Last updated by at .

24 NovKarena Puisi

karena puisi bukan sebuah kesimpulan, bolehkah menjadi
pertanyaan. yang menggantung. tak ada jawab. tak ada
pemastian. sebab sebagai cinta, puisi menemukan dirinya sendiri

24 NovKita Mengeja

kita mengeja tanda-tanda, menafsirkan isyarat, makna yang
tersirat

kita belajar pada kejadian demi kejadian, peristiwa demi
peristiwa

24 NovApa yang Ingin Dikenangkan

apa yang ingin dikenangkan, kebaikan atau keburukanmu?

apa yang ingin dikenangkan, sebagai politikus, pengusaha
atau penyair?

apa yang ingin dikenangkan, o apa?

usia teramat singkat, kenangan akan ribuan tahun, apa yang
ingin dikenangkan orang tentangmu?

apalah arti dirimu, ada tiadamu tak ada orang peduli

kekayaan hanya sesaat, kejayaan hanya sebentar, tapi sikap
yang tegas akan terus diingat

24 NovPelajaran Berdusta

Karena dusta teramat indah, maka kita selalu diam diam belajar dari politisi di televisi yang berdebat setiap hari

Selamat tidur, dan kau diam diam menyimpan secuplik cahaya rembulan, agar mimpi tak terlalu pekat dicekam

Selamat tidur, dan diam diam kau menyelinapkan mimpi ke dalam kecemasan hidup yang tak menentu

24 NovSATU JUNI, MENGHITUNG LIMA JEMARI

ini bulan juni, dan hujanpun tak datang lagi
aku membaca hujan dari buku-buku yang terbuka tak sengaja

ini bulan juni, tak ada hujan yang tersesat di sini
aku membaca hujan dari mata yang tak kuasa menahan tangis

mari kita berhitung jumlah jemari: satu, dua, tiga, empat, lima tangan kanan. satu, dua, tiga, empat, lima tangan kiri

pada hitungan kelima, hujan tak datang juga, mungkin karena ini bulan juni

bayangkan hujan di bulan juni, bayangkan, serupa luruh bulu-bulu sayap jatayu dari sejarah masalalu

dan kita berhitung satu sampai lima, sambil terus terbata-bata mengeja makna

ada yang bernyanyi tetang hujan, di saat terik matahari, sebagai kidung. mungkin mengundang hujan, walau gerimis

ada pecinta hujan, ada penikmat hujan, ada perindu hujan, tapi tetap hujan tak datang. di awal bulan juni

“mari bermain lumpur saja,” kata sebuah suara. lumpur yang menyimpan airmata. menyemburkan murka bumi yang terluka

tak ada hujan, lumpur pun jadi.

“ayo kita berenang di lumpur!” tak ada hujan di bulan juni. hanya lumpur yang menjadi-jadi dari airmata luka bumi.

mari kita berhitung kembali: satu, dua, tiga, empat, lima! hopla!

24 Novdiam-diam aku ingin menulis sajak

diam-diam aku ingin menulis sajak

untuk diriku sendiri, saat senja dan sajak terasa sia sia

 

di lintasan waktu hanya ada suara burung, kabar burung

 

di sisa usia ada yang termenung menatap senja,

usia sia sia, belum apa apa

 

musim berganti. waktu berganti

ada yang menitipkan aduh pada jarum jam.

 

gendang gending bertalu di dalam hatiku, menggetarkan semesta dalam diriku

jagad besar jagad kecil berputar sebagai cakra waktu: kehidupan

24 NovSeekor Ikan Berenang di Langit

untuk: kang badri @indiejeans

aku menghikmati kesunyian, seperti menghikmati kehidupan. tak ada yang aneh dengan puisi

seperti juga senja ini, seekor ikan berenang di langit, ikan yang kau lepas tadi pagi

seekor ikan berenang-renang di langit, dan para perindu tertawa girang sekali

seekor ikan demikian riang, berenang-renang di langit, langit yang tenang

aku gemetar menatap langit, tapi ujarmu: lihat nanang, ikan berenang di langit, serupa kenang

para perindu, para pecinta menyeru-nyeru, namun engkau tetap tersenyum melulu. “lihat ekornya indah bukan?” ujarmu.

seekor ikan berenang di langit. berjumpa dengan rindu

17 NovArsip Puisi dari Buku Sepilihan Sajak Telah Dialamatkan Padamu

Beberapa waktu yang lalu saya telah mengupload puisi-puisi yang terhimpun dalam buku “Sepilihan Sajak Nanang Suryadi: Telah dialamatkan Padamu.” Buku ini terbit di tahun 2002 dan sudah tidak tersedia lagi di toko buku. Untuk memudahkan bagi para peminat puisi atau peneliti sastra, maka kami sediakan di page : “Telah dialamatkan padamu”.  Puisi-puisi diupload sesuai dengan urutan dalam buku aslinya, dan dapat didownload perhalamanan, sebagai berikut:

DAFTAR ISI  

SEPILIHAN SAJAK NANANG SURYADI

TELAH DIALAMATKAN PADAMU

  1. Kata Pengantar: ‘Erotisme Religius’ Sajak Nanang
  2. Daftar Isi
  3. Intro
  4. Dalam Sajak
  5. Yang Menyimpan Rindu
  6. Berjalan Di Bawah Gerimis
  7. Sketsa Jejak
  8. Bagaimana Diterjemah
  9. Terjemah Hujan
  10. Mata
  11. Tanah Lot
  12. Sang Pertapa
  13. Demikianlah Hujan
  14. Sebutir Biru Berkejapan
  15. Mengaji Kanak
  16. Seperti Kudengar Derai
  17. Bintang Biru Yang Sepi
  18. Kau Katakan Mengenali Jejak
  19. Perempuan Pagi Berwajah Puisi
  20. Ziarah Kenangan
  21. Symphony No.40 in G Minor
  22. Mencatatkan Alamat
  23. Sebusur Panah; Lekaslah!
  24. 23.30
  25. Seperti Engkau Yang Gemetar
  26. Mencintaimu Adalah Mencintai Aliran Air Tak Henti Mengalir
  27. Sebagai Upacara
  28. Jam Yang Menyerpih
  29. Perempuan Yang Bernama Kesangsian
  30. Seperti Kuseka Malam
  31. Seorang Yang Merangkai Bunga
  32. Seorang Yang Melipat Sepi
  33. Tiktaknya Begitu Nyaring Dalam Sunyi
  34. Tari Bulan
  35. Mungkin Kau Adalah Angin
  36. Catatan May
  37. Seperti Sebuah Risau
  38. Memory Pada Sebuah Jalan
  39. Black Hole
  40. Namun Engkau
  41. Ingatan Dari Kuntum Kuntum Mawar Oranye
  42. Istirahlah Di Dalam Mimpiku
  43. Yang Terbubuh Pada Waktu
  44. Imaji Yang Bertanggalan
  45. Hingga Mimpimu Menjelma Jadi Ledakan
  46. Inilah Hujan Di Saat Senja
  47. Igauan Sebuah Topeng
  48. Sketsa Peta Tak Bernama
  49. Tik Tak Tik Tak : 01.05
  50. Abstraksi Diri
  51. Pada Airmata
  52. Cahaya + Kemarau + Kabut
  53. Dongeng Impian Yang Dihancurkan
  54. Amsal Kesabaran
  55. Harap
  56. Bebuahan Cahaya
  57. Bayang
  58. Mengekalkan Airmata
  59. Narasi Orang Bosan
  60. Dongeng Keledai
  61. Berhentilah!
  62. Yang Dibakar Api Murni
  63. =Aiueo? Kosa Kata=
  64. Tanya
  65. Seribu Bulan
  66. Kata Yang Terpatah
  67. Aku Adalah
  68. Kepak Sayapku Tak Sampai Pada Engkau
  69. Mabuk Tarian
  70. Aku Gelandangan Mencari-Mu
  71. Persembahan Darah
  72. Langit Tumbang
  73. Membaca Darah
  74. Jalan Cinta
  75. Di mana Engkau
  76. Tawanan Cahaya
  77. Sampai Rindu Pada Cintaku
  78. Tualang
  79. Gelombang Sunyi
  80. Penari Telanjang
  81. Dirindurindu
  82. Seorang Aku, Menari-Nari
  83. Orang Yang Gemetar
  84. Mawar
  85. Kaulah Segala Takjub
  86. Sungguhkah Aku Mencintaimu
  87. Sepi Yang Membakar
  88. Kenang
  89. Engkau Yang Merindu
  90. Sesayap Sayat
  91. —~~~~~~++
  92. Sebuah Negeri Bernama Cinta
  93. Gapai
  94. Tak Sampai?
  95. Telah Dialamatkan Padamu
  96. Memandang Senja
  97. Menemu Pukau Rinduku
  98. Takluk
  99. Dan Akupun Menyerah
  100. Demikianlah Ia Berbahagia
  101. Kita Berjalan
  102. Epilog
  103. Biodata Penulis

 

06 NovGelisah Penyair

seorang penyair bertanya: “jika aku harus menulis puisi, kata apa yang mesti kutuliskan? puisi tinggal sepi, pasi tak berdarah lagi”

penyair menjaring kata, dari ingatan yang lamat, hingga lumat segala penat, hingga sampai ucap pada alamat, hingga tamat

dengan gelisah yang sama penyair juga bertanya: “bagaimana dapat kurasakan luka dengan penuh senda, bagaimana dapat kurasakan pedih perih dengan gurau senantiasa. puisi yang hampa”

di jalan dia bertemu penunggang kuda, penyair menyeru: “tuan, tuan ksatria bukan?” penunggang kuda berlari kencang, ke negeri utara. negeri yang diimpikannya.

sang penyair mendengar kabar penunggang kuda diberi gelar: ksatria. di dalam buku dongeng dia membaca: “engkau kssatria pemberani, pembela rakyat sejati.” ibu ratu mengalungkan medali. Lelaki itu bangga sekali.

penyair mengabadikan nyeri, sambil menghibur diri: semua baik-baik saja tentang negeri ini. ksatria itu telah menuntaskannya

“wahai penyair, kau menangisi diri sendiri?” tanya parang yang berdarah malam tadi. api menjela tiada henti

“menulislah tentang bulan bulat yang teramat indah,” kata sebuah suara. penyair malah menangis. bulan darah, katanya.

penyair ingin mengulang-ulang sajak tentang rembulan, sajak cinta yang berulang-ulang didaur ulang. cinta yang terluka.

 

Download File:

Gelisah Penyair

11 JanPuisi

Puisi

 

PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
NANANG SURYADI @PENYAIRCYBER
MEMO PADA SUATU KETIKA
tiba-tiba kau datang mengirim pesan:
datanglah, saat senja. aku menunggumu, dengan segala impianmu tentang
diriku. kau pernah berpikir bahwa aku bersayap? ya, sayapku berupa
warna-warna gemerlap. mungkin akan mengagumkanmu. mungkin tidak. karena
segalanya kau impikan. diriku diselubungi segala cahaya.
katakan, jangan menangis, padanya. yang mungkin akan kehilangan. jangan
takut. karena segala yang fana akan pudar. akan tamat.
jangan lupa, saat itu
KAU BEGITU MENYEBALKAN
sungguh, kau begitu menyebalkan. dengan impian-impianmu. dunia sudah
sedemikian susah. mengapa kau terus gaduh di situ. mari kita diam saja.
hai, mengapa kau terus mengomel? dasar pemimpi!
“tapi dunia sudah demikian tak memiliki hati. hidup menjadi lintasan
video klip. berkelebat ke sana ke mari. ledakan bom di kota-kota tak
membuat hati kita sedih. pipi cekung kanak-kanak kelaparan tak membuat
kita iba. apa yang salah pada nurani kita? mungkin telah menjadi
batu…”
sungguh, kau begitu menyebalkan, dengan pertanyaan-pertanyaan seperti
itu, membuatku malu…
BUNGA SEKUNTUM
aku ingin sematkan bunga, sekuntum, pada telingamu, agar matamu yang
hitam itu, semakin bercahaya,
ya, bunga-bunga demikan liar bertumbuhan di rumputan, padang terbuka,
mungkin tak sewangi geriap rambutmu, pada angin, menyentuh,
wajahku
ABSTRAKSI KENANGAN
lalu kau tuliskan segala kenangan, pada udara,
seperti guratan hari-hari kita, demikian abstrak,
tak jelas jelas canda atau petaka,
tak jelas nama atau bencana,
lalu, kau hapus segala kenangan,
begitu saja
ya, begitu saja
PADA AIRMATA
(kau ingin rasakan keheningan ini, seperti cucuran airmata, beterjunan
kanak-kanakmu, dalam segala moyak harapan)
sudah lama aku kehilangan air mata, tangisku menjadi api menyala,
jangan, jangan membuatku menangis, karena kota-kota sudah menjadi
puing, kanak-kanak sudah demikian damai dalam lubang besar pemakaman,
(kau ingin rasakan kesunyian ini, seperti cucuran airmata, beterjunan
aku, mencari cintamu)
sudah lama aku kehilangan cinta, tak ada yang tersisa, mungkin pada
pecahan granat atau bau bensin dan pecahan botol, tiada, tiada lagi
yang tersisa, kau lihat sepatuku, perhatikan, di ujungnya, ya merah dan putih,
darah dan sedikit cairan otak, eh ada berhelai rambut juga
(kau ingin rasakan keindahan ini seperti cucuran airmata, beterjunan
mereka, mencari cahaya)
sudah lama aku tak ada cahaya, di sini, dalam hatiku…
cilegon, 1999
DEBU DI LEKUK BENANG
pada kanvas ini, aku serupa titik, mungkin di sela, di lekuk benang,
debu? satu dalam bermilyar debu yang menghambur, menyeru: Kekasih
warna-warna dipulaskan di kanvas: bintang biru, atau pelangi pagi hari,
mungkin juga raguku
depok, 1999
EPISODE PINOKIO
boneka itu, minta menjadi manusia, pinokio, si hidung panjang. aduh,
padahal jadi manusia susah sekali. sudahlah, jadi boneka saja, biar
ditimang, biar kuelus, biar menangis, asalkan kau bukan manusia, yang
punya banyak impian dan masalah
“dan berbunuhan”, kata malaikat kepada Tuhan sebelum dicipta Adam
depok, 1999
STASI TAK TERHINGGA
      buat: eka budianta
tak hanya jakarta, chris
kudatangi negeri-negeri asing
persinggahan tak terhingga
dalam mimpiku
seorang yang mabuk kata-kata
menulis surat untukmu:
“inilah negeri itu,
kita bertatap mata,
rindu sekali”
depok, 1999
DUA PULUH EMPAT SENJA 
tataplah warna keemasan, tataplah dengan hatimu, di langit, adakah
namaku? mungkin di hatimu, kanak-kanak berlarian, dua puluh empat senja,
catatlah dalam-dalam, pada kenangan, sudah habis cucuran airmata, tiada
lagi kesedihan, atau teriakan, memecah sunyimu, dua puluh empat senja,
aku datang padamu, mengalungkan bunga, kanak-kanak yang tertawa
berceloteh, atau lelaki yang membaca, puisi begitu memabukkan,
kata-kata menjadi gelembung, aku bawakan balon warna-warni, dua puluh
empat senja, lilin yang nyala
depok, 5 nopember 1999
ROMANTISME MUSIM
:dp
Aku serasa mencium musim-musim
Bertumbuhan dalam udara
Kemarau yang hijau
Gerimis yang manja
Salju yang tulus
Daun jatuh di musim gugur
Kau ciptakan lagi dongeng
Dalam hatiku yang jauh
Mungkin telah padam
Di hembus angin
Ingatan pada engkau
Cinta, segurat luka
Tapi kucium musim
Melambai dari sunyi
Wajahmu
depok, 1999
INTRO
aku tak mengerti, katamu
pada sajak banyak ruang terbuka
terjemah kehendak, pada langit luas
atau gelombang berdentaman, dalam dada
mungkin cuma gurau melupa duka, karena
manusia menyimpan luka,
berabad telah lewat, apa yang ingin
didusta? pada bening mata
tak bisa sembunyi
pura-pura
CATATAN PADA GERIMIS
buat: dp
Pada dering, mungkin gerimis
Menyapa wajahmu
Harap yang ditumbuhkan
Katakan saja, bahwa kita membutuhkan
Mimpi itu
Menjelma
Seperti dikabarkan langit
Ketentuan itu
Seperti rimis
Menyentuh
Hidungmu
Seperti dulu
depok, 1999
TERJEMAH HUJAN
apa yang diterjemah dari hujan? senyap dan senyap
kenangan dicipta dari dingin, sepotong raut
melambailah engkau dari lampau yang biru
dari gerai rambut, mata bercahaya, ……
tak henti-hentinya, berkelindan, terajut dalam
perca bertaut,
hai, apa kabar?
hujan begitu gaduh katamu,
tapi ia adalah suaramu, begitu merdu
suaramu, dalam senyap
hatiku
cilegon-depok, 1999
SEMARAK CAHAYA
Melintas Insanul kamil
Pada jalan matsnawi, diwan dan rubayat
Sanggupkah ditatap
Semarak cahaya: O Cinta
Pecinta menari dalam kerinduan:
Adawiyah, Ibnu Arabi, Halaj, Jenar,
Sumirang, Sakhrowardi, Attar, Rummi,
Tabriz, Fansuri, Iqbal, Tagore, …..
Cahaya O Maha Cahaya
Cinta O Maha Cinta
Berjumpa
Di hati
Sendiri
depok, 1999
 TARIAN PECINTA
O Pecinta
Menarilah menari
Berputar-putar
Dengan gemulai
Keindahan Cinta
Ada yang berputar dalam atom
Ada yang berputar dalam masjidil haram
Bumi berputar
Planet berputar
Galaksi berputar
Alam Semesta berputar
Dalam Cinta
depok, 1999
INTERTEKS
Ke dalam dada merasuk teks-teks purba
Pengetahuan yang diajarkan pada Adam
Teks terbuka
Pada kitab suci
Pada alam semesta
Manusia mencari hikmah
Di balik yang nyata
Ada banyak tanya
Rahasia
depok, 1999
POTRET PANORAMA KERINDUAN
Bacalah dengan hatimu, keindahan
Panorama sekeliling,
Mungkin kata-kata tak sanggup mengungkap
Puisi
Tapi ada yang ingin berbagi
Cerita
Karena manusia adalah
Cinta
Karena semesta adalah
Cinta
Dipahat kerinduan pada
Maha Cinta
depok, 1999
DI UJUNG LORONG ADA BERKAS CAHAYA
mata, pada pelupuk, dicium angin,
manusia: mimpi, kenangan juga kesunyian, …..
hidup menjadi lorong-lorong
cahaya di ujung
pada berkas
ada harap
mungkin kekalahan juga
atau sesal
mengendap
pada tatap
atau malam
yang ratap
tapi gapai tak sampai
tangis tak usai
terjemah kehendak
atau takdir
tuhan
                                   cilegon-depok, 1999
PADA MATA KANAK
mungkin pada kanak kau temukan harapan,
embun kedamaian terangkum tangkup tangan-tangan mungil.
mata bening yang menghibur hatimu duka
tapi kanak-kanakmu tersesat di chanel televisi 24 jam,
yang mengajari mereka cara membunuh
belajar pada dentum, headline yang tebal,
pada desing, tusukan, rudapaksa, api. siapa mengaduh?
kita mungkin telah kehilangan harap pada dunia, tapi
dapatkah lari dari kehancuran
begitulah kita bermimpi…
seperti kuarungi
matamu
depok, 1999
ILUSI LELAKI
“adakah sedikit saja, untukku,” mungkin ilusi,
bagi lelaki, seperti ditatap, pada penghujung
cerita dibangun dari coretan, goresan, pada usia
mungkin namamu, mungkin bukan namamu,
tapi engkau yang tersedu,
memecah sunyiku
depok, 1999
REPORTASE NOL-NOL
serangkum sepi, perempuanku, merenggut dadaku, mata yang binar, senyum
merahasia, kota-kota, tetap saja, gelisah, seperti duka, tarianmu,
ilalang tertiup angin, mengombak, mengalun, serupa mimpi, bertabur
dalam, bertabur diam, bertabur apa, mungkin di langit, serupa bintang,
pelangi, awan kelabu, omong kosong, yang lain, tembok putih, jeruji,
helaian kertas, seonggok…
kau bunga?
hm, ke mana harummu!
depok, 1999

