Last updated by at .

09 JanJurnal dan Buku yang membahas dan mengutip puisi karya Nanang Suryadi

Beberapa buku sastra dan bahasa untuk SMA mengutip karya puisiku dalam pembahasan atau apresiasi, antara lain:

“Buku yang diambil sebagai kajian adalah buku: (1) Kaji Latih Bahasa dan Sastra Indonesia 2a dan 2b (2005) yang diterbitkan oleh Penerbit Bumi Aksara, (2) Bahasa dan Sastra Indonesia 1 untuk SMA Kelas X (2004) yang diterbitkan oleh Erlangga, dan (3) Aktif Berbahasa dan Bersastra Indonesia Jilid 2 untuk Kelas XI (2005) yang diterbitkan oleh Empat Kawan Sejahtera. Buku tersebut ditulis dengan mengacu dan menjabarkan pada Standar Kompetensi Kurikulum 2004 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dalam buku tersebut, karya sastra yang digunakan sebagai materi pengajaran sastra meliputi puisi, naskah drama, cerpen, dan novel.

Puisi yang dipilih sebagai materi pengajaran adalah “Sepanjang Jalan Puisi” dan “Ingin Kutulis Untukmu” karya Nanang Suyadi,
“Gadis Peminta-Minta” karya Toto Sudarto Bachtiar, “Balada Tamu Museum Perjuangan” karya Taufiq Ismail, dan “Balada Ibu yang Dibunuh” oleh W.S. Rendra.”

Sumber: Lustantini Septiningsih, PENGAJARAN SASTRA SEBAGAI UPAYA MEMBENTUK MANUSIA YANG CINTA TANAH AIR: HARAPAN DAN KENYATAAN, Kajian Linguistik dan Sastra, Vol. 20, No. 1, Juni 2008: 48-55

 

Kalian telah melakukan pengamatan terhadap berbagai bentuk
puisi remaja, yang dimuat di majalah, surat kabar, atau buku
kumpulan puisi. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, silakan
kalian jawab pertanyaan ini!
1. Apa yang dimaksud puisi remaja?
2. Apa ciri-ciri puisi remaja?
3. Parafrasakan puisi berikut!

Epilog
Nanang Suryadi
Sempurnalah sempurna segala ingin
Di ambang surup matahari mendingin
Segala senja telah kau beri tanda
Di padang padang buru di tebing tebing cuaca
Telah disemayamkan segala kelakar
Terbakar bersama belukar julai akar
Ke dalam diri ke luar diri
Menembus batas segala mimpi
Demikian, sunyi tak terbagi
Milikku sendiri
Sumber: Sutardji Calzoum Bachri, Hijau Kelon dan Puisi 2002. Jakarta: Kompas
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Sumber: Kompetensi Berbahasa dan Sastra Indonesia, Syamsudin Ar dkk, 2008, PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

31 DecProses Kreatifku (1)

Esei: Nanang Suryadi

Pada November 2002, buku kumpulan puisiku “Telah Dialamatkan Padamu” terbit. Berbeda dengan buku-buku kumpulan puisiku sebelumnya: “Sketsa”, “Sajak di Usia Dua Satu”, “Orang Sendiri Membaca Diri” serta “Silhuet Panorama dan Negeri Yang Menangis” –yang aku terbitkan dan cetak sendiri difotokopi atau dicetak offset, dengan jumlah paling banyak 200-an eksemplar– bukuku yang terakhir ini diterbitkan oleh sebuah penerbit profesional. Penerbitnya adalah Dewata Publishing.

Ketika aku memberitahu kepada rekan-rekan bukuku akan diterbitkan oleh sebuah penerbit profesional, banyak dari mereka berkomentar: “wah kamu beruntung sekali”. Bahkan ada seorang penyair yang sudah sangat terkenal menunjukan keheranannya, “wah, masih ada juga ya, penerbit yang mau bikin proyek rugi.”

Memang, dalam dunia perbukuan di tanah air, menerbitkan karya-karya sastra terutama puisi dianggap tidak menguntungkan dalam hal perputaran modal yang ditanamkan. Dibandingkan dengan penerbitan buku-buku pelajaran atau buku-buku jenis lain yang perputaran kembalinya modal serta keuntungan kepada penerbit lebih cepat, buku-buku sastra lebih lambat. Di kelompok buku sastra, mungkin buku novel dan kumpulan cerpen lebih bernasib baik dalam hal menarik minat pembeli dibandingkan terhadap buku puisi.

Tapi syukurlah, hingga saat ini, di tanah air masih ada penerbit yang mau menerbitkan buku kumpulan puisi. Walaupun karya sastra yang diterbitkan sebagian besar adalah karya-karya sastrawan yang ternama, seperti: Amir Hamzah, Chairil Anwar, Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Sitor Situmorang, Toto Sudarto Bahtiar, Soebagyo Sastrowardoyo, Ramadhan KH, Abdul Hadi WM, Darmanto Jatman, Hammid Jabbar, Toety Herati, Isma Sawitri, Slamet Sukirnanto, Ahmadun Yossi Herfanda, Acep Zamzam Noor, Dorothea Rosa Herliani, Joko Pinurbo, Afrizal Malna, Gus Tf dll. Selain itu ada kecenderungan para penerbit untuk menerbitkan terjemahan karya sastra dunia. Saat ini buku puisi dan prosa Kahlil Gibran yang paling banyak diterjemahkan oleh banyak penerbit, dan menghiasi rak-rak toko buku.

Aku teringat tulisan dari Budi Dharma dalam sebuah eseinya, para pembeli buku karya sastra menurut dugaan Budi Dharma adalah para: penulis sendiri serta orang-orang yang ingin menjadi penulis. Mungkin dugaan Budi Dharma itu tidak betul, karena ada pembaca yang benar-benar hanya pembaca, dan tidak ingin menjadi penulis, entah karena memang tidak berbakat untuk menulis atau tidak memiliki minat ke arah sana. Tapi, seseorang terdorong menjadi penulis karena membaca buku bukan sesuatu yang mustahil.

Aku sendiri, misalnya. Sejak kecil, sejak aku dapat membaca buku dengan baik, mungkin kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar, aku membaca banyak buku-buku cerita kanak, majalah-majalah, koran yang ada di rumahku. Aku kira kebiasaan di waktu kecil itu berpengaruh banyak kepadaku untuk membuat karangan. Waktu kecil, abahku sering mendongeng sambil berbaring-baring menunggu kantuk tiba. Aku, adikku dan kakak-kakakku sangat senang mendengarkan dongeng dari abahku itu. Dongeng-dongeng yang dibaca oleh abahku dari buku-buku atau majalah diceritakan kembali, dalam bahasa Sunda, bahasa yang dipakai abahku untuk berbicara dalam keluarga.

Dongeng-dongeng dalam bahasa Sunda selain diperkenalkan abahku melalui dongeng lisan menjelang tidur, juga aku baca sendiri dari buku-buku setelah aku dapat membaca. Aku sangat menyukai dongeng tentang sakadang kuya, sakadang monyet, sakadang peucang, sakadang buhaya, Si Kabayan, Sangkuriang, Lutung Kasarung. Penguasaan bahasa Sunda dalam keluargaku dipengaruhi oleh abahku yang berasal dari Bandung. Selain bahasa Sunda, akupun mengenal bahasa Jawa. Karena dalam keluargaku dipakai dua bahasa daerah, dari abahku aku mengenal bahasa Sunda, sedangkan dari ibuku serta teman-temanku bermain aku mengenal bahasa Jawa banten. Abahku selalu berbicara dalam bahasa Sunda, entah kepada anak-anaknya maupun kepada ibuku. Kami, anak-anaknya menJawab dalam bahasa Jawa atau bahasa Sunda. Sedangkan ibuku, paling sering memakai bahasa Jawa bahkan jika berbicara dengan abah yang sedang berbicara dengan bahasa Sunda. Persoalan pemakaian bahasa yang campur aduk Jawa dan Sunda dalam keluargaku tidaklah menjadi persoalan, karena masing-masing sebenarnya memahami apa yang sedang dibicarakan.

Di rumahku banyak buku bacaan. Buku-buku dan majalah atau koran yang dilanggani abah dan ibuku, karena kantor tempat mereka bekerja mewajibkan berlangganan dengan dipotong dari gaji, menumpuk di rak-rak buku. Abah dan ibuku bekerja sebagai guru. Abahku mengajar di SD dan SMP, sedangkan ibuku mengajar sebagai guru agama di SD dan madrasah ibtidaiyah. Abah dan ibu selalu membawa majalah atau koran yang dilanggani itu setiap pulang mengambil gaji di awal bulan. Aku cepat-cepat meminta majalah itu dan mencari kolom dongeng, cerita serta komik di dalamnya, dan menikmati membaca sambil tidur-tiduran (kebiasaan yang tak bisa aku tinggalkan sampai kini, membaca sambil berbaring).

Selain majalah langganan dari instansinya itu, abahku juga sering membawakan aku buku-buku dari perpustakaan sekolah, yang aku baca sampai habis. Selain itu, aku ikut membaca majalah Bobo (majalah anak-anak) dan majalah Mangle (berbahasa Sunda) dari tetanggaku yang berlangganan. Hanya saja aku tidak diperbolehkan membaca majalah-majalah baru. Aku hanya membaca majalah-majalah yang sudah ditumpuk-tumpuk di rak. Suatu ketika, aku minta abahku berlangganan majalah Bobo. Abah memenuhi permintaanku itu. Aku mengenal Bobo, Deni Manusia Ikan, Juwita dan banyak lagi tokoh-tokoh rekaan dari majalah itu. Selain majalah Bobo saat itu aku juga membaca majalah Kuncung dan Ananda sesekali.

Perkenalan dengan dunia puisi lebih dekat, saat aku kelas lima diminta untuk mewakili sekolahku untuk ikut lomba baca puisi. Aku lupa, puisi apa yang aku baca saat itu. Sepertinya tidak berbeda jauh dengan lomba-lomba pembacaan puisi sekarang, sajak-sajak Chairil Anwar dan Toto Sudarto Bahtiar yang sering menjadi bahan pembacaan puisi.

Saat kelas satu SMP, aku paling menonjol dalam pelajaran bahasa Indonesia. Pernah suatu ketika, guru bahasa Indonesiaku meminta murid-murid di kelasnya menulis sajak dan membacakannya di depan kelas. Saat itu aku menulis sajak bertemakan perjuangan, dan saat membacakannya dengan suara yang lantang dan berapi-api. Aku sangat ingat, Ibu Rahayu, nama guru bahasa Indonesiaku, saat itu langsung memberikan nilai 9 di atas kertas puisiku. Wah, senang sekali rasanya.

Saat di SMP, aku sering meminjam buku-buku sastra di perpustakaan sekolah. Pengelola perpustakaan bernama Bapak Sulaiman, yang sering juga dipanggil Pak Leman. Ia banyak berperan dalam memperkenalkan sastra kepadaku. Jika ada kegiatan lomba pembacaan puisi aku sering diminta untuk mewakili sekolah bersama seorang kakak kelas perempuan. Kakak kelasku itu sampai aku SMA sering bersama-sama aku mewakili sekolah dalam lomba baca puisi. Namanya Lisa Diana. Pada sebuah acara perpisahan kelas 3, Lisa Diana diikutkan Pak Leman membantu aku dan teman-teman sekelasku dalam penampilan parade pembacaan puisi. Pembacaan puisi dilakukan bersahut-sahutan.

Pada masa-masa itulah, aku mulai mencoret-coret bukuku, buku harianku, atau kertas apa saja. Aku mulai keranjingan menulis sajak. Banyak teman-teman yang meminta aku menuliskan sajak untuknya. Aku dengan senang hati menuliskan sajak untuk mereka. Entah sajak jenis apa, aku sudah lupa. Tapi saat ini sisa-sisa sajakku saat itu sepertinya masih ada, kalau aku cari lagi di tumpukan berkas-berkasku. Yang jelas, sajak-sajakku saat itu, tidak terlalu berbeda jauh dengan sajak para remaja yang mulai menulis sajak, yang biasanya semacam curahan hati dengan kata-kata yang patah dan emosional, atau kalau tidak menjadi sajak penuh nasehat yang normatif. Tapi aku sangat percaya diri dengan sajak-sajakku saat itu. Semua coretan-coretan yang aku anggap bagus, aku ketik ulang. Kemudian sajak-sajak itu aku jilid dan diberi sampul kertas yang berwarna-warni (hasil praktek keterampilan mewarna kertas dengan cara mencelupkan ke dalam air yang telah dicampur cat besi dalam berbagai warna). Sajak-sajak dalam manuskripku yang pertama itulah yang aku baca saat ada acara api unggun di awal aku masuk SMA.

31 DecProses Kreatifku (2)

Esei: Nanang Suryadi


Di masa SMA, minatku terhadap dunia seni sastra semakin kuat. Di masa itu, aku mulai membaca karya-karya sastra dari majalah Hai, Kompas, Pikiran Rakyat dan Koran Mingguan Swadesi. Penulis-penulis seperti Gola Gong, Gus Tf, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, Remi Novaris DM, dll, kerap aku jumpai tulisannya di majalah Hai. Ruang pertemuan kecil di Pikiran Rakyat yang diasuh oleh Saini KM menarik perhatianku untuk membacanya, selain tentu saja membaca sajak-sajak yang ditampilkan di sana. Cerita bersambung di Kompas tak urung aku ikuti setiap hari. Sedangkan di koran Swadesi, aku mengikuti kolom sastra warung Diha yang memberikan kiat-kiat bagi penulis. Aku sering menulis surat kepada pengasuhnya, Mbak Diah Hadaning, sambil mengirimkan sajak-sajakku. Hampir tak percaya, suatu minggu aku baca di koran Swadesi pertanyaan dariku dimuat dan diJawab oleh Mbak Diah Hadaning sendiri. Kalau tidak salah pertanyaanku saat itu adalah tentang bagaimana cara mengatasi kemacetan ide dalam berkarya.

Di saat SMA itu, kegiatanku berkesenian dan menulis bertambah. Aku mengurus majalah dinding SMA dan juga menjadi pendiri teater. Puisi-puisiku semakin banyak. Berbagai tema puisi aku ambil, antara lain cinta, politik, sosial, ketuhanan dll. Namun yang cukup dominan sajak yang terlahir adalah sajak-sajak cinta dan patah hati. Terlebih lagi ketika aku jatuh cinta dan patah hati pada seorang adik kelas.

Hampir setiap saat aku menulis sajak. Sajak-sajak yang penuh semangat keremajaan itu seringkali aku bacakan sendiri di sebuah radio di dekat SMA-ku. Setiap hari Jum’at malam pembacaan sajak yang sudah direkam sebelumnya disiarkan pada pukul 22.00 -24.00. Aku pun mulai rajin mengirim karya ke berbagai media dari media instansi yang dilanggani abah dan ibuku, serta majalah dan koran umum.

Kegigihan untuk terus menerus mengirimkan karya itu mulai memperlihatkan hasil. Karya-karyaku mulai dimuat di beberapa media instansi, yaitu di majalah media pembinaan dan tabloid mingguan pelajar. Senang sekali karyaku bisa dimuat media seperti itu. Aku mendapatkan surat-surat dari para pembaca yang menanyakan bagaimana caranya menulis puisi. Akupun menjawab sekenanya saja, malah akhirnya pembicaraan menjadi tidak fokus kepada puisi, tapi kenalan dan membicarakan lain hal.

