<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Puisi Nanang Suryadi</title>
	<atom:link href="http://puisi.lecture.ub.ac.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://puisi.lecture.ub.ac.id</link>
	<description>Universitas Brawijaya</description>
	<lastBuildDate>Sat, 24 Mar 2012 08:00:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Menonton Opera Laki-laki Sejati</title>
		<link>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/menonton-opera-laki-laki-sejati/</link>
		<comments>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/menonton-opera-laki-laki-sejati/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 05:42:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nanang Suryadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[pertunjukan baca puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi.lecture.ub.ac.id/?p=818</guid>
		<description><![CDATA[<p>Pada 13 Januari 2012 saya mendapat undangan untuk menonton pertunjukan Opera Lelaki Sejati, dari Ananda Sukarlan dan Amadeus Performing Arts Surabaya. Sangat menyenangkan bisa menonton pertunjukan yang terdiri dari dua babak ini. Penonton disuguhi kepiawaian bermain piano dan seni suara yang memukau dari anak-anak dan orang muda berbakat besar, serta tentu saja dari sang maestro [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada 13 Januari 2012 saya mendapat undangan untuk menonton pertunjukan Opera Lelaki Sejati, dari Ananda Sukarlan dan Amadeus Performing Arts Surabaya. Sangat menyenangkan bisa menonton pertunjukan yang terdiri dari dua babak ini. Penonton disuguhi kepiawaian bermain piano dan seni suara yang memukau dari anak-anak dan orang muda berbakat besar, serta tentu saja dari sang maestro piano Ananda Sukarlan.</p>
<p><a href="http://puisi.lecture.ub.ac.id/files/2012/01/img001.jpg"><img src="http://puisi.lecture.ub.ac.id/files/2012/01/img001-200x133.jpg" alt="" width="200" height="133" class="aligncenter size-medium wp-image-819" /></a></p>
<p>Pada pertunjukan itu ada dua puisi saya yaitu: Jemari Menari dan Seorang yang Menyimpan Kisahnya Sendiri yang digubah oleh Ananda Sukarlan menjadi sebuah lagu.  Ananda Sukarlan memang banyak menciptakan lagu-lagu dari para sastrawan Indonesia, seperti malam itu opera Laki-laki Sejati berdasarkan tulisan Putu Wijaya.  Karya-karya para sastrawan Indonesia yang pernah diolah menjadi lagu oleh Ananda Sukarlan antara lain karya:  Chairil Anwar, Sutan Takdir Alisyahbana, Rendra, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Eka Budianta, Ook Nugroho, Medy Loekito, Joko Pinurbo, Hasan Aspahani, Aan Mansyur, Abang Edwin, Sitor Situmorang,  Putu Wijaya, Nanang Suryadi.  Sedangkan karya-karya sastrawan dunia antara antara lain karya-karya dari Walt Whitman, Henry Longfellow, Amado Nervo, Gustavo Adolfo Becquer, Lord Byron. </p>
<p>Saya sangat berterima kasih kepada Ananda Sukarlan dan Amadeus Performing Arts Surabaya yang telah mengundang saya ke Gedung Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur malam itu. Pertunjukan yang sangat mengesankan.</p>
<p>Sila kunjungi juga:</p>
<p>http://anandasukarlan.com</p>
<p>http://musik-sastra.com/</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/menonton-opera-laki-laki-sejati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ANGKATAN TERBARU SASTRA INDONESIA; SEBUAH PERBINCANGAN</title>
		<link>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/angkatan-terbaru-sastra-indonesia-sebuah-perbincangan/</link>
		<comments>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/angkatan-terbaru-sastra-indonesia-sebuah-perbincangan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 08:02:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nanang Suryadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[tulisan lama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi.lecture.ub.ac.id/?p=816</guid>
		<description><![CDATA[<p>Oleh: Nanang Suryadi</p> <p>Pada dunia yang saya sukai dengan cinta keras kepala: sastra, saya mengenal ada pembabakan sejarah sastra Indonesia, ke dalam beberapa angkatan, yaitu: Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45 serta Angkatan 66.</p> <p>Dalam hal pembabakan sejarah sastra, ada juga penulis sastra yang enggan menuliskannya berdasarkan angkatan, walaupun tetap menyebutkan fakta bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Nanang Suryadi</p>
<p>Pada dunia yang saya sukai dengan cinta keras kepala: sastra, saya mengenal ada pembabakan sejarah sastra Indonesia, ke dalam beberapa angkatan, yaitu: Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45 serta Angkatan 66.</p>
<p>Dalam hal pembabakan sejarah sastra, ada juga penulis sastra yang enggan menuliskannya berdasarkan angkatan, walaupun tetap menyebutkan fakta bahwa adanya sekelompok orang yang memproklamirkan keberadaan sebuah angkatan. Salah seorang penulis sejarah sastra yang enggan menuliskan pembabakan berdasarkan angkatan antara lain Ajip Rosidi (1986), yang menyatakan: dalam pembabakan ini digunakan istilah &#8220;periode&#8221; dan bukan &#8220;angkatan&#8221; karena &#8220;angkatan&#8221; dalam sastra Indonesia sekarang telah menimbulkan kekacauan. Pembedaan antara periode yang satu dengan yang lain berdasarkan adanya perbedaan norma-norma umum dalam sastra sebagai pengaruh situasi masing- masing zaman. Sedangkan perbedaan antara angkatan yang satu dengan yang lain sering ditekankan pada adanya perbedaan konsepsi masing-masing angkatan. Dalam suatu periode mungkin saja kita menemukan aktivitas lebih dari satu golongan pengarang yaang mempunyai konsepsi yang berbeda-beda; sedangkan munculnya periode baru tidak pula usah berarti munculnya angkatan baru dengan konsepsi baru. Perbedaan norma-norma umum dalam sastra sebagai pengaruh situasi suatu zaman, mungkin menimbulkan suasana baru dalam kehidupan sastra tanpa melahirkan konsepsi sastra baru yang dirumuskan oleh seseorang atau sekelompok sastrawan. </p>
<p>Pada tahun 1998 ini, Kusprihyanto Namma, Sosiawan Leak dan Wowok Hesti Prabowo mencetuskan perlunya angkatan terbaru sastra Indonesia, yang ditandai dengan diterbitkannya Tabloid Angkatan. Secara umum keperluan adanya angkatan terbaru sastra Indonesia ini, dapat tertangkap dari sebuah pertanyaan retoris: mengapa tidak ada lagi angkatan sastra setelah angkatan 1966. Jika tidak ada pencetusan angkatan yang lain sesudah angkatan 66 maka dapat dikatakan bahwa sastrawan yang berkarya pada tahun 1970-an, 1980-an, 1990-an tetap termasuk sebagai bagian dari angkatan 1966. </p>
<p>Setiap angkatan memiliki kredo yang menjabarkan konsepsi yang membedakannya dengan angkatan lain, dan juga memiliki corong yang menyuarakan kehadiran sebuah angkatan. Angkatan Balai Pustaka memiliki konsepsi berdasarkan kebijakan pemerintah Hindia Belanda, seperti dikemukakan oleh Dr. A.Rinkes: &#8220;….maka haruslah diadakan kitab-kitab bacaan yang memenuhi kegemaran orang kepada membaca dan memajukan pengeetahuannya, seboleh-bolehnya menurut tertib dunia sekarang. Dalam usahanya itu harus dijauhkan segala yang merusakkan kekuasaan pemerintah dan ketentraman negeri&#8221; (Ajip Rosidi, 1986); Angkatan Pujangga Baru lahir dengan konsepsi yang dikumandangkan oleh Sutan Takdir Alisyahbana dalam Majalah Poejangga Baroe. Sedangkan angkatan 45 ditandai oleh konsepsi dalam Surat Pernyataan Gelanggang, serta yang tak kalah pentingnya adalah pembelaan oleh HB. Jassin akan keberadaan angkatan ini. Sedangkan angkatan 1966, keberadaannya diproklamirkan oleh HB. Jassin, yang menulis dalam majalah Horison (1966):&#8221; khas pada hasil-hasil kesusastraan 66 ialah protes sosial dan kemudian protes politik&#8221;. </p>
<p>Mengingat kelahiran sebuah angkatan diawali oleh adanya sebuah konsepsi yang membedakan dengan angkatan yang lainnya, maka pertanyaannya adalah: sudah adakah sebuah konsepsi lain yang bisa ditawarkan oleh angkatan terbaru sastra Indonesia?<br />
Ataukah sebenarnya kita tidak perlu repot-repot untuk membuat &#8216;hanya&#8217; satu buah angkatan terbaru. Mengapa tidak dilakukan saja penulisan buku sejarah sastra Indonesia yang lengkap, yang akan menunjukan perkembangan sastra Indonesia secara komprehensif antara lain dengan memberikan ciri-ciri berdasarkan fakta-fakta empiris yang berkembang sepanjang sejarah sastra Indonesia itu sendiri. Sangat mungkin pada rentang waktu 1966-1998 (32 tahun) tersebut akan ada beberapa angkatan, yang pengelompokannya berdasarkan ciri-ciri atau kecenderungan masing-masing, walaupun mungkin para sastrawan yang berkreasi pada masa itu tidak menyatakan adanya sebuah angkatan pada kalangan mereka. Jadi sebenarnya ini merupakan tugas dari sejarawan sastra. Entahlah lagi, jika ada kepentingan lain, yang mungkin dirasakan beberapa sastrawan akan memberikan sumbangan besar terhadap perkembangan sastra, misalnya saja, dengan mencetuskan lahirnya sebuah angkatan sastra terbaru, taruhlah kita beri nama: angkatan reformasi, maka akan lahir konsepsi yang akan menjadikan karya-karya sastra pada angkatan tersebut akan menjadi lebih baik atau bermutu dipengaruhi oleh semangat reformasi. </p>
<p>Tapi, apakah adanya sebuah angkatan sastra menjadi hal yang sangat penting saat ini dan apakah jika tanpa legitimasi angkatan maka sebuah karya sastra menjadi tidak sah sebagai karya sastra, dan akan mengurangi mutunya?</p>
<p>Begitulah, perbincangan tentang keberadaan sebuah angkatan terbaru sastra Indonesia tidaklah sekedar sebuah pernyataan setuju atau tidak.  Mungkin, yang perlu dilakukan segera, untuk merunut gairah kreativitas sastra, adalah dengan melakukan penulisan sejarah sastra Indonesia yang jujur dan adil. Dan jangan pula lupa dengan penulisan karya sastra serta kritik sastra, yang merupakan tonggak dari segala macam perdebatan ini.</p>
<p>Malang, 1 Nopember 1998</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/angkatan-terbaru-sastra-indonesia-sebuah-perbincangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi</title>
		<link>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/puisi/</link>
		<comments>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/puisi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 11:33:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nanang Suryadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi.lecture.ub.ac.id/?p=812</guid>
		<description><![CDATA[Puisi <p>&#160;</p> PUISI PUISI PUISI PUISI PUISI PUISI PUISI PUISI PUISI NANANG SURYADI @PENYAIRCYBER MEMO PADA SUATU KETIKA tiba-tiba kau datang mengirim pesan: datanglah, saat senja. aku menunggumu, dengan segala impianmu tentang diriku. kau pernah berpikir bahwa aku bersayap? ya, sayapku berupa warna-warna gemerlap. mungkin akan mengagumkanmu. mungkin tidak. karena segalanya kau impikan. diriku diselubungi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><a href="http://nanangsuryadi.blogspot.com/2012/01/puisi.html">Puisi</a></h3>
<p>&nbsp;</p>
<div style="text-align: center"><strong>PUISI</strong></div>
<div><strong>PUISI</strong></div>
<div></div>
<div style="text-align: center"><strong>PUISI</strong></div>
<div style="text-align: right" dir="ltr"><strong>PUISI</strong></div>
<div style="text-align: center" dir="ltr"><strong>PUISI</strong></div>
<div style="text-align: left" dir="ltr"><strong>PUISI</strong></div>
<div style="text-align: center" dir="ltr"><strong>PUISI</strong></div>
<div style="text-align: center" dir="ltr"><strong>PUISI</strong></div>
<div style="text-align: center" dir="ltr"><strong>PUISI</strong></div>
<div style="text-align: center" dir="ltr"><strong>NANANG SURYADI <a href="http://TWITTER.COM/PENYAIRCYBER">@PENYAIRCYBER</a></strong></div>
<div dir="ltr">
<div><strong>MEMO PADA SUATU KETIKA</strong></div>
<div>tiba-tiba kau datang mengirim pesan:</div>
<div>datanglah, saat senja. aku menunggumu, dengan segala impianmu tentang<br />
diriku. kau pernah berpikir bahwa aku bersayap? ya, sayapku berupa<br />
warna-warna gemerlap. mungkin akan mengagumkanmu. mungkin tidak. karena<br />
segalanya kau impikan. diriku diselubungi segala cahaya.</div>
<div>katakan, jangan menangis, padanya. yang mungkin akan kehilangan. jangan<br />
takut. karena segala yang fana akan pudar. akan tamat.</div>
<div>jangan lupa, saat itu
</div>
<div><strong>KAU BEGITU MENYEBALKAN</strong></div>
<div>sungguh, kau begitu menyebalkan. dengan impian-impianmu. dunia sudah<br />
sedemikian susah. mengapa kau terus gaduh di situ. mari kita diam saja.<br />
hai, mengapa kau terus mengomel? dasar pemimpi!</div>
<div>&#8220;tapi dunia sudah demikian tak memiliki hati. hidup menjadi lintasan<br />
video klip. berkelebat ke sana ke mari. ledakan bom di kota-kota tak<br />
membuat hati kita sedih. pipi cekung kanak-kanak kelaparan tak membuat<br />
kita iba. apa yang salah pada nurani kita? mungkin telah menjadi<br />
batu&#8230;&#8221;</div>
<div>sungguh, kau begitu menyebalkan, dengan pertanyaan-pertanyaan seperti<br />
itu, membuatku malu&#8230;</p>
</div>
<div><strong>BUNGA SEKUNTUM</strong></div>
<div>aku ingin sematkan bunga, sekuntum, pada telingamu, agar matamu yang<br />
hitam itu, semakin bercahaya,</div>
<div>ya, bunga-bunga demikan liar bertumbuhan di rumputan, padang terbuka,<br />
mungkin tak sewangi geriap rambutmu, pada angin, menyentuh,</div>
<div>wajahku
</div>
<div><strong>ABSTRAKSI KENANGAN</strong></div>
<div>lalu kau tuliskan segala kenangan, pada udara,</div>
<div>seperti guratan hari-hari kita, demikian abstrak,<br />
tak jelas jelas canda atau petaka,<br />
tak jelas nama atau bencana,</div>
<div>lalu, kau hapus segala kenangan,<br />
begitu saja</div>
<div>ya, begitu saja
</div>
<div><strong>PADA AIRMATA</strong></div>
<div>(kau ingin rasakan keheningan ini, seperti cucuran airmata, beterjunan<br />
kanak-kanakmu, dalam segala moyak harapan)</div>
<div>sudah lama aku kehilangan air mata, tangisku menjadi api menyala,<br />
jangan, jangan membuatku menangis, karena kota-kota sudah menjadi<br />
puing, kanak-kanak sudah demikian damai dalam lubang besar pemakaman,</div>
<div>(kau ingin rasakan kesunyian ini, seperti cucuran airmata, beterjunan<br />
aku, mencari cintamu)</div>
<div>sudah lama aku kehilangan cinta, tak ada yang tersisa, mungkin pada<br />
pecahan granat atau bau bensin dan pecahan botol, tiada, tiada lagi<br />
yang tersisa, kau lihat sepatuku, perhatikan, di ujungnya, ya merah dan putih,<br />
darah dan sedikit cairan otak, eh ada berhelai rambut juga
</div>
<div>(kau ingin rasakan keindahan ini seperti cucuran airmata, beterjunan<br />
mereka, mencari cahaya)</div>
<div>sudah lama aku tak ada cahaya, di sini, dalam hatiku&#8230;</div>
<div>cilegon, 1999
</div>
<div><strong>DEBU DI LEKUK BENANG</strong></div>
<div>pada kanvas ini, aku serupa titik, mungkin di sela, di lekuk benang,<br />
debu? satu dalam bermilyar debu yang menghambur, menyeru: Kekasih</div>
<div>warna-warna dipulaskan di kanvas: bintang biru, atau pelangi pagi hari,<br />
mungkin juga raguku</div>
<div>depok, 1999
</div>
<div><strong>EPISODE PINOKIO</strong></div>
<div>boneka itu, minta menjadi manusia, pinokio, si hidung panjang. aduh,<br />
padahal jadi manusia susah sekali. sudahlah, jadi boneka saja, biar<br />
ditimang, biar kuelus, biar menangis, asalkan kau bukan manusia, yang<br />
punya banyak impian dan masalah</div>
<div>&#8220;dan berbunuhan&#8221;, kata malaikat kepada Tuhan sebelum dicipta Adam</div>
<div>depok, 1999
</div>
<div><strong>STASI TAK TERHINGGA</strong></p>
</div>
<div>     <em> buat: eka budianta</em></div>
<div>tak hanya jakarta, chris</div>
<div>kudatangi negeri-negeri asing<br />
persinggahan tak terhingga</div>
<div>dalam mimpiku</div>
<div>seorang yang mabuk kata-kata<br />
menulis surat untukmu:</div>
<div>&#8220;inilah negeri itu,</div>
<div>kita bertatap mata,<br />
rindu sekali&#8221;</div>
<div>depok, 1999</p>
</div>
<div><strong>DUA PULUH EMPAT SENJA </strong></div>
<div>tataplah warna keemasan, tataplah dengan hatimu, di langit, adakah<br />
namaku? mungkin di hatimu, kanak-kanak berlarian, dua puluh empat senja,<br />
catatlah dalam-dalam, pada kenangan, sudah habis cucuran airmata, tiada<br />
lagi kesedihan, atau teriakan, memecah sunyimu, dua puluh empat senja,<br />
aku datang padamu, mengalungkan bunga, kanak-kanak yang tertawa<br />
berceloteh, atau lelaki yang membaca, puisi begitu memabukkan,<br />
kata-kata menjadi gelembung, aku bawakan balon warna-warni, dua puluh<br />
empat senja, lilin yang nyala</div>
<div>depok, 5 nopember 1999
</div>
<div><strong>ROMANTISME MUSIM</strong><br />
:dp</div>
<div>Aku serasa mencium musim-musim<br />
Bertumbuhan dalam udara</div>
<div>Kemarau yang hijau<br />
Gerimis yang manja</div>
<div>Salju yang tulus<br />
Daun jatuh di musim gugur</div>
<div>Kau ciptakan lagi dongeng<br />
Dalam hatiku yang jauh</div>
<div>Mungkin telah padam<br />
Di hembus angin</div>
<div>Ingatan pada engkau<br />
Cinta, segurat luka</div>
<div>Tapi kucium musim<br />
Melambai dari sunyi</div>
<div>Wajahmu</div>
<div>depok, 1999</p>
</div>
<div><strong>INTRO</strong></div>
<div>aku tak mengerti, katamu<br />
pada sajak banyak ruang terbuka</div>
<div>terjemah kehendak, pada langit luas<br />
atau gelombang berdentaman, dalam dada</div>
<div>mungkin cuma gurau melupa duka, karena<br />
manusia menyimpan luka,</div>
<div>berabad telah lewat, apa yang ingin<br />
didusta? pada bening mata</div>
<div>tak bisa sembunyi<br />
pura-pura</p>
</div>
<div><strong>CATATAN PADA GERIMIS</strong><br />
buat: dp</div>
<div>Pada dering, mungkin gerimis<br />
Menyapa wajahmu</div>
<div>Harap yang ditumbuhkan</div>
<div>Katakan saja, bahwa kita membutuhkan<br />
Mimpi itu</div>
<div>Menjelma</div>
<div>Seperti dikabarkan langit<br />
Ketentuan itu</div>
<div>Seperti rimis</div>
<div>Menyentuh<br />
Hidungmu</div>
<div>Seperti dulu</div>
<div>depok, 1999</p>
</div>
<div><strong>TERJEMAH HUJAN</strong></div>
<div>apa yang diterjemah dari hujan? senyap dan senyap<br />
kenangan dicipta dari dingin, sepotong raut</div>
<div>melambailah engkau dari lampau yang biru<br />
dari gerai rambut, mata bercahaya, &#8230;&#8230;</div>
<div>tak henti-hentinya, berkelindan, terajut dalam<br />
perca bertaut,</div>
<div>hai, apa kabar?<br />
hujan begitu gaduh katamu,</div>
<div>tapi ia adalah suaramu, begitu merdu<br />
suaramu, dalam senyap</div>
<div>hatiku</div>
<div>cilegon-depok, 1999</p>
</div>
<div><strong>SEMARAK CAHAYA</strong></div>
<div>Melintas Insanul kamil<br />
Pada jalan matsnawi, diwan dan rubayat</div>
<div>Sanggupkah ditatap<br />
Semarak cahaya: O Cinta</div>
<div>Pecinta menari dalam kerinduan:<br />
Adawiyah, Ibnu Arabi, Halaj, Jenar,</div>
<div>Sumirang, Sakhrowardi, Attar, Rummi,<br />
Tabriz, Fansuri, Iqbal, Tagore, &#8230;..</div>
<div>Cahaya O Maha Cahaya<br />
Cinta O Maha Cinta</div>
<div>Berjumpa<br />
Di hati</div>
<div>Sendiri</div>
<div>depok, 1999
</div>
<div> <strong>TARIAN PECINTA</strong></div>
<div>O Pecinta</div>
<div>Menarilah menari<br />
Berputar-putar</div>
<div>Dengan gemulai<br />
Keindahan Cinta</div>
<div>Ada yang berputar dalam atom<br />
Ada yang berputar dalam masjidil haram</div>
<div>Bumi berputar<br />
Planet berputar</div>
<div>Galaksi berputar<br />
Alam Semesta berputar</div>
<div>Dalam Cinta
</div>
<div>depok, 1999
</div>
<div><strong>INTERTEKS</strong></div>
<div>Ke dalam dada merasuk teks-teks purba<br />
Pengetahuan yang diajarkan pada Adam</div>
<div>Teks terbuka</div>
<div>Pada kitab suci<br />
Pada alam semesta</div>
<div>Manusia mencari hikmah</div>
<div>Di balik yang nyata<br />
Ada banyak tanya</div>
<div>Rahasia</div>
<div>depok, 1999
</div>
<div><strong>POTRET PANORAMA KERINDUAN</strong></div>
<div>Bacalah dengan hatimu, keindahan<br />
Panorama sekeliling,</div>
<div>Mungkin kata-kata tak sanggup mengungkap<br />
Puisi</div>
<div>Tapi ada yang ingin berbagi<br />
Cerita</div>
<div>Karena manusia adalah<br />
Cinta</div>
<div>Karena semesta adalah<br />
Cinta</div>
<div>Dipahat kerinduan pada<br />
Maha Cinta</div>
<div>depok, 1999
</div>
<div><strong>DI UJUNG LORONG ADA BERKAS CAHAYA</strong></div>
<div>mata, pada pelupuk, dicium angin,<br />
manusia: mimpi, kenangan juga kesunyian, &#8230;..</div>
<div>hidup menjadi lorong-lorong<br />
cahaya di ujung</div>
<div>pada berkas<br />
ada harap</div>
<div>mungkin kekalahan juga<br />
atau sesal</div>
<div>mengendap<br />
pada tatap</div>
<div>atau malam<br />
yang ratap</div>
<div>tapi gapai tak sampai<br />
tangis tak usai</div>
<div>terjemah kehendak<br />
atau takdir</div>
<div>tuhan</p>
</div>
<div>                                   cilegon-depok, 1999
</div>
<div><strong>PADA MATA KANAK</strong></div>
<div>mungkin pada kanak kau temukan harapan,<br />
embun kedamaian terangkum tangkup tangan-tangan mungil.<br />
mata bening yang menghibur hatimu duka</div>
<div>tapi kanak-kanakmu tersesat di chanel televisi 24 jam,<br />
yang mengajari mereka cara membunuh</div>
<div>belajar pada dentum, headline yang tebal,<br />
pada desing, tusukan, rudapaksa, api. siapa mengaduh?</div>
<div>kita mungkin telah kehilangan harap pada dunia, tapi<br />
dapatkah lari dari kehancuran</div>
<div>begitulah kita bermimpi&#8230;<br />
seperti kuarungi</div>
<div>matamu</div>
<div>depok, 1999</p>
</div>
<div><strong>ILUSI LELAKI</strong></div>
<div>&#8220;adakah sedikit saja, untukku,&#8221; mungkin ilusi,<br />
bagi lelaki, seperti ditatap, pada penghujung</div>
<div>cerita dibangun dari coretan, goresan, pada usia</div>
<div>mungkin namamu, mungkin bukan namamu,<br />
tapi engkau yang tersedu,</div>
<div>memecah sunyiku</div>
<div>depok, 1999
</div>
<div><strong>REPORTASE NOL-NOL</strong></div>
<div>serangkum sepi, perempuanku, merenggut dadaku, mata yang binar, senyum<br />
merahasia, kota-kota, tetap saja, gelisah, seperti duka, tarianmu,<br />
ilalang tertiup angin, mengombak, mengalun, serupa mimpi, bertabur<br />
dalam, bertabur diam, bertabur apa, mungkin di langit, serupa bintang,<br />
pelangi, awan kelabu, omong kosong, yang lain, tembok putih, jeruji,<br />
helaian kertas, seonggok&#8230;</div>
<div>kau bunga?<br />
hm, ke mana harummu!</div>
<div>depok, 1999
</div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>COBA TOREH</strong></div>
<div>coba toreh, pada dada, ada apa, mungkin darah, cinta, atau luka,<br />
abad-abad mabuk, terjungkal, beri aku apa saja, mungkin gemulai, atau<br />
tatapan, sedingin es, atau senyuman sepanas matahari, atau tubuhmu?</div>
<div>(pada jamuan terakhir, seteguk anggur sepotong roti: makan dan<br />
minumlah&#8230;)</div>
<div>tak seperti rummi, ternyata, tarian para peniru darwis itu, tak ada<br />
pecinta yang sungguh-sungguh merindukan, dengan kata-kata, seperti<br />
bibirku, berdarah dan luka, seperti kebohongan yang kusulut diam-diam,<br />
seperti?</div>
<div>api yang meledakkan rumahmu, dengan sekam, dengan bara, dengan nyala,<br />
dengan dendam tak bermata, dengan cekam, dengan geram, dengan?</div>
<div>tatap matamu, sungguh<br />
menyilaukan</div>
<div>depok, 1999
</div>
<div><strong>AKU BERLINDUNG PADA ALLAH</strong></div>
<div>aku berlindung pada Allah,<br />
dari kebodohan napsu,<br />
yang dihembuskan setiap detik waktu,</div>
<div>aku berlindung pada Allah,<br />
dari kesesatan pikiran,<br />
yang merajalela</div>
<div>aku berlindung pada Allah,<br />
dari segala kegamangan,</div>
<div>aku berlindung pada-Mu</div>
<div>sungguh,<br />
jangan tinggalkan aku</div>
<div>depok, 1999
</div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>DZIKIR TELEVISI</strong></div>
<div>pada petang menangkup<br />
apa yang diseru? musik berdentangan di televisi</div>
<div>selewat adzan, bersambung nyanyi</div>
<div>pada kabel didzikirkan syahwat, mencuat<br />
pada gelas, didawamkan tipu daya</div>
<div>pada Engkau? begitu penat lidahku, semenit saja</div>
<div>inikah hamba yang mengharap sorga?<br />
inikah manusia yang tak mau dijilat api neraka?</div>
<div>Allah, betapa mudah kutipu diri sendiri&#8230;.</div>
<div>depok, 1999</p>
</div>
<div><strong>HUJAN YANG TURUN SENJA HARI</strong></div>
<div>mungkin engkau menangis kekasih, di ujung senja, aku tahu mengapa<br />
tak usah lagi dikata, karena derita manusia datang sebagai coba,</div>
<div>mari, kita tatapi senja yang turun, bersama pelangi, langit jingga<br />
mungkin doa, hanya doa yang pantas kita bacakan,</div>
<div>begitu lindap warna-warna yang ada dalam benak kita, nuansa<br />
sebagai bayang-bayang samar,</div>
<div>sebuah kesaksian, sebuah impian<br />
mungkin hanya itu milik kita</div>
<div>depok, 1999
</div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>GURATAN PUKUL 23.55</strong></div>
<div>apa yang kau ingat, dari 23 jam 55 menit yang lalu<br />
kaukah manusia yang merugi?</div>
<div>kemarin dan hari ini telah terjalani,<br />
pada neraca akan terlihat</div>
<div>dan esok? masihkah kita melihat matahari<br />
terbit dari timur</div>
<div>tak kutahu. sungguh tak kutahu</div>
<div>Depok, 2 Desember 1999
</div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>BIOGRAFI PENYAIR</strong></p>
</div>
<div>        <em>buat: arisel ba</em></div>
<div>Puisi telah mengalir dalam tubuh<br />
Sebagai darah</div>
<div>Helaan napas<br />
Ketukan jemari<br />
Menuju Yang Satu: Allah</div>
<div>Di balik kata ada hikmah<br />
Asam garam kehidupan<br />
Juga kenangan pada: nenek, ibu, ayah dan guru</div>
<div>Ada seorang menulis sajak<br />
Ia menuliskan hidupnya yang puisi</div>
<div>depok, 1999
</div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>KAMERA</strong><br />
<em> buat: fudzail</em></div>
<div>Wajah bangsa dipotret, mungkin redup<br />
Tapi ia wajah kita sendiri, menyeringai</div>
<div>Mungkin malu<br />
Atau kesakitan</div>
<div>Sungguh, teramat sulit untuk bicara jujur<br />
Ketika ketakutan mengepung di mana-mana</div>
<div>Ada seorang memotret, dengan jemarinya<br />
Mungkin wajah kita di situ</div>
<div>depok, 1999
</div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>SEPATU ITU MASIH DATANG, TEHRANI?</strong><br />
<em> buat: tehrani faisal</em></div>
<div>Sepatu itu masih datang,<br />
Padamu?</div>
<div>Dengan derap<br />
Yang mungkin menggetarkan lantai</div>
<div>Tapi tidak hatimu</div>
<div>Karena kekuasaan manusia<br />
Bukan untuk ditakutkan</div>
<div>Karena suara sepatu<br />
Hanya derap menggetarkan pada jalanan</div>
<div>Tapi tidak hatimu</div>
<div>Ada kawanku,<br />
Dengan keberanian</div>
<div>Meyakini itu</div>
<div>depok, 1999</p>
</div>
<div><strong>GUMAM PUKUL 23.15</strong></div>
<div>sebentar lagi, ya sebentar lagi,<br />
pada malam, keheningan yang menciptakan rindu</div>
<div>&#8220;ternyata kita tak lebih baik,&#8221; katamu<br />
terlihat capek, dengan segala perasaan sia-sia</div>
<div>ke mana kita akan pergi, pada kelam atau silam?<br />
wajah itu demikian kusam, tak seperti kanak</div>
<div>ya, tak seperti impian kita, dunia yang damai<br />
penuh cinta, pada dongeng wonder land</div>
<div>tapi  ia akan datang juga<br />
mengganggu kita, hook dengan tangan kait besi</div>
<div>menjangkau sayap mungil, dan menghancurkannya<br />
tak berkedip, tak berkedip</div>
<div>mari kita tidur saja, semoga perompak itu<br />
