Archive for the 'puisi perjalanan hidup' Category

Last updated by at .

24 NovAku Menulis Berulang-Ulang

aku ingin menulis puisi dengan mengosongkan isi kepalaku yang penuh dengan keluh

aku harus menulis kata berulang-ulang

 

agar aku ingat apa yang aku katakan, aku harus menulis kata berulang-ulang

berulang-ulang aku harus tuliskan, kata yang harus aku ingat

 

kemana kau akan pergi penyair? di sana tak ada pintu

kemana kau akan pergi penyair? di sana tak ada jalan

 

kemana kau akan pergi?

aku bukan penyair, tak butuh pintu dan jalan

 

terang demikian siang, benderang demikian terik, bermimpi apa?

siapa yang berteriak itu: langit bolong

 

ujarnya:

mari kita belajar lagi, menghayati luka kata, berdarah di setiap hurufnya

 

tak kau rasa nyerikah dihunjam kata, tak kau rasa perihkah

dirajam kata, tak kau rasakankah derita kata merindu puisi mengada?

Tags:

24 NovKepada Tuan dan Puan

tuan puan tersenyum di baliho dan spanduk yang terpancang di pinggir-pinggir jalan rusak parah, apakah kamu tak malu?

di jalanan serupa kubangan kerbau di waktu hujan, penuh batu dan debu di musim kemarau, masihkah akan membuatmu terus tersenyum?

terlalu banyak biaya untuk kampanye menebar janji-janji, dan jalan yang rusak parah tak juga membuatmu malu?

jalan raya adalah etal ase bagi wajah kota yang membusuk, wajahmu tuan puan yang tetap tersenyum di pinggir-pinggir jalan

aku tulis sajak ini, karena aku mencintai kehidupan yang layak bagi kemanusiaan

jika tuan puan ingin mendapat keuntungan, jangan ambil dari keringat airmata rakyat yang berleleran

janganlah tuan puan perbudak manusia sewenang-wenang, menzalimi tak terperi

di sepanjang jalan kota-kota indonesia, tuan puan tersenyum, tertawa tanpa maludi sepanjang jalan indonesia tuan puan merusak pemandangan dengan wajah-wajah penuh janji palsu

di sepanjang jalan indonesia yang menghabiskan nyawa di saat mudik tiba, wajah tuan puan merajalela

apa yang harus aku katakan dengan gebalau yang menyakitkan, udara yang penuh dengan janji kepalsuan?

para penyair tak boleh lelap dalam basa basi penuh ilusi. katakan: TIDAK! pada janji politisi

aku belum lagi bisa tidur. kata-kata membandang dalam kepalaku. memburu nuraniku sendiri!

bagi tuan puan, tak perlu sajak bermetafora pintar, bahkan esai rumit panjang

bagi tuan puan, yang terpikir hanya berapa banyak prosentase keuntungan setelah menang pemilihan, karena bagi tuan puan, uang telah menjadi berhala sesembahan

hidup tak akan selamanya. kekuasaan hanya sementara. tuan puan jangan terlena!

Tags:

11 JanPuisi

Puisi

 

PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
NANANG SURYADI @PENYAIRCYBER
MEMO PADA SUATU KETIKA
tiba-tiba kau datang mengirim pesan:
datanglah, saat senja. aku menunggumu, dengan segala impianmu tentang
diriku. kau pernah berpikir bahwa aku bersayap? ya, sayapku berupa
warna-warna gemerlap. mungkin akan mengagumkanmu. mungkin tidak. karena
segalanya kau impikan. diriku diselubungi segala cahaya.
katakan, jangan menangis, padanya. yang mungkin akan kehilangan. jangan
takut. karena segala yang fana akan pudar. akan tamat.
jangan lupa, saat itu
KAU BEGITU MENYEBALKAN
sungguh, kau begitu menyebalkan. dengan impian-impianmu. dunia sudah
sedemikian susah. mengapa kau terus gaduh di situ. mari kita diam saja.
hai, mengapa kau terus mengomel? dasar pemimpi!
“tapi dunia sudah demikian tak memiliki hati. hidup menjadi lintasan
video klip. berkelebat ke sana ke mari. ledakan bom di kota-kota tak
membuat hati kita sedih. pipi cekung kanak-kanak kelaparan tak membuat
kita iba. apa yang salah pada nurani kita? mungkin telah menjadi
batu…”
sungguh, kau begitu menyebalkan, dengan pertanyaan-pertanyaan seperti
itu, membuatku malu…
BUNGA SEKUNTUM
aku ingin sematkan bunga, sekuntum, pada telingamu, agar matamu yang
hitam itu, semakin bercahaya,
ya, bunga-bunga demikan liar bertumbuhan di rumputan, padang terbuka,
mungkin tak sewangi geriap rambutmu, pada angin, menyentuh,
wajahku
ABSTRAKSI KENANGAN
lalu kau tuliskan segala kenangan, pada udara,
seperti guratan hari-hari kita, demikian abstrak,
tak jelas jelas canda atau petaka,
tak jelas nama atau bencana,
lalu, kau hapus segala kenangan,
begitu saja
ya, begitu saja
PADA AIRMATA
(kau ingin rasakan keheningan ini, seperti cucuran airmata, beterjunan
kanak-kanakmu, dalam segala moyak harapan)
sudah lama aku kehilangan air mata, tangisku menjadi api menyala,
jangan, jangan membuatku menangis, karena kota-kota sudah menjadi
puing, kanak-kanak sudah demikian damai dalam lubang besar pemakaman,
(kau ingin rasakan kesunyian ini, seperti cucuran airmata, beterjunan
aku, mencari cintamu)
sudah lama aku kehilangan cinta, tak ada yang tersisa, mungkin pada
pecahan granat atau bau bensin dan pecahan botol, tiada, tiada lagi
yang tersisa, kau lihat sepatuku, perhatikan, di ujungnya, ya merah dan putih,
darah dan sedikit cairan otak, eh ada berhelai rambut juga
(kau ingin rasakan keindahan ini seperti cucuran airmata, beterjunan
mereka, mencari cahaya)
sudah lama aku tak ada cahaya, di sini, dalam hatiku…
cilegon, 1999
DEBU DI LEKUK BENANG
pada kanvas ini, aku serupa titik, mungkin di sela, di lekuk benang,
debu? satu dalam bermilyar debu yang menghambur, menyeru: Kekasih
warna-warna dipulaskan di kanvas: bintang biru, atau pelangi pagi hari,
mungkin juga raguku
depok, 1999
EPISODE PINOKIO
boneka itu, minta menjadi manusia, pinokio, si hidung panjang. aduh,
padahal jadi manusia susah sekali. sudahlah, jadi boneka saja, biar
ditimang, biar kuelus, biar menangis, asalkan kau bukan manusia, yang
punya banyak impian dan masalah
“dan berbunuhan”, kata malaikat kepada Tuhan sebelum dicipta Adam
depok, 1999
STASI TAK TERHINGGA
      buat: eka budianta
tak hanya jakarta, chris
kudatangi negeri-negeri asing
persinggahan tak terhingga
dalam mimpiku
seorang yang mabuk kata-kata
menulis surat untukmu:
“inilah negeri itu,
kita bertatap mata,
rindu sekali”
depok, 1999
DUA PULUH EMPAT SENJA 
tataplah warna keemasan, tataplah dengan hatimu, di langit, adakah
namaku? mungkin di hatimu, kanak-kanak berlarian, dua puluh empat senja,
catatlah dalam-dalam, pada kenangan, sudah habis cucuran airmata, tiada
lagi kesedihan, atau teriakan, memecah sunyimu, dua puluh empat senja,
aku datang padamu, mengalungkan bunga, kanak-kanak yang tertawa
berceloteh, atau lelaki yang membaca, puisi begitu memabukkan,
kata-kata menjadi gelembung, aku bawakan balon warna-warni, dua puluh
empat senja, lilin yang nyala
depok, 5 nopember 1999
ROMANTISME MUSIM
:dp
Aku serasa mencium musim-musim
Bertumbuhan dalam udara
Kemarau yang hijau
Gerimis yang manja
Salju yang tulus
Daun jatuh di musim gugur
Kau ciptakan lagi dongeng
Dalam hatiku yang jauh
Mungkin telah padam
Di hembus angin
Ingatan pada engkau
Cinta, segurat luka
Tapi kucium musim
Melambai dari sunyi
Wajahmu
depok, 1999
INTRO
aku tak mengerti, katamu
pada sajak banyak ruang terbuka
terjemah kehendak, pada langit luas
atau gelombang berdentaman, dalam dada
mungkin cuma gurau melupa duka, karena
manusia menyimpan luka,
berabad telah lewat, apa yang ingin
didusta? pada bening mata
tak bisa sembunyi
pura-pura
CATATAN PADA GERIMIS
buat: dp
Pada dering, mungkin gerimis
Menyapa wajahmu
Harap yang ditumbuhkan
Katakan saja, bahwa kita membutuhkan
Mimpi itu
Menjelma
Seperti dikabarkan langit
Ketentuan itu
Seperti rimis
Menyentuh
Hidungmu
Seperti dulu
depok, 1999
TERJEMAH HUJAN
apa yang diterjemah dari hujan? senyap dan senyap
kenangan dicipta dari dingin, sepotong raut
melambailah engkau dari lampau yang biru
dari gerai rambut, mata bercahaya, ……
tak henti-hentinya, berkelindan, terajut dalam
perca bertaut,
hai, apa kabar?
hujan begitu gaduh katamu,
tapi ia adalah suaramu, begitu merdu
suaramu, dalam senyap
hatiku
cilegon-depok, 1999
SEMARAK CAHAYA
Melintas Insanul kamil
Pada jalan matsnawi, diwan dan rubayat
Sanggupkah ditatap
Semarak cahaya: O Cinta
Pecinta menari dalam kerinduan:
Adawiyah, Ibnu Arabi, Halaj, Jenar,
Sumirang, Sakhrowardi, Attar, Rummi,
Tabriz, Fansuri, Iqbal, Tagore, …..
Cahaya O Maha Cahaya
Cinta O Maha Cinta
Berjumpa
Di hati
Sendiri
depok, 1999
 TARIAN PECINTA
O Pecinta
Menarilah menari
Berputar-putar
Dengan gemulai
Keindahan Cinta
Ada yang berputar dalam atom
Ada yang berputar dalam masjidil haram
Bumi berputar
Planet berputar
Galaksi berputar
Alam Semesta berputar
Dalam Cinta
depok, 1999
INTERTEKS
Ke dalam dada merasuk teks-teks purba
Pengetahuan yang diajarkan pada Adam
Teks terbuka
Pada kitab suci
Pada alam semesta
Manusia mencari hikmah
Di balik yang nyata
Ada banyak tanya
Rahasia
depok, 1999
POTRET PANORAMA KERINDUAN
Bacalah dengan hatimu, keindahan
Panorama sekeliling,
Mungkin kata-kata tak sanggup mengungkap
Puisi
Tapi ada yang ingin berbagi
Cerita
Karena manusia adalah
Cinta
Karena semesta adalah
Cinta
Dipahat kerinduan pada
Maha Cinta
depok, 1999
DI UJUNG LORONG ADA BERKAS CAHAYA
mata, pada pelupuk, dicium angin,
manusia: mimpi, kenangan juga kesunyian, …..
hidup menjadi lorong-lorong
cahaya di ujung
pada berkas
ada harap
mungkin kekalahan juga
atau sesal
mengendap
pada tatap
atau malam
yang ratap
tapi gapai tak sampai
tangis tak usai
terjemah kehendak
atau takdir
tuhan
                                   cilegon-depok, 1999
PADA MATA KANAK
mungkin pada kanak kau temukan harapan,
embun kedamaian terangkum tangkup tangan-tangan mungil.
mata bening yang menghibur hatimu duka
tapi kanak-kanakmu tersesat di chanel televisi 24 jam,
yang mengajari mereka cara membunuh
belajar pada dentum, headline yang tebal,
pada desing, tusukan, rudapaksa, api. siapa mengaduh?
kita mungkin telah kehilangan harap pada dunia, tapi
dapatkah lari dari kehancuran
begitulah kita bermimpi…
seperti kuarungi
matamu
depok, 1999
ILUSI LELAKI
“adakah sedikit saja, untukku,” mungkin ilusi,
bagi lelaki, seperti ditatap, pada penghujung
cerita dibangun dari coretan, goresan, pada usia
mungkin namamu, mungkin bukan namamu,
tapi engkau yang tersedu,
memecah sunyiku
depok, 1999
REPORTASE NOL-NOL
serangkum sepi, perempuanku, merenggut dadaku, mata yang binar, senyum
merahasia, kota-kota, tetap saja, gelisah, seperti duka, tarianmu,
ilalang tertiup angin, mengombak, mengalun, serupa mimpi, bertabur
dalam, bertabur diam, bertabur apa, mungkin di langit, serupa bintang,
pelangi, awan kelabu, omong kosong, yang lain, tembok putih, jeruji,
helaian kertas, seonggok…
kau bunga?
hm, ke mana harummu!
depok, 1999

