mempertegas maknanya

jika sepi kian mengapi, maka engkau menjelma cinta tiada henti

jika hari hari dilumat penat, maka engkau tawarkan lelah segera istirah

Malang, 27 April 2011

 

 

Satu Mei, Hantu hantu bergentayangan 

sebuah sekrup menyatakan cinta, pada mesin yang tabah menyala 24 jam

sebutir keringat berpendar di bawah cahaya lampu, di pabrik itu, masihkah ada cinta yang dikatakan

mungkin kita bukan penghafal sejarah, ada apa di bulan mei? kata kata menderu dari pabrik: upah, upah

di kota ini, mungkin tak ada yang tahu, ada yang bilang: hantu hantu bergentayangan

berapa harga keringat & airmata? asinnya yang bisa bercerita

Malang, 1 Mei 2011

 

Telah Diajarkan

telah diajarkan makna kehidupan, telah dididik seluruh pemahaman tindakan, memberi manfaat, membawa nilai di dalam alam semesta

bersabarlah dalam proses. bersungguh-sungguhlah! seperti ulat di dalam kepompong, tak tergesa: kupu-kupu cantik terbang pada saatnya

Malang, 2 Mei 2011

 

Para Perindu 

para perindu menguntai kata, menerjemah luka, cinta yang tak terhingga

para perindu menari-nari, tariannya meliuk ke langit tinggi, bersama awan putih, cahaya benderang

para perindu mendendangkan lagu, memawarkan hati yang memar, menawarkan hati dengan cinta

para perindu, berjalan di jalan yang gaduh, tapi demikian sunyi langit di jiwa, ingin bertemu, berjumpa dengan-NYA!

Malang, 2 Mei 2011

 

Doa Yang Membusur 

lunaskan mimpimu malam ini, hingga puisi tak menghantu lagi, sebagai sajak yang meminta hidupmu

membusurlah membusur hingga lesat mimpimu ke bintang bintang jauh

doa dalam diam, gemuruh memekik dalam dada

doa doa melindap, lalu senyap

adalah doa doa yang kita bisikkan, dan langit mengaminkan

terpejamlah terpejam rasakan keheningan doa doa

Malang, 2 Mei 2011

 

Sajak Doa Bahagia Mencinta 

di embun sajak, ada yang menata usia, baris baris yang ingin mengekal

ada yang sempat mencuri isyarat, di langit meluncur bintang jatuh, mungkin engkau yang penuh harap

jangan buang kesempatan! untuk mencinta sepenuhnya. karena waktu, bukan milik kita, hanya cinta

di segala kesempatan, berdoalah kebahagiaan, bagi hidup kita, selamanya…

Malang, 3 Mei 2011

 

kita merentang usia 

kita merentang usia, ciuman-ciuman yang tak habis, hingga nanti,

hingga waktu menyerahkan pada detaknya yang diam, hingga kata tak perlu lagi bersuara lagi,

aku mencintaimu, seperti engkau mencintai diriku, karena aku dan engkau adalah jiwa yang sama, disatukan cinta yang maha

telah dijejakkan pada waktu, telah ditandakan pada waktu, telah digoreskan pada waktu, namamu namaku, nama kita yang saling mencinta

kemana kita akan pergi? kita berpelukan. pelukan yang saling menguatkan. jalan hidup yang terlalu rumit, menakutkan dalam kesendirian

mungkin ada yang tak perlu dikatakan, saat tatap matamu menatap mataku yang sedang menatap matamu, saat ciuman telah mewakili segala kata

Malang, 2 Mei 2011

 


 aku ingin sembunyi 

aku ingin sembunyi. seperti kura-kura. meringkuk di rumah kecilku.

aku mengunci diriku sendiri. ingatan yang bikin letih.

datang dan pergilah segala sesuatu. ucapkan salam bagi diri sendiri.

tak perlu kau risau. basa basi yang tak perlu. biar semua bergalau sempurna. nyeri dan hampa di puncak sepiku. sendiri

segala mengabur. segala menghablur. huruf-huruf berhambur.

waktu. waktu. waktu. merajamku.

seperti kura-kura. aku ingin tidur. di rumah kecilku. biarlah kancil berlari. mengejar bayangnya sendiri.

bayang yang selalu menjauh. bayang yang berlari. ke kelampauan. ke harapan. yang rapuh.

aku mengaduh. dan tak akan pernah kau dengar. aduhku demikian gemetar. demikian samar. tak terkabar.

aku terbakar debar!

 

MENAPAK KE ARAH SENJA 

hidup yang menapak ke arah senja, hidup yang menghabiskan seluruh airmata, sampaikah rindu pada cintaku?

kabarkan pada daun-daun yang luruh, cinta paling mendalam tanah yang basah, selepas hujan, angin telah mempertemukan

kabarkan pada burung-burung yang akan pulang saat senja, sarang yang hangat dan cericit rindu penuh gigil memanggil

aku telah melewati segala senja, senja yang selalu meminta sajak cinta, jemariku menari, mengabadi kata

mungkin engkau sempat mencatat, dari butir-butir hujan, ada yang tak sempat diungkap rahasia rindumu padaku

mungkinkah hujan adalah rindumu padaku, bisik tanah basah kepada awan yang menghitam, di langit yang sedang bersedu sedan

di lelambai pohonan adakah isyarat rindumu, sebagai gumam, sebagai bisik, angin gemerisik

Malang, 2011

 

Maha Rahasia 

aku adalah airmata di gelombang rahasiamu. setiap kali airmata ternganga menerka, apa yang menjadi kehendak, isyarat cintamu

aku ingin terus menjadi kekasihmu, yang tak pernah meragukan cintamu, walau gelombangmu kabarkan luka dan airmata

selalu saja teka teki yang tak terterka, engkau demikian kukuh dengan tabir rahasia, o maha rahasia!

 

PERTAPA BATU 

:amatlah sabar, rakyatmu indonesia

demikian lambat, gerak di lintasan waktu, adakah yang melintas demikian penuh rindu, sepenuh rindu, hingga waktu terdiam, tak bergerak

masihkah kau ingin membisu, merahasiakan sesuatu, semacam rindu, atau cinta yang kau simpan diam-diam di dalam hatimu itu, atau amarah yang terpendam

mungkin engkau ingin serupa batu, membisu di dalam sungai, menunggu lumut kan datang, hingga tangan berpalu memukulmu

kau memang serupa batu-batu, membisu dan membisu, walau demikian keras palu memukulmu, tak ada aduh, sungguh, kau memang batu

Malang, 29 Maret 2011

 

BAGI PARA PEMBENCI DAN PENDENGKI 

 

telah aku kabarkan cinta, tapi kau menolaknya. karena sungguh batu hatimu membatu. bebal yang dungu!

gundah yang membakarmu. adalah neraka yang kau cipta sendiri. membakar hariharimu dengan benci. dengan dengki.

 

BAGI ENGKAU YANG DIBAKAR API CEMBURU 

cemburu telah membakarmu, kau tahu. api yang menjela, membuat cintamu mengabu

telah disayat luka, sepanjang garis takdir, silam atau masa depan yang ingin kau jenguk di langit yang jauh, surga merapuh dalam dada

mungkin ingin kau eja dari bintang bintang yang memeta, zodiak atau shio, weton kelahiran, segurat garis tangan, perjodohan, cinta, kematian

lalu engkau bertanya: apa salahku? menatap langit tanpa kedip. menatap marah pada kehendak takdir.

segala memang rahasia, segala memang tanda tanya, jawab hanya terminal perhentian sementara

selamat malam, langit yang lengang tak pernah menjawab, hanya sepi dan kerdip cahaya bintang, di kejauhan

 

Menanti Pagi Hari 

menyapa embun, menunggu cahaya matahari, berpendar di dedaunan basah

kabarkan, masih ada cinta pagi ini, semesta yang terluka, berilah senyuman

di kemurnian udara, di kemurnian cinta, setulus jiwa, pancarkan jiwa yang semangat berderap, menjangkau cakrawala

pagi adalah harap, doa yang terucap, hari yang penuh cahaya gemerlap, cinta yang tak habis harap

Malang, 11 Maret 2011

 

MASIHKAH

masihkah berharap tepuk tangan riuh, sedang hanya sunyi yang selalu menanti

masihkah berharap segala puja puji, sedang engkau gamang di puncak tertinggi

masihkah berharap untuk terus dihormati, sedang kehormatan ada di dalam hati nurani

Malang, 9 Mei 2011

 

MALAM

segala yang kau kenang, segala yang membayang, serupa malam menjulurkan tangannya, menarikmu ke dalam samar impian,

mungkin ada yang ingin mengetukngetukan jemarinya, serupa waktu mengetukngetuk ke dalam kepala, hingga impian terjaga

karena sunyi adalah kenangan yang memuai, biarkan malam mengembunkan dalam mimpimu

biarlah sunyi tak terbagi, milikmu cuma! karena sebenar sunyi, diri telanjang, menari nyeri

9 – 10 Mei 2011

 

ISYARAT BULAN

hanya penyair, yang melewati malam, dengan bulan separuh, menyabit langit, menafsir isyarat cahaya

hanya penyair, yang menafsirkan isyarat bulan, gelap terangnya, pasang surut air laut, bicaralah bulan pada kami, bicaralah tentang arti

bulan menyabit, bulan separuh di langit, bulan yang tak ingin bicara padamu, selain kepada penyair, yang dirindu bulan, dirindu cahayanya

Malang, 9 Mei 2011

 

MATAHARI

debu matahari, bercak matahari, demikian hijau matahari, menyembur nyembur. o corona. o corona

magnet. gelombang. berputar matahari. berputar seperti gasing berputar. o ledakan besar!

badai matahari. badai yang sampai. meledak di langit yang jauh. sampai di detak detik jammu. o ilmu pengetahuan!

Malang, 9 Mei 2011

 

SAJAK CINTA YANG INGIN KUTULIS SORE INI

sajak cinta yang ingin kutulis sore ini, adalah sajak yang mengabadikan cerita-cerita kecil, tentang kita

ingatan tak selalu tentang peristiwa besar, karena hal-hal yang remehlah kita merasa berarti

ingatlah saat kita berjalan, di bawah panas matahari, di saat tubuhku gigil ngilu terkena flu, tetapi bahagia, di sampingmu

di jalanan yang panas, debu dan angin menampar, bibir pecah pecah, ah hanya cinta yang tak membuat lelah

bersama, kita belajar untuk tabah, menjalani hari-hari yang yang garang, tapi cinta sanggup menahan segala yang menantang

dunia kita adalah dunia yang kita beri makna sendiri, dengan rasa percaya dengan cinta yang tak pura-pura

kita belajar pada kehidupan, karena kehidupan memberi segala tanpa kita pinta

pada daun-daun jatuh, kita baca tentang keikhlasan

pada hujan yang turun kita baca kerinduan yang ingin dilunaskan

kita adalah kupu-kupu terbang riang di taman, ulat bulu yang tabah menjadi pertapa, dalam kepompong sunyi

aku tulis sajak cinta, karena kita manusia, yang ingin mengenang segala, yang tak ingin dilupa

di saat hujan, atap-atap bocor, dan kita tertawa mengepel lantai berdua

ingatlah baju-baju di dalam kardus, karena kita tak punya lemari

ingatanku berloncatan: bayangkan, kita naik sepeda berdua, di bawah hujan, seperti video klip lagu-lagu cinta

ingatan-ingatan kecil, serpihan kecil dalam hari-hari, karena bahagia adalah detik demi detik, yang kita pinta

kita memang bukan anak remaja, tapi kita punya cinta yang kita pelihara

dengan jejemari kita, disusun bata demi bata, orang menyebutnya sebagai bahagia

aku ingin kau selalu bahagia, karena hidup telah diberi makna

aku ingin menulis sajak cinta, di sore yang cerah, secerah mimpi kita

Malang, 9 Mei 2011

 

MENAPAK KE ARAH SENJA

hidup yang menapak ke arah senja, hidup yang menghabiskan seluruh airmata, sampaikah rindu pada cintaku?

kabarkan pada daun-daun yang luruh, cinta paling mendalam tanah yang basah, selepas hujan, angin telah mempertemukan

kabarkan pada burung-burung yang akan pulang saat senja, sarang yang hangat dan cericit rindu penuh gigil memanggil

aku telah melewati segala senja, senja yang selalu meminta sajak cinta, jemariku menari, mengabadi kata

mungkin engkau sempat mencatat, dari butir-butir hujan, ada yang tak sempat diungkap rahasia rindumu padaku

mungkinkah hujan adalah rindumu padaku, bisik tanah basah kepada awan yang menghitam, di langit yang sedang bersedu sedan

di lelambai pohonan adakah isyarat rindumu, sebagai gumam, sebagai bisik, angin gemerisik

Malang, 2011

 

Mengalirlah Mengalir

mengalirlah mengalir puisi serupa hidup yang mengalir serupa sajak yang berlagu merdu, cinta dan rindu, karena…

manusia punya kehendak, memilih langkah, tuhan punya kehendak, menetapkan takdir. aku ingin mengalir, bersama kehidupan

mengalir bersama waktu, mengalir di dalam cinta, mengalir menuju CINTA maha cinta

aku mengalir dalam sungai cahaya, mengalir menuju Cahaya maha cahaya

cintaku cahaya rinduku cahaya mengalir bersama waktu di dalam waktu menuju waktu yang tiada, Cahaya yang abadi

Malang, 13 Maret 2011

 

mengingat doamu yang penuh cinta

:kunthi hastorini

saat diburu kerja, aku hanya ingin berkabar, satu baris puisi. agar kau ingat, ada yang sempat mengingat, doamu yang penuh cinta

jam terus berdetak. mungkin berdetak juga di dalam dadamu. tiktak waktu. berdetak detik menitik

katakan pada waktu, bahwa aku tetap mencintaimu, sepanjang waktu

Malang, 2011

Di Setiap Senja Aku Ingin Menulis Puisi

aku ingin menyapamu, di setiap senja. sebelum senja melepas cahaya ke balik kelam. sebelum aku menjadi silam.

jika aku berubah gema, itu tetaplah suaramu. suara yang menggaung. dari kedalaman jiwa. jiwa yang perih. cinta dan rindu yang pedih.

puisi, serupa bayang-bayang yang menjulur. di redup cahaya, aku menggambar bayang mimpiku sendiri.

apa yang harus dieja dari bayang-bayang? pernah kugambar kelelawar di tembok. bayang di bawah cahaya lampu yang menempel di tembok.

kelelawar yang muncul dari goa-goa gelap. memasuki angan kanakku. kanak yang merupa bayang di tembok. redup cahaya lampu teplok

puisi mengepak sayap bayang-bayang. dari goa yang gelap dan pengap. menjerit dalam kepalaku.

aku ingin menyapamu, dengan seribu bayang-bayang, yang kugambar dengan sedikit cahaya. senja ini.

seekor kelelawar, membayang dalam puisi, menjerit dalam kepalaku. menembus kelam. menembus malam.