Kegairahanku terhadap sastra semakin bertambah. Dari perpustakaan sekolah, aku membaca banyak lagi buku-buku puisi, antara lain karya: Kahlil Gibran, Heru Emka, Zawawi Imron, Chairil Anwar, Subagyo Sastrowardoyo, Sapardi Djoko Damono, Rendra, Fariduddin Attar, dll. Selain itu, aku juga suka mengkliping artikel-artikel tentang sastra dan puisi dari berbagai media.

Walaupun di SMA aku mengambil jurusan fisika, aku berpikir kalau kuliah aku tidak mau meneruskan yang berhubungan dengan fisika, kimia atau matematika. Aku sadar, bahwa ternyata aku payah dalam hal hitung menghitung, sering ceroboh, kurang teliti! Dari berbagai alternatif yang ada aku memiliki gambaran bahwa aku ingin masuk ke bidang yang aku minati: kepemimpinan! Aku memilih jurusan manajemen. Selain itu sebenarnya aku memiliki keinginan juga untuk masuk ke IKJ dan jurusan sastra. Hanya saja dengan berbagai pertimbangan, usaha serta nasib, mengantarkanku ke jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Unibraw, Malang.

Di masa-masa kuliah ini, kegiatanku berkesenian serta berorganisasi semakin menjadi. Hampir semua unit kegiatan mahasiswa di fakultasku baik intra dan ektra aku masuki. Dari semua kegiatan organisasi mahasiswa itu, yang sangat berpengaruh bagi minatku menulis dan berkesenian adalah saat mengikuti pers mahasiswa dan teater. Aku aktif unit kegiatan pers mahasiswa fakultas dan universitas. Begitu juga di teater, aku menjadi salah seorang pendiri dan sekaligus menjadi ketua teater mahasiswa di fakultasku. Dan pernah juga menjadi ketua teater di tingkat universitas.

Kegiatan di organisasi mahasiswa, mendorongku untuk membaca buku-buku puisi pamflet Rendra. Aku pernah sangat terkagum-kagum pada sebuah film yang dibintangi Rendra, judulnya: “Yang Muda Yang Bercinta.” Segala gaya membaca puisi Rendra aku tiru saat pembacaan puisi. Dan memang, aku sering didaulat untuk membacakan sajak pada saat acara-acara demonstrasi mahasiswa dan acara penyambutan mahasiswa. Aku masih ingat bagaimana sebagai mahasiswa semester awal, dalam acara pemilihan Badan Perwakilan Mahasiswa, membacakan sajak Rendra yang sarat kritik. Di lain kesempatan di depan ribuan mahasiswa baru di stadion di kampusku, aku bawakan sajak seakan-akan saat itu aku menjadi Rendra sang burung merak. Selain sajak Rendra, sajak-sajak Emha Ainun Nadjib sering menjadi bahan pembacaan sajakku di depan umum. Tentu saja ada beberapa sajakku sendiri yang aku baca, dan pernah diminta oleh seorang intel.

Aku masih rajin menulis sajak dan mengirim ke berbagai media. Di Malang aku bertemu dengan Akaha Taufan Aminudin (ATA), seorang penggerak kegiatan sastra di daerah Batu. Aku sering berkunjung ke rumahnya dan berdialog banyak hal, di rumahnya yang menjadi sekretariat HP3N yang menerbitkan buletin sastra. Aku mengirim sajak-sajakku untuk buletin itu dan mengikuti antologi serta perlombaan yang diadakan HP3N. Beberapa sajakku menghiasi buletin serta antologi yang diterbitkan oleh HP3N-Batu itu. Bahkan ada yang masuk menjadi salah satu puisi terbaik. Selain berdiskusi di rumahnya, ATA juga mengajakku untuk membaca puisi di sebuah radio di atas kota batu (Songgotiti). Setiap malam setelah pukul 24, kami turun ke kota Batu berjalan kaki, dan sebelum kembali ke rumah ATA, bersantai dulu di warung-warung dekat alun-alun Batu, yang saat itu masih ada tugu apelnya.

Lewat organisasi yang dikelola ATA inilah aku mengenal banyak nama-nama penulis dan berkenalan langsung saat ada pemberian hadiah lomba yang diadakan HP3N. Aku mengenal Kusprihyanto Namma, Bonari Nabonenar dll dari “Revitalisasi Sastra Pedalaman” dan ikut menghiasi halaman jurnalnya dengan puisiku. Aku semakin banyak mengenal seniman-seniman sastra di Kota Malang.

Selain ATA, ada sosok lain yang juga membawa pengaruh kepadaku, yaitu: Mas Wahyu Prasetya seorang penyair yang sudah banyak mempublikasikan karyanya. Selain itu adalah pak Hazim Amir (Alm), seorang dosen sastra IKIP Malang, yang cukup disegani dan dikenal sebagai budayawan dari Kota Malang. Dengan dua orang ini aku sering berdialog membicarakan banyak hal, selain meminjam buku-buku mereka yang menarik untuk aku baca. Keduanya memiliki karakter keras. Tidak memberikan ampun bagi karya-karya yang dianggap jelek. Wahyu Prasetya, saat aku perlihatkan beberapa puisiku, dia baca dan dengan seenaknya menyilang sajak-sajak yang dianggapnya jelek.

Suatu ketika, beberapa puisiku dimuat di Republika. Teman-teman banyak yang mengucapkan selamat. Bahkan Pak Hazim Amir, saat bertemu denganku, langsung menyapaku: “hei, penyair.” Wah, aku sudah menjadi penyair! Kataku dalam hati.

30 DecProses Kreatifku (3)

Esei: Nanang Suryadi

Geli juga saat seseorang menyapaku sebagai penyair. Di lingkungan kampus, di antara teman-temanku, di antara lingkungan pergaulan yang lebih luas, mereka seringkali mnghubung-hubungkan aku dengan sastra, khususnya puisi. Dan mereka tak segan memanggilku: penyair. Entah mengapa. Mungkin mereka melihat aku demikian mencintai dunia yang satu ini. Dan aku memang sering mengatakan: “aku mencintainya dengan keras kepala.”

Konsistensi. Mungkin itulah kata kuncinya. Ketika seseorang terus menekuni suatu bidang dengan terus menerus, maka orang lain akan “mengakui” seseorang tersebut “berada” dalam bidang tersebut. Hal inilah yang terpikir dalam benakku saat ada yang meributkan masalah “pengakuan” atas eksistensinya di dunia kepenyairan. Pengakuan dari orang lain atas “keberadaan” dan “keberartian” kita bagi suatu lingkungan, sebenarnya mudah sekali, jika kembali pada satu kata kunci tadi: konsistensi. Apakah seseorang tersebut serius terus menerus menggeluti bidang yang ingin dia diakui keberadaannya. Atau hanya sambil lalu saja. Walaupun, seperti dikatakan Budi Dharma, sebagai sebuah sindiran dalam eseinya terhadap para sastrawan kita, bahwa ternyata kebanyakan hanya iseng, mencoba-coba, sambil lalu saja. Dan kerja iseng itu ternyata telah mendapatkan “pengakuan” luar biasa dari orang lain. Mungkin yang dikatakan Budi Dharma itu benar adanya. Mungkin pula tidak. Mungkin akupun sebenarnya belum sungguh-sungguh alias hanya iseng saja menulis sajak, tidak mau mengeksplorasi penuh dan total untuk menjadikan sajak sebagai sebuah kegiatan yang serius dan penuh perhatian. Walaupun, ternyata kerja “iseng” tadi sudah mendapatkan “pengakuan” dari berbagai redaktur sastra yang memuat sajak-sajakku di ruang koran, majalah, jurnal dan laman situs. Tapi, iseng atau tidak terus terang aku mencintainya. Mengapa aku mencintainya? Sukar aku mengatakannya. Mungkin suatu ketika aku tak mencintai dunia kata-kata ini. Seperti terkadang akupun mulai jenuh dan membencinya. Tapi hal tersebut, selama ini tak berlangsung lama. Saat ada ide yang menggoda, aku pun kembali untuk mencintainya. Ah, padahal puisi tak harus digeluti sampai mati bukan? (aku lupa, apakah kalimat ini pernah dikatakan Tardji pada sebuah tulisannya yang aku baca suatu ketika).

Aku sering mendengarkan komentar orang lain terhadap kegiatanku menulis sajak. Komentar mereka diantaranya: aku terlalu produktif menulis. Salah satu orang yang berkomentar tentang hal yang sama adalah Sutardji Calzoum Bachri. Dia adalah salah seorang teman berdialog kalau bertemu di kafe di Tim. Walaupun dialog sebenarnya tidak terlalu tepat, karena sebenarnya dia

yang paling banyak omong dan aku mendengarkan saja celotehannya tentang berbagai hal. Tardji bilang: “Nanang, jangan terlalu rajin nulis puisi.” Aku hanya tertawa saja, lantas bertanya: “Kenapa bang?”

Terlalu rajin menulis, kata Tardji, akan membuat sajak-sajakku menjadi cair. Cair? Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Tapi apakah aku harus menyiksa diriku untuk tidak menuliskan apa yang harus aku tuliskan. Seperti orang kebelet mau ke WC, lalu ada orang bilang: “Nanang, jangan terlalu rajin, nanti cair.” Hehehe, geli juga aku memakai analogi seperti ini. Aku lebih menyukai sering menulis sajak. Mungkin lebih dari 1000 sajakku saat ini. Bagus atau jelek, aku tetap mengakui itu adalah sajak-sajakku.

Sejak aku belajar menulis, aku merasa lebih mudah membuat sebuah sajak, walaupun hasilnya buruk. Aku pernah mencoba menulis cerpen, jumlah cerpen yang jadi hanya sedikit, sebagian besar tidak terselesaikan, karena sudah menghabiskan berhalaman-halaman tapi tak kunjung dapat aku hentikan. Aku mungkin tak begitu peduli dengan “nasib” cerpen-cerpenku, baik yang sudah jadi maupun yang tak jadi itu. Menulis esei juga merupakan sesuatu yang tidak mudah bagiku. Biasanya aku memiliki gagasan besar, menulis judul, lalu menulis beberapa paragraf, setelah itu berhenti dan aku tinggalkan. Aku pikir, aku menyukai menulis sekali jalan dan dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Mungkin karena itulah, aku lebih cenderung untuk menulis sajak.

Dalam menulis sajak, aku tak peduli apakah hasilnya jelek atau bagus. Aku tak ingin gagah-gagahan mengatakan bahwa aku mempersiapkan kosa kata dan mencari kata sampai ke inti sampai ke tulang sumsum seperti Chairil Anwar misalnya. Aku siap sedia dengan dengan segala keterbatasan kosa kata yang terkumpul selama ini dalam benak kepalaku, dan mulai menulis sajak ketika ada suatu sentuhan yang merangsang kata-kata itu keluar menjadi rangkaian-

kata yang disebut sajak. Sentuhan, yang membuka seluruh pengalaman fisik dan batinku selama ini. Jadi, sebenarnya, puisi itu telah ada dalam diriku, hanya saja harus ada suatu pemicu yang membuka seluruh pengalaman puitikku tadi. Pengalaman puitik sering kudapat saat berjalan-jalan, saat ngobrol, saat nongkrong di WC, saat melamun sendirian berbicara dengan Tuhan, saat apa saja. Memang, pernah pula aku mencoba untuk mencari kata-kata dari kamus dan menyengaja untuk membuat sebuah sajak, namun hasilnya tidak memuaskan, karena menjadi sangat teknis, tidak lancar dan seperti menjadi sekedar keterampilan mengolah kata-kata.

Sajak bagiku adalah sebuah dialog. Dengan sajak aku ingin berdialog, maka tak heran jika sering ditemui kata-kata: “mu”, “kita”, “aku” yang merupakan tanda bahwa ada semacam percakapan di situ, sebuah interaksi. Dalam sajak- sajakku, aku kadang-kadang menempatkan diriku bukan dalam posisi “ku” tapi dalam posisi “mu” atau “dia” atau kata ganti lain.

Aku seringkali menyapa seseorang dengan kata-kata yang akrab dikenalinya. Kata-kata yang sering diucapkannya, atau dituliskannya. Dalam sajakku aku tak ragu untuk menyapa Chairil yang menyapaku lewat sajaknya yang menyentuh saat kubaca. Hal yang sama bisa aku lakukan dengan sajakku aku pun menyapa Amir Hamzah, Rendra, Sapardi, Sutardji, Goenawan, Eka Budianta, Afrizal Malna, Subagio Sastrowardoyo, Acep Zamzam Noor, Gus Tf, Dorothea Rosa Herliani, Wahyu Prasetya, Kunthi Hastorini, Anggoro, Yono Wardito, Rukmi Wisnu Wardani, Indah Irianita Puteri, Hasan Aspahani, TS. Pinang, Saut Situmorang, Heriansyah Latief, Medy Loekito, Tulus Widjanarko, Sutan Iwan Soekri Munaf, Ramli, Suhra, Nietszche, Adonis, Rummi, Attar, Octavio Paz, Pablo Neruda atau siapa saja. Bahkan, sebenarnya yang paling sering aku lakukan adalah: menyapa Tuhan melalui sajak-sajakku. Ya, dengan sajak aku

berdialog.

Aku tak takut pada pengaruh para penulis-penulis lain. Aku terima segala pengaruh itu dengan senang hati. Yang memperkaya pengalaman jiwaku. Dan aku mencoba berdialog saat membaca karya-karya tersebut. Aku menciptakan kembali sajak tersebut menjadi puisi dalam angan pikiranku. Mungkin tak sama dengan apa yang dimaui pengarangnya. Tapi bukankah aku berhak memaknai kata-kata yang telah dituliskan, dengan pemaknaan sesuai pengalamanku sendiri, sesuai dengan imajinasiku sendiri.

Kadang-kadang saat membaca sajak, aku mencoba mencari inti kata yang merupakan kekuatan dari sajak tersebut. Aku “mencuri” kata itu dan menjadikannya titik tolak untuk berdialog. Aku coba mengolahnya kembali menjadi rangkaian kata-kata lain dengan apa yang aku rasakan saat

membacanya. Aku tulis terus menerus mengikuti apa yang terlintas dalam benak kepalaku mengembangbiakan kata yang aku “curi” tadi. Hal ini sering terjadi saat aku membaca sajak melalui milist, yang pada saat itu kubaca saat itu pula aku tergoda untuk menanggapinya. Aku jadi terbiasa menulis spontan. Mungkin pada saat itu aku sedang membangkitkan rasa yang terpendam dalam alam bawah sadarku. Mungkin. Hanya saja, bagi orang lain mungkin sajak-sajakku menjadi monoton, karena kosa kata yang muncul sering diulang-ulang dalam banyak sajak-sajakku.

Kegiatan bersastra di internet selama 4 tahun belakangan ini, aku akui mendorongku untuk menulis lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya. Seringkali aku menulis sajak demikian banyak, ketika aku berhadap-hadapan dengan email yang berisi sajak teman-teman, dan aku tergoda untuk membalasnya dengan sajak pula. Belum lagi, bila sajak atau email itu ditulis oleh seseorang yang aku cintai. Aku dengan sangat bersemangat untuk membalasnya, dengan sajak pula. Sajak-sajak interaktif ini mungkin dapat diteropong sebagai sebuah gejala baik yang muncul dari kegiatan bersastra di internet (lewat mailing list, chat room, buku tamu dan fasilitas

interaktif lainnya). Ada satu perangkat yang aku pakai juga untuk menulis sajak, yaitu melalui SMS di handphone. Aku sering berbalas-balas sajak melalui SMS tadi.

Baiklah, aku akhiri dulu penuturanku tentang proses kreatif ini. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku ungkapkan. Tapi lain kali saja, kalau sempat.***