COBA TOREH
coba toreh, pada dada, ada apa, mungkin darah, cinta, atau luka,
abad-abad mabuk, terjungkal, beri aku apa saja, mungkin gemulai, atau
tatapan, sedingin es, atau senyuman sepanas matahari, atau tubuhmu?
(pada jamuan terakhir, seteguk anggur sepotong roti: makan dan
minumlah…)
tak seperti rummi, ternyata, tarian para peniru darwis itu, tak ada
pecinta yang sungguh-sungguh merindukan, dengan kata-kata, seperti
bibirku, berdarah dan luka, seperti kebohongan yang kusulut diam-diam,
seperti?
api yang meledakkan rumahmu, dengan sekam, dengan bara, dengan nyala,
dengan dendam tak bermata, dengan cekam, dengan geram, dengan?
tatap matamu, sungguh
menyilaukan
depok, 1999
AKU BERLINDUNG PADA ALLAH
aku berlindung pada Allah,
dari kebodohan napsu,
yang dihembuskan setiap detik waktu,
aku berlindung pada Allah,
dari kesesatan pikiran,
yang merajalela
aku berlindung pada Allah,
dari segala kegamangan,
aku berlindung pada-Mu
sungguh,
jangan tinggalkan aku
depok, 1999

DZIKIR TELEVISI
pada petang menangkup
apa yang diseru? musik berdentangan di televisi
selewat adzan, bersambung nyanyi
pada kabel didzikirkan syahwat, mencuat
pada gelas, didawamkan tipu daya
pada Engkau? begitu penat lidahku, semenit saja
inikah hamba yang mengharap sorga?
inikah manusia yang tak mau dijilat api neraka?
Allah, betapa mudah kutipu diri sendiri….
depok, 1999
HUJAN YANG TURUN SENJA HARI
mungkin engkau menangis kekasih, di ujung senja, aku tahu mengapa
tak usah lagi dikata, karena derita manusia datang sebagai coba,
mari, kita tatapi senja yang turun, bersama pelangi, langit jingga
mungkin doa, hanya doa yang pantas kita bacakan,
begitu lindap warna-warna yang ada dalam benak kita, nuansa
sebagai bayang-bayang samar,
sebuah kesaksian, sebuah impian
mungkin hanya itu milik kita
depok, 1999

GURATAN PUKUL 23.55
apa yang kau ingat, dari 23 jam 55 menit yang lalu
kaukah manusia yang merugi?
kemarin dan hari ini telah terjalani,
pada neraca akan terlihat
dan esok? masihkah kita melihat matahari
terbit dari timur
tak kutahu. sungguh tak kutahu
Depok, 2 Desember 1999

BIOGRAFI PENYAIR
        buat: arisel ba
Puisi telah mengalir dalam tubuh
Sebagai darah
Helaan napas
Ketukan jemari
Menuju Yang Satu: Allah
Di balik kata ada hikmah
Asam garam kehidupan
Juga kenangan pada: nenek, ibu, ayah dan guru
Ada seorang menulis sajak
Ia menuliskan hidupnya yang puisi
depok, 1999

KAMERA
 buat: fudzail
Wajah bangsa dipotret, mungkin redup
Tapi ia wajah kita sendiri, menyeringai
Mungkin malu
Atau kesakitan
Sungguh, teramat sulit untuk bicara jujur
Ketika ketakutan mengepung di mana-mana
Ada seorang memotret, dengan jemarinya
Mungkin wajah kita di situ
depok, 1999

SEPATU ITU MASIH DATANG, TEHRANI?

 buat: tehrani faisal
Sepatu itu masih datang,
Padamu?
Dengan derap
Yang mungkin menggetarkan lantai
Tapi tidak hatimu
Karena kekuasaan manusia
Bukan untuk ditakutkan
Karena suara sepatu
Hanya derap menggetarkan pada jalanan
Tapi tidak hatimu
Ada kawanku,
Dengan keberanian
Meyakini itu
depok, 1999
GUMAM PUKUL 23.15
sebentar lagi, ya sebentar lagi,
pada malam, keheningan yang menciptakan rindu
“ternyata kita tak lebih baik,” katamu
terlihat capek, dengan segala perasaan sia-sia
ke mana kita akan pergi, pada kelam atau silam?
wajah itu demikian kusam, tak seperti kanak
ya, tak seperti impian kita, dunia yang damai
penuh cinta, pada dongeng wonder land
tapi  ia akan datang juga
mengganggu kita, hook dengan tangan kait besi
menjangkau sayap mungil, dan menghancurkannya
tak berkedip, tak berkedip
mari kita tidur saja, semoga perompak itu
tak merampok kebahagiaan dalam mimpi kita
malam ini
depok, 1 Desember 1999

DONGENG Y2K PUKUL 23.35
merangkak detik dari 23.35 mungkin menggigilkanmu
jam akan datang pada abad 00.00
(2000 tahun manusia dirayakan, seekor kutu
terselip dalam layar monitor, ucapkan: selamat datang!)
cahaya itu begitu menyilaukan
dari mana datangnya, mungkin dari benua ketiga
(2000 tahun manusia dirayakan, seekor kutu
terselip dalam hulu ledak nuklir, ucapkan: selamat tinggal!)
“halo…halo..james,
h…a…aa..l…o ma…i…h di …siiitu?”
krrrrreeeezzzzzssskkk
mungkin itu, gemerisik terakhir
dari pesawat telponmu
depok, 1 Desember 1999

DUA DAN SATU KERINDUAN
mari,
kugenggam jemari,
engkau yang cahaya purnama,
mari menari,
dalam hari
engkau yang tertawa bahagia,
mari, ke mari
di sisiku bidadari
engkau yang ku cinta
malang, 11 oktober 1999
SUPERMAN
buat: tomita dan suhra
1.
“aku ingin jadi hero, pahlawan pembela kebenaran”, kata kanak dengan
mata berbinar,
mungkin ia dari masa lalu, seperti buku komikku menguning, seperti
louis & clark, batman dan robin, zoro, janggo, phantom, gundala, flash
gordon, ….
“aku ingin jadi super man”, kata seseorang
aku seperti pernah mendengar entah siapa bicara, mungkin lelaki,  dari
sebuah negeri yang jauh, mengatakan: “kita telah membunuhnya”
dan aku tak percaya bualnya
2.
dan ia datang padaku, membisikkan: “telah diringkus promotheus, dan ia
menjadi bait puisi, karena mencuri api, karena ia mencuri api”*

SEPOTONG SENJA DI KOTAMU
buat: medy
ada yang bercerita, tentang senja, maghrib yang lengang di televisi,
aku tatapi senja, “aduh seno, jangan kau potong senjaku… biarlah
alina..biarlah.” senja begitu indah, cahaya disela awan,
bahtiar,  mochtar, ada yang nyala di buku, seperti
mimpi
depok, 1999

LABIRINTH MUMET ATAU MOZAIK PERCA
kenangan untuk: raymond valiant
malam yang merangkak di bawah rembulan sepotong, bercangkir kopi, kita
nyalakan tanya: tentang cinta, perempuan dan tuhan?
“aku ingin lari dari belenggu harapan,” kata kinyur menunjuk erich fromm.
“dimanakah engkau wanitaku?” dedi begitu parau menyuarakan sepi, seperti
willy
ah, mengapa teks mitos dan logos terbakar. mengapa? adakah yang membenci
kebenaran? suara senyap yang menggigilkan ujung tanya
ada yang bertanya padamu: habermas, mana jalan ke frankfurt? lewat watu gong
atau betek? atau sepi perpustakaan, buku berdebu, internet yang nyala…
(ada dering di kejauhan, halo di mana kamu?)
depok, 1999

KAUKAH PEREMPUAN ITU
kau menyeru: “ibu, ibu, habis gelap terbitlah terang!*”
kaukah perempuan itu, yang datang dalam mimpi, selepas malam,
udara begitu buruk, dan kau masih tetap di situ, menulis gelap,
dengan jemarimu, yang luka
ada kuingat, perempuan di titik nol; masihkah kau ingin perdebatkan lagi
tentang clitoris yang dipotong habis,
aku begitu menggigil, seperti malam keramat, mahfoud mengabarkan perempuan yang
mendongeng, kau ingat: bayi yang ditimbun pasir, dilempar ke got, …..
ia manusia, dan
aku mencintainya
depok, 1999

DONGENG NEGERI DONGENG
pada catatan pinggir, goen, ada warna sepia? kamus terbuka, terumbu,
kersik, lokan, poci, confety, menjadi abadi? lalu berjejalan di
kota-kota semangka, sepatu, migrasi dari kamar mandi, 100 meter dari
kota ciledug, sedekat malna menulis surat untukku? atau kapak, ngiau,
rabu yang ditakik? tarji tergelak
ilalangtelahdinikahkankah rosa? serupa dingin, beringsut di angin,
mungkin sebuah perubahan, gus, mungkin serupa didaktika catur…
tapi kota-kota mulai gelap, chairil, seperti karet, karet tempatmu
y.a.d, mungkin pula pada pelabuhan tempat laut hilang ombak…
tapi ada yang bergegas, dengan tegas, saut, ke mana sobron, ke mana,
kemana wispi, ke mana iramani, ke mana mimpi itu pergi? ke mana,
hamzah, ke mana taufiq, ke mana willy, ke mana?
sobron menulis:, aku buat tape ketan, rendang, di negeri orang, wispi
dulu di nanking, iramani? coba tanyakan pram, mungkin ia tahu di mana…
heh, hamzah berdiri di senja senyap, taufiq di padang ilalang bertopi
jerami mungkin ingat umbu, atau malu menjadi orang indonesia, dan willy
duduk di samping seonggok jagung…
dan sepotong senja, di tangamu seno, serupa mimpiku, segera kan
tenggelam….
seperti
matanya
depok, 1999

DONGENG NEGERI
Jangan Kau Dongengkan Lagi Untukku
Impian Kosong
Aku Sudah Bosan Dengan Segala Janji
Aku Sudah Jemu Dengan Segala Khayalan
Kita Tak Berada Dalam Surga
Dari Barat Sampai Ke Timur
Itukah Milik Kita?
Jamrud Khatulistiwa, Indah Beraneka, Rimbun Pohonan,
Biru Lautan, Tambang Emas Permata, Siapa Punya?
Pipi Cekung, Mata Melotot, Daki Menempel, Ingus Di
Hidung, Pengap Kereta Api, Perut Lapar, Siapa Punya?
Jangan Lagi Bicara
Jika Hanya Janji Untuk Diingkari
Jakarta, 1999
CATATAN 12 MEI 1998
Anak Muda Tak Tahu Apa
Menganga Luka
Dari Senjata Siapa?
CATATAN 13-14-15 MEI 1998
Apa Yang Harus Ditulis
Dari Tubuh Terbakar
Hangus
Perangkap Menjebak
Orang Lapar
Seperti Tikus Menggelepar
Ditelan Panas
CATATAN 20 MEI 1998
Bapak, Kami Sudah Bosan
Dengan Segala Dusta
Turunlah Segera!
 AMBON
Dua Saudara Berhantam
Siapa Tertawa?
ACEH (1)
Bapak, Rencong Yang Dulu Menusuk Dada Kape
Haruskah Ditusukkan Ke Saudara Sendiri ?
ACEH (2)
Sepatu Lars Hitam,
Topi Hijau
Di Tengah Pekik Ketakutan
PETAKA (1)
sepotong roti
serentetan tembakan
senyum
siapa?
di lorong gelap
malam serasa kelam
walau api menyala
di mana-mana
jakarta, 1999
PETAKA (2)
ada yang dipecahkan, dari kenanganmu
sumpah pada kebenaran, kesejatian
“berbahasa satu bahasa kebenaran!”
lalu siapa khianat?
pat gulipat di balik punggung
tak kutahu bahasa uang
tapi molotov
siapa yang nyalakan?
jakarta, 1999
CATATAN PADA BUKU BAPAK IBU
bapak ibu, lelehan darah dan airmata
menggenang di aspal hitam,
kau catat di buku harianmu?
nama-nama siapa sepanjang pidie, ambon, semanggi,
priok
mungkin kau tahu
mungkin kau tak ingin tahu
jakarta, 1999
GUGURAN BUNGA
temanku tertembak siapa seusai unjuk rasa, di
tangannya segenggam roti,
tahun yang lalu temanku yang lain tertembak di
kampusnya,
hari-hari kemarin teman-temanku hilang begitu saja,
entah ke mana?
siapa menabur bunga baginya? bapak ibu lupa
menyampaikan salam untuk mereka. mungkin kalian lupa.
tapi tak kulupa. mereka pemberani menentang bahaya…
bunga yang gugur
bunga yang sedang mekar
tak kau catat pula di hatimu?
jakarta, 1999
TELEVISI OKTOBER
mungkin bukan musim bunga hongaria, ketika kau rayakan
kemenangan taburan pujian dan harapan, mungkin letusan
petasan atau ucapan syukur:
“interupsi!”
itukah demokrasi? impian surealis yang kau bayangkan
di tengah gemuruh demonstrasi. perdebatan di ruang
diskusi. janji di kerumunan kampanye.
“interupsi!”
lalu ada yang kecewa dan meledakannya dengan api.
karena ibu tak berdiri di mimbar. karena ibu
dikalahkan terus…
“interupsi!”
ibu berdiri di mimbar. tapi masih ada juga yang
kecewa. masih ada yang menyimpan sesal!
“interupsi!”
jakarta, 1999

OBITUARI
lelaki yang menatap malam: kesunyian, warna hitam
pada silhuet panorama,  negeri yang menangis,
orang sendiri membaca diri,……..
lelaki pemimpi: eksistensi! lalu wajah-wajah menari-nari:
marx, darwin, hegel, nietszche, jesper, camus, heideger, foucoult, walter
benyamin, adorno,……
obituari? penguburan segala kenangan. requiem sepi.
begitu lengang rumah sakit jiwa ini. juga pemakaman!
1999


sajak buat suhra
kemudian kuusap matamu: tak ada airmata!
tapi tergenang cerita masa ke masa
ada yang menari, suhra, di langit
mungkin bidadari
mari ke mari, bintang biruku
sebelum maut berpaut
: ada senyum
juga cahaya
terang sekali

MENCATAT PERPISAHAN
buat: fudzail
apa yang harus disesalkan dari sebuah perpisahan? pertemuan! kata
seseorang. bukan, karena sebuah perjumpaan menciptakan kenangan indah,
ucapkan syukur atas segala yang terberi…
“tapi aku akan merindukanmu”, katanya mengusap mata
sebuah sore, akhir pertemuan, ada yang bernyanyi: sayonara…sayonara..
sampai berjumpa pula, buat apa susah…buat apa susah…susah itu tiada
gunanya

SERIBU BULAN
ada yang mencarimu dengan tak sungguh-sungguh mencari karena
manusia ini tak pintar bersyukur tak pintar memuji tak pintar menahan
diri tak pintar mengaji tak pintar merendahkan hati karena
mungkin bengal mungkin bebal mungkin kesal mungkin sial mungkin
tapi ingin diraih bulan seribu bulan bersinar cemerlang seperti surga
seperti janjimu seperti orang-orang yang berjalan di jalan yang lempang
dan lurus
duh gusti, ajari aku, menjadi…