Malang, 8 Maret 2011

 

Penyair: Pemungut Cahaya Senja

aku memasuki malam. senja yang kehilangan cahaya. biarkan aku masuk, tanpa mengetuk. aku ucapkan salam.

para pejalan malam. para penyair yang merindukan malam. para pecinta yang memungut cahaya senja. dari matahari. menyalakan api sunyi di malam hari.

aku memasuki malam. dengan api dalam kepala. kan kubakar malam dengan segala sepi. dengan segala mimpi. sunyiku. sendiri.

malam adalah kerinduan yang tak kunjung padam. menyalakan sunyi menjadi api. menerang di dalam mata hati

Malang, 8 Maret 2011

 

Sehalaman Buku, Sehalaman Rumahmu

bagi: yayan triyansyah

sehalaman buku memuat halaman rumahmu. halaman yang kau cintai. halaman yang menyimpan ari-ari

sehalaman kenangan yang tersimpan di bukumu. menampung airmata. rindu yang tak terkatakan

di halaman itu kau tatapi serakan daun yang berguguran. hidup yang tak bisa diterjemah. kapan jatuh. kapan tumbuh

sehalaman buku sehalaman rumahmu sehalaman kenangan kanak yang kau ingat. ayah bunda menanam sesuatu dalam dirimu. Kenangan itu.

Malang, 8 Maret 2011

 

telah kualamatkan airmata ke gedungmu, tapi engkau tak mampu membacanya

tak perlu kau sewa mata mata, kami selalu pamerkan luka, di gedung itu tuan puan bertahta

telah kuingatkan janji janjimu pada kami, namun gedung itu angkuh meludahi

telah kutitipkan derita di gedungmu, tapi kau selalu lupa, hanya menyapa setiap 5 tahun sekali saja

telah kualamatkan airmata ke gedungmu, tapi engkau tak mampu membacanya

kau ingin membangun gedung baru lagi? lalu untuk siapa! tentu bukan untuk airmata kami

percuma!

Malang, 30 Maret 2011

 

karena engkau adalah maha cinta, aku lebur dalam cahaya cintamu

karena engkau adalah maha cinta, aku lebur dalam cahaya cintamu

telah kau tanamkan di dadaku cinta, yang selalu memanggilimu penuh rindu, tapi aku harus menunggu, perjumpaan itu

beri aku cinta! mereka menyerumu, dengan dada terluka, dengan airmata, dengan asap berbau mesiu

sungguh teramat lamat apa yang kuingat, telah dialamat segala gundahku, sampaikah padamu, muara akhir cintaku

Malang, 30 Maret 2011

 

Kanak-Kanak Memanggilmu Ibu

:kunthi hastorini

kanak-kanak memanggilmu ibu, sebagai cinta yang akan lekat sepanjang waktu

kanak-kanak menyusun ingatan, pada tatap matamu, yang mungkin marah, tapi yang teringat adalah cintamu, selalu

kanak-kanak merindu, hangat dada dan puting susu, ibu kau rasa geletar kenang itu?

ciumlah penuh kasih sayang, karena airmatamu akan menyegarkan ingatan kanak pada kehidupan, yang penuh cinta

4 April 2011

 

seranum senyum kanak

: atta & arya

aku menyapamu di senja yang ranum, seranum senyum kanak, yang menyapa usiaku yang sudah bukan kanak lagi

di matamu kanak, aku lihat diriku yang bengal dan nakal, kejenakaan hidup, meluruh lelah sehabis bekerja

di matamu kanak, aku mengaca membaca cinta yang terpantul dari kedalaman jiwa, aku ingin menciummu dengan seluruh cintaku

Malang, 29 Maret 2011

 

aku percaya cinta milik kita, sesungguhnya

:kunthi hastorini

ada yang ingin mencuri kenangan, dari kata yang teralamat kepadamu. pencuri kata

tapi tak ada yang khawatir dengan kenangan yang tercuri. karena kata mengapi di kepala. mengapi api

serupa cinta yang terus mengapi. dalam kepala. dalam dada. dalam mata. menerangi: kata

siapa yang ingin mencuri kata? menanggung derita airmata, luka cinta tak bernama.

“jangan kau tulis terus cinta, cinta, cinta.” katamu suatu ketika. cinta tak kan membuatku lemah. sungguh.

aku percaya kepada cinta. aku percaya cinta dapat dipercaya. aku percaya cinta milik kita, sesungguhnya.

cinta yang menguatkan. cinta yang membuatku terus tetap bertahan untuk hidup. cinta, ya cinta

“tapi aku cemburu,” katamu memburu. Cintaku cinta umat manusia. Cintaku membawa kabar Maha Cinta. Tak perlu kau cemburu

ada yang ingin mencuri kenangan itu. Kata. tapi tak bisa, karena airmata kita mengalir dari Cinta yang tak terpeta

Malang, 8 Maret 2011

 

KEPADA TUHANKU

Engkaukah yang menyapa di balik jendela pesawat, di putih awan, kabut dan deru angin…

pada jarak dan perhitungan waktu, sedekat nadi sekejap cuma, tapi mengapa terasa jauh dan berlipat abad, lebur dalam cintamu

yang merindu adalah aku, yang mencinta adalah aku, aku tahu kau maha pencemburu

mendedah kata mendedah rindu tak bertepi, aku lirih menyapamu, karena pekik habiskan suara

jika aku berserah, sungguh kau muara segala lelah

Malang, 201

 

Kepada Tuhanku (2)

ada yang mengetuk. waktu. ada. kaukah yang menjenguk. ke dalam lubuk. hati yang terdalam. rindu yang mendalam

berayunlah. berayun. wajahmu yang kian samar. kian pudar. rentangan jarak. waktu. kakiku kian gemetar memburu cintamu

chairil tak sanggup mengingatmu seluruh, hamzah tak sanggup menanggung rindu dendam, tardji mengiau memanggilimu, ah siapa lagi kan terbakar rinducintamu?

aku terkapar, terbakar nyala rindu, biarpun engkau kian samar, dan aku tak selalu berkabar, berilah sabar bagi segala debar

Malang, 4 Maret 2011

 

Dalam Puisi

adalah matahari yang menyalakan api di dalam kepalaku hingga kepalaku memanas dengan segala cinta segala rindu yang memburu

adalah hujan yang menderas di dalam kepalaku hingga mimpi-mimpiku hanyut mengalir ke muara rindu cintaku

adalah lampu-lampu jalanan yang menyihir pejalan kaki dengan senyum yang meredup bikin pejalan ingin pulang ke pelukmu

adalah jam jam yang selalu sibuk berdetak-detak mengingatkan akan waktu kapan kita harus kembali

adalah pohon pohon yang tabah menunggu angin badai tiba, hingga cinta kan sampai dikabarkan, hingga rindu tiba merebahrubuhkan

Malang, 29 Maret 2011

 

 

Ingin Kubuat Sajak. Eh, Sajak malah melawak. Bacalah!

kuburkan kabar kaburkan kabar: bakar! bakar! berarak arak kabar akar. berkibar kibar kabar bara: bakar! bakar! kabarkan kubur. bubar.

yang berderak adalah sumpah. yang berserak adalah sampah. teriaklah hingga serak. geraklah. gerak. gertak gemeretak. biar retak biar kerak.

adakah geletar membuatmu gemetar gelepar, sebagai gelegar kau dengar penuh hingar bingar, menebartebar kabar mendebardebar

beras tumpah dari tampah, sampah meruah dari sumpah, meremah ramah jadi marah, meremas gemas jadi cemas, kata o berubah kota a!

Malang, 12 April 2011

 

Bayang-bayang itu Kau Sebut: Wayang

mari kita pilih warnawarna memulas sunyi yang kita miliki sendiri. karena sunyi, warna menyendiri di dalam diri

kita telah menciptakan dongeng, sebagai sunyi tak terbagi, di dalam pikiran sendiri, asyik sendiri

biarlah kenang kehidupan melintasi ruang waktu, malam yang memberat, di pelupuk mata bayang mengeras deras

ada yang menyelinap, di batas malam, tembang dupa kembang rupa, gending mengalun, bayang menari

di balik bayang bayang kuterka makna. bayang menari. aku menari. angan menari. o tarian!

tembang tembang menyihirku kembali menjadi kenangan. kenangan yang menyilam silam. o kenang

harum dupa. harum bunga. upacara. tembang menggema. gending mengiring. o bayang bayang. wayang

Malang 9-10 April 2011

 

Jejak Isyarat

: untuk commaditya 

jejak yang kau tinggal, berikan isyarat kata, segala yang badai, kan segera reda

pada denting gitar, pada serak suara, ada kau yang memberi tanda, jejak yang tertinggal di rindunya yang kekal

mungkin ada yang tak ingin menafsir, jejak rindumu yang menelusur jarak, cemburu tak bermata

tapi mungkin kau harus tahu bagaimana perempuan itu menatap selalu, mencari jejakmu di lintasan waktu

Malang, 10 April 2011

 

Di Sebuah Senja, ada sebuah Cerita: Manusia

serupa maut, katamu. mengendapendap, menyapamu. di cermin itu tuan, wajah siapa. bersolek di saat senja.

siapkan pedang, kita akan berkelahi dengan bayang, katamu suatu waktu. di awal  malam yang hanya ditemani bulan separuh. dan rinai gerimis.

dadu yang menggelinding di pesta itu, menjelma darah. mungkin engkau menyebutnya  kurusetra. atau palagan yang entah disebut apa. tapi siapa yang menyimpan dendam, kau tahu. kau tahu. masa lalu.

pada gerimis ada yang menatap hari hari bergegas, mungkin dicatat butir butir airmata, menderas: “ catatlah dengan seksama, segala mimpi yang tak kembali, catatlah dengan rapi, segala ingin yang tak kembali.”

telah disimpan dalam usia, riwayat detik detik bahagia, mengapa selalu yang dikenang hanya luka duka

sebagai kau telah tandai senja dengan airmata, sebagai kau tanda duka bahagia, cinta yang meluka

manusia. manusia. dimana akhirnya.

Malang, 10-11 April 2011

 

Gelombang Pasang, Gelombang Surut, Penyair!

gelombang hidup, gelombang pasang surut, di hidup yang kau pilih atau dipilihkan takdir, gelombang waktu

kau menantang langit, kau menantang gelombang, kau menantang badai, tapi kau takluk pada sepi. sunyi menghunjam diri

pada sunyi kau mencatat perasaan sia sia dan putus asa, wajahmu yang menyeringai kuyu terluka. gelombang hidup, gelombang waktu, memburu

kau ingin rayakan segala luka dan nyeri, menatahkan di segala usia sia sia, segala yang nisbi, segala yang tak nyata, merajam diri

diri!