tak merampok kebahagiaan dalam mimpi kita</div>
<div>malam ini</div>
<div>depok, 1 Desember 1999
</div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>DONGENG Y2K PUKUL 23.35</strong></div>
<div>merangkak detik dari 23.35 mungkin menggigilkanmu<br />
jam akan datang pada abad 00.00</div>
<div>(2000 tahun manusia dirayakan, seekor kutu<br />
terselip dalam layar monitor, ucapkan: selamat datang!)</div>
<div>cahaya itu begitu menyilaukan<br />
dari mana datangnya, mungkin dari benua ketiga</div>
<div>(2000 tahun manusia dirayakan, seekor kutu<br />
terselip dalam hulu ledak nuklir, ucapkan: selamat tinggal!)</div>
<div>&#8220;halo&#8230;halo..james,<br />
h&#8230;a&#8230;aa..l&#8230;o ma&#8230;i&#8230;h di &#8230;siiitu?&#8221;</div>
<div>krrrrreeeezzzzzssskkk<br />
mungkin itu, gemerisik terakhir</div>
<div>dari pesawat telponmu</div>
<div>depok, 1 Desember 1999
</div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>DUA DAN SATU KERINDUAN</strong></div>
<div>mari,<br />
kugenggam jemari,</div>
<div>engkau yang cahaya purnama,</div>
<div>mari menari,<br />
dalam hari</div>
<div>engkau yang tertawa bahagia,</div>
<div>mari, ke mari<br />
di sisiku bidadari</div>
<div>engkau yang ku cinta</div>
<div>malang, 11 oktober 1999</p>
</div>
<div><strong>SUPERMAN</strong></div>
<div>buat: tomita dan suhra</div>
<div>1.</div>
<div>&#8220;aku ingin jadi hero, pahlawan pembela kebenaran&#8221;, kata kanak dengan<br />
mata berbinar,</div>
<div>mungkin ia dari masa lalu, seperti buku komikku menguning, seperti<br />
louis &amp; clark, batman dan robin, zoro, janggo, phantom, gundala, flash<br />
gordon, &#8230;.</div>
<div>&#8220;aku ingin jadi super man&#8221;, kata seseorang</div>
<div>aku seperti pernah mendengar entah siapa bicara, mungkin lelaki,  dari<br />
sebuah negeri yang jauh, mengatakan: &#8220;kita telah membunuhnya&#8221;</div>
<div>dan aku tak percaya bualnya</div>
<div>2.</div>
<div>dan ia datang padaku, membisikkan: &#8220;telah diringkus promotheus, dan ia<br />
menjadi bait puisi, karena mencuri api, karena ia mencuri api&#8221;*</p>
</div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>SEPOTONG SENJA DI KOTAMU</strong><br />
<em>buat: medy</em></div>
<div>ada yang bercerita, tentang senja, maghrib yang lengang di televisi,</div>
<div>aku tatapi senja, &#8220;aduh seno, jangan kau potong senjaku&#8230; biarlah<br />
alina..biarlah.&#8221; senja begitu indah, cahaya disela awan,</div>
<div>bahtiar,  mochtar, ada yang nyala di buku, seperti</div>
<div>mimpi</div>
<div>depok, 1999
</div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>LABIRINTH MUMET ATAU MOZAIK PERCA</strong><br />
<em>kenangan untuk: raymond valiant</em></div>
<div>malam yang merangkak di bawah rembulan sepotong, bercangkir kopi, kita<br />
nyalakan tanya: tentang cinta, perempuan dan tuhan?</div>
<div>&#8220;aku ingin lari dari belenggu harapan,&#8221; kata kinyur menunjuk erich fromm.</div>
<div>&#8220;dimanakah engkau wanitaku?&#8221; dedi begitu parau menyuarakan sepi, seperti<br />
willy</div>
<div>ah, mengapa teks mitos dan logos terbakar. mengapa? adakah yang membenci<br />
kebenaran? suara senyap yang menggigilkan ujung tanya</div>
<div>ada yang bertanya padamu: habermas, mana jalan ke frankfurt? lewat watu gong<br />
atau betek? atau sepi perpustakaan, buku berdebu, internet yang nyala&#8230;</div>
<div>(ada dering di kejauhan, halo di mana kamu?)</div>
<div>depok, 1999
</div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>KAUKAH PEREMPUAN ITU</strong></div>
<div>kau menyeru: &#8220;ibu, ibu, habis gelap terbitlah terang!*&#8221;</div>
<div>kaukah perempuan itu, yang datang dalam mimpi, selepas malam,<br />
udara begitu buruk, dan kau masih tetap di situ, menulis gelap,<br />
dengan jemarimu, yang luka</div>
<div>ada kuingat, perempuan di titik nol; masihkah kau ingin perdebatkan lagi<br />
tentang clitoris yang dipotong habis,</div>
<div>aku begitu menggigil, seperti malam keramat, mahfoud mengabarkan perempuan yang<br />
mendongeng, kau ingat: bayi yang ditimbun pasir, dilempar ke got, &#8230;..</div>
<div>ia manusia, dan<br />
aku mencintainya</div>
<div>depok, 1999
</div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>DONGENG NEGERI DONGENG</strong></div>
<div>pada catatan pinggir, goen, ada warna sepia? kamus terbuka, terumbu,<br />
kersik, lokan, poci, confety, menjadi abadi? lalu berjejalan di<br />
kota-kota semangka, sepatu, migrasi dari kamar mandi, 100 meter dari<br />
kota ciledug, sedekat malna menulis surat untukku? atau kapak, ngiau,<br />
rabu yang ditakik? tarji tergelak</div>
<div>ilalangtelahdinikahkankah rosa? serupa dingin, beringsut di angin,<br />
mungkin sebuah perubahan, gus, mungkin serupa didaktika catur&#8230;</div>
<div>tapi kota-kota mulai gelap, chairil, seperti karet, karet tempatmu<br />
y.a.d, mungkin pula pada pelabuhan tempat laut hilang ombak&#8230;</div>
<div>tapi ada yang bergegas, dengan tegas, saut, ke mana sobron, ke mana,<br />
kemana wispi, ke mana iramani, ke mana mimpi itu pergi? ke mana,<br />
hamzah, ke mana taufiq, ke mana willy, ke mana?</div>
<div>sobron menulis:, aku buat tape ketan, rendang, di negeri orang, wispi<br />
dulu di nanking, iramani? coba tanyakan pram, mungkin ia tahu di mana&#8230;</div>
<div>heh, hamzah berdiri di senja senyap, taufiq di padang ilalang bertopi<br />
jerami mungkin ingat umbu, atau malu menjadi orang indonesia, dan willy<br />
duduk di samping seonggok jagung&#8230;</div>
<div>dan sepotong senja, di tangamu seno, serupa mimpiku, segera kan<br />
tenggelam&#8230;.<br />
seperti</div>
<div>matanya</div>
<div>depok, 1999
</div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>DONGENG NEGERI</strong></div>
<div>Jangan Kau Dongengkan Lagi Untukku<br />
Impian Kosong</div>
<div>Aku Sudah Bosan Dengan Segala Janji<br />
Aku Sudah Jemu Dengan Segala Khayalan</div>
<div>Kita Tak Berada Dalam Surga</div>
<div>Dari Barat Sampai Ke Timur<br />
Itukah Milik Kita?</div>
<div>Jamrud Khatulistiwa, Indah Beraneka, Rimbun Pohonan,<br />
Biru Lautan, Tambang Emas Permata, Siapa Punya?</div>
<div>Pipi Cekung, Mata Melotot, Daki Menempel, Ingus Di<br />
Hidung, Pengap Kereta Api, Perut Lapar, Siapa Punya?</div>
<div>Jangan Lagi Bicara<br />
Jika Hanya Janji Untuk Diingkari</div>
<div>Jakarta, 1999
</div>
<div><strong>CATATAN 12 MEI 1998</strong></div>
<div>Anak Muda Tak Tahu Apa<br />
Menganga Luka<br />
Dari Senjata Siapa?
</div>
<div><strong>CATATAN 13-14-15 MEI 1998</strong></div>
<div>Apa Yang Harus Ditulis<br />
Dari Tubuh Terbakar<br />
Hangus</div>
<div>Perangkap Menjebak<br />
Orang Lapar</div>
<div>Seperti Tikus Menggelepar<br />
Ditelan Panas
</div>
<div><strong>CATATAN 20 MEI 1998</strong></div>
<div>Bapak, Kami Sudah Bosan<br />
Dengan Segala Dusta</div>
<div>Turunlah Segera!
</div>
<div> <strong>AMBON</strong></div>
<div>Dua Saudara Berhantam<br />
Siapa Tertawa?
</div>
<div><strong>ACEH (1)</strong></div>
<div>Bapak, Rencong Yang Dulu Menusuk Dada Kape<br />
Haruskah Ditusukkan Ke Saudara Sendiri ?
</div>
<div><strong>ACEH (2)</strong></div>
<div>Sepatu Lars Hitam,<br />
Topi Hijau</div>
<div>Di Tengah Pekik Ketakutan
</div>
<div><strong>PETAKA (1)</strong></div>
<div>sepotong roti<br />
serentetan tembakan</div>
<div>senyum<br />
siapa?<br />
di lorong gelap</div>
<div>malam serasa kelam<br />
walau api menyala<br />
di mana-mana</div>
<div>jakarta, 1999
</div>
<div><strong>PETAKA (2)</strong></div>
<div>ada yang dipecahkan, dari kenanganmu<br />
sumpah pada kebenaran, kesejatian</div>
<div>&#8220;berbahasa satu bahasa kebenaran!&#8221;</div>
<div>lalu siapa khianat?<br />
pat gulipat di balik punggung</div>
<div>tak kutahu bahasa uang</div>
<div>tapi molotov<br />
siapa yang nyalakan?</div>
<div>jakarta, 1999</p>
</div>
<div><strong>CATATAN PADA BUKU BAPAK IBU</strong></div>
<div>bapak ibu, lelehan darah dan airmata<br />
menggenang di aspal hitam,</div>
<div>kau catat di buku harianmu?<br />
nama-nama siapa sepanjang pidie, ambon, semanggi,<br />
priok</div>
<div>mungkin kau tahu<br />
mungkin kau tak ingin tahu</div>
<div>jakarta, 1999
</div>
<div><strong>GUGURAN BUNGA</strong></div>
<div>temanku tertembak siapa seusai unjuk rasa, di<br />
tangannya segenggam roti,</div>
<div>tahun yang lalu temanku yang lain tertembak di<br />
kampusnya,</div>
<div>hari-hari kemarin teman-temanku hilang begitu saja,<br />
entah ke mana?</div>
<div>siapa menabur bunga baginya? bapak ibu lupa<br />
menyampaikan salam untuk mereka. mungkin kalian lupa.<br />
tapi tak kulupa. mereka pemberani menentang bahaya&#8230;</div>
<div>bunga yang gugur<br />
bunga yang sedang mekar<br />
tak kau catat pula di hatimu?</div>
<div>jakarta, 1999
</div>
<div><strong>TELEVISI OKTOBER</strong></div>
<div>mungkin bukan musim bunga hongaria, ketika kau rayakan<br />
kemenangan taburan pujian dan harapan, mungkin letusan<br />
petasan atau ucapan syukur:</div>
<div>&#8220;interupsi!&#8221;</div>
<div>itukah demokrasi? impian surealis yang kau bayangkan<br />
di tengah gemuruh demonstrasi. perdebatan di ruang<br />
diskusi. janji di kerumunan kampanye.</div>
<div>&#8220;interupsi!&#8221;</div>
<div>lalu ada yang kecewa dan meledakannya dengan api.<br />
karena ibu tak berdiri di mimbar. karena ibu<br />
dikalahkan terus&#8230;</div>
<div>&#8220;interupsi!&#8221;</div>
<div>ibu berdiri di mimbar. tapi masih ada juga yang<br />
kecewa. masih ada yang menyimpan sesal!</div>
<div>&#8220;interupsi!&#8221;</div>
<div>jakarta, 1999
</div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>OBITUARI</strong></div>
<div>lelaki yang menatap malam: kesunyian, warna hitam<br />
pada silhuet panorama,  negeri yang menangis,<br />
orang sendiri membaca diri,&#8230;&#8230;..</div>
<div>lelaki pemimpi: eksistensi! lalu wajah-wajah menari-nari:<br />
marx, darwin, hegel, nietszche, jesper, camus, heideger, foucoult, walter<br />
benyamin, adorno,&#8230;&#8230;</div>
<div>obituari? penguburan segala kenangan. requiem sepi.<br />
begitu lengang rumah sakit jiwa ini. juga pemakaman!</div>
<div>1999</div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>sajak buat suhra</strong></div>
<div>kemudian kuusap matamu: tak ada airmata!<br />
tapi tergenang cerita masa ke masa</div>
<div>ada yang menari, suhra, di langit<br />
mungkin bidadari</div>
<div>mari ke mari, bintang biruku<br />
sebelum maut berpaut</div>
<div>: ada senyum<br />
juga cahaya</div>
<div>terang sekali
</div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>MENCATAT PERPISAHAN</strong><br />
buat: fudzail</div>
<div>apa yang harus disesalkan dari sebuah perpisahan? pertemuan! kata<br />
seseorang. bukan, karena sebuah perjumpaan menciptakan kenangan indah,<br />
ucapkan syukur atas segala yang terberi&#8230;</div>
<div>&#8220;tapi aku akan merindukanmu&#8221;, katanya mengusap mata</div>
<div>sebuah sore, akhir pertemuan, ada yang bernyanyi: <em>sayonara&#8230;sayonara..</em><br />
<em>sampai berjumpa pula, buat apa susah&#8230;buat apa susah&#8230;susah itu tiada</em><br />
<em>gunanya</em><br />
<em></em>
</div>
<div><strong>SERIBU BULAN</strong></div>
<div>ada yang mencarimu dengan tak sungguh-sungguh mencari karena</div>
<div>manusia ini tak pintar bersyukur tak pintar memuji tak pintar menahan<br />
diri tak pintar mengaji tak pintar merendahkan hati karena</div>
<div>mungkin bengal mungkin bebal mungkin kesal mungkin sial mungkin</div>
<div>tapi ingin diraih bulan seribu bulan bersinar cemerlang seperti surga<br />
seperti janjimu seperti orang-orang yang berjalan di jalan yang lempang<br />
dan lurus</div>
<div>duh gusti, ajari aku, menjadi&#8230;
</div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>HAI, KATAMU (I)</strong></div>
<div>hai, katamu. lalu kita bersalaman. berjabatan erat. genggaman<br />
ketulusan. lalu kita cipta angan-angan. merangkai bulan. merangkai<br />
mimpi. aku ingin terbang. aku ingin terbang&#8230;</div>
<div>&#8220;hebat, bisa terbang&#8221;, katamu</div>
<div>lalu kau beri aku replika pesawat. menderu-deru dalam benak kanakku.<br />
aih, jangan cemberut begitu. bolehlah kau ikut. ke ujung dunia. ke awal<br />
atau akhir kata. ke mana kau mau?</div>
<div>&#8220;emang di bulan ada coklat?&#8221;, katamu menggoda</div>
<div>lalu tubuhku menjadi menjadi supermarket: pasta gigi, sabun, wastafel,<br />
sosis, &#8230;. aha! kau tertawa. mentertawakan dunia? sekarat dan sakit<br />
jiwa</div>
<div>kita bergenggaman jemari. bergenggaman&#8230;.</p>
</div>
<div><strong>HAI, KATAMU (II)</strong></div>
<div>hai, aku ingin sekejap saja memicingkan mata dari mimpi-mimpi manusia.<br />
seperti diledakan dalam kepalaku. deretan gambar dan huruf bergetar<br />
dari tabung-tabung: mampuslah manusia! mampuslah kemanusiaan!</div>
<div>aku menemukan diriku etalase benda-benda. tubuh yang hanya daging.<br />
berdenyut. denyut. ih, mengapa dilempar ideologi ke kamarku?</div>
<div>sudahlah, lupakan saja apa yang kita bicarakan, seperti waktu lalu.<br />
seperti waktu lalu&#8230;</div>
<div>kita susun kembali rumah pasir. kita susun lagi&#8230;
</div>
<div><strong>HAI KATAMU (III)</strong></div>
<div>hai, apa yang bisa disembunyikan oleh manusia. tatap-Nya begitu tajam<br />
mengiris-iris. apa yang bisa dirahasia manusia? tiada! karena gerak<br />
tetap terlihat. karena tindak akan tercatat. karena&#8230;.</div>
<div>kebusukan akan terbaui juga akhirnya. pada jalan sebentang. pada<br />
jembatan timbangan. pada layar&#8230;</div>
<div>neraca! usia sia-sia! defisit! merugi semata!</p>
</div>
<div><strong>PANORAMA KEMATIAN</strong></div>
<div>engkau tersedu? waktu telah menutup</div>
<div>mungkin bunga di tabur<br />
tonggak ditancapkan</div>
<div>serupa ingatan? musim berguguran</div>
<div>beringsut mendekat<br />
perlahan menuju</div>
<div>engkau kekasihku? wajah dipalingkan</div>
<div>duh, rindu tak sampai<br />
lintasan tak usai</div>
<div>karena nyala? usia dihabiskan sia-sia</div>
<div>depok, 1999</p>
</div>
<div><strong>SEPUCUK SENJATA SEIKAT KEMBANG</strong><strong></strong></div>
<div>karena manusia ingin kuasa</div>
<div>jangan lagi, kau letuskan pada hari<br />
dustamu melantakkan kepala &amp; dadaku</div>
<div>apa arti manusia bagimu? daging hidup!</div>
<div>pada gelembung ludah, dicipta mimpi<br />
teror menghantu, ladang-ladang mayat</div>
<div>duh, berapa airmata lagi kan dialirkan?
</div>
<div><strong>TANYA</strong></div>
<div>ada yang gelisah mengetuk-ngetuk pintu tapi langit tak terbuka bagi<br />
pertanyaan pertanyaan seperti hitam seperti kelam seperti malam<br />
tersaruk saruk membawa lampu dimatikan sekilat cahaya berjalan guruh di<br />
telinga tak terdengar terang cahaya tak terlihat karena sesat menjerat<br />
karena telah dikutuk laknat</div>
<div>siapa berani terombang ambing dalam gelombang tak henti henti tak<br />
menepi tak berujung tak habis tak habis duka lara duka gelisah racauan<br />
resah manusia</div>
<div>sepucuk senjata sejuta taburan bunga sekering pipimu anak-anak di<br />
pingir pinggir disepak ke sana ke mari sebagai bola sebagai impian<br />
busuk dan buruk</div>
<div>mengapa risau juga lalu tanya seperti apa tapi manusia tak punya kuasa<br />
karena</div>
<div>tanya</p>
</div>
<div><strong>KOTA YANG KEHILANGAN</strong></div>
<div>kemudian kota-kota berguguran,<br />
kehilangan cinta</div>
<div>di mana kau sembunyikan?</div>
<div>tak ada mimpi di sini,<br />
milik penyendiri</div>
<div>di mana kau letakkan?</div>
<div>pada geriap rambut,<br />
atau teduh mata</div>
<div>di mana kau simpan?</div>
<div>pada telapak sepatu<br />
atau bianglala</div>
<div>di mana kau tuliskan?</div>
<div>sebaris sepi<br />
atau kerinduan</div>
<div>duh, mengapa rahasia juga?</div>
<div>tanya manusia<br />
tanya manusia!</p>
</div>
<div><strong>=aiueo? kosa kata=</strong></div>
<div>apa yang terbakar pada hari-harimu adalah usia sia-sia berangkat pada<br />
senja tak tahu mengapa hendak apa menerjuni kata menerjuni dusta<br />
berdentuman tanya menjelma apa ada gema ada suara ada sia!</div>
<div>tiada siapa siapa ada siapa di mana suara? pecahlah rahasia!</div>
<div>meluncur mendesak menekan merangsak menetak menyalak : ach! dada dada!<br />
kehancuran! nisbi! kenihilan! beri aku tanda!</div>
<div>begitu gemuruh begitu luruh begitu lumpuh begitu utuh begitu: tubuh!</div>
<div>: tak henti-henti meruntuh</p>
</div>
<div><strong>=wak wak diputar wek wek memutar mutar wak wak berputar putar=</strong></div>
<div>kemudian berputaranlah engkau dalam ruang sebagai gasing berputar putar<br />
sebagai dalam labirin berputar putar sebagai dalam gelas berputar putar<br />
sebagai dalam botol berputar putar sebagai dalam udara berputar putar<br />
sebagai tanya berputar putar sebagai rahasia berputar putar sebagai:<br />
tiada!</div>
<div>kemudian diputar putar kelamin diputar syahwat diputar putar dusta<br />
diputar putar curi diputar putar syak wasangka diputar putar belati<br />
diputar putar kuda tunggangan: manusia sepotong napsu membara</div>
<div>kemudian memutar waktu memutar millenium memutar abad memutar generasi<br />
memutar windu memutar tahun memutar bulan memutar jam memutar menit<br />
memutar detik: tik..tik tiba di ujung siapa gigil siapa rintih siapa<br />
takut siapa? nyala!</p>
</div>
<div><strong>BERHENTILAH!</strong></div>
<div>berhentilah sejenak berhentilah nanang jangan terus berlari mengejar<br />
bayang bayang ke ujung cakrawala ke ujung impianmu tak ada habis<br />
habisnya huruf dideret dileburkan dalam darah dalam airmata dalam dalam</div>
<div>begitulah sepi memagut cinta melarut sebagai sungai melaut melintas<br />
berputar menguap ke udara ke udara</div>
<div>metamorfosis? seperti kupu kepompong ulat telur kupu: hai pertapa!<br />
berapa sunyi maumu berapa laut hausmu berapa langit harapanmu berapa<br />
mimpi impianmu berapa cinta pintamu</div>
<div>berhentilah sejenak berhentilah nanang jangan menangis lagi jangan<br />
terus menulisi udara bertuba darah mengalir otak tercecer daki menempel<br />
pipi kering luka menganga gelisah manusia api menyala bom meledak kanak<br />
tersungkur</div>
<div>berhentilah!
</div>
<div><strong>GERIMIS DI HUTAN</strong><br />
buat: yono</div>
<div>sepucuk surat: hutan begitu gelap kawan, hutan begitu gelap&#8230;<br />
lalu keriuhan hewan berdengung di pohonan, aku merindukanmu, suara</div>
<div>dari kesunyian</div>
<div>tak sanggup kutatap mata, karena cerita akan ditemu juga, berkelebat<br />
bayang-bayang melintas, panorama</div>
<div>dari kegundahan</div>
<div>biarlah, mimpi kucipta sendiri, biarlah pada benakku sendiri, biarlah<br />
gerimis di hutan kunikmati sendiri, seperti</div>
<div>sepi</p>
<p>Sila ditengok juga:</p></div>
<div dir="ltr">
<a href="http://puisi.lecture.ub.ac.id/" target="_blank">Puisi Universitas Brawijaya </a><br />
<a href="http://nanangsuryadi.lecture.ub.ac.id/" target="_blank">Nanang Suryadi Lecture UB</a><br />
<a href="http://nanangsuryadi.web.id/" target="_blank">Web Nanang Suryadi</a><br />
<a href="http://puisi.nanangsuryadi.web.id/" target="_blank">Web Puisi Nanang Suryadi</a></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/puisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Puisi Pamflet</title>
		<link>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/kumpulan-puisi-pamflet/</link>
		<comments>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/kumpulan-puisi-pamflet/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jan 2012 04:14:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nanang Suryadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[puisi kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[puisi kematian]]></category>
		<category><![CDATA[puisi kenangan]]></category>
		<category><![CDATA[puisi perjuangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi.lecture.ub.ac.id/?p=806</guid>
		<description><![CDATA[<p>STOP PRESS, 1998</p> &#8220;untuk hidup mengapa begitu rumitnya?&#8221; televisi menyala: rupiah terpuruk jatuh harga membumbung tinggi banyak orang hilang tak tentu rimbanya 12 Mei 1998 mahasiswa mati tertembak siapa? 13-14 Mei 1998 kota-kota terbakar kerusuhan perkosaan, teror! 21 Mei 1998: &#8220;sang raja lengser keprabon&#8221; graffiti menyala di tembok-tembok: &#8220;pendukung reformasi&#8221; eksodus: &#8220;singapura-hongkong-china-taiwan!&#8221; munaslub: &#8220;turunkan para [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>STOP PRESS, 1998</strong></p>
<div>
<div>&#8220;untuk hidup mengapa begitu rumitnya?&#8221;</div>
<div>televisi menyala:</div>
<div>rupiah terpuruk jatuh<br />
harga membumbung tinggi<br />
banyak orang hilang tak tentu rimbanya</div>
<div>12 Mei 1998<br />
mahasiswa mati tertembak siapa?</div>
<div>13-14 Mei 1998<br />
kota-kota terbakar kerusuhan<br />
perkosaan, teror!<br />
21 Mei 1998: &#8220;sang raja lengser keprabon&#8221;</div>
<div>graffiti menyala di tembok-tembok: &#8220;pendukung reformasi&#8221;<br />
eksodus: &#8220;singapura-hongkong-china-taiwan!&#8221;<br />
munaslub: &#8220;turunkan para pengkhianat!&#8221;<br />
ninja beraksi, orang berlari, maubere: &#8220;referendum!&#8221;</div>
<div>&#8220;mengapa hidup begitu rumitnya?&#8221;</div>
<div>seorang ayah bunuh diri bersama empat anaknya</div>
<div>1998, belum usai&#8230;<br />
(hari ini ada berita apa lagi?)</div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>Malang, 1998 </strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div><strong>DERING TELPON DARI MANA ASALNYA</strong></div>
<div>dering telpon dari mana asalnya, berdering-dering saja, kabarkan apa,<br />
apakah berita yang sama seperti kemarin, tentang sebuah negara berkembang, negara dunia ketiga?</div>
<div>hai, kau jangan memaki di situ, nanti telingaku pekak karena umpatanmu<br />
kau kirim kabar apalagi kali ini? aduh, jangan lagi kau cerita tentang korupsi,<br />
kolusi, tirani atau apa saja berita basi, aku tak mau dengar lagi&#8230;</div>
<div>kau mau demonstrasi?<br />
silakan kalau berani!</div>
<div>cilegon 1996, malang 1997</div>
<div><strong>SURAT UNTUK IBU PERTIWI (1)</strong></div>
<div>ibu, salam sayang selalu dari anak-anakmu, yang merindukan dongeng terlantun dari bibirmu penuh cinta. seperti dulu, kau tembangkan syair lagu kepahlawanan. bikin daku hendak jadi ksatria.</div>
<div>jika angin malam tiba, rambutmu yang keperakan meneri-nari, seperti juga daun nyiur di depan rumah kita itu. ibu, anak-anak yang kau cintai berkumpul di sini, membacakan syair, menyanyikan lagu: kami jadi pandumu&#8230;</div>
<div>ah, indah sekali, ketika kami ingat senyummu, tebarkan kerinduan kenangan kanak dulu.</div>
<div>ibu, anak-anakmu kini tetap nakal dan lucu, seperti dulu, anak-anak yang sayang padamu, dan kadang juga tak mematuhi nasehatmu.</div>
<div>tapi, air mata itu, mengapa menetes ibu? meleleh di kedua belah pipi. mengapa ibu? adakah kau marah pada kami, anak-anakmu yang kian nakal saja, tak menggubris petuahmu.</div>
<div>ujarmu:&#8221;hormatilah orang tua, lindungi dan sayangilah saudara-saudaramu. berbuatlah adil dan jujur. jangan tamak dan serakah terhadap hak orang lain&#8230;&#8221;</div>
<div>ya, nasehat yang masih kuingat benar hingga kini, dan anak-anakmu yang lain mungkin masih mengigatnya juga, ibu.</div>
<div>di tengah derum pembangunan, anak-anakmu yang perkasa bertebaran. menjelajahi tempat-tempat yang kau dongengkan. tempat peri baik hati. tempat pahlawan-pahlawan dilahirkan dan dibesarkan. tempat binatang-binatang bercakapan. di sana, dengan doa darimu, kami buka hutan perawan, mengolah tanah, menyemaikan benih dan memetik hasilnya ketika panen tiba. kami gali tambang emas permata. kami ungkap segala rahasia semesta. ya, inilah yang kami lakukan untuk pembangunan, seperti yang diucapkan pemimpin, anak-anakmu juga ibu. begitulah ibu, anak-anakmu berjuang untuk hidup&#8230;</div>
<div>dan tangismu itu ibu, sepertinya aku tahu mengapa? memang akupun turut merasakan apa yang sebenarnya engkau rasakan. ya, betapa kasihmu tak terperikan. kau akan menangis, melihat anak-anak yang kau cintai, bernasib malang, tergusur dari tanahnya sendiri. rasanya aku dengar teriakanmu begitu histeris, melihat anak-anakmu tenggelam dalam lautan darah dan airmata&#8230;</div>
<div>ya, ibu, aku rasakan itu kau menangis melihat saudara-saudaraku berbuat kejam terhadap kami, anak-anakmu yang yang malang. anak-anakmu yang begitu lemah, menghadapi kekuasaan yang begitu menakutkan!</div>
<div>dan tangis itu, sepertinya, bicara begitu&#8230;</div>
<div>malang, 21 maret 1995</div>
<div><p><a href="http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/kumpulan-puisi-pamflet/"><em>Click here to view the embedded video.</em></a></p></div>
<div><strong>SURAT UNTUK IBU PERTIWI (2)</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div>jangan menangis ibu, kan kami rayakan ulangtahunmu kali ini, entah yang ke berapa, aku lupa. dengan mengingat senyummu dan dongeng kepahlawanan.</div>
<div>jangan khawatirkan nasib kami, bukankah peruntungan tiap orang tak sama, ibu?</div>
<div>jika kami menggusur rumah saudara kami sendiri, itu bukan berarti kami tak sayang kepada mereka. kami telah beri mereka kesempatan untuk menjelajahi hutan, tempat peri baik hati, seperti ceritamu dulu. dan kami beri mereka ganti rugi secukupnya, seratus dua ratus rupiah untuk semeter persegi tanah yang harus mereka tinggalkan. bukankah itu cukup adil, ibu?</div>
<div>kami pinggirkan mereka ke tepi hutan. bukankah itu lebih baik, karena dengan begitu, mereka akan hidup damai di sana. jauh dari kegaduhan yang kini sering mengganggu kami.</div>
<div>ya, anak-anakmu yang lain, tetap saja nakal, ibu. mereka telah menjadi pengacau! namun tenang sajalah, ibu, kami telah tangkapi mereka, yang<br />
selalu menghasut, membuat kejahatan, membuat keonaran, membuat semuanya menjadi buruk. biarpun mereka saudara kami sendiri. bukankah hukum harus selalu ditegakkan, ibu?</div>
<div>dan mungkin kau sering mendengar tentang hal ini, tetangga-tetangga yang selalu mengoceh tentang hak asasi manusia, demokratisasi, ketidakadilan, dan masih banyak lagi. ya, rasanya itu akan membuatmu terganggu, ibu. aku pun merasa begitu.kadang aku bertanya: mengapa mereka berbuat seperti itu, seperti kurang kerjaan saja. dan engkau mungkin setuju pada pendapatku tentang hal itu. mengapa mereka selalu ribut, ketika saudara kami sendiri kami beri pelajaran, agar mereka tak keliru.</div>
<div>jelas bukan? demi keamananmu, demi senyummu yang dulu. kami harus tega menghukum mereka, orang-orang itu (mungkin saudara kami sendiri) yang akan merusak namamu&#8230;</div>
<div>baiklah ibu, sebenarnya ada yang lebih penting dari itu semua:<br />
mmmm, bolehkah kugadaikan negeri ini ke pasar dunia?</div>
<div>malang, 21 maret 1995</div>
<div><p><a href="http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/kumpulan-puisi-pamflet/"><em>Click here to view the embedded video.</em></a></p></div>
<div><strong>DIALOG KEBINGUNGAN</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div>banten, 8 Juli 2045</div>
<div>(serupa bayang-bayang, mungkin dari masa lalu, aku merasa hadir. serasa<br />
mimpi. semcam de javu&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;<br />
&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;<br />
&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;<br />
&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;<br />
&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;<br />
bacalah catatan ini, mungkin tulisan kakekku):</div>
<div>malang, 30 Oktober 1995</div>
<div>kuguratkan pena pada lembar buku sejarah bangsa ini, berjuta rasa kekaguman,<br />
kegundahan, serta pertanyaan tak berjawab.</div>
<div>&#8220;kau masih perlu belajar banyak dari kehidupan, asam garam dunia pahit pedih<br />
perjuangan, harus kau nikmati, anakku,&#8221; katamu</div>
<div>ya, aku kini belajar pada sejarah, yang ditulis begitu kacau, mengalahkan akal<br />
sehat dan logika, tumbal sulam penuh manipulasi kata-kata, menghipnotis dengan<br />
kecanggihan sihir informasi satu arah (yang ada hanya satu versi sejarah resmi,<br />
yang lainnya sub versi, tak akan diakui!)</div>
<div>&#8220;apa yang kau ketahui tentang sejarah, anak muda? sedang kau sendiri tak pernah mengalami kepahitan bangsa ini berjuang melepaskan diri dari penjajahan, bergelut dengan segala pengkhianatan,</div>
<div>tahukah kau betapa merahnya darah yang mengalir dari luka-luka bangsa ini? dan betapa revolusi (yang mungkin tak akan kau pahami) harus dibayar dengan darah<br />
dan airmata</div>
<div>engkau masih teramat hijau memandang dunia&#8221;</div>
<div>ya bapa,<br />
kami memang tak merasakan semua deru revolusi. kami memang tak merasakan kepahitan pertikaian generasimu. kami memang tak merasakan itu semua (dan kami tak ingin menanggung seluruh warisan permusuhan, sebuah dosa besar di masa lalu yang kau pikulkan pada anak-anakmu)</div>
<div>&#8220;jangan sekali-kali melupakan sejarah!&#8221;</div>
<div>catatan sejarah siapa yang harus kami percaya?</div>
<div>&#8220;anak muda, jangan terlalu banyak membantah omongan orang tua. jangan pula banyak</div>
<div>bicara yang tiada guna, karena apa yang kami katakan itulah kebenaran sejati,<br />
kau tak akan sanggup merekonstruksi sejarah masa lalu, selain kami sendiri yang<br />
menuliskannya untukmu, jangan percaya siapapun selain kepada kami, yang menyelamatkan negeri ini</div>
<div>bukankah kebenaran akan selalu menang?<br />
dan kamilah kebenaran, karena kamilah yang menang<br />
bersiaplah saja untuk menjadi pewaris kami,<br />
pemimpin masa depan&#8230;&#8221;</div>
<div>ya, mungkin begitu katamu, kami akan menjadi pemimpin masa depan, tapi sungguh, kami tak mengerti apa maumu sebenarnya? kau suruh kami kami jadi calon pemimpin, tapi tak pernah kau beri kesempatan. kau bilang kami harus kritis, ketika kami bicara kau menindas dengan kekuasaan yang bengis. jangan salahkan kami, jika menjadi generasi tanpa arah, karena memang selalu dibingungkan dengan sikapmu yang tak jelas. sebenarnya apa maumu?</div>
<div>&#8220;apa maumu, anak durhaka?!&#8221;</div>
<div>cilegon 1997 &#8211; malang 1999</div>
<div><strong>MENYAPA JAKARTA SIANG HARI</strong></div>
<div>selamat siang jakarta. udaramu panas sekali.<br />
seperti juga panasnya persaingan orang mencari penghidupan.</div>
<div>orang-orang berdesakan dalam bis kota<br />
(sementara sebagian lagi harus menyewa para joki untuk melewati jalur three in one).</div>
<div>orang-orang berdiri di pinggir jalan<br />
dengan peluh meleleh sekujur tubuh.</div>
<div>mobil-mobil terjebak kemacetan<br />
&#8212;berapa banyak lagi mobil akan banjir di sini?&#8212;<br />
(apa kabar timor, baleno, cakra, paijo, nanang, wahyu, taufan&#8230;)</div>
<div>orang-orang berteriak<br />
dengan klakson<br />
dan suara mesin yang meraung<br />
(juga knalpot yang menyemprotkan makian)</div>
<div>panas sekali udara di sini,<br />
seperti juga panasnya persaingan politik.<br />
orang-orang berdesakan, sikut menyikut, berebut mendekati pusat kekuasaan.</div>
<div>banyak orang- menjelma menjadi gelombang televisi dan radio resmi<br />
( dan sebagian menjelma menjadi pamflet-pamflet gelap dan graffiti<br />
di tembok-tembok kota)</div>
<div>selamat siang jakarta, aku kepanasan!</div>
<div>Jakarta, Cilegon, Malang, 1996</div>
<div><strong>PERKABUNGAN</strong></div>
<div>buat: goen</div>
<div>perkabungan yang kuhantarkan ke jalan-jalan,<br />
kabarkan kematian sebuah keinginan</div>
<div>terbunuh kata-kata di dalam koran,<br />
televisi dan podium</div>
<div>sedangkan diam menjadi tanda tanya<br />
duka yang menjadi samudera<br />
menghantam-hantamkan ombaknya<br />
ke karang batinku<br />
bikin darah leleh di kedua belah mata</div>
<div>matahari ini kian panas, katamu<br />
tombaknya meruncing<br />
tikami tubuh<br />
dan sengatannya kian berbisa</div>
<div>ah, anak-anak yang berarak di jalanan,<br />
menantang ketidakpastian</div>
<div>perkabungan yang kuhantarkan ke jalan-jalan, diarak anak-anak muda<br />
&#8211;yang menatap kehidupan dengan mata bening,<br />
penuh kejujuran memandang dunia</div>
<div>mereka lelehkan airmata untuk sebuah kehidupan yang mati sore tadi</div>
<div>Cilegon 1994/Malang 1995</div>
<div><strong>PERISTIWA</strong></div>
<div>ada yang tak dimengerti<br />
dari sebuah berita yang diguratkan<br />
di hari penuh dusta dan teriakan<br />
karena kekesalan yang memuncak.</div>
<div>dan kau lempar sebuah peristiwa<br />
pada kerumunan massa yang haus<br />
kan lambang-lambang penuh kebebasan.</div>
<div>serombongan anak muda yang penuh darah dan api<br />
dalam kepalanya. membawa bendera&#8230;</div>
<div>mengertikah kau makna itu,<br />
ketika anak muda menjadi beringas<br />
membawa kemarahan yang menjadi api,<br />
membakar gedung-gedung,<br />
mobil-mobil terjungkal di pinggir jalan,<br />
toko-toko berhamburan isinya&#8230;</div>
<div>ah, hiruk pikuk yang mungkin juga tak akan kau mengerti.<br />
karena kata-kata itu: politik!<br />
ia telah menjadi burung, bersayap dan terbang</div>
<div>dan peristiwa yang kau gambar sore ini, manisku<br />
adakah tentang cinta kita yang berlalu?</div>
<div>Malang, 1994</div>
<div><strong>BAPAK! BUKA PINTU&#8230;.</strong></div>
<div>setelah puisi menjadi bom waktu yang menakutkan.<br />
buku-buku terlempar ke balik terali.<br />
dan berita kebenaran menjadi kesenyapan yang nyata.</div>
<div>anak- anak yang berteriak di jalanan<br />
mengusung keranda kematian sebuah keinginan di pagi hari.</div>
<div>sedang bapak yang teramat sayang kepada rumah<br />
hantamkan pentungan pada kepala anak-anaknya.<br />
yang menjadi beringas melempari kaca dan genting.</div>
<div>anak-anak melelehkan tangis.<br />
dipanggang segepok makian.<br />
karena bapak telah menjadi hantu yang menakutkan!</div>
<div>bapak, ya bapak&#8230;<br />
jangan tutup pintu<br />
bapak, ya bapak &#8230;<br />
biarkan terbuka</div>
<div>anak-anak yang berarak,<br />
telah antri di depan pintu gerbang,<br />
menanti kapan bapak berbaik hati,<br />
mempersilahkan masuk,<br />
ke rumah mereka sendiri</div>
<div>malang, 7 april 1994/1996</div>
<div><strong>BENANG KUSUT</strong></div>
<div>mana ujung mana pangkal berputar berbelit tak karuan<br />
omongan melantur nurani membentur karang<br />
berdarah-darah kepalaku: pusing tujuh keliling</div>
<div>di mana keberanian di letakkan?<br />
menantang angin semilir atau badai<br />
cuma gerutuan terlontar</div>
<div>upeti dipersembahkan<br />
raja di raja meminta tumbal sesaji<br />
di letakan di hadapan</div>
<div>tak puas juga kah dihisap darah<br />
tak jera jugakah berbuat salah</div>
<div>berputar-putar isi benakku<br />
tangan meninju angin lalu</div>
<div>sebenarnya tahukah ke mana kita menuju?</div>
<div>Malang, 16 Nopember 1997</div>
<div><strong>NURANI</strong></div>
<div>satu titik dalam dadaku, meronta<br />
ke mana kan dilarikan ini cita-cita<br />
membentur-bentur melulu</div>
<div>mataku menatap<br />
sebuah batu</div>
<div>betapa muram<br />
betapa suram</div>
<div>tak terasa meleleh juga air mata<br />
dalam hatiku yang mungkin kian jelaga</div>
<div>Malang, 16 Nopember 1997</div>
<div><strong>DOA SEORANG PESAKITAN</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div>tuhan<br />
betapa sukar kutemukan keadilan di sini<br />
di negeri yang sesungguhnya aku cintai</div>
<div>beberapa detik lagi,<br />
mungkin sebagai sokrates<br />
yang tabah hadapi kematian,<br />
aku coba simpan keyakinan dalam jiwa</div>
<div>ya, betapa membosankan semua kepalsuan ini,<br />
keadilan hanya sekedar omongan,<br />
tertulis di buku-buku</div>
<div>dan dengan sesuka hati,<br />
hukum didustai, dilecehkan, ditikam berulang kali</div>
<div>tuhan, aku letih bertanya tentang kebenaran<br />
karena sepertinya, kebenaran telah menjadi klaim sepihak kekuasaan<br />
kebenaran harus dilihat dari kacamata mereka, jika tidak: subversi!</div>
<div>aku saksikan: hukum dihina para hakim, mereka jual belikan keputusan,<br />
lembaga peradilan di jadikan gedung sandiwara,<br />
oh, masih beranikah aku katakan tentang keadilan di sini</div>
<div>dan kini, aku rasakan betapa pedihnya penderitaan ini,<br />
ketika ketidakadilan menyergapku,<br />
aku ingin berteriak, namun lidahku kelu</div>
<div>ya tuhan, aku bertanya<br />
apakah keadilan masih engkau amanatkan kepada manusia,<br />
jika ya, ketlingsut dimana ia<br />
karena hari-hari ini, tak kutemukan ia,</div>
<div>aku saksikan<br />
pencuri uang rakyat dilepaskan<br />
para penguasa yang jahat tak terjamah oleh hukum</div>
<div>ya tuhan, aku serahkan semua ini pada keadilanmu</div>
<div>malang, 5 mei 1994</div>
<div><strong>DI ALUN-ALUN KOTA</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div>apa yang kita cari di sini.<br />
pada gerimis yang turun malam hari.<br />
pada dingin yang menggigit.</div>
<div>kau bacakan sajak dari masa lalu.<br />
di atas bangku-bangku taman.<br />
aku tertidur&#8230;.</div>
<div>marilah kita bermimpi saja<br />
bahwa kita yang menguasai semua ini.<br />
kekuasaan seluas dunia.<br />
wanita-wanita cantik .<br />
pabrik-pabrik .<br />
senjata-senjata.<br />
emas permata.<br />
tambang di mana-mana.<br />
serta hutan yang terus ditumbangkan.</div>
<div>tak usah kita berteriak lagi seperti tempo hari.<br />
di tempat ini.<br />
dalam panas terik matahari.<br />
menyumpahi kekuasaan yang korup.<br />
dengan kemarahan yang membakar kerongkongan dan dada.</div>
<div>lihatlah, seragam itu<br />
yang membuatmu trauma,<br />
karena patah tulang rusakmu,<br />
pecah mata kirimu.<br />
karena popor senjata dan pentungan memang keras.</div>
<div>dan panser yang akan melibas<br />
mimbar-mimbar yang kau dirikan.<br />
bikin kau semakin sakit hati saja.</div>
<div>aku tertidur.<br />
kau terus membacakan puisi bagiku.<br />
dalam gerimis yang turun malam hari.</div>
<div>kita di sini mencari apa?<br />
&#8220;bermimpi sajalah &#8230;&#8221; katamu</div>
<div><strong>ANAK MUDA DAN PESTA KEMERDEKAAN</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div>Nyalang matanya menatap gedung penuh warna lampu,<br />
iklan menyala, dan kekaburan cerita dalam buku-buku,</div>
<div>dihapus dari kejujuran kata,<br />
sejarah sebuah bangsa yang dibikin amnesia</div>
<div>Anak muda sangsai hidupnya,<br />
mengeja nasionalisme yang sekarat<br />
diterpa badai globalisasi.</div>
<div>Anak muda menangis memanggil ibu pertiwi.<br />
Di hari kemerdekaan.<br />
Yang ada hanya upacara.<br />
Pesta.<br />
Merayakan hari-hari amnesia.</div>
<div>Ah, apa yang harus aku katakan tentang kemerdekaan?<br />
Mengingat proklamasi Soekarno-Hatta.<br />
Atau ledakan meriam 10 Nopember 1945.<br />
Atau menghitung gedung-gedung mewah<br />
yang menggusur perkampungan kumuh!</div>
<div>Sementara mantera itu&#8230;<br />
Menggerakkan seluruh sendi untuk terus bergerak, bergerak, bergerak&#8230;</div>
<div>Pembangunan! beri aku pengorbanan, barang selaut dua laut airmata darahmu. barang sepetak dua petak tanahmu, barang satu dua nyawamu</div>
<div>Anak muda merah matanya memandang langit: &#8220;Adakah bagia di sana, dalam belaian tangan-tangan malaikat. Yang akan mengangkataku dari kekumuhan ini. Dari keraguan memandang masa depan&#8221;.</div>
<div>Ia bergerak dalam lautan massa. Dalam gelora yang sama. Kata-kata menjadi generik. Kata-kata menjadi ilusi yang menakutkan: Penuh wajah garang dan kokangan senjata!</div>
<div>Sementara televisi menawarkan bahasa baru. Menawarkan mimpi-mimpi baru: dunia adalah perkampungan besar&#8230;</div>
<div>Anak muda menatap hidup penuh kabut:<br />
&#8221; Adakah arti kemerdekaan bagiku., Yang tak pernah merasa merdeka. Dari belitan sejarah. Dan cengkraman kehidupan yang semakin sulit&#8221;.</div>
<div>Bendera berkibar<br />
&#8220;Indonesia raya. Indonesia Raya. Adakah kau dengar kata-kataku ini. Menawarkan cerita penuh luka. Anak-anak sejarah kebingungan menatap cuaca&#8221;</div>
<div>Anak muda menatap Indonesia raya:&#8221;Merdeka?&#8221;</div>
<div>Malang, 26 April 1995</div>
<div><strong>BERSAMA CERITA WAHYU</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div>anak-anak muda menatap cerobong pabrik,<br />
kantor penuh uang,<br />
tambang emas permata<br />
sebagai sebuah masa depan</div>
<div>rasakan kecemburuan luar biasa<br />
ketika pintu-pintu buat mereka tak pernah dibuka<br />
sedang etalase tawarkan mimpi-mimpi yang harus dibeli</div>
<div>seteguk demi seteguk menelan kebencian,<br />
berkobarlah api di dalam dadanya<br />
karena kenyataan begitu pahit</div>
<div>berbutir pil dan minuman keras bersarang di perutnya<br />
(dengan belati di tangan menyergap rizki di tengah jalan!)</div>
<div>malang, 2 Oktober 1996</div>
<div><p><a href="http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/kumpulan-puisi-pamflet/"><em>Click here to view the embedded video.</em></a></p></div>
<div><strong>SEBUTIR MATA</strong></div>
<div>mengingat: w.t.</div>
<div>perempuan itu,<br />
istri seorang demonstran,</div>
<div>berkata: karena perjuangan harus dilanjutkan,<br />
kang mas, aku relakan sebutir mataku untukmu.</div>
<div>menggantikan mata kirimu yang pecah saat unjuk rasa.</div>
<div>malang, 1996</div>
<div><strong>MENONTON SULAPAN</strong></div>
<div>kursi menjelma<br />
dari kepala-kepala bercucuran darah</div>
<div>kursi menjelma<br />
dari tubuh tubuh bercucuran darah</div>
<div>letusan senjata bikin nganga luka,<br />
pada jantung,<br />
pada hati nurani</div>
<div>hutan menjelma<br />
menjadi angka<br />
dalam rekening bankmu.</div>
<div>ajaib<br />
ajaib</div>
<div>siapakah engkau wahai:<br />
penyihir yang menipu mata berjuta kepala</div>
<div>Malang, 9 Januri 1996</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/kumpulan-puisi-pamflet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Puisi Cinta dan Kesedihan</title>
		<link>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/kumpulan-puisi-cinta-dan-kesedihan/</link>
		<comments>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/kumpulan-puisi-cinta-dan-kesedihan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 07:12:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nanang Suryadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[puisi cinta]]></category>
		<category><![CDATA[puisi kangen]]></category>
		<category><![CDATA[puisi kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[puisi kenangan]]></category>
		<category><![CDATA[puisi kesepian]]></category>
		<category><![CDATA[puisi penantian]]></category>
		<category><![CDATA[puisi perjalanan cinta]]></category>
		<category><![CDATA[puisi perjalanan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[sajak cinta]]></category>
		<category><![CDATA[sajak kekasih]]></category>
		<category><![CDATA[syair cinta]]></category>
		<category><![CDATA[syair kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[dendam]]></category>
		<category><![CDATA[kesedihan]]></category>
		<category><![CDATA[patah hati]]></category>
		<category><![CDATA[rindu]]></category>
		<category><![CDATA[sedih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi.lecture.ub.ac.id/?p=803</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sila didownload di sini: Derai Hujan Tak Lerai</p> ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sila didownload di sini: <a href="http://puisi.lecture.ub.ac.id/files/2012/01/Derai-Hujan-Tak-Lerai.pdf">Derai Hujan Tak Lerai</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/kumpulan-puisi-cinta-dan-kesedihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Puisi Kenangan</title>
		<link>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/kumpulan-puisi-kenangan/</link>
		<comments>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/kumpulan-puisi-kenangan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 07:05:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nanang Suryadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[puisi cinta]]></category>
		<category><![CDATA[puisi kangen]]></category>
		<category><![CDATA[puisi kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[puisi kenangan]]></category>
		<category><![CDATA[puisi kesepian]]></category>
		<category><![CDATA[puisi penantian]]></category>
		<category><![CDATA[puisi perjalanan cinta]]></category>
		<category><![CDATA[puisi perjalanan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[puisi rindu]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[sajak cinta]]></category>
		<category><![CDATA[syair cinta]]></category>
		<category><![CDATA[syair kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi.lecture.ub.ac.id/?p=800</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sila didownload kumpulan puisi Nanang Suryadi di sini: KENANGAN YANG MEMBURU</p> ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sila didownload kumpulan puisi Nanang Suryadi di sini: <a href="http://puisi.lecture.ub.ac.id/files/2012/01/KENANGAN-YANG-MEMBURU.pdf">KENANGAN YANG MEMBURU</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/kumpulan-puisi-kenangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Puisi: BIAR! Nanang Suryadi</title>
		<link>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/kumpulan-puisi-biar-nanang-suryadi/</link>
		<comments>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/kumpulan-puisi-biar-nanang-suryadi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 06:57:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nanang Suryadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[puisi kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[syair kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi.lecture.ub.ac.id/?p=797</guid>
		<description><![CDATA[<p>Sila didownload di sini: Biar! Kumpulan Puisi Nanang Suryadi</p> ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sila didownload di sini: <a href="http://puisi.lecture.ub.ac.id/files/2012/01/Biar-Kumpulan-Puisi-Nanang-Suryadi.pdf">Biar! Kumpulan Puisi Nanang Suryadi</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/kumpulan-puisi-biar-nanang-suryadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Puisi Rindu</title>
		<link>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/kumpulan-puisi-rindu/</link>
		<comments>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/kumpulan-puisi-rindu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 06:21:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nanang Suryadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[puisi cinta]]></category>
		<category><![CDATA[puisi kangen]]></category>
		<category><![CDATA[puisi rindu]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[sajak cinta]]></category>
		<category><![CDATA[sajak kekasih]]></category>
		<category><![CDATA[syair cinta]]></category>
		<category><![CDATA[syair kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi.lecture.ub.ac.id/?p=794</guid>
		<description><![CDATA[<p>Silakan di download di sini: Yang Merindu</p> ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Silakan di download di sini: <a href="http://puisi.lecture.ub.ac.id/files/2012/01/Yang-Merindu.pdf">Yang Merindu</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/kumpulan-puisi-rindu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kumpulan Puisi Cinta</title>
		<link>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/kumpulan-puisi-cinta/</link>
		<comments>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/kumpulan-puisi-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 06:07:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nanang Suryadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[puisi cinta]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[sajak cinta]]></category>
		<category><![CDATA[syair cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi.lecture.ub.ac.id/?p=784</guid>
		<description><![CDATA[<p>Kumpulan puisi cinta adalah salah satu kumpulan puisi saya di dalam buku Cinta, Rindu dan Orang-orang yang menyimpan api dalam kepalanya. Buku tersebut memang memuat 3 kumpulan puisi, dengan tema: cinta, kritik sosial dan religiusitas. </p> <p>&#160;</p> <p>Puisi-puisi cinta di dalam buku yang bersub-judul: menemu negeri cahaya itu dibuat untuk istri dan anak-anakku. Mungkin bahasanya sangat sederhana, dan memang saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kumpulan puisi cinta </strong>adalah salah satu kumpulan puisi saya di dalam buku Cinta, Rindu dan Orang-orang yang menyimpan api dalam kepalanya. Buku tersebut memang memuat 3 kumpulan puisi, dengan tema: <strong>cinta, kritik sosial dan religiusitas. </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Puisi-puisi cinta di dalam buku yang bersub-judul: <strong>menemu negeri cahaya</strong> itu dibuat untuk istri dan anak-anakku. Mungkin bahasanya sangat sederhana, dan memang saya memilih untuk menyampaikannya dengan cara yang sederhana. Mungkin seperti <strong>Sapardi Djoko Damono</strong> yang juga menulis: <em>aku ingin mencintaimu dengan sederhana&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/kumpulan-puisi-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puisi Persahabatan</title>
		<link>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/puisi-persahabatan/</link>
		<comments>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/puisi-persahabatan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 05:53:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Nanang Suryadi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[puisi cinta]]></category>
		<category><![CDATA[sajak]]></category>
		<category><![CDATA[sajak cinta]]></category>
		<category><![CDATA[chairil anwar]]></category>
		<category><![CDATA[kahlil gibran]]></category>
		<category><![CDATA[keyword]]></category>
		<category><![CDATA[persahabatan]]></category>
		<category><![CDATA[puisi cinta kahlil gibran]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[SEO]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puisi.lecture.ub.ac.id/?p=779</guid>
		<description><![CDATA[<p>Keyword puisi persahabatan ini langsung muncul saat saya memasukkan kata kunci: puisi. Ternyata banyak juga yang mencari puisi dengan tema: persahabatan. Seringkali frasa ini akan secara otomatis ditambahi google.com sendiri dengan nama penyair: Kahlil Gibran. </p> <p>Buku-buku puisi dan cerita Kahlil Gibran banyak diterjemahkan di Indonesia, dan menjadi best seller di toko-toko buku. Saya membaca buku puisi terjemahan karya Kahlil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keyword<strong> puisi persahabatan </strong>ini langsung muncul saat saya memasukkan kata kunci: puisi. Ternyata banyak juga yang mencari puisi dengan tema: <strong>persahabatan</strong>. Seringkali frasa ini akan secara otomatis ditambahi google.com sendiri dengan nama penyair: <strong><a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Khalil_Gibran" target="_blank">Kahlil Gibran.</a> </strong></p>
<p>Buku-buku puisi dan cerita Kahlil Gibran banyak diterjemahkan di Indonesia, dan menjadi best seller di toko-toko buku. Saya membaca buku puisi terjemahan karya Kahlil Gibran di tahun 80-an saat SMP dan SMA yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Saat itu masih langka penerjemahan karya-karya <strong>Kahlil Gibran</strong>. Dan saya menamatkan beberapa buku karya Kahlil Gibran ini, serta mengkoleksi bukunya, yang sekarang entah hilang kemana. Yang saya ingat satu baris dari <strong>Kahlil Gibran </strong>tentang persahabatan: &#8220;Sahabat adalah pendiang sukma&#8230;&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puisi.lecture.ub.ac.id/2012/01/puisi-persahabatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