HAI, KATAMU (I)
hai, katamu. lalu kita bersalaman. berjabatan erat. genggaman
ketulusan. lalu kita cipta angan-angan. merangkai bulan. merangkai
mimpi. aku ingin terbang. aku ingin terbang…
“hebat, bisa terbang”, katamu
lalu kau beri aku replika pesawat. menderu-deru dalam benak kanakku.
aih, jangan cemberut begitu. bolehlah kau ikut. ke ujung dunia. ke awal
atau akhir kata. ke mana kau mau?
“emang di bulan ada coklat?”, katamu menggoda
lalu tubuhku menjadi menjadi supermarket: pasta gigi, sabun, wastafel,
sosis, …. aha! kau tertawa. mentertawakan dunia? sekarat dan sakit
jiwa
kita bergenggaman jemari. bergenggaman….
HAI, KATAMU (II)
hai, aku ingin sekejap saja memicingkan mata dari mimpi-mimpi manusia.
seperti diledakan dalam kepalaku. deretan gambar dan huruf bergetar
dari tabung-tabung: mampuslah manusia! mampuslah kemanusiaan!
aku menemukan diriku etalase benda-benda. tubuh yang hanya daging.
berdenyut. denyut. ih, mengapa dilempar ideologi ke kamarku?
sudahlah, lupakan saja apa yang kita bicarakan, seperti waktu lalu.
seperti waktu lalu…
kita susun kembali rumah pasir. kita susun lagi…
HAI KATAMU (III)
hai, apa yang bisa disembunyikan oleh manusia. tatap-Nya begitu tajam
mengiris-iris. apa yang bisa dirahasia manusia? tiada! karena gerak
tetap terlihat. karena tindak akan tercatat. karena….
kebusukan akan terbaui juga akhirnya. pada jalan sebentang. pada
jembatan timbangan. pada layar…
neraca! usia sia-sia! defisit! merugi semata!
PANORAMA KEMATIAN
engkau tersedu? waktu telah menutup
mungkin bunga di tabur
tonggak ditancapkan
serupa ingatan? musim berguguran
beringsut mendekat
perlahan menuju
engkau kekasihku? wajah dipalingkan
duh, rindu tak sampai
lintasan tak usai
karena nyala? usia dihabiskan sia-sia
depok, 1999
SEPUCUK SENJATA SEIKAT KEMBANG
karena manusia ingin kuasa
jangan lagi, kau letuskan pada hari
dustamu melantakkan kepala & dadaku
apa arti manusia bagimu? daging hidup!
pada gelembung ludah, dicipta mimpi
teror menghantu, ladang-ladang mayat
duh, berapa airmata lagi kan dialirkan?
TANYA
ada yang gelisah mengetuk-ngetuk pintu tapi langit tak terbuka bagi
pertanyaan pertanyaan seperti hitam seperti kelam seperti malam
tersaruk saruk membawa lampu dimatikan sekilat cahaya berjalan guruh di
telinga tak terdengar terang cahaya tak terlihat karena sesat menjerat
karena telah dikutuk laknat
siapa berani terombang ambing dalam gelombang tak henti henti tak
menepi tak berujung tak habis tak habis duka lara duka gelisah racauan
resah manusia
sepucuk senjata sejuta taburan bunga sekering pipimu anak-anak di
pingir pinggir disepak ke sana ke mari sebagai bola sebagai impian
busuk dan buruk
mengapa risau juga lalu tanya seperti apa tapi manusia tak punya kuasa
karena
tanya
KOTA YANG KEHILANGAN
kemudian kota-kota berguguran,
kehilangan cinta
di mana kau sembunyikan?
tak ada mimpi di sini,
milik penyendiri
di mana kau letakkan?
pada geriap rambut,
atau teduh mata
di mana kau simpan?
pada telapak sepatu
atau bianglala
di mana kau tuliskan?
sebaris sepi
atau kerinduan
duh, mengapa rahasia juga?
tanya manusia
tanya manusia!
=aiueo? kosa kata=
apa yang terbakar pada hari-harimu adalah usia sia-sia berangkat pada
senja tak tahu mengapa hendak apa menerjuni kata menerjuni dusta
berdentuman tanya menjelma apa ada gema ada suara ada sia!
tiada siapa siapa ada siapa di mana suara? pecahlah rahasia!
meluncur mendesak menekan merangsak menetak menyalak : ach! dada dada!
kehancuran! nisbi! kenihilan! beri aku tanda!
begitu gemuruh begitu luruh begitu lumpuh begitu utuh begitu: tubuh!
: tak henti-henti meruntuh
=wak wak diputar wek wek memutar mutar wak wak berputar putar=
kemudian berputaranlah engkau dalam ruang sebagai gasing berputar putar
sebagai dalam labirin berputar putar sebagai dalam gelas berputar putar
sebagai dalam botol berputar putar sebagai dalam udara berputar putar
sebagai tanya berputar putar sebagai rahasia berputar putar sebagai:
tiada!
kemudian diputar putar kelamin diputar syahwat diputar putar dusta
diputar putar curi diputar putar syak wasangka diputar putar belati
diputar putar kuda tunggangan: manusia sepotong napsu membara
kemudian memutar waktu memutar millenium memutar abad memutar generasi
memutar windu memutar tahun memutar bulan memutar jam memutar menit
memutar detik: tik..tik tiba di ujung siapa gigil siapa rintih siapa
takut siapa? nyala!
BERHENTILAH!
berhentilah sejenak berhentilah nanang jangan terus berlari mengejar
bayang bayang ke ujung cakrawala ke ujung impianmu tak ada habis
habisnya huruf dideret dileburkan dalam darah dalam airmata dalam dalam
begitulah sepi memagut cinta melarut sebagai sungai melaut melintas
berputar menguap ke udara ke udara
metamorfosis? seperti kupu kepompong ulat telur kupu: hai pertapa!
berapa sunyi maumu berapa laut hausmu berapa langit harapanmu berapa
mimpi impianmu berapa cinta pintamu
berhentilah sejenak berhentilah nanang jangan menangis lagi jangan
terus menulisi udara bertuba darah mengalir otak tercecer daki menempel
pipi kering luka menganga gelisah manusia api menyala bom meledak kanak
tersungkur
berhentilah!
GERIMIS DI HUTAN
buat: yono
sepucuk surat: hutan begitu gelap kawan, hutan begitu gelap…
lalu keriuhan hewan berdengung di pohonan, aku merindukanmu, suara
dari kesunyian
tak sanggup kutatap mata, karena cerita akan ditemu juga, berkelebat
bayang-bayang melintas, panorama
dari kegundahan
biarlah, mimpi kucipta sendiri, biarlah pada benakku sendiri, biarlah
gerimis di hutan kunikmati sendiri, seperti
sepiSila ditengok juga:

10 JanKumpulan Puisi Cinta dan Kesedihan

Sila didownload di sini: Derai Hujan Tak Lerai

10 JanKumpulan Puisi Kenangan

Sila didownload kumpulan puisi Nanang Suryadi di sini: KENANGAN YANG MEMBURU

02 JanDownload File Ebook Puisi Nanang Suryadi

Silakan rekan-rekan yang ingin membaca  karya-karya puisiku dalam bentuk e-book format pdf. Klik link berikut:

Selamat membaca!

29 DecSajak-Sajak Nanang Suryadi 2011

KUCARI ENGKAU, TAPI KATAMU KAU CARI DULU DIRIMU SENDIRI

kota demi kota menyimpan jejak kakiku, kenangan demi kenangan menera peta dalam sajakku, tapi dimana diriku sendiri?

dari ceruk ke ceruk, dari palung ke palung, kucaricari rahasia diri, dimana sembunyi jawab atas tanya, o dimana?

di tanur tanur rindu cintaku ditempa, hingga muai oleh api cemburu, hingga murni, cintaku padamu

berkali-kali aku gawal dalam uji, berkali-kali kau ampuni, karena cintamu kutahu, karena cintamu. memberi arti

di puncak malam ada yang tugur, menunggu sunyi gugur, sebagai airmata yang bercahaya, melarutkan kesah ke lautan maha Cinta

Malang, 2011

DENGAN SAJAK  KUKABARKAN PUISI

 

Sajak adalah mata kanak kanak yang bening tak berdosa, temukan rahasia di balik teka teki waktu, sebuah kehendak

Kau tak dapat berbohong dengan sajak, karena sesungguhnya hatimu telah menera jejak

Jika kabar demikian samar, sajak mengajakmu untuk menebak, teka teki kehendak

Puisi telah memenuhi ruang kepalaku, riwayat riwayat yang minta dicatat, keindahan yang minta dikabarkan

Dari hati kembali ke hati, dari cinta kembali ke cinta, demikian puisi akan kembali kepada puisi, di dalam diri

Bukankah menginginkan rumah yang nyaman, demikian pula puisi, ingin layak diletak di rumah sajak

Malang, 2011

KAU MERASA MENJADI SESUATU YANG TAK KAU PAHAMI

serupa gerimis, puisi menyimpan tangismu diamdiam, turun perlahan, di malam yang tak pernah kau akui mencintai sepinya

sebuah sajak kau nyalakan di malam yang demikian rapuh, serapuh dadamu yang tak mampu menahan tangis

kau merasa menjadi malam yang tak pernah dicintai, selain dikutuk mercusuar yang sepi, laut yang gaduh dan perahu yang kehilangan arah

engkau merasa menjadi perahu kecil yang terombang ambing di laut badai di kerdip pasi cahaya mercusuar yang sepi

engkau merasa menjadi badai di laut yang gaduh memecah di pantai yang jauh menghempashempas tak henti

kau merasa menjadi mercusuar di laut badai, kerdip demikian sepi, di dalam deru, demikian pasi cahaya, demikian sepi

Jogja, 2011

 

HURUF-HURUF MENGGELETAR

langit yang lengang, udara panas, tapi aku menggigil dalam sajakku sendiri. huruf-huruf meminta dituliskan dalam darah. dalam derita airmata

huruf-huruf menggeletar menggelepar memburu jawabku: “cintamu palsu, nafsu birahi melulu! apakah kau dengar jerit pilu di lapangan eksekusi?

“masihkah engkau ingin menulis sajak cinta, saat keadilan teraniaya?” demikian sebuah suara. dan aku tergagap gila.

ya, kita terlalu banyak berbicara, memperdebatkan yang hanya bisa dirasakan, di dalam dada kita sendiri.

ada apa di luar sana, masihkah cinta diperdebatkan, udara tropis yang panas tapi aku gigil mengeja cinta yang berteka-teki

aku bayangkan ada serpihan-serpihan salju meluncur dari langit yang lengang, langit abu-abu, di saat gigil memandang jendela

Malang, 2011

MALAM MENYIMPAN AIRMATA

malam menyimpan airmata, dan mengembunkannya di pelupuk mata, matamu. serupa sajak, yang menerima kesah, tanpa menggerutu.

malam telah menegaskan kelamnya, kita menggambarnya dengan cahaya, lampu lampu berkedipan, berpendar di kejauhan

peluk aku, sebelum waktu berlalu beku, sebelum padam segala damba. peluk aku!

kita menuai ingatan ingatan, yang berlepasan, semacam rasa bahagia yang diputar kembali, dalam benak yang menyimpan senyuman

ada suara bergema dari masa lalu, denting piano, getar senar gitar, sajak-sajak yang menyimpan pedih, sejarah airmata

ada yang mengulang ulang kabar, mengeja airmata, karena cuma itu yang tersisa, mengingat jejak yang kian pudar

apa yang terlukis, mungkin gelisah waktu, detak jam dalam jantungmu, menyerunyeru

kita mengeja isyarat tanda, jejak pada sajak, mimpi di dalam puisi, wajahmu wajahku pulalah tercermin di sana

pada gigil udara kita mengeja isyarat semesta, yang mengada dan meniada, hanya satu adanya

Malang, 2011

 

Kepada Tuan Sapardi

Kanak kanak yang melipat kertas itu, kini menemuimu tuan, mencari perahunya yang terdampar di bukit, mimpimu saat itu

Hujan yang turun di bulan itu tuan, kabarkan pohon tak lagi tabah, menunggu kemarau yang tak menepati janjinya sendiri

Kanak yang membayangkan rumahmu, melukis dengan cat air: tiang listrik yang marah pada angin, “Jangan ganggu mimpi anak itu”

Siapakah kanak kanak yang membayangkan hidup demikian keras, mungkin engkau yang menggambar demikian tergesa, di dalam mimpimu malam ini

Malang, 2011

 

sungguh darimu cinta berasal, kepadamu cinta akan kembali

aku terima cintamu seikhlas hatiku, sungguh engkau maha pendengar segala keluh

segala adalah milikmu, segala adalah cintamu, aku berada di dalam rengkuhmu

jika rinduku adalah rindu yang dusta, jika cintaku adalah cinta yang dusta, tapi mengapa debar di jantungku selalu menyebut namamu?

jika mencintaimu adalah ujian, beri aku kesempatan lulus mencintaimu

jika hatiku terus bergalau, adalah ruhmu dalam diriku yang terus menyeru, merindurindu cintamu

sungguh aku teramat lelah, beri diri ketulusan berserah, di dalam pelukmu aku istirah

cintaku teramat rumit, menerjemah cintamu yang sederhana

akulah debu, dan engkau keluasan tak terhingga, aku debu yang tak sanggup menerka rahasia cintamu

berulangkali aku meruntuh, tapi cintamu tetap utuh

aku galau yang meriuh, dan engkau keheningan yang menerima segala aduh

suara suara yang diterbangkan angin, menggema di relung-relung, suara suara yang memanggilimu, rindu

doa-doa yang memenuhi langit bumi, entah berbisik entah memekik, ingin menyibak tabir rahasia: cintamu utuh

wahai, para perindu berbondong-bondong memburu cahaya, dengan sepenuh harap, kau catat: rindu yang bercahaya

karena cinta bersedih jika tanpa balas, maka jangan kau pupus harap perjumpaan denganmu. hidupku fana, tapi cintamu kekal

jangan tolak rindu cintaku, karena tanpa cintamu hidupku akan hampa, tak berarti apa-apa

aku tak akan menyeka airmata tangisku, karena telah menjadi saksi cintamu memang pantas dirindu selalu

aku menulismu dengan huruf besar atau huruf kecil, aku tahu kau tahu seberapa besar rinduku

aku telah luluh, merindumu seluruh, sebagai daun yang luruh tulus mencium bumimu menerima isyarat cintamu penuh

aku dan engkau, perindu dan yang dirindu, saling merindu untuk bertemu, walau tiada jarak cintaku cintamu

jika mata lahirku tak mampu memandang cintamu, mata batinku silau oleh cahaya cintamu. tersungkur aku, gemetar dalam sujudku

duhai, jika puisiku adalah kebohongan, maka telah tersesat aku di lembah kata-kata, mencarimu

aku peminta-minta, mengemis cintamu senantiasa, dan engkau maha kaya

jika aku selalu saja lupa dan melupakan dalam khilaf alpa, maka sungguh engkau tak pernah lupa

sajak sajak berlepasan berhamburan ingin bicara padamu, duhai awal mula kata

kalimat kalimat berlepasan berhamburan ingin bicara padamu, wahai awal mula kata

kata-kata berlepasan berhamburan ingin bicara padamu, wahai asal mula kata

huruf-huruf berlepasan berhamburan, ingin bicara padamu, wahai engkau mula segala mula

dan kesenyapan menyapa, senyap yang melebur segala gaduh ramai dalam diri, hanya airmata duhai kekasih yang dirindu cintanya

sayapsayap cahaya menerang langit cintamu, membuka fajar, harap bertumbuhan sebagai tunas yang menyapa semesta penuh bahagia

sungguh darimu cinta berasal, kepadamu cinta akan kembali

Malang, 2011

 

Kita adalah jiwa yang saling menyempurnakan

Kita adalah jiwa yang saling menyempurnakan. Aku separuh jiwamu. Kau separuh jiwaku. Kita adalah jiwa yang utuh. Setubuh

Kita belajar untuk tabah, pada mata kanak yang menatap kita penuh harap: cinta yang tulus, setulus mata itu, bercahaya

Kita lewati peristiwa demi peristiwa, peta nasib yang digambari langkah kaki: cinta yang tabah dan sabar

Kita sandarkan angan dan ingin tidak pada angin, dengan jejemari kita susun bata demi bata kebahagiaan, di rumah cinta

Kita berdekapan, cintaku dan cintamu menyatu di dalam cinta-Nya yang satu

Malang, 27 Agustus 2011


 Tiba-Tiba Aku Teringat Malna

tiba-tiba aku teringat malna. apa kabar malna? aku menggali kedalaman airmata dan menemukan orang-orang menangis: dimana diri sendiri?

hidup berputar dari huruf ke huruf, sesempit ruang tamu, ruang tidur dan kamar mandi. apakah kamu sudah mandi? memadamkan kepala dan bantal yang berasap

aku telah bertemu acep syahril, dia bilang malna ingin menulis di luar puisi. jangan menangis, seperti puisi yang tak bersedih. memang udara memar

bermainlah dengan jilan. batu-batu akan pindah ke halaman. sapi-sapi tak akan lagi melenguh mengeluhkan paru-paru penuh batu

nomer telponmu hilang. hapeku rusak terbanting. aku tak bisa kirim sms ucapkan selamat lebaran. bulan ditebak di langit hitam

apa yang kau lihat di malam lebaran malna? apakah seperti sitor melihat bulan di atas kuburan. serupa tanda. puisi yang meremang. isyarat

ah bulan, bulan yang samakah tertusuk ilalang? mungkin kau ingat garin dan zawawi. atau sapardi?

di restoran itu, aku lihat kau kenakan kalung pemberian teman. bukan ole-ole buat si pacar. ah, chairil dia menyimpan bulan memancar

apa kabar malna? aku menulis puisi dari ingatan sejarah yang melepuh. migrasi bahasa 140 karakter. ada  tardji yang kerap kusapa di sini

apa kabar?

Malang, 8-9-2011

 

Sajak Yang Bersyukur dan Merdeka

Sajakku pagi ini adalah sajak yang tak henti berucap terima kasih, rasa syukur tak terhingga, sebuah doa

Kita menunggu secercah fajar, harap yang lahir senantiasa, di penghujung malam, kita berdoa: bahagia untuk semua

Kita terus berdoa, berterima kasih, karena kita tetap manusia, yang punya harap dan cinta

Adalah gema, dalam dada, ucapkan cinta, kepada kehidupan, o manusia merdeka!

Malang, 17 Agustus 2011

 

Huruf yang Letih dan Kesunyian Penyair

menatap huruf huruf yang letih,

biarlah tertidur dalam istirah,

biar lelah lebur dalam sunyi yang mendalam

para penyair berumah di dalam puisi,

berdiam dalam sunyi

di dalam sunyi

penyair membaca makna

rahasia diri

 

di dalam sunyi

penyair menghikmati cinta

menghidmati rindu,

keabadian dan kebenaran sejati

Malang, 16 Agustus 2011

 

di sunyi itu ada yang memintamu membaca

malam kuyup dengan cahaya bulan, dan gundah ini? kuyup dengan cahaya matamu

apa yang digelisahkan dari ketiadaan? tiada. hanya kesunyian tak berbatas tepi. sepi. teramat sepi

di sunyi itu. ada yang memintamu membaca. bacalah! bacalah! dan engkau akan mengerti: Diri

Malang, 16 Agustus 2011

 

Di Pagi Hari

Kabut menyapa jalan-jalan. Kabut masih menunggu cahaya, yang akan menjemput. Bersama senyum matahari.

Di gigil udara, puisi mendaras embun ingatan, hingga cahaya menghangatkannya

Bulan di puncak bukit. Perlahan sembunyi. Ucapkan selamat pagi kepada matahari

Jalan-jalan masih menyisakan cahaya lampu, yang tak tertidur sepanjang malam. Selamat pagi. Tidurlah segera, kata matahari

Malang, 15 Agustus 2011

 

Mencintaimu

: kunthi hastorini

Aku hikmati hidup ini,

dengan mencintaimu setulus hati,

ungkapan syukur tiada henti

 

Aku hikmati hidup ini,

sepenuh khidmat, usia demi usia semoga tak tersia,

mencinta karena Maha Cinta

 

Karena mencintaimu

adalah ibadah hidupku,

mensyukuri sebuah karunia

 

Di dalam Cinta, kita berdoa

Malang, 7 Juli 2011

 

AKULAH BURUNG YANG MENYAPA SETIAP PAGI

sayapku terlalu mungil untuk mengepak jauh ke langit rahasiamu. hening yang asing. sunyi yang tak terkira

kicauku terlalu parau terlalu sengau kabarkan cinta yang remah di tangan manusia yang saling curiga. aku mematuki rahasia

paruhku yang kecil mengetuk dinding sunyimu. rahasia kehendak. garis takdir. Cintamu yang abadi, kueja berulangkali

aku hinggap dari ranting ke ranting, menerjemah gugur daun, menerjemah geliat ulat di paruhku, menerjemah embun dicium cahaya matahari di pagi hari

kau dengar kicau syairku, di halaman rumah, di pohon yang ranggas oleh kemarau, kicauku yang manis terdengar, adalah tangis

sayapku terlalu letih membentur badai tanyaku sendiri, bumi yang nelangsa, dunia yang membuatku mabuk tak berdaya

Malang, 26 Juli 2011


Akulah Air

Akulah air yang mengalir dari hulu ke hilir. Mungkinkah airmatamu? Membawa remah sampah luka manusia hingga ke muara, hingga ke lautan penampung segala kesah segala susah

Akulah air, akulah air, mengucur dari langit kenangan. Kenangmu pada airmata. Kenangmu pada cinta. Surga yang cahaya

Akulah air yang menyangga perahu perahu pengelana, dari gemericik kecil menjelma sungai sungai membelah kotamu membawa pesan gunung kepada lautan membawa pesan mata air ke gelombang lautan

Akulah air membawa saripati pegunungan, melarutkan garam kehidupan. Bagimu. Bagimu. Kupersembahkan cinta

Akulah air. Akulah air mengalir dalam tubuhmu. Mengalir dari matamu

Sebagai cinta mengalir. Sebagai rindu mengalir ke muara cintanya. Akulah air. Airmatamu!