Malang, 10 April 2011

 

Saat Ingin Menulis Syair yang Ringan

 aku ingin menulis syair, sesuatu yang ringan, seperti balon yang berlepasan dari jemari,

balon yang berlepasan dari jemari kanak, yang berteriak: balon mau kemana, balon mau kemana

pernahkah engkau memegang erat erat seikat balon, seperti kau dekap cintamu demikian erat?

seringan balon, demikian juga mungkin harap, kanak yang khawatir atau tertawa melagukan balonku ada lima

mungkin ada juga yang khawatir, akan meletus balon, akan meledak harap cintanya, dekaplah erat

inilah syair malamku, mengingat kenangan kanak dulu, yang memasuki mimpi malamku

Malang, 10 April 2011

 

Di Saat Hujan Gemericik, Tiba-tiba Aku Teringat Lumpur itu

selepas hujan seharian, masihkah tersisa jejak kaki, yang menyisakan lumpur di ruang tamu

hujan seharian, jejak siapa yang menjenguk kubangan lumpur menggunung, menunggu pecah bendungnya

jika kau punya belas kasih, jenguklah wajah khawatir, hujan tak habis berharihari, lumpur berkunjung ke ruang tamumu

kaki siapa menjejakkan lumpur, mungkin jejak sajak cintaku, sidoarjo lapindo benih yang kau lupa, mengunjungimu malam ini

Malang, 10 April 2011

 

bahasamu demikian rapi tuan

bahasamu demikian rapi tuan, disetrika setiap pagi, apa kabar dunia? ah, demikian pintar tuan mematut diri

di depan kamera, tak perlu basa-basi, terjang sana terjang sini, tuan pintar sekali berdiskusi tentang negeri ini

“tidak semua janji perlu ditepati, apalagi jika akan mengurangi isi periuk nasi”. begitulah tuan punya isi hati

ini sajak tidak serius, jangan terlalu diambil hati, jika tuan suka ambil sajalah, jika tuan tak suka janganlah marah

demikanlah, tuan

Malang, 22 Maret 2011

 

Dari Lereng Panderman

hanya pemandangan indah semata, di kejauhan, gunung gunung anggun dan awan putih menyaput di atasnya, inikah negeri yang dicintai?

seikat edelweis basah oleh hujan, bunga abadi, kata penjual di lereng gunung itu. bunga abadi, cinta abadi

arjuna, bromo, kawi, panderman, semeru, memaku kenangan, negeri yang membuat para perantau selalu ingin pulang

buah buah yang ranum, bunga bunga yang merekah, memanggil hadirmu anak-anak yang hilang, di negeri yang ramah tapi sering menyimpan amarah

dengarlah para petani yang menyapa: “kami menanam padi, menanam sayur mayur, walau tak selalu mencukupi, tapi kami tahu saudara kami di kota membutuhkannya.”

di kotaku sawah sawah menyusut, berganti rumah rumah mewah, ladang ladang tersingkir, adakah yang mau berpikir?

ada yang berkata: “hidup sudah terlalu rumit, kami selalu menghibur diri sendiri, memandang langit selepas hujan, memandang bungabunga dan ilalang liar.”

kudengar juga suara: “pupuk & pestisida telah membuat hati remuk, masih kau ingatkah saat kau nikmati nasi yang empuk?”

benar, hidup sudah terlalu rumit, kami selalu menghibur diri sendiri, memandang jalanan selepas hujan, dalam deru kemacetan

Malang, 30 Maret 2011

 

PROSESI MENELPON DAN MENGIRIM SMS KEPADA MALNA

ada yang menelponmu. mungkin aku. mungkin bukan aku. handphone bersahutan dengan lagu-lagu. dan mailbox. suara yang tak asing. senja kuyup

dimana malna. kata smsku. smsku tak berjawab. tersesat di satelit mana. afrizal malna dimana kamu. dimana. jawab lagu-lagu: dimana?

aku ingin bertemu malna. membicarakan gelas kopi. pembesaran ruang. buku-buku yang bermetamorfosa. handphone yang senyap.

halo. nanang menelponmu. halo di mana malna? halo dimana? lagu-lagu menjawab: dimana. dimana. dimana. simpanlah suaramu di mailbox.

mungkin malna bersama malik. tapi malik juga dimana. dimana malik berada. dimana mana. di warung kopi yang mana. di kafe yang mana.

deni dimana malna? deni sedang kuliah. kuliah tentang senja. atau tentang hujan. mungkin juga puisi atau tatabahasa sikat gigi.

aku cari malna. biarlah telpon bernyanyi sendiri.

Malang, 6 April 2011

 

AKU INGIN MENULIS SAJAK YANG TENANG

aku ingin menulis sajak yang tenang, agar jiwaku tenang. aku ingin menulis semilir angin, senja yang nyaman, udara yang sejuk. aku ingin….

aku ingin menulis sajak yang tak berteriak. agar jiwaku tak selalu ingin berontak. aku ingin menulis sajak-sajak cinta yang tulus & bahagia

aku ingin menulis sajak yang sekedar bisik. bisik yang pelan sekali. agar kau tak terkaget-kaget oleh baris-baris yang garang. ah, aku ingin

aku ingin menulis sajak yang tenang, tentang semerbak bunga, warna-warna bunga, warna-warna pohonan, mungkin juga tentang warna langit

aku ingin menulis sajak yang tenang rindu yang tak terlalu menggebu, cinta yang bersahaja, senja yang redup dan murung, langit abu abu

aku ingin menulis sajak yang tenang, senja yang tenang, langit yang tenang, burung-burung yang tenang riang dan berbahagia, juga manusia

aku ingin menulis sajak yang tenang, tak gaduh, tak garang, tak berteriak. tenang setenang permukaan danau yang dihembus semilir angin senja

aku ingin menulis sajak yang tenang tentang gerimis yang turun dengan tenang di sore yang tenang dari langit yang tenang

aku ingin menulis sajak untuk diriku sendiri agar diriku sendiri merasa tenang dan senang dengan sajakku yang tenang

aku ingin menulis sajak yang tenang. tenang. tenang. tenang. tenang. tenang. tenang. tenang. tenang. tenang. tenanglah tenang nanang

Malang, 23 Maret 2011

 

Percakapan Segitiga: Sajak, Puisi & Syair

di dalam sajak, engkau menyimpan jejak tangis, gerimis tak habis-habis

pada baris-baris sajak engkau dirikan kenang yang manis, mungkin juga tangis yang disimpan diam-diam, serupa jejak metafora

apa yang harus dikhawatirkan, dari diksi di dalam puisi, sajak meletak bentuk, menyusun pikiran dan geletar jiwa yang tersembunyi

bergeraklah bergerak, mengikuti irama, detak jantungmu yang merancak, sajak yang beriak, sajak yang mengalun, sajak yang berderak

di dalam sajak, ada yang berteriak, ada yang menyalak, ada yang terbelalak, ada yang tertembak, ada yang tergeletak

kita saling bertanya, siapa kamu, kata puisi kepada sajak, sajak bertanya yang sama kepada puisi. siapa kita sesungguhnya?

kita adalah anak-anak yang terluka, dan selalu saling bertukar nama, kata sajak kepada puisi, dirinya sendiri

kita juga menyimpan kerinduan, cinta, dan airmata, kata puisi kepada sajak yang tak pernah tergelak

mengapa para penulis puisi atau sajak itu disebut penyair? syair bertanya. entah kepada siapa. bukan pertanyaan pandir.

bukankah para penulis puisi lebih pantas disebut pemuisi, para penulis sajak sebagai penyajak. para penulis dirikulah penyair

tuliskan diriku penyair, jangan menulis puisi atau sajak, tulislah syair karena engkau penyair. tuliskan syair. tuliskan syair

mari kita berdenyut, kata cinta kepada puisi, sajak, dan syair. cinta pun berdenyut. memompa darah kata. berdenyut-denyut

sajak berdenyut, puisi berdenyut, syair berdenyut, mengiramakan cinta, hingga mabuk mereka, di dalam cinta yang fana

karena cinta, karena cinta, kita harus ada. sajak, puisi, syair berteriak bersama. ya, karena cinta, segala yang berbeda, harus tetap ada

Malang, 14 Maret 2011

03 SepUntuk Arya Mada Hastasurya

1.

di matamu kanak, aku berenang menelusuri riwayat leluhur: raden wijaya. tribuwana tungga dewiarya damar dan gajah mada. brawijaya.

2.

di balik jendela kan kau temukan dunia. beraneka

(3)

8 matahari berputar. dunia berputar. hidup berputar. bersabarlah. beranilah. menghadapi hidup. yang mungkin tak ramah. telengas. kepadamu. bersabarlah. berbahagialah. dengan cinta. dengan kasih sayang. seperti kutemu di bening matamu. anakku.

Tags: ,

09 AugTentang Gerimisi

1.
gerimis tak habishabis. gerimis yang manis. aku tulis. aku tulis. gerimis yang rinai. gerimis yang ramai. merimis rimis. amatlah manis.

2.
mendung menggantung. dan engkau cemas memandang cuaca. menerka angin dingin dan gelap langit. menghitung titik titik hujan. sebagai rimis. sebagai rimis. menyapamu sore ini.

3.
ternyata, gerimis mempercepat terang. mendung menghilang. langit benderang. gerimis yang segera habis membuatmu tak jadi meringis nangis.

3-4 agustus 2010

Tags:

30 JulSajak Kanak (15)

bu guru bercerita, memikat sekali
cerita si kancil yang pintar banyak akal
tapi si kancil suka nakal
mencuri mentimun pak tani

pak tani yang miskin
menanam mentimun
dipelihara setiap hari

aku kesal kepada kancil
tidak kasihan kepada pak tani

kata bu guru,
kami tidak boleh seperti kancil
yang pintar mencuri

Tags: ,

19 DecWahai Cinta Inilah Nyeri Merindu Wajahmu!

kuhadapkan wajahku barat timur utara selatan tenggara barat laut timur laut barat daya coklat tanah biru langit menghadapmu o wajah yang dirindu dalam ingat yang lamat sebagai seru kami bersaksi o yang satu tempat segala mula tempat segala kembali tapi jarak juga waktu membentang berliku jalan menemu engkau kembali menemu senyummu kembali kuhadapkan wajahku barat timur utara selatan tenggara baratlaut timur laut barat daya coklat tanah biru langit merindu tatapmu

kekasih tiba-tiba aku merasa hidupku sia-sia sebagai pecundang yang lari dari medan perang sembunyi dalam dengkur mimpi berlari dari kemestian yang harus dihadapi apa yang kucari di dunia ini karena engkaulah segala mula engkaulah segala tuju tapi aku terpelanting dalam goda dan rayu seperti moyangku dahulu demikian gaduh dalam dada dan kepalaku ditabuh segala peristiwa ramai hingga aku mengaduh menyeru namamu berulang kali aku demikian letih di mana cahaya matamu masihkah ada harap untuk menemu senyummu sedang terus berlari aku dengan segala khianat dan pembohongan atas diri sendiri hendak menipu tatapmu yang menusuk relung hati

engkaukah yang suatu ketika mengajakku terbang ke langit hingga daging menjerit karena ia mencintai dunia walau fana engkaukah yang suatu ketika mengajakku telusuri lorong waktu ruang tak terhingga batasnya hingga daging tersayat melepuh di pucuk api engkaukah yang suatu ketika mengajakku dalam gigil doa menjelang pagi melecutku berulangkali

orang yang salah membenci dirinya sendiri seperti sobekan-sobekan kertas dari petasan yang diledakan hingga diburu pintu-pintu hingga tangannya berdarah mengetuk menggedor hingga bibirnya kering tenggorokannya serasa pecah hingga ia bertanya adakah yang tahu kebenaran ada di mana tapi tiada jawaban hanya senyap seperti biasanya

kekasih jangan tinggalkan aku sendiri aku gigil dalam ketakutan kehilangan engkau dari diri aku berlari dari kemelut dan maut sedang kutahu di tangannya ada kunci pembuka pintu menemu dirimu tapi aku masih takut menemu cintaku menemu dirimu dengan segala malu pengkhianatan melulu

cukupkan sampai di sini keinginan tak akan ada habisnya kepuasan tak akan ada ujungnya cukupkan sampai di sini pesta kemenangan merayakan kekalahan diri sendiri sudah habis waktu hentikan helai demi helai terbuka rahasia demi rahasia karena pada regukan pertama api berkobar menjela-jela

dikurung ia dibakar dalam api murni agar muai dan tunduk demikianlah engkau bertanya suatu ketika dan ia pun mengangguk setuju lalu disandingkan dengan napas cahaya yang kau hembuskan dalam dada rentang ruang juga waktu telah membikinnya lupa walau pernah ada rindu menyelinap suatu ketika ia bermain bersama pucuk api memetakan khianat berulang kali dan napas cahaya tinggal jerit sendiri

ketika rasa takut ini datang siapa lagi yang bisa membangkitkan keberanian selain engkau ketika rasa putus asa ini datang siapa lagi yang akan menumbuhkan harapan selain engkau tempatku bergantung tunjukan jalan senantiasa berilah kekuatan berilah ketabahan

aku menyapamu dalam mimpi yang mengembun pada subuh yang sebentar kan merekah cuma sepi dan rasa nyeri yang dibisikkan menanti matahari mungkin akan pecah dalam kepala betapa panasnya bergolak ini benak kepala juga dalam dada sepertinya telah habis semua kuceritakan tiada lagi rahasia diriku tegak telanjang di hadapanmu

kekasih adakah waktu adakah ruang adakah diriku sendiri menjengukmu dalam deru cuma rindu yang sanggup menahanku padamu kutatap segala walau kebisingan ini mungkin melindas segala kenangan tapi tidak padamu

detak pada waktu jantungku menyeru engkau tangis tertahan tumpahlah tumpahlah sebuah jarak direntang dinding membatas sebuah khianat walau katamu aku begitu dekat ya kekasih aku menggigil menemu diri begitu kerdil ya kekasih ku ingin menatapmu selalu selalu

sebagai adam yang terusir dari negeri jauh itu akupun menangis dan memohon ampun atas penzaliman diri sendiri sebagai nuh yang menangis mendoa di hujan deras meminta ampunan bagi kanaknya yang durhaka sebagai yunus yang lari dari kaumnya dan berdoa di perut ikan nun sebagai ibrahim yang berdoa meminta ampunan bagi bapak pembuat berhala aku berdoa sebagai orang-orang yang telah menzalimi diri sendiri di usia sia-sia tak henti menerima kekalahan diri sendiri dari goda dari angan mimpi yang dikejar sebagai bayang tiada habis ke ujung cakrawala gairah yang menyala sambil mencoba menipu diri sendiri menipu tatapmu berulangkali dengan khianat tapi engkau demikian tajam menatap tak aku sanggup sembunyi bahkan dari diri sendiri yang menyeru agar aku berhenti menzalimi diri sendiri di lintasan waktu yang membuat dada cintaku pecah berhamburan peristiwa-peristiwa kegilaan pikiran memuncak puncak ke cakrawala otakku hingga burai segala isi sebagai pecahan-pecahan kaca kepingan wajahmu terbanting ke lantai kasar jiwaku yang gelap rindu cahaya cintamu rindu cahaya ampunmu rindu cahaya kasihsayangmu selalu

demikianlah hiruk pikuk serta sihir dunia telah memabukanku hingga terasa perutku diaduk-aduk benakku diaduk-aduk dadaku diaduk-aduk hingga ingin dimuntahkan segera seperti gelas yang penuh dan luber dan mengalir ke mana entah mungkin ke ketiadaan atau asal mula segala persoalan sebagai diingat kekosongan menemui diri sendiri ditumpahkan segala tangis dan aduh pada kesunyian seperti abad-abad kesunyian al-kahfi atau keheningan hira di mana muhammad menekuri kesejatian hidup hingga malam-malam adalah tangis ruh yang merindu kekasih yang menghembus cintanya ke dalam dada sendiri ingin kembali pulang terbang menembus tabir-tabir rahasia wajahnya yang maha rahasia wajahnya di tabir cahaya di lapis cahaya hingga ia menari dalam dendang lagu rindu yang menghentak-hentak hingga terbang dalam dawam-lafaz nama kekasih yang dirindu yang tak terhingga jarak dan waktu sebagai likuliku pendakian ke hakikat makrifat terbang dengan sayap yang robek dan patah di tengah taifun badai menghempashempas membantingbanting ke tebing tebing derita bahagia sebagai kesunyian yang diterima para pecinta yang merindu wajahnya

senyeri dalam dadaku kekasih engkau adalah tikaman hunjaman sayatan ke dalam dadaku yang tak henti dengan segala tatap yang memporakkan segala rahasia hidupku kekasih yang kau asingkan ke dunia demikian bising dan penuh goda hingga terasa sia-sia segala usia di mana tak kutemukan engkau dalam nadi jiwaku selain denting denting yang timbul tenggelam dari masa lalu dalam hilap dan alpa yang menggunting gunting ingatan hingga compang camping hidupku dengan segala khianat perselingkuhan pada kesejatian cintamu dengan goda sihir dunia yang dihembus sebagai silir angin nafsu birahi pada kelamin yang menegang dan mata yang membelalak terpukau pada selain engkau o kekasih yang jauh dalam kenanganku di mana engkau aku mencarimu dengan segala luka dalam jiwaku merindu dirimu dengan tangan menggapaigapai ingin jumpa dirimu dalam sekarat mautku dalam derita kesepian bikin nyeri menjadi-jadi dalam dada sendiri demikian lebur dalam amuk sajak tak henti ingin menemu akhir dan mula katakata

berulang kueja nama berulang dalam zikir rindu tapi tak sampai pada hakikat alifbataku berulang kueja nama berulang dalam dawam cinta tapi tak khatam sampai pada makna berulang kueja nama berulang hingga tumpas diri mabuk kepayang bayangmu di puncak nyeri rahasia wajahmu

bahkan tak kutahu diriku sendiri bagaimana kukantahu dirimu walau sedekat urat di leherku bagaimana kan kutahu engkau merahasia selalu melari dari tanya melari dari kepastian jawab bagaimana kan kutahu engkau bahkan tak kutahu diriku sendiri

demikianlah kekasih dunia memabukanku dengan gemerlap tapi rasa sakit juga yang bersarang di sini di rabu tertakik aku ingat engkau lamat-lamat adakah dari mulutku sebuah gumam doa terlontar diam-diam seorang yang menzalimi diri sendiri bukankah tanganku yang membakar ini semua meluluhlantakan kasih sayang bukankah aku yang mencuri di hadapanmu keka
sih dunia memabukanku dan engkau? semakin lamat di kejauhan

demikian sayup suara dalam gigil angin senja namamu diterbangkan dari puncak menara o engkau yang kian samar demikian sayup memanggiliku kembali setulus cintamu gemetarkan aku penuh rindu zikir dalam sunyi diri sendiri

demikian lindap cahaya menyergap kelam di batas angan menerpa-nerpa o orang yang lelah susuri waktu merutuki nasib sendiri tapi sesal tak cukup menutup tapi kesal tak cukup merungkup segala sunyi adalah mimpi adalah diri adalah tiktakjam tak henti o orang yang lelah meludah ke langit mampir ke wajah sendiri tapi muram tak cukup memeram tapi geram tak cukup menggaram ke mana pergi langkah kaki pejalan tak berpeta pelamun celaka o orang yang lelah menantang badai angin menampar pipi tapi mimpi tak cukup memberi tapi janji tak cukup menepati di mana ujung segala cerita riwayat para petualang o orang yang lelah di mana kan istirah

berapa lagi jeram harus diarungi berapa lagi gelombang harus dihadapi perahu kecil di tengah badai terombang ambing jeram curam gelombang bandang wahai berapa lagi jarak akan sampai padamu

mata pada pelupuk dicium angin karena manusia mimpi kenangan juga kesunyian hidup menjadi lorong-lorong cahaya di ujung pada berkas harap mungkin kekalahan juga atau sesal mengendap pada tatap atau malam yang ratap tapi gapai tak sampai tangis tak usai terjemah kehendak atau takdir tuhan

gemetar rinduku merenangi peristiwa padamu tumpah kesah muara gundah mungkin tanyamu mengapa dusta pada bibir karena pada jiwa terukir janji setia pada engkau yang selalu terjaga

ada yang tersedu saat waktu telah menutup mungkin bunga ditabur tonggak ditancapkan serupa ingatan musim berguguran beringsut mendekat perlahan menuju tanyamu engkau kekasihku wajah dipalingkan duh rindu tak sampai lintasan tak usai karena nyala usia dihabiskan sia-sia

wahai maha rahasia jika kutemu jawabnya masihkah kau mau mengelak lagi

aku jiwa yang lapar dan haus menagih-nagih sekucur darah dari luka-luka nganga di langit yang pecah berhamburan dalam dadaku yang rapuh tak henti keluh melempar-lempar aduh hingga getarnya sampai mengguncang guncang gegunung lembah bebatu berlesatan ambruk ke dalam gelegak lava yang menguapkan kepedihan dalam jiwaku yang lapar dan haus akan darah hingga wajah-wajah masai tak berupa menjadi lukisan abstrak pada pasir pasir pantai dihanyutkan arus gelombang keperihan yang meraja dalam jiwaku yang lapar memagut aksara demikian liar dan nanar menyimpan rindu berdebu di buku-buku yang tak mencatatkan penanggalan di mana bermula segala riwayat derita dan bahagia manusia yang terlontar di rimba pergulatan di jalan jalan penuh dusta dan petaka di mimpi mimpi buruk tak berujung pangkal carut marut tak habis menelikung menggunting menikam dengan hunusnya yang tajam hingga aku adalah penyandang kutuk yang tak henti-henti menagih dengan cucuran airmata yang menetes di rerumputan padang padang perburuan dan peperangan di mana dipanaskan segala mesin demi segala yang kau ingin demi tuntas segala nyeri rindu dan rasa lapar yang tak henti-henti menyayat-nyata jiwaku yang terus berteriakteriak tak henti dilecut-lecut api yang mencambuk-cambuk kepalaku sendiri hingga benak otak berhamburan di medan-medan keberanian dan kebodohan di jalan-jalan penuh lubang nganga di lubang-lubang pemakaman massal dan rumah rumah sakit jiwa karena engkau demikian lapar dan gigil yang tak henti memanggil diriku untuk kembali

kugapaigapai harapku timbul tenggelam dalam engkau melindaplindap cahaya di jauh-jauh pandang ah beri aku seteguk lagi mungkin rasa rindu atau cinta dinihari agar wajahmu tak lenyap agar harapku tak lumat agar lebur diriku dalam cahaya tatapmu

setiap langkahku menujumu selalu di mana pintu-pintu terbuka di mana engkau menunggu dan menunggu dengan rindu ah mengapa dera tak menjadikanku tahu engkau merindu ke mana ku menuju

berapa mawar ditawarkan mimpiku demikian lapar memagut-magut aksara begitu gelepar demikian debar menantimu setiap saat terasa akan senja inikah tepi tapi ini hanya sepi mematri dalam gelisah tanya sungguhkah aku mencintaimu kurasa engkau tak henti menatapku begitu tajam menelusup ke dalam ruang-ruang di mana khianat sembunyi kau marah terasa keringat mengucur dalam dingin hira dalam darah golgota dalam cahaya tursina seperti juga adam yang terlontar kulihat lidah menjulur-julur inikah goda menipu diriku ku tahu kau tahu sungguhkah aku mencintaimu

sebagai deras hujan beterjunan membasah tubuhku airmata di mana tarianku tak juga usai seperti kucari engkau seperti kurindu engkau tapi kau adalah jarak begitu panjang dan berliku rahasia tak henti

dalam diamku jalan terbentang menuju diri menuju engkau didakidaki gunung tinggi diselamselam lautan dalam dijumpajumpa dirimu juga dengan tanya dengan cemas dengan harap dengan mimpi ditaritari puja ditaritari puji dirindu kekasih dirindurindu

inilah gelombang di mana sunyi mengamuk membandang ke pantai pantai gelisah ke karang karang keteguhan sebentar kan lungkrah demikian badai menghilangkan suar perahu hilang arah ke mana dayung kan dikayuhkan inilah gelombang sunyi menghantam dada terimalah wahai pecinta tak engkau menari bersama darah setangis puisi tak sampai pada kata meliuklah pecinta menahan pedih sunyi sendiri merindu wajah kekasih melintas-lintas saja inilah gelombang rindu mendera waktu mencium garang melumat tandas segala birahi bersiaplah tak ada sesal lagi kini

hingga hari-hari lingsut dalam gelisah waktu ku biarkan mimpiku kembara menikung menanjak pendakian tak sampai pendakian tak sampai hingga meleleh keringat airmata darah pada tuju ku kira fatamorgana adanya menyamarkan pandang arah segala tuju o silau cahaya menusuk mata membakar kenang jadi abu dalam dada dalam dada di mana kan disemayamkan segala perih selain dalam langkah tak henti mencari dan mencari hingga mimpi menjadi atau mati mengakhiri

di mana engkau di mana engkau o yang dirindu waktu demi waktu dicari wajahmu di alir-alir darah detak nadi denyut jantung tak kujumpa engkau o yang dirindu bibir gemetar melafazkan nama di mana engkau o kekasih diri hingga mati tak berhenti tercari

wahai maha rahasia demikiankah cinta hingga bergetar setiap namamu dikatakan bagaimana darah dan airmata dipersembahkan karena cinta padamu atau kucintai diriku sendiri harga diriku sendiri hak kemanusiaanku sendiri karena juga cinta padamu wahai maha rahasia wahai maha rahasia demikiankah jalan cinta penuh kepedihan

berlarilah berlari dari pasti dengan ragu menggoyahkan kaki kaki langit hati berderak derak setumbang tumbangnya jatuh merapuh lapuk merontalah meronta dari tindas paksa melilit tubuh tangan kaki melepas tandas melunas tuntas segala ingin o diri hingga sampai pada tepi memuaralah airmata memuara cinta memuara rindu memuara tawa memuara cemas ke samudera asal mula waktu segala waktu segala awal akhir o diri hingga tumpas segala nyeri

selesat tikam o parau jerit perih mencucukcucuk jantung hati demikian persembahan darah simbah menuai tuai janji takdir inilah amarah amuk rindu dendam tak bermata menuju segala tuju membandangbandang gairah syahwat menyingkap rahasia telah hancur kota kota ya kekasih telah hancur merata lantak luluh demi cinta atas namamu mendebu segala laknat sempurnalah sempurnalah kehendak jadi maka jadilah segala pinta segala ujar demi rindu demi engkau kekasih terimalah persembahan darah dan airmata

menderaslah menderas impian sebagai kenangan di sungai-sungai rinduku di laut gelombang hempas-hempas lelayar mengarah tuju hingga lunas segala pinta segala ujar ke dalam arung tak berbatas tepi karena inilah derita yang ditawarkan lewati ambang hidup mati di sekarat maut sebagai gelisah mencari dan menemu wajahmu wajahmu melindap-lindap dalam harap buruan tatap bayang menghilang bayang membayang kenang berdentang-dentang di sunyi diri di hiruk pikuk hibuk diri sendiri gemuruh dalam dada debar di jejantung mendegup-degup menyeru seru memanggilmu sepenuh rindu

o pecinta menarilah menari berputar-putar dengan ge
mulai keindahan cinta yang berputar dalam atom yang berputar dalam masjidil haram seperti bumi berputar seperti planet berputar seperti galaksi berputar alam semesta berputar dalam cinta

bulan hanya bintik di ujung cakrawala tanda di sini gerbang pertama kan dimasuki di mana doa-doa disampaikan dengan perut lapar sejak fajar tumbuh hingga senja tiba menenggelamkan matahari ke balik malam hingga mendekat diri pada ampunan pada limpahan sayang pada kemenangan hingga leburlah diri leburlah ke dalam kesejatian awal mula diri hingga cahaya benderang cahaya 1000 bulan cahaya wajahnya yang kurindu kau rindu kita rindu mereka rindu menerang terang sepanjang hidup kita sepanjang usia hingga tak tersiasia hidup hingga arti tertemui diri sendiri dalam nadi darah sendiri mengalir sekujur tubuh di jejantung di bilik-bilik bisik cinta di senyap dinihari mengembunembun percakapan kekasih kalbu lewat degup lewat debar menyelinap tatap tersimpan di dada sunyi catatan riwayat cinta yang dibubuhkan dihembuskan kekasih ke dada cinta

engkau menawan hati dengan pendar cahaya para pecinta tertawan menjadi hamba yang menyerahkan segala o cahaya maha cahaya singkapkan wajah cahaya sesungguhnya sebagai musa di tursina para pecinta menggigil menemu cahaya

walau semua bilang kau tiada kau tetap ada karena hakikatnya kau adalah ada itu sendiri sementara yang tiada apakah ada jika tak kau adakan hingga yang tiada nampak ada nyata ada kau yang ada tak risau ditiadakan adamu karena sungguh segala tiada tak juga memahami adamu sejati adanya

siapa menolak siapa siapa menerima siapa siapa mengaku siapa siapa mengiya siapa ah mengapa diterima segala bukan engkau ah mengapa ditolak engkau sesungguhnya gemetar tursina gemetar golgota gemetar hira kau maha rahasia kau maha rahasia siapa mengeja siapa siapa menafsir siapa siapa membaca siapa siapa merahasia siapa siapa mencanda siapa ah mengapa dicinta cinta segala bukan engkau ah mengapa dibenci benci engkau sesungguhnya gemetar aku gemetar sampaikah ucap pada tolak segala yang bukan engkau sampaikah ucap pada terima hanya engkau sampaikah

lalu kutolak segala macam tuhan tak ada tuhan sebagai kubaca ibrahim menolak matahari rembulan bintang namruz dan patung berhala tak ada tuhan tak ada tuhan sehembus napas la illaha kutolak segala macam tuhan kuhisap napas kecuali engkau allahku

biarlah engkau candu aku akan menghisapnya terus tanpa henti karena rindu wajahmu adalah candu yang telah menganak sungai dalam darahku hingga aku tak dapat melepaskan keinginan untuk terus menghisap candu cahayamu hingga jiwa cahaya menemukan kekasihnya yang abadi dalam gelombang cahaya mabukku o kekasih diri bumi langit matahari bintang semesta cinta menari-nari dalam debar takjubkepayang dalam mabuk candu cahaya yang tak henti kuhisap dalam nyeri rindu wajahmu

dan akupun mabuk cahaya selarik cahaya melesat dari jemariku ketika kucoret namamu pada sedinding cahaya cahaya mencahaya berpendar mencahaya cahaya aku mabuk cahaya seteguk demi seteguk aku tenggak cahaya aku mabuk cahaya igauku cahaya mimpiku cahaya rinduku cahaya cintaku cahaya tak engkau di mabuk cahaya tak engkau tahu di timur barat mula cahaya tak engkau tahu engkau mabuk cahaya

aku bergelayut di tali semoga tak goyah melemah jemari kukuh memegang cinta kasihmu kekasih aku bergelayut di tali jangan sampai terpelanting terbanting ke jurang-jurang nganga aku bergelayut di tali memanjat hingga sampai di hadapmu kekasih yang tak henti dicari hingga gapai hingga capai

belailah aku dengan penuh rindu kekasih aku lelah hendak istirah begitu banyak goda di segala simpangan betapa banyak walau hanya engkau sesungguhnya segala tuju hanya engkau yang tak henti-henti mengasihi seperti kau belai adam dengan cinta aku lelah kekasih dunia menyilaukanku menutup mata hatiku menutup keindahanmusungguh aku demikian lelah

ke muara asal mula melaut segala duka cita suka cita menyatu dalam ke muara asal mula menemu segala alir mimpi arus rindu dendam cintamu ke muara asal mula telan akumu gelombang samudera demikian hempas

demikianlah hidup harus terjalani juga dengan tanyaku tak terjawab tak berjawab dalam benak segala tanya dalam mimpi segala angan demikian ragu menggodaku selalu selalu hingga aku lelah melangkah ke ujung cakrawala ke ujung sepi sendiri merindurindu kekasih merindurindu

semesta melebur dalam diri engkau aku dalam cinta getar gemetar lafalkan satu menyatu o semesta menari dalam diri demikian ritmis berputaran gemintang bercucuran hujan berhembusan angin o leburlah dalam cinta dalam diri semesta diri

hingga akhirnya hingga saatnya berdenting waktu ingatkan pada titik di mana kan berhenti tapak menjejak kaki mencari diri tak kembali demikian hablur lukisi cakrawala diam fatamorgana melari-lari ke ujung harap demikian kekal sunyi sesudut takut semuara kecut hingga akhirnya hingga saatnya kata mengucap jam telah lewat

detik kan berhenti dan sunyi merungkupku dengan mimpiku sendiri o aku manusia yang resah menjangkau cakrawala dengan benak penuh tanya sebagai keabadian jawab adalah tanyaku sendiri menghitung tiktak jam berdetik menuju segala batas ucap ucapkan selamat tinggal pada segala cinta dunia yang fana

inilah sujudku di hadapanmu wahai kekasih jangan palingkan muka karena rindu wajahmu menggoda selalu berilah senyummu berilah agar tenang ini diri agar tenang tak gelisah melulu inilah sujudku meminta ampunmu lihatlah dadaku demikian luka dengan segala kesah dan gundah merindumu merindu tak habis-habis waktu dengan ratap mengharap tatap o airmata sampaikah memuara di lautmu inilah sujudku dengan rindu telah porak hari-hari pertarungan kelahi dengan diri sendiri hanguslah o hati mawar yang kau beri dari taman seribu bunga demikian remuk demikian redam diamuk rindu dendam inilah sujudku memohon cintamu

26 FebSEPERTI KEKOSONGAN

seperti kekosongan di kartu kartu nasib balak kosong katamu membuat iringiringan kematian di jejalalur waktu kartukartu dideretkan seperti kereta yang menunggu perhentiannya sendiri di stasiun engkau menunggu entah melambai dengan tangis yang tersimpan diam diam menghitung jarak dan peluit yang diberangkatkan lewat kartukartu yang dikocok membunuh sepi karena peruntungan diramalkan lewat gelisah yang memasuki mimpi di kala tidur dan jagamu dengan penuh erang mungkin gairah yang mengendap dari masa lalu yang dilukis orang ramai dengan warnawarna kanakkanak yang melepaskan balon di tengah pasar atau memberi makan ikan dengan belalang yang kau tatap berlepasan dari jemari mungilmu belalang yang terbang dan hinggap di kurung burung dipatuk kutilang yang berbunyi tujuh kali perkutut berbunyi kungkongnya di bawah sinar matahari yang demikian takjub kau pandang dengan tatap kosong di kartu nasibmu

Tags:

08 JanKekasih!

 

(1)

Kekasih, tiba-tiba aku merasa hidupku sia-sia, sebagai pecundang yang lari dari medan perang, sembunyi dalam dengkur mimpi, berlari dari kemestian yang harus dihadapi

(2)

Kekasih, apa yang kucari di dunia ini? Karena engkaulah segala mula engkaulah segala tuju. Tapi aku terpelanting dalam goda dan rayu. Seperti moyangku dahulu!

(3)

Kekasih, demikian gaduh dalam dada dan kepalaku, ditabuh segala peristiwa ramai, hingga aku mengaduh. Menyeru namamu berulang kali.

(4)

Kekasih, aku demikian letih. Di mana cahaya matamu?

(5)

Kekasih, masihkah ada harap untuk menemu senyummu. Sedang terus berlari aku, dengan segala khianat dan pembohongan atas diri sendiri. Hendak menipu tatapmu, yang menusuk relung hati!

(6)

Kekasih, aku berlari dari kemelut dan maut. Sedang kutahu, di tangannya ada kunci pembuka pintu. Menemu dirimu. Tapi aku masih takut menemu cintaku. Menemu dirimu. Dengan segala malu pengkhianatan melulu.

(7)

Kekasih, kekasih, jangan tinggalkan aku sendiri. Aku gigil dalam ketakutan: kehilangan engkau dari diri.

Tags:

04 JanKapak Merah Puisi Berdarah

 

diacung kapak digedor-gedor pintumu belah-belah kepalamu berdarahlah

puisi berdarahlah dalam alir nadi tubuhku kata-kata dalam sumsum

otakku

“habisi saja masa lalu juga segala yang bernama dosa”

lihatlah tari itu dalam genang, o, sang pemberontak, dalam tikam

dalam dendam dalam kelam dalam geram

“mampuslah! mampuslah! segala yang bernama kelemahan!”

tak bermata hati hatimu membatubatu karena segala tegar adalah

dirimukah segala pasti tak ada demikiankah

“demikian, aku mencium darah puisi begitu harum rasanya”

Tags:

04 JanNegeri Api

 

O, Allah, inikah negeri itu?

Hangus wajahku

Hangus tubuhku

Hangus hati nuraniku

O, Allah, inikah negeri itu?

Api menjela panas begitu

Kutuk apa sampai di sini

Tak henti mengapi

Tak henti mengapi

Tak henti mengapi

 

Tags:

04 JanAda Apa Dengan Dunia Ini?

mungkin membuatmu gamang. tak memiliki pijakan. kau merasa

dikutukserapahi eros, berjalan tersaruk, pintu menutup. kau merasa

dikutuk, seperti sishipus menggelindingkan batu, tak henti.

karena kau lelah, kau ingin menjadi penghuni gua, tidur panjang,

serupa alkahfi?

mungkin aku demikian konyol. mengajakmu kembali ke jalan tak

berujung, sepi tak bertepi. membakarmu dengan api, membuatmu jadi

arang atau abu. mengajakmu menari, seperti zarathustra, di tengah

pasar, seperti orang gila, mengabarkan sesuatu yang mustahil, dan

orang akan menuduh gila. karena bermimpi menjadi promotheus

menyalakan api kesadaran…

ada apa dengan dunia?

“ada apa dengan diri kita!”

Tags:

04 JanCakram Matahari

Mengingat: Sutan Iwan Soekri Munaf

aku berputar sebagai cakram berputar sebagai waktu berputar detik menit jam

hari minggu bulan tahun windu abad jaman terbit di pagi tenggelam di senja

rindu menggoda goda dalam kata frasa kalimat baris bait alinea wacana bab

kisah kisah tua sebagai ephos pada tangan homeros diputar ingatan diputar

kenangan sebagai gelisah menunggu di puncak rindu..

Tags:

04 JanGelombang Pasang

rinduku menderu sebagai gelombang bergulung gulung ke pantaimu dengan

gairah yang tak habis habis membandang bandang membanjir banjir

membuncahruah tak henti henti mencium melumat karang dengan cinta cintaku

detik harus berhenti saat ini juga aku rindu pantai aku rindu memeluk aku

rindu pasir pasir aku rindu tubuhmu aku rindu!

Tags:

04 Jan23:26:54 7/07/2002

Ada yang ingin menerbangkan pikirannya

seperti ilalang yang ditiup angin.

Pada usia yang berangkat

dengan segala sia-sia dan putus asa.

Ada engkau yang menjenguk

dengan dada berdebar dari balik jendela.

Menunggu jam

berdenting. Tepat di titik nol.

Dia datang

dengan selimut kabut. Dan cucuran embun

dari matanya demikian deras menyapamu. Malam itu..

 

Tags:

04 Jan23:34:37 7/07/2002

Malam menebarkan bunga. Menyalakan lilin. Mengasapkan dupa.

Sebisik rindu yang diucap: ingin dikekalkan segala. Dalam kata.

Walau kau tahu segala fana. Segala fana. Bahkan…

 

Tags:

04 Jan10:46:35 7/08/2002

: sihar ramses“ucok” simatupang

Kau ingat saat kau lambaikan tanganmu. Di hujan yang menyimpan resah.

Sebagai geletar tak terucap. Membasah pelupuk mataku.

Tapi masih coba kusampai senyum. Untukmu. Dari beranda. Untukmu. Yang

melambai.

Di rinai hujan. Membasah rambutmu. Masih kau ingat?

Sebaris kenangan. Mungkin demikian fana.

Tapi masih coba kukekalkan segala yang fana. Walau….

 

Tags:

04 Jan11:14:26 7/08/2002

mengingat: laila dan saman

Kularungkan saja bayangan. Tak ada engkau sampai di sini.

New York yang sedih. September.

Tak kutulis lagi baris-baris mengingatmu:

Danau di tengah taman. Sepasang angsa. Kasmaran.

Di negeri utara. Seorang menanti.

Tapi kau tak datang. Di taman ini. Karena…

 

Tags:

04 Jan11:37:56 7/08/2002

Akulah puisi. Kudatangi Paz di malamnya yang ringkih. Kumabukkan ia dengan

kata. Hingga dadanya ingin meledak. Saat kuucap selamat malam di pagi yang

sebentar kan tumbuh. Ditulisnya aku dengan bahagia: kata, frasa, kalimat,

alinea. Bahkan katanya, aku mesti ada, jika ia tak lahir ke dunia.

Akulah puisi. Di matanya kuberi cahaya. Seperti…

 

Tags:

04 Jan12:04:32 7/08/2002

buat: emry situmorang

Usia? Demikian fana. Dari nol. Hingga nol. Dari lupa. Hingga lupa.

Seperti kau kata di titik malam. Mungkin kau lupa. Pada siapa.

 

Tags:

04 JanSketsa Senja

senja, jingga matahari, dan aku

demikian sepi

gigil sendiri

menatap matahari mencorong

di gedung kaca

senja, jingga matahari, dan aku?

menghela nafas sendiri

berat sekali

mampang, 18 September 2002

Tags:

04 JanEngkaukah

Engkaukah yang suatu ketika mengajakku. Terbang ke langit. Hingga daging menjerit. Karena ia mencintai dunia. Walau fana.

Engkaukah yang suatu ketika mengajakku. Telusuri lorong waktu. Ruang tak terhingga batasnya. Hingga daging tersayat. Melepuh di pucuk api.

Engkaukah yang suatu ketika mengajakku. Dalam gigil doa. Menjelang pagi. Melecutku berulangkali.