COBA TOREH
coba toreh, pada dada, ada apa, mungkin darah, cinta, atau luka,
abad-abad mabuk, terjungkal, beri aku apa saja, mungkin gemulai, atau
tatapan, sedingin es, atau senyuman sepanas matahari, atau tubuhmu?
(pada jamuan terakhir, seteguk anggur sepotong roti: makan dan
minumlah…)
tak seperti rummi, ternyata, tarian para peniru darwis itu, tak ada
pecinta yang sungguh-sungguh merindukan, dengan kata-kata, seperti
bibirku, berdarah dan luka, seperti kebohongan yang kusulut diam-diam,
seperti?
api yang meledakkan rumahmu, dengan sekam, dengan bara, dengan nyala,
dengan dendam tak bermata, dengan cekam, dengan geram, dengan?
tatap matamu, sungguh
menyilaukan
depok, 1999
AKU BERLINDUNG PADA ALLAH
aku berlindung pada Allah,
dari kebodohan napsu,
yang dihembuskan setiap detik waktu,
aku berlindung pada Allah,
dari kesesatan pikiran,
yang merajalela
aku berlindung pada Allah,
dari segala kegamangan,
aku berlindung pada-Mu
sungguh,
jangan tinggalkan aku
depok, 1999

DZIKIR TELEVISI
pada petang menangkup
apa yang diseru? musik berdentangan di televisi
selewat adzan, bersambung nyanyi
pada kabel didzikirkan syahwat, mencuat
pada gelas, didawamkan tipu daya
pada Engkau? begitu penat lidahku, semenit saja
inikah hamba yang mengharap sorga?
inikah manusia yang tak mau dijilat api neraka?
Allah, betapa mudah kutipu diri sendiri….
depok, 1999
HUJAN YANG TURUN SENJA HARI
mungkin engkau menangis kekasih, di ujung senja, aku tahu mengapa
tak usah lagi dikata, karena derita manusia datang sebagai coba,
mari, kita tatapi senja yang turun, bersama pelangi, langit jingga
mungkin doa, hanya doa yang pantas kita bacakan,
begitu lindap warna-warna yang ada dalam benak kita, nuansa
sebagai bayang-bayang samar,
sebuah kesaksian, sebuah impian
mungkin hanya itu milik kita
depok, 1999

GURATAN PUKUL 23.55
apa yang kau ingat, dari 23 jam 55 menit yang lalu
kaukah manusia yang merugi?
kemarin dan hari ini telah terjalani,
pada neraca akan terlihat
dan esok? masihkah kita melihat matahari
terbit dari timur
tak kutahu. sungguh tak kutahu
Depok, 2 Desember 1999

BIOGRAFI PENYAIR
        buat: arisel ba
Puisi telah mengalir dalam tubuh
Sebagai darah
Helaan napas
Ketukan jemari
Menuju Yang Satu: Allah
Di balik kata ada hikmah
Asam garam kehidupan
Juga kenangan pada: nenek, ibu, ayah dan guru
Ada seorang menulis sajak
Ia menuliskan hidupnya yang puisi
depok, 1999

KAMERA
 buat: fudzail
Wajah bangsa dipotret, mungkin redup
Tapi ia wajah kita sendiri, menyeringai
Mungkin malu
Atau kesakitan
Sungguh, teramat sulit untuk bicara jujur
Ketika ketakutan mengepung di mana-mana
Ada seorang memotret, dengan jemarinya
Mungkin wajah kita di situ
depok, 1999

SEPATU ITU MASIH DATANG, TEHRANI?

 buat: tehrani faisal
Sepatu itu masih datang,
Padamu?
Dengan derap
Yang mungkin menggetarkan lantai
Tapi tidak hatimu
Karena kekuasaan manusia
Bukan untuk ditakutkan
Karena suara sepatu
Hanya derap menggetarkan pada jalanan
Tapi tidak hatimu
Ada kawanku,
Dengan keberanian
Meyakini itu
depok, 1999
GUMAM PUKUL 23.15
sebentar lagi, ya sebentar lagi,
pada malam, keheningan yang menciptakan rindu
“ternyata kita tak lebih baik,” katamu
terlihat capek, dengan segala perasaan sia-sia
ke mana kita akan pergi, pada kelam atau silam?
wajah itu demikian kusam, tak seperti kanak
ya, tak seperti impian kita, dunia yang damai
penuh cinta, pada dongeng wonder land
tapi  ia akan datang juga
mengganggu kita, hook dengan tangan kait besi
menjangkau sayap mungil, dan menghancurkannya
tak berkedip, tak berkedip
mari kita tidur saja, semoga perompak itu
tak merampok kebahagiaan dalam mimpi kita
malam ini
depok, 1 Desember 1999

DONGENG Y2K PUKUL 23.35
merangkak detik dari 23.35 mungkin menggigilkanmu
jam akan datang pada abad 00.00
(2000 tahun manusia dirayakan, seekor kutu
terselip dalam layar monitor, ucapkan: selamat datang!)
cahaya itu begitu menyilaukan
dari mana datangnya, mungkin dari benua ketiga
(2000 tahun manusia dirayakan, seekor kutu
terselip dalam hulu ledak nuklir, ucapkan: selamat tinggal!)
“halo…halo..james,
h…a…aa..l…o ma…i…h di …siiitu?”
krrrrreeeezzzzzssskkk
mungkin itu, gemerisik terakhir
dari pesawat telponmu
depok, 1 Desember 1999

DUA DAN SATU KERINDUAN
mari,
kugenggam jemari,
engkau yang cahaya purnama,
mari menari,
dalam hari
engkau yang tertawa bahagia,
mari, ke mari
di sisiku bidadari
engkau yang ku cinta
malang, 11 oktober 1999
SUPERMAN
buat: tomita dan suhra
1.
“aku ingin jadi hero, pahlawan pembela kebenaran”, kata kanak dengan
mata berbinar,
mungkin ia dari masa lalu, seperti buku komikku menguning, seperti
louis & clark, batman dan robin, zoro, janggo, phantom, gundala, flash
gordon, ….
“aku ingin jadi super man”, kata seseorang
aku seperti pernah mendengar entah siapa bicara, mungkin lelaki,  dari
sebuah negeri yang jauh, mengatakan: “kita telah membunuhnya”
dan aku tak percaya bualnya
2.
dan ia datang padaku, membisikkan: “telah diringkus promotheus, dan ia
menjadi bait puisi, karena mencuri api, karena ia mencuri api”*

SEPOTONG SENJA DI KOTAMU
buat: medy
ada yang bercerita, tentang senja, maghrib yang lengang di televisi,
aku tatapi senja, “aduh seno, jangan kau potong senjaku… biarlah
alina..biarlah.” senja begitu indah, cahaya disela awan,
bahtiar,  mochtar, ada yang nyala di buku, seperti
mimpi
depok, 1999

LABIRINTH MUMET ATAU MOZAIK PERCA
kenangan untuk: raymond valiant
malam yang merangkak di bawah rembulan sepotong, bercangkir kopi, kita
nyalakan tanya: tentang cinta, perempuan dan tuhan?
“aku ingin lari dari belenggu harapan,” kata kinyur menunjuk erich fromm.
“dimanakah engkau wanitaku?” dedi begitu parau menyuarakan sepi, seperti
willy
ah, mengapa teks mitos dan logos terbakar. mengapa? adakah yang membenci
kebenaran? suara senyap yang menggigilkan ujung tanya
ada yang bertanya padamu: habermas, mana jalan ke frankfurt? lewat watu gong
atau betek? atau sepi perpustakaan, buku berdebu, internet yang nyala…
(ada dering di kejauhan, halo di mana kamu?)
depok, 1999

KAUKAH PEREMPUAN ITU
kau menyeru: “ibu, ibu, habis gelap terbitlah terang!*”
kaukah perempuan itu, yang datang dalam mimpi, selepas malam,
udara begitu buruk, dan kau masih tetap di situ, menulis gelap,
dengan jemarimu, yang luka
ada kuingat, perempuan di titik nol; masihkah kau ingin perdebatkan lagi
tentang clitoris yang dipotong habis,
aku begitu menggigil, seperti malam keramat, mahfoud mengabarkan perempuan yang
mendongeng, kau ingat: bayi yang ditimbun pasir, dilempar ke got, …..
ia manusia, dan
aku mencintainya
depok, 1999

DONGENG NEGERI DONGENG
pada catatan pinggir, goen, ada warna sepia? kamus terbuka, terumbu,
kersik, lokan, poci, confety, menjadi abadi? lalu berjejalan di
kota-kota semangka, sepatu, migrasi dari kamar mandi, 100 meter dari
kota ciledug, sedekat malna menulis surat untukku? atau kapak, ngiau,
rabu yang ditakik? tarji tergelak
ilalangtelahdinikahkankah rosa? serupa dingin, beringsut di angin,
mungkin sebuah perubahan, gus, mungkin serupa didaktika catur…
tapi kota-kota mulai gelap, chairil, seperti karet, karet tempatmu
y.a.d, mungkin pula pada pelabuhan tempat laut hilang ombak…
tapi ada yang bergegas, dengan tegas, saut, ke mana sobron, ke mana,
kemana wispi, ke mana iramani, ke mana mimpi itu pergi? ke mana,
hamzah, ke mana taufiq, ke mana willy, ke mana?
sobron menulis:, aku buat tape ketan, rendang, di negeri orang, wispi
dulu di nanking, iramani? coba tanyakan pram, mungkin ia tahu di mana…
heh, hamzah berdiri di senja senyap, taufiq di padang ilalang bertopi
jerami mungkin ingat umbu, atau malu menjadi orang indonesia, dan willy
duduk di samping seonggok jagung…
dan sepotong senja, di tangamu seno, serupa mimpiku, segera kan
tenggelam….
seperti
matanya
depok, 1999

DONGENG NEGERI
Jangan Kau Dongengkan Lagi Untukku
Impian Kosong
Aku Sudah Bosan Dengan Segala Janji
Aku Sudah Jemu Dengan Segala Khayalan
Kita Tak Berada Dalam Surga
Dari Barat Sampai Ke Timur
Itukah Milik Kita?
Jamrud Khatulistiwa, Indah Beraneka, Rimbun Pohonan,
Biru Lautan, Tambang Emas Permata, Siapa Punya?
Pipi Cekung, Mata Melotot, Daki Menempel, Ingus Di
Hidung, Pengap Kereta Api, Perut Lapar, Siapa Punya?
Jangan Lagi Bicara
Jika Hanya Janji Untuk Diingkari
Jakarta, 1999
CATATAN 12 MEI 1998
Anak Muda Tak Tahu Apa
Menganga Luka
Dari Senjata Siapa?
CATATAN 13-14-15 MEI 1998
Apa Yang Harus Ditulis
Dari Tubuh Terbakar
Hangus
Perangkap Menjebak
Orang Lapar
Seperti Tikus Menggelepar
Ditelan Panas
CATATAN 20 MEI 1998
Bapak, Kami Sudah Bosan
Dengan Segala Dusta
Turunlah Segera!
 AMBON
Dua Saudara Berhantam
Siapa Tertawa?
ACEH (1)
Bapak, Rencong Yang Dulu Menusuk Dada Kape
Haruskah Ditusukkan Ke Saudara Sendiri ?
ACEH (2)
Sepatu Lars Hitam,
Topi Hijau
Di Tengah Pekik Ketakutan
PETAKA (1)
sepotong roti
serentetan tembakan
senyum
siapa?
di lorong gelap
malam serasa kelam
walau api menyala
di mana-mana
jakarta, 1999
PETAKA (2)
ada yang dipecahkan, dari kenanganmu
sumpah pada kebenaran, kesejatian
“berbahasa satu bahasa kebenaran!”
lalu siapa khianat?
pat gulipat di balik punggung
tak kutahu bahasa uang
tapi molotov
siapa yang nyalakan?
jakarta, 1999
CATATAN PADA BUKU BAPAK IBU
bapak ibu, lelehan darah dan airmata
menggenang di aspal hitam,
kau catat di buku harianmu?
nama-nama siapa sepanjang pidie, ambon, semanggi,
priok
mungkin kau tahu
mungkin kau tak ingin tahu
jakarta, 1999
GUGURAN BUNGA
temanku tertembak siapa seusai unjuk rasa, di
tangannya segenggam roti,
tahun yang lalu temanku yang lain tertembak di
kampusnya,
hari-hari kemarin teman-temanku hilang begitu saja,
entah ke mana?
siapa menabur bunga baginya? bapak ibu lupa
menyampaikan salam untuk mereka. mungkin kalian lupa.
tapi tak kulupa. mereka pemberani menentang bahaya…
bunga yang gugur
bunga yang sedang mekar
tak kau catat pula di hatimu?
jakarta, 1999
TELEVISI OKTOBER
mungkin bukan musim bunga hongaria, ketika kau rayakan
kemenangan taburan pujian dan harapan, mungkin letusan
petasan atau ucapan syukur:
“interupsi!”
itukah demokrasi? impian surealis yang kau bayangkan
di tengah gemuruh demonstrasi. perdebatan di ruang
diskusi. janji di kerumunan kampanye.
“interupsi!”
lalu ada yang kecewa dan meledakannya dengan api.
karena ibu tak berdiri di mimbar. karena ibu
dikalahkan terus…
“interupsi!”
ibu berdiri di mimbar. tapi masih ada juga yang
kecewa. masih ada yang menyimpan sesal!
“interupsi!”
jakarta, 1999

OBITUARI
lelaki yang menatap malam: kesunyian, warna hitam
pada silhuet panorama,  negeri yang menangis,
orang sendiri membaca diri,……..
lelaki pemimpi: eksistensi! lalu wajah-wajah menari-nari:
marx, darwin, hegel, nietszche, jesper, camus, heideger, foucoult, walter
benyamin, adorno,……
obituari? penguburan segala kenangan. requiem sepi.
begitu lengang rumah sakit jiwa ini. juga pemakaman!
1999


sajak buat suhra
kemudian kuusap matamu: tak ada airmata!
tapi tergenang cerita masa ke masa
ada yang menari, suhra, di langit
mungkin bidadari
mari ke mari, bintang biruku
sebelum maut berpaut
: ada senyum
juga cahaya
terang sekali

MENCATAT PERPISAHAN
buat: fudzail
apa yang harus disesalkan dari sebuah perpisahan? pertemuan! kata
seseorang. bukan, karena sebuah perjumpaan menciptakan kenangan indah,
ucapkan syukur atas segala yang terberi…
“tapi aku akan merindukanmu”, katanya mengusap mata
sebuah sore, akhir pertemuan, ada yang bernyanyi: sayonara…sayonara..
sampai berjumpa pula, buat apa susah…buat apa susah…susah itu tiada
gunanya

SERIBU BULAN
ada yang mencarimu dengan tak sungguh-sungguh mencari karena
manusia ini tak pintar bersyukur tak pintar memuji tak pintar menahan
diri tak pintar mengaji tak pintar merendahkan hati karena
mungkin bengal mungkin bebal mungkin kesal mungkin sial mungkin
tapi ingin diraih bulan seribu bulan bersinar cemerlang seperti surga
seperti janjimu seperti orang-orang yang berjalan di jalan yang lempang
dan lurus
duh gusti, ajari aku, menjadi…

HAI, KATAMU (I)
hai, katamu. lalu kita bersalaman. berjabatan erat. genggaman
ketulusan. lalu kita cipta angan-angan. merangkai bulan. merangkai
mimpi. aku ingin terbang. aku ingin terbang…
“hebat, bisa terbang”, katamu
lalu kau beri aku replika pesawat. menderu-deru dalam benak kanakku.
aih, jangan cemberut begitu. bolehlah kau ikut. ke ujung dunia. ke awal
atau akhir kata. ke mana kau mau?
“emang di bulan ada coklat?”, katamu menggoda
lalu tubuhku menjadi menjadi supermarket: pasta gigi, sabun, wastafel,
sosis, …. aha! kau tertawa. mentertawakan dunia? sekarat dan sakit
jiwa
kita bergenggaman jemari. bergenggaman….
HAI, KATAMU (II)
hai, aku ingin sekejap saja memicingkan mata dari mimpi-mimpi manusia.
seperti diledakan dalam kepalaku. deretan gambar dan huruf bergetar
dari tabung-tabung: mampuslah manusia! mampuslah kemanusiaan!
aku menemukan diriku etalase benda-benda. tubuh yang hanya daging.
berdenyut. denyut. ih, mengapa dilempar ideologi ke kamarku?
sudahlah, lupakan saja apa yang kita bicarakan, seperti waktu lalu.
seperti waktu lalu…
kita susun kembali rumah pasir. kita susun lagi…
HAI KATAMU (III)
hai, apa yang bisa disembunyikan oleh manusia. tatap-Nya begitu tajam
mengiris-iris. apa yang bisa dirahasia manusia? tiada! karena gerak
tetap terlihat. karena tindak akan tercatat. karena….
kebusukan akan terbaui juga akhirnya. pada jalan sebentang. pada
jembatan timbangan. pada layar…
neraca! usia sia-sia! defisit! merugi semata!
PANORAMA KEMATIAN
engkau tersedu? waktu telah menutup
mungkin bunga di tabur
tonggak ditancapkan
serupa ingatan? musim berguguran
beringsut mendekat
perlahan menuju
engkau kekasihku? wajah dipalingkan
duh, rindu tak sampai
lintasan tak usai
karena nyala? usia dihabiskan sia-sia
depok, 1999
SEPUCUK SENJATA SEIKAT KEMBANG
karena manusia ingin kuasa
jangan lagi, kau letuskan pada hari
dustamu melantakkan kepala & dadaku
apa arti manusia bagimu? daging hidup!
pada gelembung ludah, dicipta mimpi
teror menghantu, ladang-ladang mayat
duh, berapa airmata lagi kan dialirkan?
TANYA
ada yang gelisah mengetuk-ngetuk pintu tapi langit tak terbuka bagi
pertanyaan pertanyaan seperti hitam seperti kelam seperti malam
tersaruk saruk membawa lampu dimatikan sekilat cahaya berjalan guruh di
telinga tak terdengar terang cahaya tak terlihat karena sesat menjerat
karena telah dikutuk laknat
siapa berani terombang ambing dalam gelombang tak henti henti tak
menepi tak berujung tak habis tak habis duka lara duka gelisah racauan
resah manusia
sepucuk senjata sejuta taburan bunga sekering pipimu anak-anak di
pingir pinggir disepak ke sana ke mari sebagai bola sebagai impian
busuk dan buruk
mengapa risau juga lalu tanya seperti apa tapi manusia tak punya kuasa
karena
tanya
KOTA YANG KEHILANGAN
kemudian kota-kota berguguran,
kehilangan cinta
di mana kau sembunyikan?
tak ada mimpi di sini,
milik penyendiri
di mana kau letakkan?
pada geriap rambut,
atau teduh mata
di mana kau simpan?
pada telapak sepatu
atau bianglala
di mana kau tuliskan?
sebaris sepi
atau kerinduan
duh, mengapa rahasia juga?
tanya manusia
tanya manusia!
=aiueo? kosa kata=
apa yang terbakar pada hari-harimu adalah usia sia-sia berangkat pada
senja tak tahu mengapa hendak apa menerjuni kata menerjuni dusta
berdentuman tanya menjelma apa ada gema ada suara ada sia!
tiada siapa siapa ada siapa di mana suara? pecahlah rahasia!
meluncur mendesak menekan merangsak menetak menyalak : ach! dada dada!
kehancuran! nisbi! kenihilan! beri aku tanda!
begitu gemuruh begitu luruh begitu lumpuh begitu utuh begitu: tubuh!
: tak henti-henti meruntuh
=wak wak diputar wek wek memutar mutar wak wak berputar putar=
kemudian berputaranlah engkau dalam ruang sebagai gasing berputar putar
sebagai dalam labirin berputar putar sebagai dalam gelas berputar putar
sebagai dalam botol berputar putar sebagai dalam udara berputar putar
sebagai tanya berputar putar sebagai rahasia berputar putar sebagai:
tiada!
kemudian diputar putar kelamin diputar syahwat diputar putar dusta
diputar putar curi diputar putar syak wasangka diputar putar belati
diputar putar kuda tunggangan: manusia sepotong napsu membara
kemudian memutar waktu memutar millenium memutar abad memutar generasi
memutar windu memutar tahun memutar bulan memutar jam memutar menit
memutar detik: tik..tik tiba di ujung siapa gigil siapa rintih siapa
takut siapa? nyala!
BERHENTILAH!
berhentilah sejenak berhentilah nanang jangan terus berlari mengejar
bayang bayang ke ujung cakrawala ke ujung impianmu tak ada habis
habisnya huruf dideret dileburkan dalam darah dalam airmata dalam dalam
begitulah sepi memagut cinta melarut sebagai sungai melaut melintas
berputar menguap ke udara ke udara
metamorfosis? seperti kupu kepompong ulat telur kupu: hai pertapa!
berapa sunyi maumu berapa laut hausmu berapa langit harapanmu berapa
mimpi impianmu berapa cinta pintamu
berhentilah sejenak berhentilah nanang jangan menangis lagi jangan
terus menulisi udara bertuba darah mengalir otak tercecer daki menempel
pipi kering luka menganga gelisah manusia api menyala bom meledak kanak
tersungkur
berhentilah!
GERIMIS DI HUTAN
buat: yono
sepucuk surat: hutan begitu gelap kawan, hutan begitu gelap…
lalu keriuhan hewan berdengung di pohonan, aku merindukanmu, suara
dari kesunyian
tak sanggup kutatap mata, karena cerita akan ditemu juga, berkelebat
bayang-bayang melintas, panorama
dari kegundahan
biarlah, mimpi kucipta sendiri, biarlah pada benakku sendiri, biarlah
gerimis di hutan kunikmati sendiri, seperti
sepiSila ditengok juga:

19 DecWahai Cinta Inilah Nyeri Merindu Wajahmu!

kuhadapkan wajahku barat timur utara selatan tenggara barat laut timur laut barat daya coklat tanah biru langit menghadapmu o wajah yang dirindu dalam ingat yang lamat sebagai seru kami bersaksi o yang satu tempat segala mula tempat segala kembali tapi jarak juga waktu membentang berliku jalan menemu engkau kembali menemu senyummu kembali kuhadapkan wajahku barat timur utara selatan tenggara baratlaut timur laut barat daya coklat tanah biru langit merindu tatapmu

kekasih tiba-tiba aku merasa hidupku sia-sia sebagai pecundang yang lari dari medan perang sembunyi dalam dengkur mimpi berlari dari kemestian yang harus dihadapi apa yang kucari di dunia ini karena engkaulah segala mula engkaulah segala tuju tapi aku terpelanting dalam goda dan rayu seperti moyangku dahulu demikian gaduh dalam dada dan kepalaku ditabuh segala peristiwa ramai hingga aku mengaduh menyeru namamu berulang kali aku demikian letih di mana cahaya matamu masihkah ada harap untuk menemu senyummu sedang terus berlari aku dengan segala khianat dan pembohongan atas diri sendiri hendak menipu tatapmu yang menusuk relung hati

engkaukah yang suatu ketika mengajakku terbang ke langit hingga daging menjerit karena ia mencintai dunia walau fana engkaukah yang suatu ketika mengajakku telusuri lorong waktu ruang tak terhingga batasnya hingga daging tersayat melepuh di pucuk api engkaukah yang suatu ketika mengajakku dalam gigil doa menjelang pagi melecutku berulangkali

orang yang salah membenci dirinya sendiri seperti sobekan-sobekan kertas dari petasan yang diledakan hingga diburu pintu-pintu hingga tangannya berdarah mengetuk menggedor hingga bibirnya kering tenggorokannya serasa pecah hingga ia bertanya adakah yang tahu kebenaran ada di mana tapi tiada jawaban hanya senyap seperti biasanya

kekasih jangan tinggalkan aku sendiri aku gigil dalam ketakutan kehilangan engkau dari diri aku berlari dari kemelut dan maut sedang kutahu di tangannya ada kunci pembuka pintu menemu dirimu tapi aku masih takut menemu cintaku menemu dirimu dengan segala malu pengkhianatan melulu

cukupkan sampai di sini keinginan tak akan ada habisnya kepuasan tak akan ada ujungnya cukupkan sampai di sini pesta kemenangan merayakan kekalahan diri sendiri sudah habis waktu hentikan helai demi helai terbuka rahasia demi rahasia karena pada regukan pertama api berkobar menjela-jela

dikurung ia dibakar dalam api murni agar muai dan tunduk demikianlah engkau bertanya suatu ketika dan ia pun mengangguk setuju lalu disandingkan dengan napas cahaya yang kau hembuskan dalam dada rentang ruang juga waktu telah membikinnya lupa walau pernah ada rindu menyelinap suatu ketika ia bermain bersama pucuk api memetakan khianat berulang kali dan napas cahaya tinggal jerit sendiri

ketika rasa takut ini datang siapa lagi yang bisa membangkitkan keberanian selain engkau ketika rasa putus asa ini datang siapa lagi yang akan menumbuhkan harapan selain engkau tempatku bergantung tunjukan jalan senantiasa berilah kekuatan berilah ketabahan

aku menyapamu dalam mimpi yang mengembun pada subuh yang sebentar kan merekah cuma sepi dan rasa nyeri yang dibisikkan menanti matahari mungkin akan pecah dalam kepala betapa panasnya bergolak ini benak kepala juga dalam dada sepertinya telah habis semua kuceritakan tiada lagi rahasia diriku tegak telanjang di hadapanmu

kekasih adakah waktu adakah ruang adakah diriku sendiri menjengukmu dalam deru cuma rindu yang sanggup menahanku padamu kutatap segala walau kebisingan ini mungkin melindas segala kenangan tapi tidak padamu

detak pada waktu jantungku menyeru engkau tangis tertahan tumpahlah tumpahlah sebuah jarak direntang dinding membatas sebuah khianat walau katamu aku begitu dekat ya kekasih aku menggigil menemu diri begitu kerdil ya kekasih ku ingin menatapmu selalu selalu

sebagai adam yang terusir dari negeri jauh itu akupun menangis dan memohon ampun atas penzaliman diri sendiri sebagai nuh yang menangis mendoa di hujan deras meminta ampunan bagi kanaknya yang durhaka sebagai yunus yang lari dari kaumnya dan berdoa di perut ikan nun sebagai ibrahim yang berdoa meminta ampunan bagi bapak pembuat berhala aku berdoa sebagai orang-orang yang telah menzalimi diri sendiri di usia sia-sia tak henti menerima kekalahan diri sendiri dari goda dari angan mimpi yang dikejar sebagai bayang tiada habis ke ujung cakrawala gairah yang menyala sambil mencoba menipu diri sendiri menipu tatapmu berulangkali dengan khianat tapi engkau demikian tajam menatap tak aku sanggup sembunyi bahkan dari diri sendiri yang menyeru agar aku berhenti menzalimi diri sendiri di lintasan waktu yang membuat dada cintaku pecah berhamburan peristiwa-peristiwa kegilaan pikiran memuncak puncak ke cakrawala otakku hingga burai segala isi sebagai pecahan-pecahan kaca kepingan wajahmu terbanting ke lantai kasar jiwaku yang gelap rindu cahaya cintamu rindu cahaya ampunmu rindu cahaya kasihsayangmu selalu

demikianlah hiruk pikuk serta sihir dunia telah memabukanku hingga terasa perutku diaduk-aduk benakku diaduk-aduk dadaku diaduk-aduk hingga ingin dimuntahkan segera seperti gelas yang penuh dan luber dan mengalir ke mana entah mungkin ke ketiadaan atau asal mula segala persoalan sebagai diingat kekosongan menemui diri sendiri ditumpahkan segala tangis dan aduh pada kesunyian seperti abad-abad kesunyian al-kahfi atau keheningan hira di mana muhammad menekuri kesejatian hidup hingga malam-malam adalah tangis ruh yang merindu kekasih yang menghembus cintanya ke dalam dada sendiri ingin kembali pulang terbang menembus tabir-tabir rahasia wajahnya yang maha rahasia wajahnya di tabir cahaya di lapis cahaya hingga ia menari dalam dendang lagu rindu yang menghentak-hentak hingga terbang dalam dawam-lafaz nama kekasih yang dirindu yang tak terhingga jarak dan waktu sebagai likuliku pendakian ke hakikat makrifat terbang dengan sayap yang robek dan patah di tengah taifun badai menghempashempas membantingbanting ke tebing tebing derita bahagia sebagai kesunyian yang diterima para pecinta yang merindu wajahnya

senyeri dalam dadaku kekasih engkau adalah tikaman hunjaman sayatan ke dalam dadaku yang tak henti dengan segala tatap yang memporakkan segala rahasia hidupku kekasih yang kau asingkan ke dunia demikian bising dan penuh goda hingga terasa sia-sia segala usia di mana tak kutemukan engkau dalam nadi jiwaku selain denting denting yang timbul tenggelam dari masa lalu dalam hilap dan alpa yang menggunting gunting ingatan hingga compang camping hidupku dengan segala khianat perselingkuhan pada kesejatian cintamu dengan goda sihir dunia yang dihembus sebagai silir angin nafsu birahi pada kelamin yang menegang dan mata yang membelalak terpukau pada selain engkau o kekasih yang jauh dalam kenanganku di mana engkau aku mencarimu dengan segala luka dalam jiwaku merindu dirimu dengan tangan menggapaigapai ingin jumpa dirimu dalam sekarat mautku dalam derita kesepian bikin nyeri menjadi-jadi dalam dada sendiri demikian lebur dalam amuk sajak tak henti ingin menemu akhir dan mula katakata

berulang kueja nama berulang dalam zikir rindu tapi tak sampai pada hakikat alifbataku berulang kueja nama berulang dalam dawam cinta tapi tak khatam sampai pada makna berulang kueja nama berulang hingga tumpas diri mabuk kepayang bayangmu di puncak nyeri rahasia wajahmu

bahkan tak kutahu diriku sendiri bagaimana kukantahu dirimu walau sedekat urat di leherku bagaimana kan kutahu engkau merahasia selalu melari dari tanya melari dari kepastian jawab bagaimana kan kutahu engkau bahkan tak kutahu diriku sendiri

demikianlah kekasih dunia memabukanku dengan gemerlap tapi rasa sakit juga yang bersarang di sini di rabu tertakik aku ingat engkau lamat-lamat adakah dari mulutku sebuah gumam doa terlontar diam-diam seorang yang menzalimi diri sendiri bukankah tanganku yang membakar ini semua meluluhlantakan kasih sayang bukankah aku yang mencuri di hadapanmu keka
sih dunia memabukanku dan engkau? semakin lamat di kejauhan

demikian sayup suara dalam gigil angin senja namamu diterbangkan dari puncak menara o engkau yang kian samar demikian sayup memanggiliku kembali setulus cintamu gemetarkan aku penuh rindu zikir dalam sunyi diri sendiri

demikian lindap cahaya menyergap kelam di batas angan menerpa-nerpa o orang yang lelah susuri waktu merutuki nasib sendiri tapi sesal tak cukup menutup tapi kesal tak cukup merungkup segala sunyi adalah mimpi adalah diri adalah tiktakjam tak henti o orang yang lelah meludah ke langit mampir ke wajah sendiri tapi muram tak cukup memeram tapi geram tak cukup menggaram ke mana pergi langkah kaki pejalan tak berpeta pelamun celaka o orang yang lelah menantang badai angin menampar pipi tapi mimpi tak cukup memberi tapi janji tak cukup menepati di mana ujung segala cerita riwayat para petualang o orang yang lelah di mana kan istirah

berapa lagi jeram harus diarungi berapa lagi gelombang harus dihadapi perahu kecil di tengah badai terombang ambing jeram curam gelombang bandang wahai berapa lagi jarak akan sampai padamu

mata pada pelupuk dicium angin karena manusia mimpi kenangan juga kesunyian hidup menjadi lorong-lorong cahaya di ujung pada berkas harap mungkin kekalahan juga atau sesal mengendap pada tatap atau malam yang ratap tapi gapai tak sampai tangis tak usai terjemah kehendak atau takdir tuhan

gemetar rinduku merenangi peristiwa padamu tumpah kesah muara gundah mungkin tanyamu mengapa dusta pada bibir karena pada jiwa terukir janji setia pada engkau yang selalu terjaga

ada yang tersedu saat waktu telah menutup mungkin bunga ditabur tonggak ditancapkan serupa ingatan musim berguguran beringsut mendekat perlahan menuju tanyamu engkau kekasihku wajah dipalingkan duh rindu tak sampai lintasan tak usai karena nyala usia dihabiskan sia-sia

wahai maha rahasia jika kutemu jawabnya masihkah kau mau mengelak lagi

aku jiwa yang lapar dan haus menagih-nagih sekucur darah dari luka-luka nganga di langit yang pecah berhamburan dalam dadaku yang rapuh tak henti keluh melempar-lempar aduh hingga getarnya sampai mengguncang guncang gegunung lembah bebatu berlesatan ambruk ke dalam gelegak lava yang menguapkan kepedihan dalam jiwaku yang lapar dan haus akan darah hingga wajah-wajah masai tak berupa menjadi lukisan abstrak pada pasir pasir pantai dihanyutkan arus gelombang keperihan yang meraja dalam jiwaku yang lapar memagut aksara demikian liar dan nanar menyimpan rindu berdebu di buku-buku yang tak mencatatkan penanggalan di mana bermula segala riwayat derita dan bahagia manusia yang terlontar di rimba pergulatan di jalan jalan penuh dusta dan petaka di mimpi mimpi buruk tak berujung pangkal carut marut tak habis menelikung menggunting menikam dengan hunusnya yang tajam hingga aku adalah penyandang kutuk yang tak henti-henti menagih dengan cucuran airmata yang menetes di rerumputan padang padang perburuan dan peperangan di mana dipanaskan segala mesin demi segala yang kau ingin demi tuntas segala nyeri rindu dan rasa lapar yang tak henti-henti menyayat-nyata jiwaku yang terus berteriakteriak tak henti dilecut-lecut api yang mencambuk-cambuk kepalaku sendiri hingga benak otak berhamburan di medan-medan keberanian dan kebodohan di jalan-jalan penuh lubang nganga di lubang-lubang pemakaman massal dan rumah rumah sakit jiwa karena engkau demikian lapar dan gigil yang tak henti memanggil diriku untuk kembali

kugapaigapai harapku timbul tenggelam dalam engkau melindaplindap cahaya di jauh-jauh pandang ah beri aku seteguk lagi mungkin rasa rindu atau cinta dinihari agar wajahmu tak lenyap agar harapku tak lumat agar lebur diriku dalam cahaya tatapmu

setiap langkahku menujumu selalu di mana pintu-pintu terbuka di mana engkau menunggu dan menunggu dengan rindu ah mengapa dera tak menjadikanku tahu engkau merindu ke mana ku menuju

berapa mawar ditawarkan mimpiku demikian lapar memagut-magut aksara begitu gelepar demikian debar menantimu setiap saat terasa akan senja inikah tepi tapi ini hanya sepi mematri dalam gelisah tanya sungguhkah aku mencintaimu kurasa engkau tak henti menatapku begitu tajam menelusup ke dalam ruang-ruang di mana khianat sembunyi kau marah terasa keringat mengucur dalam dingin hira dalam darah golgota dalam cahaya tursina seperti juga adam yang terlontar kulihat lidah menjulur-julur inikah goda menipu diriku ku tahu kau tahu sungguhkah aku mencintaimu

sebagai deras hujan beterjunan membasah tubuhku airmata di mana tarianku tak juga usai seperti kucari engkau seperti kurindu engkau tapi kau adalah jarak begitu panjang dan berliku rahasia tak henti

dalam diamku jalan terbentang menuju diri menuju engkau didakidaki gunung tinggi diselamselam lautan dalam dijumpajumpa dirimu juga dengan tanya dengan cemas dengan harap dengan mimpi ditaritari puja ditaritari puji dirindu kekasih dirindurindu

inilah gelombang di mana sunyi mengamuk membandang ke pantai pantai gelisah ke karang karang keteguhan sebentar kan lungkrah demikian badai menghilangkan suar perahu hilang arah ke mana dayung kan dikayuhkan inilah gelombang sunyi menghantam dada terimalah wahai pecinta tak engkau menari bersama darah setangis puisi tak sampai pada kata meliuklah pecinta menahan pedih sunyi sendiri merindu wajah kekasih melintas-lintas saja inilah gelombang rindu mendera waktu mencium garang melumat tandas segala birahi bersiaplah tak ada sesal lagi kini

hingga hari-hari lingsut dalam gelisah waktu ku biarkan mimpiku kembara menikung menanjak pendakian tak sampai pendakian tak sampai hingga meleleh keringat airmata darah pada tuju ku kira fatamorgana adanya menyamarkan pandang arah segala tuju o silau cahaya menusuk mata membakar kenang jadi abu dalam dada dalam dada di mana kan disemayamkan segala perih selain dalam langkah tak henti mencari dan mencari hingga mimpi menjadi atau mati mengakhiri

di mana engkau di mana engkau o yang dirindu waktu demi waktu dicari wajahmu di alir-alir darah detak nadi denyut jantung tak kujumpa engkau o yang dirindu bibir gemetar melafazkan nama di mana engkau o kekasih diri hingga mati tak berhenti tercari

wahai maha rahasia demikiankah cinta hingga bergetar setiap namamu dikatakan bagaimana darah dan airmata dipersembahkan karena cinta padamu atau kucintai diriku sendiri harga diriku sendiri hak kemanusiaanku sendiri karena juga cinta padamu wahai maha rahasia wahai maha rahasia demikiankah jalan cinta penuh kepedihan

berlarilah berlari dari pasti dengan ragu menggoyahkan kaki kaki langit hati berderak derak setumbang tumbangnya jatuh merapuh lapuk merontalah meronta dari tindas paksa melilit tubuh tangan kaki melepas tandas melunas tuntas segala ingin o diri hingga sampai pada tepi memuaralah airmata memuara cinta memuara rindu memuara tawa memuara cemas ke samudera asal mula waktu segala waktu segala awal akhir o diri hingga tumpas segala nyeri

selesat tikam o parau jerit perih mencucukcucuk jantung hati demikian persembahan darah simbah menuai tuai janji takdir inilah amarah amuk rindu dendam tak bermata menuju segala tuju membandangbandang gairah syahwat menyingkap rahasia telah hancur kota kota ya kekasih telah hancur merata lantak luluh demi cinta atas namamu mendebu segala laknat sempurnalah sempurnalah kehendak jadi maka jadilah segala pinta segala ujar demi rindu demi engkau kekasih terimalah persembahan darah dan airmata

menderaslah menderas impian sebagai kenangan di sungai-sungai rinduku di laut gelombang hempas-hempas lelayar mengarah tuju hingga lunas segala pinta segala ujar ke dalam arung tak berbatas tepi karena inilah derita yang ditawarkan lewati ambang hidup mati di sekarat maut sebagai gelisah mencari dan menemu wajahmu wajahmu melindap-lindap dalam harap buruan tatap bayang menghilang bayang membayang kenang berdentang-dentang di sunyi diri di hiruk pikuk hibuk diri sendiri gemuruh dalam dada debar di jejantung mendegup-degup menyeru seru memanggilmu sepenuh rindu

o pecinta menarilah menari berputar-putar dengan ge
mulai keindahan cinta yang berputar dalam atom yang berputar dalam masjidil haram seperti bumi berputar seperti planet berputar seperti galaksi berputar alam semesta berputar dalam cinta

bulan hanya bintik di ujung cakrawala tanda di sini gerbang pertama kan dimasuki di mana doa-doa disampaikan dengan perut lapar sejak fajar tumbuh hingga senja tiba menenggelamkan matahari ke balik malam hingga mendekat diri pada ampunan pada limpahan sayang pada kemenangan hingga leburlah diri leburlah ke dalam kesejatian awal mula diri hingga cahaya benderang cahaya 1000 bulan cahaya wajahnya yang kurindu kau rindu kita rindu mereka rindu menerang terang sepanjang hidup kita sepanjang usia hingga tak tersiasia hidup hingga arti tertemui diri sendiri dalam nadi darah sendiri mengalir sekujur tubuh di jejantung di bilik-bilik bisik cinta di senyap dinihari mengembunembun percakapan kekasih kalbu lewat degup lewat debar menyelinap tatap tersimpan di dada sunyi catatan riwayat cinta yang dibubuhkan dihembuskan kekasih ke dada cinta

engkau menawan hati dengan pendar cahaya para pecinta tertawan menjadi hamba yang menyerahkan segala o cahaya maha cahaya singkapkan wajah cahaya sesungguhnya sebagai musa di tursina para pecinta menggigil menemu cahaya

walau semua bilang kau tiada kau tetap ada karena hakikatnya kau adalah ada itu sendiri sementara yang tiada apakah ada jika tak kau adakan hingga yang tiada nampak ada nyata ada kau yang ada tak risau ditiadakan adamu karena sungguh segala tiada tak juga memahami adamu sejati adanya

siapa menolak siapa siapa menerima siapa siapa mengaku siapa siapa mengiya siapa ah mengapa diterima segala bukan engkau ah mengapa ditolak engkau sesungguhnya gemetar tursina gemetar golgota gemetar hira kau maha rahasia kau maha rahasia siapa mengeja siapa siapa menafsir siapa siapa membaca siapa siapa merahasia siapa siapa mencanda siapa ah mengapa dicinta cinta segala bukan engkau ah mengapa dibenci benci engkau sesungguhnya gemetar aku gemetar sampaikah ucap pada tolak segala yang bukan engkau sampaikah ucap pada terima hanya engkau sampaikah

lalu kutolak segala macam tuhan tak ada tuhan sebagai kubaca ibrahim menolak matahari rembulan bintang namruz dan patung berhala tak ada tuhan tak ada tuhan sehembus napas la illaha kutolak segala macam tuhan kuhisap napas kecuali engkau allahku

biarlah engkau candu aku akan menghisapnya terus tanpa henti karena rindu wajahmu adalah candu yang telah menganak sungai dalam darahku hingga aku tak dapat melepaskan keinginan untuk terus menghisap candu cahayamu hingga jiwa cahaya menemukan kekasihnya yang abadi dalam gelombang cahaya mabukku o kekasih diri bumi langit matahari bintang semesta cinta menari-nari dalam debar takjubkepayang dalam mabuk candu cahaya yang tak henti kuhisap dalam nyeri rindu wajahmu

dan akupun mabuk cahaya selarik cahaya melesat dari jemariku ketika kucoret namamu pada sedinding cahaya cahaya mencahaya berpendar mencahaya cahaya aku mabuk cahaya seteguk demi seteguk aku tenggak cahaya aku mabuk cahaya igauku cahaya mimpiku cahaya rinduku cahaya cintaku cahaya tak engkau di mabuk cahaya tak engkau tahu di timur barat mula cahaya tak engkau tahu engkau mabuk cahaya

aku bergelayut di tali semoga tak goyah melemah jemari kukuh memegang cinta kasihmu kekasih aku bergelayut di tali jangan sampai terpelanting terbanting ke jurang-jurang nganga aku bergelayut di tali memanjat hingga sampai di hadapmu kekasih yang tak henti dicari hingga gapai hingga capai

belailah aku dengan penuh rindu kekasih aku lelah hendak istirah begitu banyak goda di segala simpangan betapa banyak walau hanya engkau sesungguhnya segala tuju hanya engkau yang tak henti-henti mengasihi seperti kau belai adam dengan cinta aku lelah kekasih dunia menyilaukanku menutup mata hatiku menutup keindahanmusungguh aku demikian lelah

ke muara asal mula melaut segala duka cita suka cita menyatu dalam ke muara asal mula menemu segala alir mimpi arus rindu dendam cintamu ke muara asal mula telan akumu gelombang samudera demikian hempas

demikianlah hidup harus terjalani juga dengan tanyaku tak terjawab tak berjawab dalam benak segala tanya dalam mimpi segala angan demikian ragu menggodaku selalu selalu hingga aku lelah melangkah ke ujung cakrawala ke ujung sepi sendiri merindurindu kekasih merindurindu

semesta melebur dalam diri engkau aku dalam cinta getar gemetar lafalkan satu menyatu o semesta menari dalam diri demikian ritmis berputaran gemintang bercucuran hujan berhembusan angin o leburlah dalam cinta dalam diri semesta diri

hingga akhirnya hingga saatnya berdenting waktu ingatkan pada titik di mana kan berhenti tapak menjejak kaki mencari diri tak kembali demikian hablur lukisi cakrawala diam fatamorgana melari-lari ke ujung harap demikian kekal sunyi sesudut takut semuara kecut hingga akhirnya hingga saatnya kata mengucap jam telah lewat

detik kan berhenti dan sunyi merungkupku dengan mimpiku sendiri o aku manusia yang resah menjangkau cakrawala dengan benak penuh tanya sebagai keabadian jawab adalah tanyaku sendiri menghitung tiktak jam berdetik menuju segala batas ucap ucapkan selamat tinggal pada segala cinta dunia yang fana

inilah sujudku di hadapanmu wahai kekasih jangan palingkan muka karena rindu wajahmu menggoda selalu berilah senyummu berilah agar tenang ini diri agar tenang tak gelisah melulu inilah sujudku meminta ampunmu lihatlah dadaku demikian luka dengan segala kesah dan gundah merindumu merindu tak habis-habis waktu dengan ratap mengharap tatap o airmata sampaikah memuara di lautmu inilah sujudku dengan rindu telah porak hari-hari pertarungan kelahi dengan diri sendiri hanguslah o hati mawar yang kau beri dari taman seribu bunga demikian remuk demikian redam diamuk rindu dendam inilah sujudku memohon cintamu