Palembang, 2011

 

Melintasi Malam

pada buku berdebu, kau ingin membekukan waktu. karena secuplik ingatan, detik yang ingin terus tersimpan. serupa sajak, menyimpan jejak

demikian liris, demikian lirih, bisik angin pada angan. serupa rimis, menyapa miris, menitik di puncak detak. jam menggigil di dentangnya

malam kian menebal. cinta membuatnya kian bebal. dan rindu yang banal. ah, kenangan yang bengal! semakin tak kau kenal

Malang, 2011

 

MUSI MALAM HARI

Bulan mengambang

di langit lengang.

Jembatan ampera menyala di kejauhan
menyeberangkan angan

di musi yang mengalir tenang

Palembang, 2011

 

SENJA DI LANGIT LOSARI

 Senja itu menyemburat di langit. Losari yang mulai menyalakan lampu lampu.

Senja di langit losari. Ucapkan salam pada pantai. Ucapkan salam pada tiang tiang pancang. Senja. Senja

Makassar, Juli 2011

 

Losari Siang Hari

Pantai Losari bermandi cahaya matahari.

Biru laut. Laut biru. Kapal dan perahu melaju.

Hari yang cerah. Langit yang biru.

Tersenyum padamu

Makassar, Juli 2011

 

SERUPA KABUT

serupa kabut, rahasia demi rahasia, menutupi mata, siapa hendak menerka isyarat dingin menusuk sumsum tulang. o petualang sibaklah

jam-jam mendetikkan jarumnya menusuk ke dada waktu. aku terhuyung bertiktak tak henti. menuju puncak. menuju puncak. ah, letihnya

kalimatku telah demikian parau. membahasakan suara-suara bergalau. ini gebalau tak tentu. gebalau kacau menyamarkan pandangku.

suara berdengung. mendengung. mikropon rusak. spiker sengau. penjual obat dan kursi bersitegang di balik pintu menandak mabuk di atas meja.

serupa kabut. mengacau pandangku. menebal tebal di perjalanan waktu. o engkau sibakkan dengan cahaya. cahaya yang menerobos kebekuan!

Malang, 12 Juli 2011

 

RINDU YANG NYERI!

telah kutapaki usia tahun demi tahun kepedihan mengingat dan melupakan, kehilangan dan menemukan cintamu

di dinding jam berdetik, di dada jantung berdetak, membayang waktu yang fana, hidup yang sementara

di hunus tajam runcing pedang cintaMu aku menyerah

tikamlah lagi hingga ke lubuk rahasia cintaMu hingga pecah karena diriku hanya menunggu waktu menatap wajahMu

mungkin perlahan aku membunuh diri sendiri. pelan pelan kan sampai padamu. Rindu yang nyeri!

pada akhirnya aku akan mati. dan segala degup akan berhenti.

Malang, 11 Juli 2011

 

Di Usia Tiga Puluh Delapan Tahun

aku mengucapkan terima kasih, atas segala kasih yang kuterima, cinta yang selalu menyala di dalam dada

aku pungut tangis dari matamu, kita yang berbeda, menemu yang sama dalam airmata

Malang, 8 Juli 2011

 

Serupa Jarum Yang Menghujan

serupa jarum menghujan suatu ketika, kenangan meluncur tak habis-habis dari langit masa lalu, ingatan tak henti memutar bayang

jarum-jarum yang meluncur menancap di kepala, bayang memutar, ingatan seperti sekeping cakram yang memutar film berganti ganti: tawa tangis sedih gembira

menari di dalam ingatan yang berputar dalam kepala, dan kenangan merajam menghujani dengan jarum-jarum ke dalam benak

ingatan tetap menghujanimu dengan jarum-jarum. kenangan o kenangan menghujan hujan. dan engkau menari dengan pedihnya

o kenang yang menghujan!

Malang, 31 Mei 2011

 

 

Serupa Pohon

serupa pohon, tak inginkah hidupmu mengakar? serupa pohon tak inginkah riwayatmu berbuah lezat. dan kami semua berterima kasih

mungkin ingin kau rencanakan riwayat khianat, tapi kami akan segera tahu. jika kamipun tertipu, tapi kau pun tahu Tuhan tak pernah akan tertipu

jadilah pohon yang baik, riwayat yang tak henti dikenang doa-doa

Malang, 31 Mei 2011

 

PRANG!

benderang terang siang yang garang. adakah yang sedang membayang kenang? hingga angan menjalang menyalang ingin menerjang terjang.

melayanglah melayang angan menerbang terbang ke awan tinggi ke langit harap menjulang julang hingga menyeberang gegap mengerang hilang

serupa cenayang melihat bayang membayang bayang di cermin yang timbul hilang berseru seru: o sayang o sayang tak kau pandang diriku meriang?

tak usahlah berang serupa berang-berang mengamuk menabuh genderang menarik temberang layar kapal perang

Malang, 31 Mei 2011

 

Kau Bangun Dinding

:bagi para penguasa yang menjauh dari rakyat

dan jarak sanggupkah engkau mengukurnya, dinding yang dibangun terlalu tebal untuk bisa menjangkau hati yang menyimpan cinta

dan batas sanggupkah engkau melintasinya, karena bara api menyala, mendidihkan isi kepala

ada yang mengaduh, aduhnya sampai ke bulan. ada yang memendam pedih, mendungnya menutup cahaya matahari

Malang, 30 Mei 2011

 

Malam yang ditikam Sepi

malam rebah, takluk pada sunyi. diam yang tabah, menakluk bunyi.

malam ditikam sepi tikamannya sampai ke lubuk hati puisi

aku berdiam pada semesta tanda, terjemahkan isyarat dari kedalaman jiwa

Malang, 30 Mei 2011

 

Karang Yang Mengeluh Rapuh

gelombang menghantam-hantam karang yang merapuhrapuh duh kenapa hanya keluh? sepercik keluh menggelombang kian kemari

jika engkau adalah menara mercu suar, mengapa lampumu padam, tak kau tunjukkan arah para pelaut? hingga kapal-kapal akan karam di karang

tak perlu airmata itu, jika untuk dirimu sendiri! setiap kali kami bertarung dengan gelombang hidup, apakah engkau peduli?

kami gusar dengan kesulitan hidup, engkau gusar dengan bayanganmu sendiri

kami harus megap-megap di lautan lumpur, lautan kemiskinan engkau dimana?

baiklah, tak ada yang perlu ditanyakan lagi. kami tahu, dan berbelas kasihan kepada orang yang mengasihani diri sendiri.

Malang, 30 Mei 2011

 

Menatap Cermin Diri Dinihari

apakah aku ada? aku bayang bayang jika cahaya ada

yang sunyi. yang sunyi. menatap cermin diri. di tepi dini hari

aku ingin diam, karena hati dan otakku cerewet sekali

aku menadah embun, langit luas tak terkira heningnya

dinihari menunggu matahari menjemput embun di pagi hari

segala akan tiada, segala akan kembali ke asal mula

Malang, 30 Mei 2011

 

Kepada Para Pembaca Puisi

aku ingin menyapamu dengan kata-kata yang tak mudah dilupakan, kata-kata yang dipungut dari jemari waktu yang ingin kekal

aku bersandar di dinding angin. angan yang melepuh di terik matahari. hidup sukar dimengerti, pun cinta yang bertekateki

jika di dalam dadamu ada sumber mata air, mengapa tatap mata mendidih oleh marah? serupa bumi yang resah, ingin muntah

berlabuhlah angan, di pelabuhan mimpi, berlabuhlah di dermaga yang menunggu. pelaut yang lelah menerjang badai, istirahlah

Malang, 23 Mei 2011

 

Di Larut Malam, Mengapa Kuingat Neruda Menulis Sajak Kesedihan?

detak jam, detak jantung, berganti ganti, di puncak malam, hening adalah jeda, detak demi detak, membuatmu terus terjaga

mengapa tak kau tulis saja sajak tersedih, hingga tak tersisa lagi airmata dari kata, hingga sempurna pedihnya!

malam telah larut, telah larut jugakah segala kenang? ke dalam mimpi, ke dalam mimpimu

di dalam mimpi, ada yang melayar, layar yang berkibar kibar, mengabar kabar, menahan debar

selamat malam, huruf huruf memburu langit, temaram yang demikian lapang

tapi mungkin bukan dirimu yang menorehkan kata luka, di langit malam. karena heningnya demikian bersahaja

jam jam tak lagi mengaduh, detaknya bertingkah dengan degup, semacam gugup? cahaya yang meredup

pernahkah engkau berdoa. dan detak jam mengaminkan tetes airmatamu?

rasakan keheningan itu, rasakan malam yang memberat di pelupuk mata, memberat dengan ingatan ingatan

malam, seribu bayang bayang, malam, semayam kenang, malam, selamat malam. dan bayang dan bayang!