Depok, 11 September 2002

31 DecProses Kreatifku (1)

Esei: Nanang Suryadi

Pada November 2002, buku kumpulan puisiku “Telah Dialamatkan Padamu” terbit. Berbeda dengan buku-buku kumpulan puisiku sebelumnya: “Sketsa”, “Sajak di Usia Dua Satu”, “Orang Sendiri Membaca Diri” serta “Silhuet Panorama dan Negeri Yang Menangis” –yang aku terbitkan dan cetak sendiri difotokopi atau dicetak offset, dengan jumlah paling banyak 200-an eksemplar– bukuku yang terakhir ini diterbitkan oleh sebuah penerbit profesional. Penerbitnya adalah Dewata Publishing.

Ketika aku memberitahu kepada rekan-rekan bukuku akan diterbitkan oleh sebuah penerbit profesional, banyak dari mereka berkomentar: “wah kamu beruntung sekali”. Bahkan ada seorang penyair yang sudah sangat terkenal menunjukan keheranannya, “wah, masih ada juga ya, penerbit yang mau bikin proyek rugi.”

Memang, dalam dunia perbukuan di tanah air, menerbitkan karya-karya sastra terutama puisi dianggap tidak menguntungkan dalam hal perputaran modal yang ditanamkan. Dibandingkan dengan penerbitan buku-buku pelajaran atau buku-buku jenis lain yang perputaran kembalinya modal serta keuntungan kepada penerbit lebih cepat, buku-buku sastra lebih lambat. Di kelompok buku sastra, mungkin buku novel dan kumpulan cerpen lebih bernasib baik dalam hal menarik minat pembeli dibandingkan terhadap buku puisi.

Tapi syukurlah, hingga saat ini, di tanah air masih ada penerbit yang mau menerbitkan buku kumpulan puisi. Walaupun karya sastra yang diterbitkan sebagian besar adalah karya-karya sastrawan yang ternama, seperti: Amir Hamzah, Chairil Anwar, Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Sitor Situmorang, Toto Sudarto Bahtiar, Soebagyo Sastrowardoyo, Ramadhan KH, Abdul Hadi WM, Darmanto Jatman, Hammid Jabbar, Toety Herati, Isma Sawitri, Slamet Sukirnanto, Ahmadun Yossi Herfanda, Acep Zamzam Noor, Dorothea Rosa Herliani, Joko Pinurbo, Afrizal Malna, Gus Tf dll. Selain itu ada kecenderungan para penerbit untuk menerbitkan terjemahan karya sastra dunia. Saat ini buku puisi dan prosa Kahlil Gibran yang paling banyak diterjemahkan oleh banyak penerbit, dan menghiasi rak-rak toko buku.

Aku teringat tulisan dari Budi Dharma dalam sebuah eseinya, para pembeli buku karya sastra menurut dugaan Budi Dharma adalah para: penulis sendiri serta orang-orang yang ingin menjadi penulis. Mungkin dugaan Budi Dharma itu tidak betul, karena ada pembaca yang benar-benar hanya pembaca, dan tidak ingin menjadi penulis, entah karena memang tidak berbakat untuk menulis atau tidak memiliki minat ke arah sana. Tapi, seseorang terdorong menjadi penulis karena membaca buku bukan sesuatu yang mustahil.

Aku sendiri, misalnya. Sejak kecil, sejak aku dapat membaca buku dengan baik, mungkin kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar, aku membaca banyak buku-buku cerita kanak, majalah-majalah, koran yang ada di rumahku. Aku kira kebiasaan di waktu kecil itu berpengaruh banyak kepadaku untuk membuat karangan. Waktu kecil, abahku sering mendongeng sambil berbaring-baring menunggu kantuk tiba. Aku, adikku dan kakak-kakakku sangat senang mendengarkan dongeng dari abahku itu. Dongeng-dongeng yang dibaca oleh abahku dari buku-buku atau majalah diceritakan kembali, dalam bahasa Sunda, bahasa yang dipakai abahku untuk berbicara dalam keluarga.

Dongeng-dongeng dalam bahasa Sunda selain diperkenalkan abahku melalui dongeng lisan menjelang tidur, juga aku baca sendiri dari buku-buku setelah aku dapat membaca. Aku sangat menyukai dongeng tentang sakadang kuya, sakadang monyet, sakadang peucang, sakadang buhaya, Si Kabayan, Sangkuriang, Lutung Kasarung. Penguasaan bahasa Sunda dalam keluargaku dipengaruhi oleh abahku yang berasal dari Bandung. Selain bahasa Sunda, akupun mengenal bahasa Jawa. Karena dalam keluargaku dipakai dua bahasa daerah, dari abahku aku mengenal bahasa Sunda, sedangkan dari ibuku serta teman-temanku bermain aku mengenal bahasa Jawa banten. Abahku selalu berbicara dalam bahasa Sunda, entah kepada anak-anaknya maupun kepada ibuku. Kami, anak-anaknya menJawab dalam bahasa Jawa atau bahasa Sunda. Sedangkan ibuku, paling sering memakai bahasa Jawa bahkan jika berbicara dengan abah yang sedang berbicara dengan bahasa Sunda. Persoalan pemakaian bahasa yang campur aduk Jawa dan Sunda dalam keluargaku tidaklah menjadi persoalan, karena masing-masing sebenarnya memahami apa yang sedang dibicarakan.

Di rumahku banyak buku bacaan. Buku-buku dan majalah atau koran yang dilanggani abah dan ibuku, karena kantor tempat mereka bekerja mewajibkan berlangganan dengan dipotong dari gaji, menumpuk di rak-rak buku. Abah dan ibuku bekerja sebagai guru. Abahku mengajar di SD dan SMP, sedangkan ibuku mengajar sebagai guru agama di SD dan madrasah ibtidaiyah. Abah dan ibu selalu membawa majalah atau koran yang dilanggani itu setiap pulang mengambil gaji di awal bulan. Aku cepat-cepat meminta majalah itu dan mencari kolom dongeng, cerita serta komik di dalamnya, dan menikmati membaca sambil tidur-tiduran (kebiasaan yang tak bisa aku tinggalkan sampai kini, membaca sambil berbaring).

Selain majalah langganan dari instansinya itu, abahku juga sering membawakan aku buku-buku dari perpustakaan sekolah, yang aku baca sampai habis. Selain itu, aku ikut membaca majalah Bobo (majalah anak-anak) dan majalah Mangle (berbahasa Sunda) dari tetanggaku yang berlangganan. Hanya saja aku tidak diperbolehkan membaca majalah-majalah baru. Aku hanya membaca majalah-majalah yang sudah ditumpuk-tumpuk di rak. Suatu ketika, aku minta abahku berlangganan majalah Bobo. Abah memenuhi permintaanku itu. Aku mengenal Bobo, Deni Manusia Ikan, Juwita dan banyak lagi tokoh-tokoh rekaan dari majalah itu. Selain majalah Bobo saat itu aku juga membaca majalah Kuncung dan Ananda sesekali.

Perkenalan dengan dunia puisi lebih dekat, saat aku kelas lima diminta untuk mewakili sekolahku untuk ikut lomba baca puisi. Aku lupa, puisi apa yang aku baca saat itu. Sepertinya tidak berbeda jauh dengan lomba-lomba pembacaan puisi sekarang, sajak-sajak Chairil Anwar dan Toto Sudarto Bahtiar yang sering menjadi bahan pembacaan puisi.

Saat kelas satu SMP, aku paling menonjol dalam pelajaran bahasa Indonesia. Pernah suatu ketika, guru bahasa Indonesiaku meminta murid-murid di kelasnya menulis sajak dan membacakannya di depan kelas. Saat itu aku menulis sajak bertemakan perjuangan, dan saat membacakannya dengan suara yang lantang dan berapi-api. Aku sangat ingat, Ibu Rahayu, nama guru bahasa Indonesiaku, saat itu langsung memberikan nilai 9 di atas kertas puisiku. Wah, senang sekali rasanya.

Saat di SMP, aku sering meminjam buku-buku sastra di perpustakaan sekolah. Pengelola perpustakaan bernama Bapak Sulaiman, yang sering juga dipanggil Pak Leman. Ia banyak berperan dalam memperkenalkan sastra kepadaku. Jika ada kegiatan lomba pembacaan puisi aku sering diminta untuk mewakili sekolah bersama seorang kakak kelas perempuan. Kakak kelasku itu sampai aku SMA sering bersama-sama aku mewakili sekolah dalam lomba baca puisi. Namanya Lisa Diana. Pada sebuah acara perpisahan kelas 3, Lisa Diana diikutkan Pak Leman membantu aku dan teman-teman sekelasku dalam penampilan parade pembacaan puisi. Pembacaan puisi dilakukan bersahut-sahutan.

Pada masa-masa itulah, aku mulai mencoret-coret bukuku, buku harianku, atau kertas apa saja. Aku mulai keranjingan menulis sajak. Banyak teman-teman yang meminta aku menuliskan sajak untuknya. Aku dengan senang hati menuliskan sajak untuk mereka. Entah sajak jenis apa, aku sudah lupa. Tapi saat ini sisa-sisa sajakku saat itu sepertinya masih ada, kalau aku cari lagi di tumpukan berkas-berkasku. Yang jelas, sajak-sajakku saat itu, tidak terlalu berbeda jauh dengan sajak para remaja yang mulai menulis sajak, yang biasanya semacam curahan hati dengan kata-kata yang patah dan emosional, atau kalau tidak menjadi sajak penuh nasehat yang normatif. Tapi aku sangat percaya diri dengan sajak-sajakku saat itu. Semua coretan-coretan yang aku anggap bagus, aku ketik ulang. Kemudian sajak-sajak itu aku jilid dan diberi sampul kertas yang berwarna-warni (hasil praktek keterampilan mewarna kertas dengan cara mencelupkan ke dalam air yang telah dicampur cat besi dalam berbagai warna). Sajak-sajak dalam manuskripku yang pertama itulah yang aku baca saat ada acara api unggun di awal aku masuk SMA.

31 DecProses Kreatifku (2)

Esei: Nanang Suryadi


Di masa SMA, minatku terhadap dunia seni sastra semakin kuat. Di masa itu, aku mulai membaca karya-karya sastra dari majalah Hai, Kompas, Pikiran Rakyat dan Koran Mingguan Swadesi. Penulis-penulis seperti Gola Gong, Gus Tf, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, Remi Novaris DM, dll, kerap aku jumpai tulisannya di majalah Hai. Ruang pertemuan kecil di Pikiran Rakyat yang diasuh oleh Saini KM menarik perhatianku untuk membacanya, selain tentu saja membaca sajak-sajak yang ditampilkan di sana. Cerita bersambung di Kompas tak urung aku ikuti setiap hari. Sedangkan di koran Swadesi, aku mengikuti kolom sastra warung Diha yang memberikan kiat-kiat bagi penulis. Aku sering menulis surat kepada pengasuhnya, Mbak Diah Hadaning, sambil mengirimkan sajak-sajakku. Hampir tak percaya, suatu minggu aku baca di koran Swadesi pertanyaan dariku dimuat dan diJawab oleh Mbak Diah Hadaning sendiri. Kalau tidak salah pertanyaanku saat itu adalah tentang bagaimana cara mengatasi kemacetan ide dalam berkarya.

Di saat SMA itu, kegiatanku berkesenian dan menulis bertambah. Aku mengurus majalah dinding SMA dan juga menjadi pendiri teater. Puisi-puisiku semakin banyak. Berbagai tema puisi aku ambil, antara lain cinta, politik, sosial, ketuhanan dll. Namun yang cukup dominan sajak yang terlahir adalah sajak-sajak cinta dan patah hati. Terlebih lagi ketika aku jatuh cinta dan patah hati pada seorang adik kelas.

Hampir setiap saat aku menulis sajak. Sajak-sajak yang penuh semangat keremajaan itu seringkali aku bacakan sendiri di sebuah radio di dekat SMA-ku. Setiap hari Jum’at malam pembacaan sajak yang sudah direkam sebelumnya disiarkan pada pukul 22.00 -24.00. Aku pun mulai rajin mengirim karya ke berbagai media dari media instansi yang dilanggani abah dan ibuku, serta majalah dan koran umum.

Kegigihan untuk terus menerus mengirimkan karya itu mulai memperlihatkan hasil. Karya-karyaku mulai dimuat di beberapa media instansi, yaitu di majalah media pembinaan dan tabloid mingguan pelajar. Senang sekali karyaku bisa dimuat media seperti itu. Aku mendapatkan surat-surat dari para pembaca yang menanyakan bagaimana caranya menulis puisi. Akupun menjawab sekenanya saja, malah akhirnya pembicaraan menjadi tidak fokus kepada puisi, tapi kenalan dan membicarakan lain hal.

Kegairahanku terhadap sastra semakin bertambah. Dari perpustakaan sekolah, aku membaca banyak lagi buku-buku puisi, antara lain karya: Kahlil Gibran, Heru Emka, Zawawi Imron, Chairil Anwar, Subagyo Sastrowardoyo, Sapardi Djoko Damono, Rendra, Fariduddin Attar, dll. Selain itu, aku juga suka mengkliping artikel-artikel tentang sastra dan puisi dari berbagai media.

Walaupun di SMA aku mengambil jurusan fisika, aku berpikir kalau kuliah aku tidak mau meneruskan yang berhubungan dengan fisika, kimia atau matematika. Aku sadar, bahwa ternyata aku payah dalam hal hitung menghitung, sering ceroboh, kurang teliti! Dari berbagai alternatif yang ada aku memiliki gambaran bahwa aku ingin masuk ke bidang yang aku minati: kepemimpinan! Aku memilih jurusan manajemen. Selain itu sebenarnya aku memiliki keinginan juga untuk masuk ke IKJ dan jurusan sastra. Hanya saja dengan berbagai pertimbangan, usaha serta nasib, mengantarkanku ke jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Unibraw, Malang.

