06 JanPuisi-Puisi Kritik Sosial Nanang Suryadi Oleh: Arif Gumantia

“Manusia manusia tanpa kepala berloncatan dari televisi yang penuh tahyul dan dongeng iklan manusia berkulit putih mulus setelah 3 minggu berlulur krim hingga tak dapat dibedakan mimpi dan nyata” (Manusia- Manusia Tanpa Kepala, Nanang Suryadi)

Hanya sedikit  saya temukan buku puisi dari penyair indonesia, setelah era (alm) WS. Rendra yang  mengekspresikan karya-karyanya dengan menulis apa yang  dilihat, didengar, dan dihayati dari kondisi masyarakat sekitarnya. Penyair yang bisa mengidentifikasikan dirinya dengan mereka yang terluka, mereka yang dimiskinkan oleh kekuasaan, mereka yang disergap kesepian dan  membuatnya terasing dalam derap laju pembangunan yang gegap gempita.

Dari yang sedikit itu, saya temukan nama penyair  yang juga dosen UB Malang, Nanang Suryadi dalam buku kumpulan Puisinya Cinta, Rindu dan orang-orang yang menyimpan api dalam kepalanya .

Nanang Suryadi, lahir di Pulomerak, serang, 8 juli 1973, seorang penyair yang sudah tak asing lagi di percaturan sastra Indonesia, penyair yang juga dosen Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang. Beruntung sekali saya pernah satu Kost-kostan waktu Kuliah DI Malang. Masih ingat sering setelah maghrib nanang mengajak saya sharing tentang Puisinya, sambil membawa buku-bukunya Chairil anwar, subagio sastrowardoyo, WS Rendra, HB Jassin, dll, daripada diskusi tentang ekonomi, jurusan yang diambilnya waktu kuliah.:) hingga waktu itu saya sudah yakin, kalau kelak nanang akan menjadi Penyair hebat.

Buku-buku puisi nanang suryadi antara lain : Sketsa, sajak di usia dua satu, orang sendiri membaca diri, dan lain-lain. Puisi-puisinya Juga banyak masuk di antologi-antologi seperti Puisi tak pernah pergi (Penerbit Kompas,2003) , ini sirkus senyum (komunitas Bumi Manusia, 2002) dan masih banyak lagi. Juga Aktif mengelola fordisastra.com.

Seperti apa yang pernah di katakan oleh (alm) WS Rendra “hanya dalam solidaritas dengan lingkungan alam, budaya dan kosmos, manusia dapat merasakan kedekatan dengan Tuhan hingga bisa manjing ing kahanan dan manunggaling kawula Gusti”. Demikian juga upaya yang dilakukan Penyair Nanang Suryadi dengan Puisi-puisinya ini adalah sebuah laku untuk Manunggaling kawula Gusti, dengan cara mengekspresikan perasaan dan kedalaman penghayatannya atas apa yang dilihat dan didengar  di lingkungan masyarakatnya , seperti  apa yang ditulisnya dalam Puisi berikut :

Ada yang Berguguran dari Kemarau

Ada yang berguguran dari kemarau berkepanjangan
Mungkin sebuah harap atau cinta yang ditumbuhkan langit
Tapi siapa dapat membaca musim dan hama berliaran
Di negeri tak bernama tak mengenal belas walau sedikit”
Tak perlu kau katakan tentang cinta
Karena ia hanya ada di negeri negeri jauh
Juga bahagia juga tawa juga surga
Hanya berita tersampai lewat desir angin meluruh
Octavio paz pernah menulis  dalam the other voice “ kontribusi apa yang bisa diberikan oleh puisi dalam menciptakan teori politik baru? Bukan gagasan atau cita-cita baru, tetapi sesuatu yang lebih indah dan agung dan juga gampang pecah : MEMORI.” Ada suara lain yang disuarakan oleh para penyair jika mereka melihat sebuah situasi ketidak adilan. Yang sebelum mengendap menjadi kenangan, selalu disuarakan. Sebuah suara yang meski liris dan lirih tetapi cukup  untuk selalu mengasah Belati nurani kita agar tajam dan bisa menikam  semua bentuk kemunafikan.

Orang-orang yang menyimpan api dalam kepalanya
Jemariku melukis dengan gemetar sebuah kota yang gemuruh, yang mencampakkan orang-orang yang kesepian ke dalam plaza,diskotik, cafe yang riuh serta ruang hotel hendak lunaskan mimpi senggama. Karena industrialisasi (juga modernisasi+westerisasi) telah mencemplungkan mereka ke dalam limbah-limbah pabrik dan melemparkannya ke udara yang pengap. Namun tak jera juga manusia mengadu nasibnya dengan map penuh kertas di tangan mengetuk pintu-pintu kantor, di mana mimpi-mimpi akan disimpan di dalamnya.
Dan pada kerusuhan yang meledak di segala penjuru, kita tatap wajah siapa. Selain orang-orang yang lelah dan benak penuh api, yang akan membakar apa saja. Di tanganku yang gemetar, kota yang meledak menggigilkan harapan ke sudut-sudut peradaban.

Sajak-sajak kritik sosial nanang suryadi ( saya menamakannya demikian) jika saya cermati tidak menampilkan sebuah ideologi politik apapun. Dia hanya menuliskan apa yang dipotretnya dengan mata hatinya, sebuah kesaksian atas kondisi masyarakat yang harus diberikan pada para pembacanya. Kesaksiannya di tuliskan dalam sebuah puisi dalam bahasa  ironi, dan penuh paradoks. Dan pembaca seakan di bawa dalam imaji-imaji yang luas, hingga secara diam-diam atau bahkan mengumpat dalam hati…Oh inilah sebenar-benar potret negeriku.

Anak Muda dan pesta Kemerdekaan
Nyalang matanya  menatap gedung penuh warna lampu,
Iklan menyala, dan kekaburan cerita dalam buku-buku,
Dihapus dari kejujuran  kata,
Sejarah sebuah bangsa yang dibikin amnesia
Ah, apa yang harus aku katakan tentang kemerdekaan ?
Mengingat proklamasi soekarno-hatta.
Atau ledakan meriam 10 nopember 1945.
Atau menghitung gedung-gedung mewah
Yang menggusur perkampunga kumuh!
…………………………………………………….
Sementara televisi menawarkan bahasa baru. Menawarkan
Mimpi-mimpi baru : dunia adalah perkampungan besar
Anak  muda menatap hidup penuh kabut:
“adakah arti kemerdekaan bagiku, yang tak pernah merasa merdeka.
Dari belitan sejarah. Dan cengkeraman kehidupan yang semakin sulit.”
Sajak-sajak kritik sosial juga bisa berarti sebuah pemberontakan. Bukan sebagai pemberontak dengan orientasi politik dan kekuasaan, tetapi selalu memberontak  akan keterbetasan-keterbatasan yang diciptakan karena dogma, doktrin politik, keadaan sosial yang timpang, kemiskinan, dan penindasan pada manusia. Dari sinilah pembaca akan menemukan sebuah benang merah yang terjalin dan selalu relevan dengan aktualitas negeri.

Traffic light yang menyala di kotamu
…………………………………….
Udara panas sesakkan dada, pun petikan gitar para pengamen
Yang turun naik bis kota, membikin puisi wajah kota ini, juga wajah
Pada potret keluarga yang pecah berhamburan.
Kota ini saudara, rindu akan gurat hati nurani dan kejujuran kata-kata (yang tercoret pada
Tembok-tembok kota, tong sampah dan juga pada traffic light yang berubah-ubah warna)
Nyanyi kenisbian cinta, sambil mengunyah kacang goreng, dada, dan paha fried chicken dan seteguk soft drinj, sambil terus tertawakan sebuah kesetiaan, juga pada matahari yang tak peduli pada siapa saja yang berjalan di bawah selangkangannya

Dari puisi-puisi yang hadir di buku “cinta, Rindu dan orang-orang yang menyimpan api dalam kepalanya” saya serasa melihat sebuah potret buram yang masih tergantung di dinding indonesia. Dan jujur bagi saya, semakin meningkatkan untuk “give and give” menebar kebaikan pada negeri ini.
Buku : Tiga Kumpulan Puisi (Cinta, rindu dan orang-orang yang menyimpan api dalam kepalanya)
Penerbit : UB Press
Jl. Veteran (Universitas Brawijaya)
Malang.

 

Download File:

Puisi kritik sosial review oleh Arif Gumantia (doc)

Puisi kritik sosial review oleh Arif Gumantia (pdf)

 

No comments

Place your comment

Please fill your data and comment below.
Name
Email
Website
Your comment
CAPTCHA Image
*