Malang, 23-24 Mei 2011

 

angan membakar, jiwamu sepi

ah, jiwa yang hampa, melayang di langit mimpi, angan membakar, jiwamu sepi

sesayap patah, sesayap mengepak lelah, di mana tuju kiranya!

apakah ini senja penghabisan? petualang tak ingin segera pulang. sebelum sampai pada airmata!

para petualang menapak di awan di awang-awang menari-nari di gelombang garang. sambil berteriak: mana mautku! mana cintaku!

mereka telah belajar memanah matahari. yang teriknya demikian pongah. mereka telah berburu ajalnya sendiri.

ujar mereka: dapatkah kau bedakan laut atau langit? karena di birunya aku tangkap paus yang terbang. karena di birunya burung berenang

ah, engkau yang tak tahu arah, berburu ke lembah-lembah, membawa lembing panah kata, bertualang dari mimpi ke mimpi, dari ilusi ke alusi

kau tahu, hanya sepi dan sepi yang dapat dijangkau!  seperti dalam racau yang tak habis, dalam galau yang tak selesai. sepi. cuma. sepi

sepi yang kemarau. sepi yang penghujan. sepi yang bermusim-musim. sepi yang menjalar gatal di seluruh tubuh. selalu ingin digaruk.

sepi yang mengamuk: mengutuk kutuk!

ah, jiwa yang hampa, melayang di langit mimpi, angan membakar, jiwamu sepi

Malang, 23 Mei 2011

 

hidup memang telah terlalu rumit, dan aku ingin yang sederhana saja

hidup memang telah terlalu rumit, dan aku ingin yang sederhana saja

tak ada yang perlu kita khawatirkan, sejauh jalan terbentang, kita selalu bersama, menempuh leliku hidup

kemana kita akan pergi? harap adalah kaki cakrawala yang selalu menjauh,

tak ada yang perlu kita khawatirkan, biarkan dunia berdusta, cinta kita tetap jujur adanya

kau tahu, di dalam puisi tak ada yang bisa sembunyi, karena kata selalu membuka rahasia hati kita

kita berada pada jeda demi jeda, perhentian demi perhentian, hidup hanya seteguk teh, kita akan pergi lagi

jiwa kita jiwa yang merdeka, jiwa yang merdeka menentukan jalannya

namun ke dalam cinta-Nya kita akan kembali

Malang, 19 Mei 2011

 

ada gempa di kepalaku

 

ada gempa di kepalaku. ada gempa

gempa menggoyang goyang isi kepalaku. pengetahuan muntah!

ada yang bergoyang dalam kepalaku. perahu oleng

dimana banjir itu? pengetahuan yang meledak di angkasa sepi

serupa gelembung yang ditiup. meledak di langit yang hitam. tak ada suara. kau dengar? ada gempa di kepalaku

bidiklah setepat mungkin: bulan bundar kuning keemasan. di langit yang hitam. bikin terangnya semakin benderang.

tapi kepalaku bergoyang. gempa menggoyang-goyang kepalaku. kakiku lunglai. goyah lemah. tak bisa membidik rembulan. tak

aku merangkak. di puing-puing ilmu pengetahuan. big bang pertama. big bang kedua, big bang ketiga. aku meledak!

rasakan sunyi. raskan sunyi tak terhingga. demikian sunyi. hingga ada kata. kata yang membuat ramai semesta.

demikianlah. segala yang sunyi akan kembali ke sunyi tak terhingga. tak terpeta di sunyi mana pun juga.

demikian sunyi. di dalam kepalaku ada gempa. tak kau dengarkah?

Malang, 18 Mei 2011

 

Masih Kau Ingat Mei 13 Tahun Lalu?

 di bulan mei, masihkah kau ingat cinta yang terbakar di kerusuhan itu

hanya cinta yang dapat menumbangkan tirani! karena kebenaran dan hati nurani, cinta bermula

ya, hanya yang ingin melupakan cinta, tega aniaya!

Malang, 12 Mei 2011


demi waktu. demikian waktu

di keluasan semesta, kita hanya debu, setitik di detik yang fana

pernahkah kau bayangkan, kita ada di dalam setitik embun yang jatuh dari daun itu. menunggu sirna dicium cahaya matahari

di detik itu mungkin ada detak yang ingin kau rasakan, semacam ingatan dari masa lalu, sebelum waktu menaklukkan

di lubang hitam waktu berhenti, dan kita abadi, ketiadaan yang abadi

demi waktu. demikian waktu

Malang, 11 Mei 2011

 Insomnia: Ada yang berloncatan di dalam kepala 

dapatkah kau bedakan suara jangkrik dan ular di malam hari?

malam tak benar benar senyap, kucing mengeong berkelahi di atap rumah tetangga

di dalam kepalaku ada penyair membaca puisi

tidurlah! kata penyair membacakan puisinya di dalam kepalaku yang semakin berat, menahan pusing

jangan bermain perkusi dalam kepalaku!

haha. malah peta peta digambar, peta nasib, geografi diri, anatomi pengetahuan

malam yang melantur melentur melenting di lampu yang redup membentur bentur mimpi yang tak mau tidur

aku enggan menyapamu! suara suara bercakapan sendiri, menjawab, bertanya, menjawab, hahahihi

yup! mulai. gergaji menggergaji hutan hutan tumbang dalam kepalaku. palu palu berdentangan memukul paku paku. sabit memotong langit

jangan genit ah! kata kata bersolek untuk apa? dipulas poles tak habis, akan secantik semolek apa? Kata!

malam malam begini, dapatkah kata mencipta nasi goreng atau mie instan rebus, spesial pakai telor? sia sia permintaan kala sepi begini

hei, gergaji tidurlah! palu tidurlah! sabit tidurlah! jangan terus bekerja di malam hari. tidur, di dalam kotak perkakas dalam kepalaku

tak ada yang peduli. tak ada. semua bermain-main seenaknya dalam kepalaku. mereka bilang: BIAR!

11 Mei 2011

 

DONGENG PENYAIR

; arthur rimbaud

mendongenglah tentang penyairmu itu, yang berlari di tengah hutan belajar menulis puisi

seorang penyair, masih belasan tahun umurnya, usia birahi pada kata kata

dia terus berlari berkilometer jauhnya menembus hutan, hanya untuk sebuah kata yang ingin ditulisnya, birahi cintanya

dia memungut kata dari luka, onak duri menusuki tubuhnya, dia terus berlari, menembus kabut di pagi dan senjahari, hutan yang gelap

satu kata dua kata tiga kata seribu kata sejuta telah terkumpul dalam kitab di kepalanya. kata kata berpesta pora

kau tahu, penyair itu akhirnya pergi, dari hutan kata kata, karena katanya: itu hanya permainan kanak, usia remaja

ia tak lagi peduli pada kata. tak peduli namanya disanjung dipuja, penyair penemu kata. dia berkelana, menjadi pedagang budak saja

sesekali ikut berperang, membawa senjata api, membawa sangkur belati. dan mati. sekian

Malang, 11 Mei 2011

 

aku adalah cahaya, di dalam mimpimu

kumasuki negeri-negeri asing, di mana entah, mungkin dalam kepala yang menyimpan dongeng,

kita adalah para pendongeng, yang menyimpan ingatan, sekecil apapun peristiwa,

terkalah dimana akan berakhir cerita, terkalah, hingga dipahami segala, mungkin mimpimu menjelma

aku ingin mendongeng untukmu, dongeng yang entah, dongeng yang tak pernah ada, hingga kau takjub

mungkin tentang engkau yang menelusur jalan ke cakrawala, membusurkan harap ke bintang-bintang yang jauh,

aku ingin dongeng yang selalu berbahagia, mungkin bunga-bunga mekar, atau cuaca yang selalu cerah ceria, katamu

mari, aku dongengkan tentang malam yang pekat, dan setitik bintang, terang yang nyata di kelam langit

sebutir bintang di langit yang hitam, cahayanya sampai di matamu, mungkin rindu yang diisyaratkan, dari balik waktu

dari balik waktu, dari bilik waktu, merambat cahaya secepat cahaya, ukurlah jarak rindu terjauh,

cahaya yang berbeda, cahaya yang hanya ada di dalam sebuah mata, penuh cinta

mari kita tafsirkan isyarat, kerdip cahaya, bintang di kejauhan: bunga-bunga yang mekar, wewangian murni, harum tubuhmu

jangan lekas tertidur, dongengku belum selesai, atau mungkin kau bosan? mendengar dongeng di dalam kepalamu sendiri

penunggang cahaya, pangeran yang merindu cahaya mata, mengisyaratkan rindu, dengan titik debu bintang, kerdip yang sampai

di matamu cahaya berenang-renang, kesenyapan yang menghisap segala kenang, dari balik waktu, dari bilik waktu, cahaya

dan aku adalah cahaya, di dalam mimpimu, yang mendongeng malam ini, untukmu

Malang, 5 Mei 2011

 

Langit Hitam

langit hitam, langit hitam, bintang bersemayam
langit malam yang hitam, bintang kecil berkelip di kejauhan

malam beranjak malam beranjak dalam diri merangkak kelam ke dalam hitam ke dalam kelam langit hitam

Malang, 4 Mei 2011
Akulah Syair, Dirimu Sendiri

 

aku adalah syair, lukamu sendiri. kau baca diriku, kau gali kenangmu sendiri.

aku adalah syair, sepimu sendiri. kau eja aku, kau bertemu dirimu sendiri, yang sepi, yang hampa, membelah malam dalam diri.

akulah syair, airmatamu sendiri. mengalir aku, di dalam hariharimu yang tawa yang tangis yang suka yang duka.

akulah syair, dirimu sendiri

Malang, 4 Mei 2011

 

PELAJARAN MEWARNA

aku memilih warna hijau untuk warna langit. langit demikian hijau. sehijau mimpiku. seperti juga laut yang hijau.

aku memilih warna biru untuk gambar daun dan rerumput yang tumbuh di halaman. warna yang kuambil dari sebalik kenang

Malang, 22 April 2011

 

aku sakit, kata bumi, kau tak menjenguk dan merawatku? 

 

bumi yang demam mengigau memanggil manggil

dalam gigil bumi tak ingin kehilangan pohon pohon yang kerap memeluknya hangat dan akrab

dalam gigil bumi berteriak menderaskan keringat lava, menggempa gempa, melongsorlongsor, membanjirbanjir

aku sakit, kata bumi kepadamu: kau tak menjenguk dan merawatku?

