Last updated by at .

26 DecDI BAWAH SINAR LAMPU MERKURI

: bersama ompie, dodo, tulus dan irman

Di bawah sinar lampu merkuri, Jakarta yang membuat usia sia-sia di jalanan macet, dicekam ketakutan kapak merah, di tatap kanak yang menyergap kita dengan ucap memelas: oom, saya belum makan oom. Tapi yang terbayang adalah bau lem menyengat dari kaleng aica aibon, deru play station.

Tapi mungkin kita harus menjadi batu, mengeraskan hati, sepanjang jalanan berbau busuk dari got yang hitam warna airnya. Di kerling perempuan malam yang menggoda dengan jeans dan kaos ketat membalut tubuhnya.

O malam di bawah sinar lampu merkuri. Kita memintal angan, menuang jejal kesal, ke dalam benak sendiri. Ribuan kata menikam di dada menambah nyeri. Tertimbun dalam mimpi malam ini. Buruk sekali.

TIM 18 Desember 2002, Malabar 19 Desember 2002

Tags:

26 DecKAU TELAH MENGHINA!

kau telah menghina seorang penyair yang tak mampu membayar ongkos taksi ke tempat sebuah pertunjukan dengan perut lapar karena habis puasa seharian dan tak kau sediakan seteguk pun minum bagi penyair yang datang terlambat dengan muka penuh keringat karena harus berputar-putar di kota jakartamu yang bikin sesat penyair yang tak mengerti tipu daya ibukota. ah jakarta, mengapa banyak orang betah tinggal di perutmu yang tak kenal belas kasihan.

kau telah menghina penyair yang tak punya uang untuk membeli makan minum bahkan ongkos untuk pulang ke rumah kostnya. kau sungguh-sungguh tak tahu diri memaki dengan nama tak jelas siapa dirimu. siluman yang orgasme berulang kali dengan wajah bengis dan kepala bertanduk menuding ke arah penyair yang kau hinakan sebagai orang miskin yang menginjak gedung mewah dengan perut lapar tapi masih membacakan sajak dengan penuh gairah.

kau telah menghina penyair itu. sungguh kau telah menghinanya! dengan demikian keji!

depok, 23 Desember 2002

Tags: