Last updated by at .

28 JanSEINE

salju tak membeku di sungai seine,

kapal kapal masih melaju

 

pasir dan batu, sphinx dan obelix

sampai di kota ini, kota kaum parisi

 

seine mengalir tenang, di paris yang riuh

kapal kapal masih berlayar

 

mengangkut kenangan demi kenangan

 

28 JanLOUVRE

monalisa monalisa kau pandang wajah pengunjung

dengan mata dan senyum penuh rahasia

 

apakah masih kau simpan kode davinci?

dari mata para pencopet di tengah kerumunan

 

di aula besar itu, mungkin kau dengar bisikan

dari abad kegelapan dari abad pencerahan

 

di louvre, monalisa, piramida kembar berhadapan

piramida meruncing ke atas ke bawah

 

kau dengar suara suara dari negeri negeri jauh

negeri negeri yang dulu terjajah dan masih terjajah

 

hidup bukan sekedar mithologi, berupa patung dan lukisan

di louvre, aku memandangmu, menjauh dari kerumunan

 

28 JanNAPOLEON

ada yang tak ingin mengenangmu, karena

menjadi kaisar adalah pengkhianatan

 

bagi revolusi yang menyala

berkobar api kebebasan, persaudaraan dan kesetaraan

 

telah diterjang bastille, telah dipenggal leher para tiran

tapi engkau memilih menjadi kaisar

 

kini di gedung itu, ada yang tak ingin mengenangmu

namamu berbaur di pemakaman pahlawan tak dikenal

28 JanVICTORIA VICTORIA

gedung gedung tua sepanjang buckingham,

sepanjang jalan jalan london

victoria victoria

 

thames yang jernih belum membeku

mengalirkan sejarah kegelapan dan pencerahan

penaklukan demi penaklukan negeri negeri jauh

 

victoria victoria

nama yang selalu bergetar di antara gedung gedung tua

perhiasan emas dan permata, di musium musium kota

 

victoria, victoria

gold glory gospel menyalakan matahari di semua lautan dan benua

di sepanjang jalan britania raya

28 JanMADAME TUSSAUD

“where is sukarno madame?”

tapi madame tussaud tak menjawab pertanyaanku

 

di musium ini aku ingin melihat patung presidenku

tapi sukarno tak ada, suharto tak ada, susilo bambang yudhoyono tak ada

 

aku tertawa saat ada yang memeluk beyonce dan marilyn monroe

aku mendamaikan rosevelt dan hitler, mari kita berfoto, kataku

 

tak menemukan sukarno, aku menemukan enstein, hawkins, picasso dan shakespeare

aku bacakan puisi tentang london yang membeku dengan salju

 

jangan terlalu tegang arnold, ini bukan di film action

tertawalah seperti becham, seperti tom cruise

 

selintas aku bertemu madame tussaud lagi,

sebelum melintas di rumah hantu, rumah kekejian sejarah manusia

 

di musium ini,tak ada tanda pintu keluar, hanya ada: this way

 

aku tersenyum melintasi sejarah britania raya

dengan kereta mini, tersenyum pada kamera yang meminta tebusan

 

biarlah kau simpan fotoku madame,

aku tak punya uang pound berlebih

 

mungkin engkau akan membuat patung lilinku, kelak

 

28 JanLOST IN LONDON

aku tersesat di london

saat toko-toko tutup jam 7 malam,

 

aku tersesat dengan handphone roaming

yang merampas pulsaku

 

aku menelusur trotoar china town london

dengan perut sakit menahan diare

 

aku termangu di trotoar depan kios tatto

menggigil kedinginan

 

di kota london yang asing

aku harus berbicara dengan sopir taxi

“do you know hotel novotel?”

 

sopir taxi, keturunan india tertawa:

“find your hotel adress, eight novotel in london.”

 

london masih sore, jam 7 malam

di tanah air sudah jam 2 dinihari

 

dan aku menggigil kedinginan

di antara salju yang melebat

 

aku tersesat di london

28 JanDI LONDON SALJU POST COLONIAL

salju turun demikian lebat

selebat kelebat kelebat bayangan sejarah

di antara patung patung dan gedung tua

 

sale! sale! musim dingin belum habis

wajah wajah cerah berburu di butik butik

 

aku membayangkan salju post colonial turun

di ruangan berpenghangat

 

tak ada yang menanyakan darimana aku berasal

seperti hanya kuduga wajah wajah eropa timur

 

lithuania, rumania, rusia, slovakia,

bangsa bangsa yang berdesakkan dalam kepalaku

juga di dalam butik butik yang berteriak sale sale

 

aku berfoto dengan patung muhammad alfayed,

dan tak masuk ke tokonya,

harod, aku ikut bersedih tentang dodi dan diana

 

salju turun demikian lebat

parit parit membeku, di london city, aku ikut membeku

bersama ingatan post colonialku