Di masa-masa kuliah ini, kegiatanku berkesenian serta berorganisasi semakin menjadi. Hampir semua unit kegiatan mahasiswa di fakultasku baik intra dan ektra aku masuki. Dari semua kegiatan organisasi mahasiswa itu, yang sangat berpengaruh bagi minatku menulis dan berkesenian adalah saat mengikuti pers mahasiswa dan teater. Aku aktif unit kegiatan pers mahasiswa fakultas dan universitas. Begitu juga di teater, aku menjadi salah seorang pendiri dan sekaligus menjadi ketua teater mahasiswa di fakultasku. Dan pernah juga menjadi ketua teater di tingkat universitas.

Kegiatan di organisasi mahasiswa, mendorongku untuk membaca buku-buku puisi pamflet Rendra. Aku pernah sangat terkagum-kagum pada sebuah film yang dibintangi Rendra, judulnya: “Yang Muda Yang Bercinta.” Segala gaya membaca puisi Rendra aku tiru saat pembacaan puisi. Dan memang, aku sering didaulat untuk membacakan sajak pada saat acara-acara demonstrasi mahasiswa dan acara penyambutan mahasiswa. Aku masih ingat bagaimana sebagai mahasiswa semester awal, dalam acara pemilihan Badan Perwakilan Mahasiswa, membacakan sajak Rendra yang sarat kritik. Di lain kesempatan di depan ribuan mahasiswa baru di stadion di kampusku, aku bawakan sajak seakan-akan saat itu aku menjadi Rendra sang burung merak. Selain sajak Rendra, sajak-sajak Emha Ainun Nadjib sering menjadi bahan pembacaan sajakku di depan umum. Tentu saja ada beberapa sajakku sendiri yang aku baca, dan pernah diminta oleh seorang intel.

Aku masih rajin menulis sajak dan mengirim ke berbagai media. Di Malang aku bertemu dengan Akaha Taufan Aminudin (ATA), seorang penggerak kegiatan sastra di daerah Batu. Aku sering berkunjung ke rumahnya dan berdialog banyak hal, di rumahnya yang menjadi sekretariat HP3N yang menerbitkan buletin sastra. Aku mengirim sajak-sajakku untuk buletin itu dan mengikuti antologi serta perlombaan yang diadakan HP3N. Beberapa sajakku menghiasi buletin serta antologi yang diterbitkan oleh HP3N-Batu itu. Bahkan ada yang masuk menjadi salah satu puisi terbaik. Selain berdiskusi di rumahnya, ATA juga mengajakku untuk membaca puisi di sebuah radio di atas kota batu (Songgotiti). Setiap malam setelah pukul 24, kami turun ke kota Batu berjalan kaki, dan sebelum kembali ke rumah ATA, bersantai dulu di warung-warung dekat alun-alun Batu, yang saat itu masih ada tugu apelnya.

Lewat organisasi yang dikelola ATA inilah aku mengenal banyak nama-nama penulis dan berkenalan langsung saat ada pemberian hadiah lomba yang diadakan HP3N. Aku mengenal Kusprihyanto Namma, Bonari Nabonenar dll dari “Revitalisasi Sastra Pedalaman” dan ikut menghiasi halaman jurnalnya dengan puisiku. Aku semakin banyak mengenal seniman-seniman sastra di Kota Malang.

Selain ATA, ada sosok lain yang juga membawa pengaruh kepadaku, yaitu: Mas Wahyu Prasetya seorang penyair yang sudah banyak mempublikasikan karyanya. Selain itu adalah pak Hazim Amir (Alm), seorang dosen sastra IKIP Malang, yang cukup disegani dan dikenal sebagai budayawan dari Kota Malang. Dengan dua orang ini aku sering berdialog membicarakan banyak hal, selain meminjam buku-buku mereka yang menarik untuk aku baca. Keduanya memiliki karakter keras. Tidak memberikan ampun bagi karya-karya yang dianggap jelek. Wahyu Prasetya, saat aku perlihatkan beberapa puisiku, dia baca dan dengan seenaknya menyilang sajak-sajak yang dianggapnya jelek.

Suatu ketika, beberapa puisiku dimuat di Republika. Teman-teman banyak yang mengucapkan selamat. Bahkan Pak Hazim Amir, saat bertemu denganku, langsung menyapaku: “hei, penyair.” Wah, aku sudah menjadi penyair! Kataku dalam hati.

30 DecProses Kreatifku (3)

Esei: Nanang Suryadi

Geli juga saat seseorang menyapaku sebagai penyair. Di lingkungan kampus, di antara teman-temanku, di antara lingkungan pergaulan yang lebih luas, mereka seringkali mnghubung-hubungkan aku dengan sastra, khususnya puisi. Dan mereka tak segan memanggilku: penyair. Entah mengapa. Mungkin mereka melihat aku demikian mencintai dunia yang satu ini. Dan aku memang sering mengatakan: “aku mencintainya dengan keras kepala.”

Konsistensi. Mungkin itulah kata kuncinya. Ketika seseorang terus menekuni suatu bidang dengan terus menerus, maka orang lain akan “mengakui” seseorang tersebut “berada” dalam bidang tersebut. Hal inilah yang terpikir dalam benakku saat ada yang meributkan masalah “pengakuan” atas eksistensinya di dunia kepenyairan. Pengakuan dari orang lain atas “keberadaan” dan “keberartian” kita bagi suatu lingkungan, sebenarnya mudah sekali, jika kembali pada satu kata kunci tadi: konsistensi. Apakah seseorang tersebut serius terus menerus menggeluti bidang yang ingin dia diakui keberadaannya. Atau hanya sambil lalu saja. Walaupun, seperti dikatakan Budi Dharma, sebagai sebuah sindiran dalam eseinya terhadap para sastrawan kita, bahwa ternyata kebanyakan hanya iseng, mencoba-coba, sambil lalu saja. Dan kerja iseng itu ternyata telah mendapatkan “pengakuan” luar biasa dari orang lain. Mungkin yang dikatakan Budi Dharma itu benar adanya. Mungkin pula tidak. Mungkin akupun sebenarnya belum sungguh-sungguh alias hanya iseng saja menulis sajak, tidak mau mengeksplorasi penuh dan total untuk menjadikan sajak sebagai sebuah kegiatan yang serius dan penuh perhatian. Walaupun, ternyata kerja “iseng” tadi sudah mendapatkan “pengakuan” dari berbagai redaktur sastra yang memuat sajak-sajakku di ruang koran, majalah, jurnal dan laman situs. Tapi, iseng atau tidak terus terang aku mencintainya. Mengapa aku mencintainya? Sukar aku mengatakannya. Mungkin suatu ketika aku tak mencintai dunia kata-kata ini. Seperti terkadang akupun mulai jenuh dan membencinya. Tapi hal tersebut, selama ini tak berlangsung lama. Saat ada ide yang menggoda, aku pun kembali untuk mencintainya. Ah, padahal puisi tak harus digeluti sampai mati bukan? (aku lupa, apakah kalimat ini pernah dikatakan Tardji pada sebuah tulisannya yang aku baca suatu ketika).

Aku sering mendengarkan komentar orang lain terhadap kegiatanku menulis sajak. Komentar mereka diantaranya: aku terlalu produktif menulis. Salah satu orang yang berkomentar tentang hal yang sama adalah Sutardji Calzoum Bachri. Dia adalah salah seorang teman berdialog kalau bertemu di kafe di Tim. Walaupun dialog sebenarnya tidak terlalu tepat, karena sebenarnya dia

yang paling banyak omong dan aku mendengarkan saja celotehannya tentang berbagai hal. Tardji bilang: “Nanang, jangan terlalu rajin nulis puisi.” Aku hanya tertawa saja, lantas bertanya: “Kenapa bang?”

Terlalu rajin menulis, kata Tardji, akan membuat sajak-sajakku menjadi cair. Cair? Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Tapi apakah aku harus menyiksa diriku untuk tidak menuliskan apa yang harus aku tuliskan. Seperti orang kebelet mau ke WC, lalu ada orang bilang: “Nanang, jangan terlalu rajin, nanti cair.” Hehehe, geli juga aku memakai analogi seperti ini. Aku lebih menyukai sering menulis sajak. Mungkin lebih dari 1000 sajakku saat ini. Bagus atau jelek, aku tetap mengakui itu adalah sajak-sajakku.

Sejak aku belajar menulis, aku merasa lebih mudah membuat sebuah sajak, walaupun hasilnya buruk. Aku pernah mencoba menulis cerpen, jumlah cerpen yang jadi hanya sedikit, sebagian besar tidak terselesaikan, karena sudah menghabiskan berhalaman-halaman tapi tak kunjung dapat aku hentikan. Aku mungkin tak begitu peduli dengan “nasib” cerpen-cerpenku, baik yang sudah jadi maupun yang tak jadi itu. Menulis esei juga merupakan sesuatu yang tidak mudah bagiku. Biasanya aku memiliki gagasan besar, menulis judul, lalu menulis beberapa paragraf, setelah itu berhenti dan aku tinggalkan. Aku pikir, aku menyukai menulis sekali jalan dan dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Mungkin karena itulah, aku lebih cenderung untuk menulis sajak.

Dalam menulis sajak, aku tak peduli apakah hasilnya jelek atau bagus. Aku tak ingin gagah-gagahan mengatakan bahwa aku mempersiapkan kosa kata dan mencari kata sampai ke inti sampai ke tulang sumsum seperti Chairil Anwar misalnya. Aku siap sedia dengan dengan segala keterbatasan kosa kata yang terkumpul selama ini dalam benak kepalaku, dan mulai menulis sajak ketika ada suatu sentuhan yang merangsang kata-kata itu keluar menjadi rangkaian-

kata yang disebut sajak. Sentuhan, yang membuka seluruh pengalaman fisik dan batinku selama ini. Jadi, sebenarnya, puisi itu telah ada dalam diriku, hanya saja harus ada suatu pemicu yang membuka seluruh pengalaman puitikku tadi. Pengalaman puitik sering kudapat saat berjalan-jalan, saat ngobrol, saat nongkrong di WC, saat melamun sendirian berbicara dengan Tuhan, saat apa saja. Memang, pernah pula aku mencoba untuk mencari kata-kata dari kamus dan menyengaja untuk membuat sebuah sajak, namun hasilnya tidak memuaskan, karena menjadi sangat teknis, tidak lancar dan seperti menjadi sekedar keterampilan mengolah kata-kata.

Sajak bagiku adalah sebuah dialog. Dengan sajak aku ingin berdialog, maka tak heran jika sering ditemui kata-kata: “mu”, “kita”, “aku” yang merupakan tanda bahwa ada semacam percakapan di situ, sebuah interaksi. Dalam sajak- sajakku, aku kadang-kadang menempatkan diriku bukan dalam posisi “ku” tapi dalam posisi “mu” atau “dia” atau kata ganti lain.

Aku seringkali menyapa seseorang dengan kata-kata yang akrab dikenalinya. Kata-kata yang sering diucapkannya, atau dituliskannya. Dalam sajakku aku tak ragu untuk menyapa Chairil yang menyapaku lewat sajaknya yang menyentuh saat kubaca. Hal yang sama bisa aku lakukan dengan sajakku aku pun menyapa Amir Hamzah, Rendra, Sapardi, Sutardji, Goenawan, Eka Budianta, Afrizal Malna, Subagio Sastrowardoyo, Acep Zamzam Noor, Gus Tf, Dorothea Rosa Herliani, Wahyu Prasetya, Kunthi Hastorini, Anggoro, Yono Wardito, Rukmi Wisnu Wardani, Indah Irianita Puteri, Hasan Aspahani, TS. Pinang, Saut Situmorang, Heriansyah Latief, Medy Loekito, Tulus Widjanarko, Sutan Iwan Soekri Munaf, Ramli, Suhra, Nietszche, Adonis, Rummi, Attar, Octavio Paz, Pablo Neruda atau siapa saja. Bahkan, sebenarnya yang paling sering aku lakukan adalah: menyapa Tuhan melalui sajak-sajakku. Ya, dengan sajak aku

berdialog.

Aku tak takut pada pengaruh para penulis-penulis lain. Aku terima segala pengaruh itu dengan senang hati. Yang memperkaya pengalaman jiwaku. Dan aku mencoba berdialog saat membaca karya-karya tersebut. Aku menciptakan kembali sajak tersebut menjadi puisi dalam angan pikiranku. Mungkin tak sama dengan apa yang dimaui pengarangnya. Tapi bukankah aku berhak memaknai kata-kata yang telah dituliskan, dengan pemaknaan sesuai pengalamanku sendiri, sesuai dengan imajinasiku sendiri.

Kadang-kadang saat membaca sajak, aku mencoba mencari inti kata yang merupakan kekuatan dari sajak tersebut. Aku “mencuri” kata itu dan menjadikannya titik tolak untuk berdialog. Aku coba mengolahnya kembali menjadi rangkaian kata-kata lain dengan apa yang aku rasakan saat

membacanya. Aku tulis terus menerus mengikuti apa yang terlintas dalam benak kepalaku mengembangbiakan kata yang aku “curi” tadi. Hal ini sering terjadi saat aku membaca sajak melalui milist, yang pada saat itu kubaca saat itu pula aku tergoda untuk menanggapinya. Aku jadi terbiasa menulis spontan. Mungkin pada saat itu aku sedang membangkitkan rasa yang terpendam dalam alam bawah sadarku. Mungkin. Hanya saja, bagi orang lain mungkin sajak-sajakku menjadi monoton, karena kosa kata yang muncul sering diulang-ulang dalam banyak sajak-sajakku.

Kegiatan bersastra di internet selama 4 tahun belakangan ini, aku akui mendorongku untuk menulis lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya. Seringkali aku menulis sajak demikian banyak, ketika aku berhadap-hadapan dengan email yang berisi sajak teman-teman, dan aku tergoda untuk membalasnya dengan sajak pula. Belum lagi, bila sajak atau email itu ditulis oleh seseorang yang aku cintai. Aku dengan sangat bersemangat untuk membalasnya, dengan sajak pula. Sajak-sajak interaktif ini mungkin dapat diteropong sebagai sebuah gejala baik yang muncul dari kegiatan bersastra di internet (lewat mailing list, chat room, buku tamu dan fasilitas

interaktif lainnya). Ada satu perangkat yang aku pakai juga untuk menulis sajak, yaitu melalui SMS di handphone. Aku sering berbalas-balas sajak melalui SMS tadi.

Baiklah, aku akhiri dulu penuturanku tentang proses kreatif ini. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku ungkapkan. Tapi lain kali saja, kalau sempat.***

30 DecINTERAKSI SAJAK (1)

Esei: Nanang Suryadi

Sajak tercipta sebagai sebuah reaksi terhadap sesuatu hal yang menyentuh relung puitik seorang penyair. Sebenarnya tak ada yang mengharuskannya menuliskan pengalaman puitiknya itu menjadi sebuah karya. Ia bisa menyimpannya menjadi sebuah pengalaman individual, tak perlu orang lain tahu. Tapi, secara manusiawi banyak orang akan mengabarkan apa yang dirasakannya kepada orang lain, entah itu perasaan suka tak suka, sedih, gembira, marah dan sebagainya. Ya, penyair dalam hal ini ketika menulis sajak-sajaknya ia telah menjadi orang yang mengabarkan sesuatu yang terjadi dalam dirinya saat berinteraksi dengan berbagai hal di luar dirinya.

Apakah sebuah sajak dapat mewakili dengan utuh “Puisi” (dengan P besar, sebagai pengalaman puitik sang penyair). Kata-kata atau bahasa memiliki keterbatasan-keterbatasan untuk mengungkapkan pengalaman puitik tersebut. Jika saja ada sebuah alat yang dapat menghubungkan kepala penyair dengan kepala penikmatnya (seorang rekan menyebutnya alat intersubyektif) tentu tak diperlukan lagi kata-kata atau bahasa untuk mengabarkan pengalaman puitik itu. Bahasa bisa berlebih-lebihan menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi, atau sebaliknya ia bisa mengurang-ngurangi apa yang sesungguhnya terjadi. Dan sesungguhnya tak semua bisa dikatakan dengan ungkapan verbal dengan bahasa yang terucap oleh mulut. Seringkali lewat tatap mata, atau gerak tubuh dapat dapat bercerita banyak dibandingkan dengan kata-kata yang terucap atau tertulis.

Seringkali dikatakan bahwa penyair adalah orang yang sering melebih-lebihkan, menceritakan hal-hal yang tak pernah dialaminya. Dengan kata lain penyair menjadi sosok tertuduh sebagai pendusta. Jika ini dihubungkan dengan keterbatasan kata atau bahasa sebagai alat ungkap, kemungkinan besar itu akan terjadi. Seorang penyair dengan memakai kata-kata atau bahasa tulis yang penuh dengan keterbatasan itu, akan menjadi berlebih-lebihan atau sebaliknya mengurangi apa yang dialami (pengalaman puitik) yang didapatnya dari sebuah interaksi.

Dalam mengungkapkan pengalaman puitiknya itu, seorang penyair berusaha memaksimalkan kemampuan kata-kata (bahasa), yang terbatas itu, menjadikan sajak seakan-akan menayang ulang kejadian puitik yang sesungguhnya. Sebuah sajak yang dapat mengungkap kembali pengalaman puitik sang penyair akan ditangkap oleh pembaca sebagaimana yang ingin diungkapkan. Berbagai teknik dapat dicoba untuk itu. Efek-efek yang timbul dari sajak diharapkan dapat mengungkap kembali hal-hal yang berhubungan dengan bunyi, pemandangan, rasa di lidah, bau di hidung, kasar halus pada kulit sesuai dengan pengalaman puitik yang didapat penyairnya.

Seorang penyair yang merasa telah mapan dengan teknik yang ia kuasai, cenderung malas untuk mencoba-coba. Ia merasa, dengan mencoba-coba maka ia tak memiliki gaya unik yang miliknya sendiri. Dan itu berarti karya-karyanya akan menjadi tak teridentifikasi sebagai karyanya yang orisinal.

 

30 DecINTERAKSI SAJAK (2)

Esei: Nanang Suryadi

Keorisinalan gaya seringkali menjadi beban bagi penyair. Seakan-akan menjadi dosa besar ketika terlihat pengaruh orang lain dalam karyanya. Hal itu diperkukuh dengan vonis-vonis dari kritikus yang cenderung melihat pengaruh orang lain terhadap karya sang penyair sebagai sesuatu yang negatif.

Secara logis, pengaruh orang lain ke dalam karya seorang penyair tidak dapat dihindarkan. Terlebih lagi, sajak adalah hasil interaksi dengan hal-hal di luar diri penyair. Seorang kritikus dapat menelusuri pengaruh-pengaruh tersebut bermula. Ia dapat saja keliru mengidentifikasi. Terlebih lagi di saat sekarang berbagai informasi dari berbagai penjuru dunia demikian banyak, sehingga sangat besar kemungkinan antara identifikasi kritikus terhadap apa yang mempengaruhi karya seseorang bisa meleset. Saya mengandaikan misalnya seorang kritikus menyebut: ada pengaruh Chairil Anwar, Goenawan Mohammad, Sapardi Djoko Damono, Rendra, Subagio Sastrowardoyo, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, Afrizal Malna, Dorothea Rosa Herliani dalam karya seseorang, sedangkan sesungguhnya sang penyair jarang membaca sajak-sajak mereka, bisa jadi yang sering dia baca adalah sajak-sajak dari Rummi, Attar, Nietszche, Adonis, Maya Angelou, Emily Dickinson, Edgar Allan Poe, EE Cumming, Pablo Neruda, Octavio Paz, Ezra Pound, Lipo dan banyak lagi penyair-penyair besar dunia lainnya. Dalam hal ini, untuk mengidentifikasi dan membedah karya penyair masa kini akan semakin tidak mudah, karena sebagaimana hypertex dalam dunia internet yang membuka kemungkinan untuk memasuki dunia antah berantah yang masing-masing berbeda dalam penemuannya, maka zigzag perkembangan wawasan dan estetika seorang penyair akan berbalapan dengan sorotan kritikus. Dan hingga saat ini, sepertinya kritikus kita masih selalu berbicara penelusuran ke dalam negeri, locally!

30 DecINTERAKSI SAJAK (3)

Esei Nanang Suryadi

Dalam beberapa bulan terakhir, sebagai redaktur puisi cybersastra.net, saya menemukan banyak kejutan-kejutan saat membaca sajak-sajak yang masuk. Ah, bikin mabuk, membaca semua sajak-sajak ini, bayangkan paling tidak 50 sajak setiap harinya, berapa waktu yang harus dicadangkan untuk membaca semuanya? Selain kejutan-kejutan itu, banyak juga ditemui sajak-sajak yang tak beranjak dari model-model Pujangga Baru yang tenang kemilau, atau “Aku”-nya Chairil Anwar. Tidak menawarkan sesuatu yang baru mengikuti perkembangan jaman. Mungkin saya keliru mengidentifikasi, sebagaimana diutarakan di muka. Karena menurut seorang rekan yang meneliti sajak-sajak dalam bahasa Inggris, ia bilang banyak poems yang lurus-lurus saja (atau jangan-jangan ia sebenarnya tidak tahu belokannya di mana? Hehehe). Tapi jika memang dugaan saya betul bahwa sajak-sajak itu tak beranjak dari model Pujangga Baru yang tenang dan kemilau atau “Aku” sang fenomenal Chairil, maka sangat disayangkan, karena ternyata informasi yang melimpah ruah yang ditawarkan berbagai media (antara lain internet) tidak dimaksimalkan untuk menjelajahi dunia baru, dunia entah, dunia antah berantah.

Dalam menyikapi fenomena di atas, ada sebagian pengamat mengatakan bahwa itu karena pembelajaran sastra di sekolah yang salah, yang hanya menyodorkan karya-karya jaman “baheula” dan menghafal nama-nama sastrawan, periodesasi dsb. Atau ada juga yang mengatakan, bahwa ada skenario besar yang menghegemoni pemikiran, bahwa hanya karya-karya tertentu milik sastrawan tertentu yang baik dan lazim, yang menurut mereka hal ini dilakukan dengan cara penobatan dan ekpansi oleh pihak “pemenang” sebuah pertarungan estetika (politik?) di waktu lampau.

Ada tinjauan lain yang dapat ditawarkan, yaitu melihat motivasi seorang ketika menulis dan menyiarkan sajak. Tinjuan terhadap motivasi ini dapat mengidentifikasi apakah seseorang itu bersungguh-sungguh ingin menjadi penyair yang “berprestasi” atau hanya penyair “sekedar.”

Sebagai sebuah kegiatan, menulis dan menyiarkan sajak tentu saja adalah hasil sebuah dorongan, baik internal maupun eksternal yang melakukannya. Dorongan ini bisa terlihat hasilnya secara fisik, namun seringkali merupakan hal yang berkaitan dengan psikologis. Secara teoritis banyak hal yang membuat seseorang termotivasi. Saya meminjam dua teori motivasi yaitu teori Abraham Maslow tentang Hierarchy of needs dan McClelland theory of needs. Dua teori ini mengungkap bahwa seseorang melakukan sesuatu karena didorong untuk memenuhi kebutuhannya (needs). Masslow membuat hierarki kebutuhan yang harus dipenuhi tersebut, yaitu physiological, safety, social, esteem dan self actualization. Sedangkan McLelland membagi kebutuhan manusia menjadi Need for Achievement, Need for Power dan Need for Affilization. Dari kedua teori ini, faktor apa yang dominan seorang penyair menulis dan menyiarkan karya-karyanya? Demikian banyak penyair, maka tak akan mudah untuk mengidentifikasi apa yang memotivasinya. Karena kemungkinan-kemungkinannya menyebar ke semua faktor tersebut di atas.

Dalam beberapa kali kesempatan kegaiatan sastra, Sutardji Calzoum Bachri menyatakan: achievement! Yang katanya “achivement” ini akan menjadikan seseorang tidak menjadi penyair yang “sekedar”. Dari kedua teori di atas apa yang dikatakan Sutardji tersebut dapat dibaca bahwa untuk menjadi seorang penyair “besar”, maka ia harus melampaui kebutuhan-kebutuhan yang lain (dalam hierarki kebutuhan Masslow) seperti Phisiological, Safety, Social, karena achievement dalam hierarki ini termasuk ke dalam “Esteem” (tangga ke empat dari hierarki). Pertanyaannya mengapa hanya sampai tangga ke empat? Tidak sampai pada tangga puncak Self –Actualization?

Lalu hubungannya dengan model-model yang tak beranjak dari Pujangga Baru itu bagaimana? Mungkin begitu pertanyaan selanjutnya. Dengan memakai kategori “penyair berprestasi” dan “penyair sekedar” maka dapat dikatakan bahwa upaya sungguh-sungguh untuk menjadi “penyair berprestasi” didorong untuk memenuhi kebutuhan “achivement”. Dan itu akan menunjukan perilaku yang berbeda, penyair itu akan mencari banyak hal, belajar sungguh-sungguh, mengupayakan pendobrakan-pendobrakan estetika dsb. Di sisi lain, “penyair sekedar” tak memerlukan itu, karena ia memang tak membutuhkan itu dari sebuah sajak, ia dapat mencapai achivement bahkan self-actualization dari kegiatan lain, misalnya di kantor ia bekerja, sebagai CEO atau Presiden Komisaris di perusahaan multinasional….

27 DecSeputih Lupa Sebiru Ingatan

Seputih lupa, katamu. Tapi ingatan berwarna-warna. Dengan jemari kulukisi kanvas waktumu. Hingga sorot matamu menerawang menerbang ke masa lalu. Terowongan yang tak habis kau telusuri. Hingga warna segala warna memasuki tidurmu. Mimpimu yang berwarna. Mungkin biru. Ingatan yang biru.

Ingatan demikian biru. Seperti langit. Seperti laut. Seperti rindu dari masa lalu. Tapi ada yang ingin menghapus segala kenang. Seputih lupa, katamu. Di sudut mata. Menggenang butir airmata.

Tags:

25 DecBERULANG KALI AKU TERSESAT DI JALAN DAN GANGMU, JAKARTA!

jakarta tak menyambutku dengan ucapan selamat datang, selain dengan hardikan preman di 100 m dekat terminal pulogadung. mungkin aku teramat lugu, hingga diseretnya aku dan dimintanya membayar bedak yang dicoretkan di mukaku. bangsat!

kemarahanku meledak (mungkin tak pernah kau bayangkan bagaimana aku semarah itu). tapi rasa kasihan muncul juga, saat polisi memasukkan preman itu ke kamar tahanan.

berulang kali aku tersesat di jakarta. berputar-putar menaiki bis kota, bajaj, ojek, taksi, mikrolet. pengamen, pedagang asongan, peminta-minta, pemaksa (sambil membawa secarik kertas di tangan, dia berteriak: saya baru keluar dari penjara, daripada saya jadi perampok, berilah saya sedikit rezeki anda). ah jakarta, jakarta, aku tak pernah betah hidup di jakarta. jakarta bukan untuk seorang pengalah. jakarta milik para petarung!

selamat tinggal jakarta, karena aku bukan petarung. selamat tinggal!

2002

Tags: