Last updated by at .

31 DecORANG-ORANG YANG MENYIMPAN API DALAM KEPALANYA

Oleh: Nanang Suryadi

Dia, seorang anak muda yang tak mau disebut namanya, mencoba mempertanyakan hal-hal yang selama ini telah mapan, mungkin dapat disebut juga sebagai orang yang antikemapanan. Adakah telah merasuk dalam benak kepalanya apa yang disebut orang sebagai dekunstruksi (sebuah ajaran dalam wacana postmodernisme) dan ia latah ikut-ikutan melakukannya?

Sepertinya tidak, jika disebut latah ikut-ikutan, ia adalah orang yang mencoba sadar terhadap pilihan-pilihan hidupnya. Salah satu yang paling disukainya, dalam perjalanan hidupnya selama ini, adalah menelaah sejarah. Baginya kesadaran terhadap sejarah harus dimiliki, agar tak terjadi kesalahan-kesalahan yang menimpa umat manusia pada masa lalu tidak terjadi lagi pada masa sekarang atau masa mendatang.

Sebagai seorang anak yang dilahirkan pada masa orde baru, dia tidak mengalami hiruk pikuk pergelutan politik yang sering diceritakan oleh orang-orang tua serta buku-buku yang wajib dibacanya di sekolah menengah atau pada penataran-penataran. Kata orang, pada masa lalu telah terjadi peristiwa yang teramat carut marut, penuh kekerasan yang mengalirkan darah dan airmata. Dia adalah anak yang dibesarkan masa pembangunan orde baru, yang tak pernah menyaksikan atau merasakan pahit getirnya perjuangan revolusi 1945, serta kejadian-kejadian yang menyusul setelah itu, semacam Agresi Militer I dan II, Persidangan Konstituante, Peristiwa DI TII, Peristiwa PRRI-Permesta, Peristiwa pengkhianatan G30S PKI yang gagal serta disusul dengan runtuhnya rezim orde lama yang tidak menjalankan lagi Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen, serta masih banyak lagi peristiwa yang hanya dapat didengar dari para orang tua dan dibacanya dari buku-buku sejarah.

Dia, seorang mahasiswa pada tahun 90-an pada sebuah universitas terkemuka di negeri ini, dengan pikiran-pikiran linear pada awal memasuki perkuliahan, berbekal pesan dari orang tua agar cepat lulus dengan nilai terbaik.Tapi apa mau dikata, sepertinya bukan salah bunda mengandung, Dia, yang memang sejak kecil menyukai dongeng-dongeng sejarah serta rajin membaca, ditambah lagi sedikit kemampuan menulis dan berrorganisasi (yang didapatnya pada sekolah menengah) tergoda untuk mencemplungkan diri pada sebuah arena permainan yang selama ini hanya dikenalnya dari buku-buku sejarah. Pada awalnya dia, yang menonjol bakat kepemimpinannya diajak mengikuti sebuah organisasi mahasiswa ekstra kampus, dan mulailah perjalanan hidupnya diwarnai dengan berbagai hal, dan munculah kembali pertanyaan-pertanyaannya tentang sejarah. Kembali ia tergoda untuk meragukan berbagai hal yang diyakininya selama ini sebagai sebuah keyakinan sejarah yang tak dapat diganggu gugat. Dia membaca berbagai buku serta media massa dengan begitu lahapnya, tanpa memperdulikan dari mana sumber tulisan itu. Dia teramat lapar, ingin dilahapnya semua informasi yang didapatnya, karena dengan begitu, menurutnya akan didapatkan sebuah keseimbangan, sebuah keadilan dalam menilai segala sesuatu.

************

Berbicara dengannya seperti berbicara dengan sejarah yang berlalu lalang di depan mata. Referensi tentang berbagai hal, sepertinya telah dikuasainya dengan sangat mengagumkan. Janganlah lagi jika ditanya tentang gerakan mahasiswa, yang dapat diceritakan dan dianalisisnya secara luar biasa, tentang berbagai hal diluar itu pun seperti filsafat, seni, agama dan masih banyak lagi akan dibahasnya, dari berbagai sudut latar belakang sejarah.

Ada satu hal yang mungkin merupakan kekurangan (atau kelebihannya barangkali), selama ini aku tak melihat ada seorang wanitapun yang menjadi orang istimewa disampingnya atau sebutlah pacar atau kekasih yang menjadi tumpahan perasaan dan perhatiannya. Sepertinya ia memperlakakukan semua orang baik lelaki maupun perempuan dengan perlakuan serta perhatian yang sama. Ah, itu kan urusan dia ya? Mau punya pacar atau tidak, itu kan tidak ideologis, katanya suatu ketika. (Ha…ha.. aku sering ingin tertawa sendiri jika mendengar argumentasinya, sambil menjabarkan tentang segala hal tentang cinta, menurut Erich Fromm, Sigmund Freud, Gibran serta penyair-penyair romantis yang dikenalnya lewat buku-buku, dan menyimpulkannya sendiri dengan muara kepada dirinya sendiri. Dasar! ).

Boleh dibilang, Dia adalah sosok manusia yang humanis yang menempatkan cinta sebagai sebuah wacana universalitas, dan kehidupan manusia demikian penting sehingga harus diberi makna, sesuai kodratnya. Dia akan teramat marah, ketika ketidakadilan nampak di depan matanya. Sebagai seorang aktivis mahasiswa yang mengetahui seluk beluk intrik politik dan permasalahan dalam masyarakat, lengkap dengan teori-teori yang didapat dari buku bacaannya ia seringkali menulis tentang berbagai hal tersebut.

Aku sering membaca tulisan-tulisannya itu baik essay, kolom, artikel, cerpen dan puisi. Ya, rupanya dia memiliki kemampuan lebih dalam dunia tulis menulis. Mungkin kegelisahan yang ia rasakan selama ini membuahkan inspirasi bagi tulisan-tulisannya.

***********

Suatu ketika, aku disodori beberapa tulisannya tentang fenomena kerusuhan yang melanda di segala penjuru tanah air. Sambil mendengarkan penjelasannya yang panjang lebar, aku membaca tulisan-tulisan yang hendak dikirimkannya ke media massa di ibukota. Wah, sepertinya dia teramat marah dan sangat emosional dalam menyikapi permasalahan ini. Seakan dia lupa, bahwa dalam menyikapi sesuatu harus seimbang dan adil penuh objektivitas, seperti yang dikatakannya padaku dulu. Kini, ia teramat subyekif dan sentimentil, dan melantangkan kemarahannya pada satu titik tertentu.

Mungkin, pertemuanku denganya saat itu adalah pertemuan yang terakhir, karena sudah beberapa hari ini aku tak pernah lagi berjumpa dengannya. Mungkin dia mati atau ditangkap saat melakukan aksi, aku tak tahu. Tak ada sumber berita yang dapat aku korek dengan jelas. Yang pasti, sosoknya itu dan pemikiran-pemikirannya telah membuahkan inspirasi bagiku.

Aku belajar menulis kepadanya, menulis essay, cerpen, artikel, kolom, serta puisi. Dia sangat suka kalau aku sodori puisi-puisi yang bertemakan sosial. Katanya, nah ini baru puisi namanya. Aku teringat Dia, seseorang yang berarti bagi sekelilingnya, walau mungkin sejarah tak mencatatnya. Karena katanya, Sejarah hanya milik orang-orang besar dan serdadu!

Untuknya aku pernah menulis begini:

Bicaralah, aku kan mendengarkan kata-katamu sebagai bisikan pilu dari seorang manusia yang menghuni dunia sakit jiwa. Tatapan kosong. Senyum yang ditebarkan pada ruang. Kau lihatkah Freud menyorotkan senternya ke dalam matamu. Menemukan deretan panjang keluhan, ditekan dalam ke alam bawah sadarmu yang gelap. Berapa lagi pil penenang yang harus ditelan untuk melupakan mimpi buruk kenyataan yang berulang datang, dan lari ke dunia mimpi.

Langkah itu begitu ganjil bikin tatapan heran sekelilingmu yang penuh tatakrama. Penuh aturan manusia. Adat istiadat yang mengharuskan kau berbuat normal.Lampu senter yang disorotkan ke dalam mata. melihat keterasingan di dalamnya. Penuh makian!

Dia pun tertawa membacanya, dan berkomentar: ah, kau anggap aku gila ya…mungkin benar juga, tapi sepertinya kita dihimpit oleh persoalan-persoalan yang membelenggu pemakanaan terhadap kehidupan manusia.

****

Namun, ada beberapa tulisan lagi yang belum dibacanya, yang aku tulis setelah pembicaraan tempo hari, mungkin aku terpengaruh argumentasinya.

Meledak juga akhirnya, kemarahan itu, membakar gedung-gedung serta harta benda yang begitu kau cintai. Massa yang mungkin sukar kau mengerti maunya. Orang-orang yang menyimpan api dalam kepalanya dari waktu ke waktu, rasakan berjuta perasaan dalam dada bergalau tak karuan. Orang-orang yang memandang pameran kemewahan, namun mereka tiada mampu memilikinya, walau keringat telah diperas begitu deras, walau tulang belulang telah dibanting dengan begitu keras. Namun tetap saja yang terlihat ketidakadilan yang disodorkan di mana-mana. Mengapa kau tanyakan lagi; apa sebab kerusuhan itu terjadi. Darah membanjir. Air mata mengalir. Sedangkan jeritan itu tiap detik diperdengarkan meminta perhatianmu. Dan tak juga telingamu mendengarnya?

Jemariku melukis dengan gemetar sebuah kota yang gemuruh, yang mencampakkan orang–orang yang kesepian ke dalam plaza, diskotik, cafe yang riuh serta ruang hotel hendak lunaskan mimpi senggama. Karena industrialisasi (juga modernisasi + westernisasi) telah mencemplungkan mereka ke dalam limbah-limbah pabrik dan melemparkannya ke udara yang pengap. Namun tak jera juga manusia mengadu nasibnya dengan map penuh kertas di tangan mengetuk pintu-pintu kantor, dimana mimpi-mimpi akan di simpan di dalamnya .

Dan pada kerusuhan yang meledak di segala penjuru. Kita tatap wajah siapa. Selain orang-orang yang lelah dan benak penuh api, yang akan membakar, apa saja. Di tanganku yang gemetar, kota yang meledak menggigilkan harapan ke sudut-sudut peradaban.
Malang, 22 Juli 1997

Tags: ,

30 DecTujuh Musim Setahun, Waktu Mencari Makna Cinta

Esei: Nanang Suryadi

Adakah daya tarik novel yang ditulis dari sudut pandang seorang perempuan yang bercerita tentang kaumnya? “Tujuh Musim Setahun”, sebuah novel karya Clara Ng, mencoba membeberkan secara subtil mengenai orientasi manusia terhadap ruang dunia yang terus berubah, dari beragam pandangan yang berbeda. Di mana muatan ceritanya memunculkan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam perhelatan persahabatan 5 orang perempuan, yang ditulis oleh seorang perempuan. Penghayatan penulis perempuan atas dirinya sendiri barangkali akan berbeda hasilnya jika permasalahan yang sama diceritakan oleh seorang novelis lelaki.

Satu hal lagi yang patut diperhitungkan oleh kehadiran novel ini adalah novel-novel sebelumnya yang terbit di masa yang sama dan mengambil tematik yang hampir serupa. Clara Ng sebagai penulis yang muncul pada masa yang sama dengan Ayu Utami dan Dewi Lestari, novelis yang pada beberapa tahun terakhir ini karyanya banyak dibicarakan. Pada sebagian pembaca mungkin akan segera membandingkan novel karya Clara Ng ini dengan novel “Saman” dan “Larung” karya Ayu Utami serta “Supernova” karya Dewi “dee” Lestari. Apakah Clara Ng menemukan sebuah celah cara pandang yang berbeda dalam melihat perubahan nilai-nilai yang terjadi? Dengan membaca novel ini dapat kita ketahui apa perbedaannya, juga perbedaan dalam penyampaiannya.

Pertanyaan yang mengemuka dalam novel ini: Apa itu waktu? Apa itu Cinta? Pertanyaan itu menjadi tema yang mengikat seluruh rangkaian dalam novel ini. Novel ini dalam banyak babnya menggunakan judul dengan kata awal: musim. Tiap musim yang menandai pergantian bab dalam novel ini sebenarnya dapat dibaca sebagai sebuah cerita yang berdiri sendiri, karena di sana memiliki tokoh utama nya sendiri, namun jika dibaca sebagai sebuah rangkaian novel, maka tiap-tiap bab dan musim itu menunjukan rentangan antar peristiwa yang terjadi, sebab dan akibat yang terjadi.

Clara Ng, penulis novel ini, membuat jalinan peristiwa antar bab yang melibatkan banyak tokoh dalam berbagai kombinasi bercerita. Teknik yang sering dipakai untuk memahami logika cerita dengan merunut waktu kejadian adalah dengan banyaknya penggunaan tanggal, sehingga dapat terasa seperti membaca buku catatan harian para tokoh dalam novel ini. Selain dengan model-model catatan harian, sering juga dipakai penceritaan memakai email serta chating melalui internet. Terkadang, penulis juga menjadi pihak pertama yang menceritakan tokoh-tokohnya sebagai pihak ketiga, kepada pembaca (pihak kedua). Selain itu, teknik yang sering kali dipakai adalah penceritaan oleh sang tokoh utama dalam bab, yang dibiarkan bercerita langsung kepada pembaca. Mereka menceritakan dirinya sendiri, juga bercerita tentang rekan-rekan dalam lingkaran persahabatan. Pada beberapa pengadegan dibuat dengan teknik kilas balik (flash back) atau seperti dalam sebuah film yang menggambarkan perbedaan ruang dalam kesamaan waktu, dengan berselang-seling penceritaannya. Dalam penceritaan oleh tokoh-tokoh dalam novel ini, rentangan yang menghubungkan peristiwa satu dengan yang lainnya pada bab berbeda, tokoh Lara sering muncul pada semua bab.

Secara umum dialog-dialog antar tokoh dalam novel ini tidak terpaku kepada bahasa Indonesia baku. Bahkan pada beberapa penceritaan oleh tokoh, ketidakbakuan itu pun muncul bukan hanya dalam dialog, namun dalam tuturan atau narasi. Dengan demikian dialog antar tokoh menjadi terasa ringan dan apa adanya dalam kehidupan sehari-hari pergaulan. Walaupun begitu, dialog-dialog serius pun masih tetap ada, hal ini dapat ditemui pada beberapa dialog antara tokoh laki-perempuan. Selain itu nampak pula perbedaan ketika dialog batin (konflik psikologis) yang muncul dibuat puitis dan menjadi terasa sublim.

Dalam novel ini terasa bahwa peristiwa demi peristiwa berlangsung pada kelas sosial tingkat menengah – atas. Para tokoh dapat dikatakan sebagai generasi cyber, rata-rata umur para tokohnya berkisar belasan hingga 20-an tahun saat berbagai peristiwa itu digambarkan dalam novel ini. Penggunaan alat komunikasi melalui internet sudah bukan hal yang asing dilakukan oleh para tokoh dalam novel ini. Selain itu digambarkan pula bahwa para tokoh dalam novel ini adalah lulusan perguruan tinggi, diantaranya ada yang sekolah di Amerika Serikat. Wawasan yang terbangun dalam lintas informasi dan pergaulan tersebut dapat meyakinkan latar belakang mengapa pada beberapa tokoh dalam novel ini mengetahui banyak wacana ilmu pengetahuan dan tertarik pada kata-kata hikmah dari berbagai ajaran agama.

Hal yang menarik dapat ditemukan dalam novel ini bahwa ada konsistensi penyelesaian masalah oleh penulisnya. Yaitu dengan membiarkan beberapa tokohnya larut atau menyerahkan pada naluri, yang dicitrakan antara lain dengan ditandai seperti hadirnya kejutan-kejutan listrik atau proses kimiawi yang aneh dalam tubuh.

Tokoh-tokoh dalam novel ini memiliki masalahnya masing-masing, yang penceritaannya dapat diketahui dari tuturan langsung sang tokoh tentang dirinya sendiri, maupun tuturan kesaksian oleh tokoh dalam bab tentang tokoh-tokoh lain dalam bab yang yang lain. Berikut gambaran para tokoh dalam novel tersebut.

Lara, tokoh yang banyak diceritakan dalam novel ini, baik diceritakan oleh penulis, dirinya sendiri, maupun oleh teman dan kekasihnya. Lara diperlihatkan sebagai sosok yang terobsesi dengan kenikmatan birahi. Ia menikmati berbagai sensasi kenikmatan jasmaniah dengan fantasi dunia maya (cyber)/ masturbasi dan real, misalnya berhubungan dengan: Alfa, Nata (masturbasi, cyber dan nyata)dan Michael (di pesawat). Perilaku yang dapat ditelusuri dari masa kecil, di mana secara gamblang Lara menceritakan dirinya sangat menikmati masturbasi sejak umur 7 tahun.

Tokoh Mei dan Kris, sepasang suami istri yang memiliki masalah dalam perkawinan mereka. Mei secara sepintas ia mungkin dapat dikatakan berbahagia, dengan suami dan anak, sepanjang perkawinan, namun ia bermasalah karena tidak pernah mengalami orgasme. Ia hanya mendapatkannya ketika bermasturbasi dengan membayangkan orang lain (atas saran dari Lara, melalui email). Selain itu masalah yang dihadapi Mei adalah perselingkuhan yang dilakukan Kris (suaminya). Agak mirip dengan tokoh Rana di novel “Supernova” karya Dewi Lestari. Jika di novel “Supernova” Rana yang berselingkuh maka dalam novel tujuh musim setahun, suami Mei (Kris) yang berselingkuh. Kris mirip dengan tokoh Arwin dalam novel “Supernova”, yang tidak memuaskan istrinya. Kris berselingkuh dengan istri orang (pelanggan tokonya), yang mengajak berselingkuh. Akhirnya ketahuan. Namun Mei memaafkannya.

Tokoh Iris dan Phoebe, pasangan lesbian yang memproklamasikan diri melalui wawancara di majalah. Hubungan sebab akibat terlihat dalam proses panjang yang menjadikan mereka menjadi sepasang lesbian. Sosok Iris dengan sangat cermat digambarkan oleh Clara dalam berbagai peristiwa. Iris adalah sosok perempuan yang oidipus complex yang akhirnya kecewa dengan laki-laki, antara lain dapat diketahui dari penceritaan tentang ayahnya yang meninggalkan ia dan ibunya; seorang pemuda yang dicintainya di waktu kecil mengalami kecelakaan; guru yang ditaksirnya menolak; dosen yang berselingkuh dengannya menghina di depan umum. Sedangkan Phoebe sejak remaja telah merasakan tanda-tanda bahwa ia hanya menyukai perempuan, jika pun ia pernah menikah dengan Ben (selama 2 tahun yang terasa sebagai neraka) itu disebabkan karena ia masih takut dengan resiko sosial yang harus diterima dari lingkungan keluarga dan masyarakat.

Tokoh Selena, sangat peduli dengan keperawanan. Ia merasa kesepian, karena agak terlambat dibandingkan dengan teman-temannya mengenal sentuhan lelaki. Ia baru merasakan kenikmatan sex setelah perkawinannya dengan Abraham sepupunya yang berbeda agama. Mulanya tidak direstui orang tuanya. Namun mereka kawin lari, menikah dengan memakai catatan sipil. Setelah mengetahui kejadian itu barulah orang tua mereka memberikan restu dan mengadakan pesta perkawinan yang sangat meriah.

Tokoh Nata, berpacaran dengan dua orang Rana (cyber) dan Nuna (real). Nuna, pacar Nata di Amerika, mati setelah koma sekian lama akibat tertembak saat terjebak dalam peristiwa perang antar gang. Nuna agnostic, saat dia mati karena tidak dicapai kesepakatan antar kerabatnya agama apa yang dianut oleh Nuna maka diadakan upacara doa dengan memakai semua agama. Nata menolak kenyataan bahwa Nuna sudah mati. Sangat terpukul dengan kematian Nuna dan terhalusinasi kupu-kupu sebagai jelmaan Nuna, akhirnya bunuh diri terjun dari gedung tinggi, dengan bayangan ia bergabung dengan Nuna menjadi seekor kupu-kupu yang terbang. Klimaks yang bagus, cukup mendebarkan, dengan penggambaran adegan Lara memacu mobilnya, diantara sela-sela penceritaan berbagai hal melalui email berbagai tokoh dalam buku ini, ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Nata.

Tokoh Michael, dihantui penyesalan karena Tania (pacarnya di SMA) mati karena aborsi ilegal. Dalam penyesalannya tersebut, saat berdialog dengan temannya yang bernama Tommy, dia membayangkan jika ia dapat kembali ke “waktu” sebelum kematian Tina. Apa yang dapat ia lakukan agar Tania tidak mengalami kematian. Dapatkah ia mencegah Tania meninggal. Apa yang akan dilakukannya dengan Tania dengan tetap hidup dan mengandung anak di luar nikahnya itu. Michael membayangkan beberapa kemungkinan yang akan ia lakukan jika dapat kembali ke masa lalu, namun alternatif dalam bayangannya itu selalu berakhir buruk (tidak bahagia). Jika akhirnya Michael aktif di LSM advokasi perempuan, adalah seperti sebagai penebusan rasa bersalah kepada Tania. Michael sudah lama tinggal di Amerika. Pertemuannya dengan Lara di pesawat menuju Amerika menjadi titik awal hubungannya dengan perempuan yang terobsesi nafsu birahi itu. Maka tak aneh, jika suatu ketika Lara bercerita kepada rekannya ia bersetubuh dengan Michael di closet pesawat.

Demikianlah gambaran sekilas tokoh-tokoh dalam novel tersebut. Berbagai peristiwa yang dialami oleh tokoh-tokoh yang hadir dalam novel ini dapat merefleksikan banyak perubahan yang terjadi di sekitar kita, yang dengan lancar dirangkai dan dikemas oleh Clara dengan bahasa yang tidak sulit untuk dipahami. Bahkan ketika harus menceritakan tentang segala macam bintang dan konsep jarak dalam ribuan tahun cahaya.

30 DecBeberapa Permasalahan Kritik Sastra Indonesia

Esei Nanang Suryadi

Dalam sebuah essaynya Saut Situmorang menyimpulkan sekaligus bertanya tentang krisis sastra Indonesia “Jadi apa yang terjadi di Indonesia sejak jaman Balai Pustaka sampai jaman Windows98 sekarang adalah krisis kritik sastra yang nampaknya belum ada tanda-tanda bakal berubah. Quo Vadis, kritik sastra Indonesia?” (1) Setelah membaca berbagai artikel tentang kritik sastra Indonesia, saya coba menarik benang merah, apakah sinyalemen Saut Situmorang itu benar adanya. Dalam acara membedah karya Goenawan Mohammad, 21 Maret 2000, di TIM, F Rahardi menyatakan, “membaca sekaligus memahami puisi Goenawan Mohamad bukanlah perkara mudah. Butuh kerja keras dan kerutan dahi untuk memahami belantara kata-kata yang ditanamnya. Semua itu bermula dari tradisi Goenawan dalam menulis puisi yang kental dengan referensi. Puisi mantan Pemimpin Redaksi Tempo itu dinilai banyak dilatari kecerdasan, pengetahuan, dan pengalaman yang posisinya berada di atas rata-rata orang Indonesia.”(2) Sebenarnya, bukan hanya Goenawan Mohamad yang bisa seperti itu. Sajak-sajak referensial semakin banyak dapat kita temukan dalam khazanah sastra berbahasa Indonesia. Dengan demikian seorang kritikus semakin ditantang untuk banyak tahu tentang segala hal atau dalam ungkapan Sapardi Djoko Damono, pengkritik harus lebih pintar dari yang dikritik. Lebih jauh lagi, mungkin kita dapat mendengarkan impian seorang Nirwan Dewanto, katanya:”dapatkah kita bayangkan seorang kritikus atau penelaah sastra lulusan sebuah universitas di Jakarta atau Yogyakarta yang pada suatu hari menelaah puisi liris Indonesia 1968-1990 bukan sebagai sebagai kelanjutan atau pencanggihan puisi “angkatan” sebelumnya namun sebagai risiko wajar dari tumbuhnya puisi modern di khazanah mana pun? ” (3) Namun demikian, perkembangan kritik sastra Indonesia, tidak seperti impian Nirwan Dewanto. Ternyata Sastra Indonesia masih menyimpan berbagai permasalahan. Persoalan pusat dan daerah yang muncul dalam permasalahan politik akhir-akhir ini, mencuat juga dalam perbincangan tentang sastra. Dalam sebuah pertemuan sastra, Mursal Esten melukiskan betapa salah kaprahnya penguasa sastra atau orang-orang di pusat yang menilai Saman karya Ayu Utami sebagai karya Indonesia terbaik dan dipuji selangit. padahal menurutnya karya Ediruslan jauh lebih baik daripada karya Ayu. Mengapa itu bisa terjadi? Mursal menduga mungkin menurut penguasa sastra di Jakarta yang nuansa daerah tinggi tidak perlu diberi tempat. Dalam karya sastra, bisa saja unsur Jawa, Minang atau Melayu-nya begitu kental dan itu tetap sastra Indonesia. selama ini karya sastra yang nuansa kedaerahnnya kental terutama Melayu cenderung terpinggirkan. Namun bagi sastrawan di daerah hal itu tak menjadi masalah sebab pusat daerah pun bisa jadi pusat-pusat kebudayaan. (4). Dengan demikian, pada kasus ini, kritik sastra merupakan sebuah perbincangan tentang sastra politik yang berbicara tentang penguasa sastra yang mendominasi arus opini masyarakat terhadap perkembangan sastra. Gejala pemusatan kritik sastra yang disinyalir Mursal Esten itu sebenarnya pernah disimbolkan oleh seorang HB. Jassin, yang sering disebut paus sastra, dan dianggap dapat memberikan legitimasi apakah seseorang layak disebut sastrawan atau tidak. Tapi, menurut Agus Noor, kritik sastra saat ini telah kehilangan kekuatan legitimasinya, sebagaimana masa HB. Jassin, tahun 60-an, yang mampu mengukuhkan kehadiran karya sastra dan sastrawan melalui kritik-kritiknya.

Perubahan inilah yang bisa jadi kemudian menjadi sumber “kekecewaan” terhadap kritik sastra kita, yang tak bisa lagi mengukuhkan satu pelopor, angkatan, atau kecenderungan estetik tertentu, meski cukup banyak kritikus yang terus menuliskan pandangan-pandangannya. Seiring dengan merebaknya postmodernisme dalam kebudayaan kita, kritik sastra juga mengalami peluruhan-peluruhan. Kebebasan menginterpretasi karya, keberagaman pandangan, menjadikan setiap karya sastra bisa dimasuki dari mana saja. Hal itu membawa konsekwensi: tak adanya pandangan atau penilaian dominan yang dianggap mutlak kesahihannya. (5) Namun demikian, masih ada sebagian kalangan yang melihat kritikus sastra adalah sebagai sebuah hasil pendidikan resmi sebuah institusi bernama fakultas sastra. Seperti terungkap dalam pernyataan Yono Wardito, seorang penggiat sastra internet dalam sebuah diskusi “yang memiliki kapabilitas sebagai seorang kritikus sastra adalah para kalangan dari akademisi sastra. diluar dari itu boleh, namun yang harus dipertanyakan dari mereka adalah kemampuan kritis yang akseptabel,mumpuni dan mempunyai nalar kemana arah karya yang dikritik tersebut akan di interpretasikan, hal ini memang harus ada, karena seperti kita ketahui bahwa banyak terjadi sebuah karya yang di kritik oleh banyak kalangan diluar akademisi seperti kehilangan nilai. Saya tidak mengatakan bahwa yang di luar akademisi supaya tidak berfungsi sebagai kritikus, tidak, tapi hal yang terjadi adalah adanya “effortless” nilai-nilai suatu karya di mata publik, terutama para penikmat, padahal bukankah telah ada “kesepakatan” bahwa para kritikus tersebut sebagai The Bridge Linking antara Kreator,Penggiat Seni, dan Publik ?” (6) Apakah akedemisi sastra (yang dipersepsikan memiliki bergudang-gudang teori) mampu menjawab tantangan kritik sastra terkini? Budi Darma, dalam sebuah essay mengingat HB Jassin mengatakan: “Ingat, kritik sastra yang diusahakan untuk rasional, ditopang pula dengan teori- teori, belum tentu sanggup menembus persoalan sastra. Dan ingat, kritik sastra yang diusahakan rasional dengan dimuati teori ini dan teori itu, ternyata tidak jarang hanya bergerak pada format penulisan dan bukan pada jantung substansi sastra.(7) Mengapa Budi Darma sampai menyatakan hal tersebut? Bukankah teori menjadi suatu alat bagi seorang akademisi untuk membedah sebuah fenomena. Dengan peringatan Budi Darma ini, seakan-akan teori telah menjadi sebuah ajang gagah-gagahan. Mungkin. Karena sebagai seorang akademisi sastra yang sekaligus praktisi kratif sastra, pernyataannya adalah sebuah hal yang mengejutkan Walau demikian, sesungguhnya jika tepat pemakainnya, teori sastra, paling tidak dapat melihat fenomena sastra dengan lebih objektif Kegunanaan kritik sastra, meminjam pernyataan Mursal Esten, tidak saja memberikan penilaian buruk dan baik kepada pembaca, tetapi juga menjelaskan nilai-nilai dan dimensi-dimensi yang tersembunyi serta terkandung di dalam sebuah karya sastra. Oleh karena itu kritik sastra harus mampu mengikuti perkembangan sastra, mengenal konvensi-konvensi sastra yang hidup dan berkembang dan juga harus peka gejala-gejala pemberontakan terhadap konvensi tersebut. (8) Apakah kritik sastra Indonesia sebuah status quo, seperti ditanyakan Saut Situmorang. Sepertinya tidak juga. Dengan melihat beberapa ilustrasi tersebut di atas, kritik sastra telah hadir berbeda dari pada masa lalu. Tentu saja dengan perbedaan-perbedaan pandangan tentang kritik sastra itu sendiri. Sebuah pluratitas. Mungkin masih ada yang melihatnya secara konservatif, namun ada juga yang melihatnya sesuatu yang dinamis, sebagaimana diungkapkan Agus Noor, “Kritik dan kritikus hanyalah teman dialog, yang membuka dan memberi peluang cara pandang, mendekati dan mengapresiasi.” (9)

Tags: ,

26 DecMANUSIA MANUSIA TANPA KEPALA

manusia manusia tanpa kepala berloncatan dari televisi yang penuh tahyul dan dongeng iklan manusia berkulit putih mulus setelah 3 minggu berlulur krim hingga tak dapat dibedakan mimpi dan nyata manusia tak berkepala menyorongkan horor tak menakutkan dari dunia setan arwah gentayangan sundel ke dalam kamarmu yang penuh dengan perselingkuhan sebagai sinetron yang memaparkan kecantikan dan kegantengan dan kemewahan sebagai mimpimu membunuh rasa lapar hingga semangkok mie instan serasa hidangan lezat restoran yang diobrakobrik manusia penghutang yang berjejalan di dompetnya credit card dan berhandphoe terbaru dengan dering lenguhan ranjang hotel-hotel yang menyimpan kematian kesetiaan karena cinta adalah transaksi jual beli sebagai untung rugi di tangan para calo yang tak peduli apa-apa selain berlipat modal berlipat lipat hingga mimpi dapat dibeli hingga angan dapat dicapai gapai hingga tak ada kalimat tak boleh bahkan maling asal kaya dan punya kekuasaan dihormati dipuja-puja sebagai dewa yang menawarkan kesejahteraan bagi rakyat banyak di panggung kampanye yang menipumu dengan janji-janji palsu dan kau tak pernah kapok untuk memilihnya kembali dan menindasmu lagi dan menipumu lagi dan memberaki kepalamu yang kudisan penuh kutu ketombe memimpikan rambut hitam mulus di televisi dengan air liur yang kau telan terus menerus mengimpikan hingga suatu ketika manusia manusia tanpa kepala berloncatan dari dalam televisi dan menyumpal mulutmu dengan kondom rasa rambutan!

Depok, 2002

26 DecDONGENG HANTU DI KOTA SAJAK

Buat: penyair w

hantu telah meledakan mimpi kota kota di malam malam panjang mengerikan sebagai teror yang dicipta dalam koran dan televisi dan film holywood di mana tak ada rambo atau james bond yang mampu mencegahnya karena kesumat telah menjadi seamuk mayat yang dibangkitkan dari kuburnya dengan dendam dan belatung dari borok luka yang penuh darah dan nanah gentayangan menghampiri sajak yang penuh kegelapan bahasa yang telah menjadi sulapan dari dunia kegelapan menghantuimu dengan mulut mulut nganga berbau busuk propaganda tak henti henti dari botol botol minuman impor berlabel franchise formula dan resep paha ayam bumbu tepung menyerbu lambung kanak kanakmu sebagai sampah yang dilesakan ke dalam lapar negara negara dunia ketiga yang mabuk bahasa iklan dan ekstasi yang menjungkirbalikan kepala hingga di bawah telapak kaki para monster yang telah menciptakan frankenstein dan domba dolly berkepala manusia di pesta pora membunuh angka angka data statistik demografi dengan remote control dan satelit mata-mata dari balik lelambai patung liberty ada yang berteriak tentang kebebasan dan persamaan dan persaudaraan sebagai omong kosong yang dikapalkan pada perang saudara dan terbunuhnya para manusia berkulit merah dan perbudakan kulit hitam ke negeri negeri penuh harapan bagi sebagian manusia hingga sajak kehilangan arti bagi dirinya sendiri pada hiroshima dan nagasaki dan camp camp konsentrasi dan getho getho musium kekejian bagi arwah yang melolong dengan mata mendelik dalam gas beracun inilah catatan yang tak henti diteruskan hingga asia diburu dengan bom napalm karena ideologi kepentingan tak dapat didamaikan dengan jamuan pesta malam di atas meja perjudian kartu-kartu domino yang akan meluncur jatuh menyerakan seluruh keinginan di batas batas peta yang digaris merah hitam biru di mana ladang ladang minyak mineral emas menjadi milik diri sendiri: apalah arti manusia dunia ketiga bagi mereka yang telah merasa memiliki dunia dan mencipta hantu setiap saat untuk menakuti tidur jagamu!

Depok, 2002

26 DecBUSH MENGHITUNG HARI SADDAM

buat: ben abel

Dihitung hari-hari Saddam, sebagai tetes minyak di tengah gurun, di cemas kabar. Bush menandai hari, mungkin di sela salju dan gemerincing bel. Hari-hari yang mengkhawatirkan

Kuterima suratmu, dari negeri jauh, menerbang di antara putih salju: mungkin akhir tahun ini…

Lalu kubayangkan rudal meledakkan kota-kota, dentumnya terdengar: buuuush! buuuush! saaaaaaaad daaaaaaaam! Kepiluan yang sama akan terdengar. Seperti Kuta, Kandahar, Sarajevo, Sabra Satila, dan negeri yang kau tulis di buku harian, dengan airmata. Dengan airmata

Kutulis sajak ini. Mengingat surat yang kirim saat itu: mungkin akhir tahun ini…

Malabar, Desember 2002

 

26 DecIA YANG MEMBAYANGKAN DIRINYA YANG MISKIN

ia membayangkan bagaimana seseorang itu duduk di sebuah museum dan menulis tentang orang-orang miskin di sekelilingnya seperti ia yang miskin dan harus dipinjami uang terus menerus oleh sahabatnya yang ingin agar buku itu selesai dan ia terus membayangkan tentang rumahnya di desa yang jauh dan ia tidur di kamar yang sempit di sebuah rumah yang disewa-sewakan kamarnya yang berbau apak dan bau alkohol murahan serta sedikit muntah dari mulutnya semalam saat ia membayangkan bagaimana mungkin seorang kelas menengah dapat menulis tentang derita dan kemiskinan para buruh yang bekerja di antara bising deru mesin di antara modal yang tak menghitung tenagamu selain sebagai kelipatan keuntungan rente bagaimana mungkin ia hidup dengan tenaga yang terus dihisap dihisap oleh para pemodal yang menyeringai di kamarnya yang hangat dekat tungku besar di saat salju turun tiba di saat loncengberdentangan dari gereja yang megah mengingatkan liburan akan tiba bagaimana dengan hadiah untuk anak-anak dan istrinya di kampung halaman bagaimana dengan makannya di hari liburan itu di mana ia harus mendapatkan uang karena tak ada yang meminjaminya lagi ia uang karena tangan dan kakinya telah terlindas mesin di minggu kemarin!

2002

 

Tags: ,