Malang, 22 April 2011

 

Hanya Airmata yang Berkata 

di puncak sedih atau gembira, di puncak suka atau duka, kau tahu hanya airmata yang bisa berkata leluasa

kesedihan adalah kegembiraan, di keping yang sama, keping kehidupan

aku tak bisa mencegahmu bersedih, karena dengan kesedihan kau mengenal kegembiraan

Malang, 25 April 2011

 

aku ingin mencium sembab mata 

aku ingin mencium sembab mata, agar kutahu asin airmata, yang kau katakan sebagai cinta

di danau airmata aku pernah tenggelam, mencari dirimu, mencari dirimu

biarlah aku tanggung luka, jika sebenar-benar cinta di dalamnya. biarlah kutenggelam dalam airmata, jika kutemu makna sesungguhnya

dari langit jiwamu aku rengkuh kesenyapan. airmata yang mencari diriku sendiri.

Malang, 25 April 2011

 

Jika 

jika dada penuh amarah, hanya airmatamu yang dapat mengembunkannya

jika cinta hilang arah, hanya tatap matamu yang menunjukkan jalan pulangnya

jika malam membenam pekatnya, hanya cahaya cintamu yang terus menyala

jika huruf huruf kian memburam, hanya kata cintamu yang mempertegas maknanya

jika sepi kian mengapi, maka engkau menjelma cinta tiada henti

jika hari hari dilumat penat, maka engkau tawarkan lelah segera istirah

Malang, 27 April 2011

 

 

Satu Mei, Hantu hantu bergentayangan 

sebuah sekrup menyatakan cinta, pada mesin yang tabah menyala 24 jam

sebutir keringat berpendar di bawah cahaya lampu, di pabrik itu, masihkah ada cinta yang dikatakan

mungkin kita bukan penghafal sejarah, ada apa di bulan mei? kata kata menderu dari pabrik: upah, upah

di kota ini, mungkin tak ada yang tahu, ada yang bilang: hantu hantu bergentayangan

berapa harga keringat & airmata? asinnya yang bisa bercerita

Malang, 1 Mei 2011

 

Telah Diajarkan

telah diajarkan makna kehidupan, telah dididik seluruh pemahaman tindakan, memberi manfaat, membawa nilai di dalam alam semesta

bersabarlah dalam proses. bersungguh-sungguhlah! seperti ulat di dalam kepompong, tak tergesa: kupu-kupu cantik terbang pada saatnya

Malang, 2 Mei 2011

 

Para Perindu 

para perindu menguntai kata, menerjemah luka, cinta yang tak terhingga

para perindu menari-nari, tariannya meliuk ke langit tinggi, bersama awan putih, cahaya benderang

para perindu mendendangkan lagu, memawarkan hati yang memar, menawarkan hati dengan cinta

para perindu, berjalan di jalan yang gaduh, tapi demikian sunyi langit di jiwa, ingin bertemu, berjumpa dengan-NYA!

Malang, 2 Mei 2011

 

Doa Yang Membusur 

lunaskan mimpimu malam ini, hingga puisi tak menghantu lagi, sebagai sajak yang meminta hidupmu

membusurlah membusur hingga lesat mimpimu ke bintang bintang jauh

doa dalam diam, gemuruh memekik dalam dada

doa doa melindap, lalu senyap

adalah doa doa yang kita bisikkan, dan langit mengaminkan

terpejamlah terpejam rasakan keheningan doa doa

Malang, 2 Mei 2011

 

Sajak Doa Bahagia Mencinta 

di embun sajak, ada yang menata usia, baris baris yang ingin mengekal

ada yang sempat mencuri isyarat, di langit meluncur bintang jatuh, mungkin engkau yang penuh harap

jangan buang kesempatan! untuk mencinta sepenuhnya. karena waktu, bukan milik kita, hanya cinta

di segala kesempatan, berdoalah kebahagiaan, bagi hidup kita, selamanya…

Malang, 3 Mei 2011

 

kita merentang usia 

kita merentang usia, ciuman-ciuman yang tak habis, hingga nanti,

hingga waktu menyerahkan pada detaknya yang diam, hingga kata tak perlu lagi bersuara lagi,

aku mencintaimu, seperti engkau mencintai diriku, karena aku dan engkau adalah jiwa yang sama, disatukan cinta yang maha

telah dijejakkan pada waktu, telah ditandakan pada waktu, telah digoreskan pada waktu, namamu namaku, nama kita yang saling mencinta

kemana kita akan pergi? kita berpelukan. pelukan yang saling menguatkan. jalan hidup yang terlalu rumit, menakutkan dalam kesendirian

mungkin ada yang tak perlu dikatakan, saat tatap matamu menatap mataku yang sedang menatap matamu, saat ciuman telah mewakili segala kata

Malang, 2 Mei 2011

 


 aku ingin sembunyi 

aku ingin sembunyi. seperti kura-kura. meringkuk di rumah kecilku.

aku mengunci diriku sendiri. ingatan yang bikin letih.

datang dan pergilah segala sesuatu. ucapkan salam bagi diri sendiri.

tak perlu kau risau. basa basi yang tak perlu. biar semua bergalau sempurna. nyeri dan hampa di puncak sepiku. sendiri

segala mengabur. segala menghablur. huruf-huruf berhambur.

waktu. waktu. waktu. merajamku.

seperti kura-kura. aku ingin tidur. di rumah kecilku. biarlah kancil berlari. mengejar bayangnya sendiri.

bayang yang selalu menjauh. bayang yang berlari. ke kelampauan. ke harapan. yang rapuh.

aku mengaduh. dan tak akan pernah kau dengar. aduhku demikian gemetar. demikian samar. tak terkabar.

aku terbakar debar!

 

MENAPAK KE ARAH SENJA 

hidup yang menapak ke arah senja, hidup yang menghabiskan seluruh airmata, sampaikah rindu pada cintaku?

kabarkan pada daun-daun yang luruh, cinta paling mendalam tanah yang basah, selepas hujan, angin telah mempertemukan

kabarkan pada burung-burung yang akan pulang saat senja, sarang yang hangat dan cericit rindu penuh gigil memanggil

aku telah melewati segala senja, senja yang selalu meminta sajak cinta, jemariku menari, mengabadi kata

mungkin engkau sempat mencatat, dari butir-butir hujan, ada yang tak sempat diungkap rahasia rindumu padaku

mungkinkah hujan adalah rindumu padaku, bisik tanah basah kepada awan yang menghitam, di langit yang sedang bersedu sedan

di lelambai pohonan adakah isyarat rindumu, sebagai gumam, sebagai bisik, angin gemerisik

Malang, 2011

 

Maha Rahasia 

aku adalah airmata di gelombang rahasiamu. setiap kali airmata ternganga menerka, apa yang menjadi kehendak, isyarat cintamu

aku ingin terus menjadi kekasihmu, yang tak pernah meragukan cintamu, walau gelombangmu kabarkan luka dan airmata

selalu saja teka teki yang tak terterka, engkau demikian kukuh dengan tabir rahasia, o maha rahasia!

 

PERTAPA BATU 

:amatlah sabar, rakyatmu indonesia

demikian lambat, gerak di lintasan waktu, adakah yang melintas demikian penuh rindu, sepenuh rindu, hingga waktu terdiam, tak bergerak

masihkah kau ingin membisu, merahasiakan sesuatu, semacam rindu, atau cinta yang kau simpan diam-diam di dalam hatimu itu, atau amarah yang terpendam

mungkin engkau ingin serupa batu, membisu di dalam sungai, menunggu lumut kan datang, hingga tangan berpalu memukulmu

kau memang serupa batu-batu, membisu dan membisu, walau demikian keras palu memukulmu, tak ada aduh, sungguh, kau memang batu

Malang, 29 Maret 2011

 

BAGI PARA PEMBENCI DAN PENDENGKI 

 

telah aku kabarkan cinta, tapi kau menolaknya. karena sungguh batu hatimu membatu. bebal yang dungu!

gundah yang membakarmu. adalah neraka yang kau cipta sendiri. membakar hariharimu dengan benci. dengan dengki.

 

BAGI ENGKAU YANG DIBAKAR API CEMBURU 

cemburu telah membakarmu, kau tahu. api yang menjela, membuat cintamu mengabu

telah disayat luka, sepanjang garis takdir, silam atau masa depan yang ingin kau jenguk di langit yang jauh, surga merapuh dalam dada

mungkin ingin kau eja dari bintang bintang yang memeta, zodiak atau shio, weton kelahiran, segurat garis tangan, perjodohan, cinta, kematian

lalu engkau bertanya: apa salahku? menatap langit tanpa kedip. menatap marah pada kehendak takdir.

segala memang rahasia, segala memang tanda tanya, jawab hanya terminal perhentian sementara

selamat malam, langit yang lengang tak pernah menjawab, hanya sepi dan kerdip cahaya bintang, di kejauhan

 

Menanti Pagi Hari 

menyapa embun, menunggu cahaya matahari, berpendar di dedaunan basah

kabarkan, masih ada cinta pagi ini, semesta yang terluka, berilah senyuman

di kemurnian udara, di kemurnian cinta, setulus jiwa, pancarkan jiwa yang semangat berderap, menjangkau cakrawala

pagi adalah harap, doa yang terucap, hari yang penuh cahaya gemerlap, cinta yang tak habis harap

Malang, 11 Maret 2011

 

MASIHKAH

masihkah berharap tepuk tangan riuh, sedang hanya sunyi yang selalu menanti

masihkah berharap segala puja puji, sedang engkau gamang di puncak tertinggi

masihkah berharap untuk terus dihormati, sedang kehormatan ada di dalam hati nurani

Malang, 9 Mei 2011

 

MALAM

segala yang kau kenang, segala yang membayang, serupa malam menjulurkan tangannya, menarikmu ke dalam samar impian,

mungkin ada yang ingin mengetukngetukan jemarinya, serupa waktu mengetukngetuk ke dalam kepala, hingga impian terjaga

karena sunyi adalah kenangan yang memuai, biarkan malam mengembunkan dalam mimpimu

biarlah sunyi tak terbagi, milikmu cuma! karena sebenar sunyi, diri telanjang, menari nyeri

9 – 10 Mei 2011

 

ISYARAT BULAN

hanya penyair, yang melewati malam, dengan bulan separuh, menyabit langit, menafsir isyarat cahaya

hanya penyair, yang menafsirkan isyarat bulan, gelap terangnya, pasang surut air laut, bicaralah bulan pada kami, bicaralah tentang arti

bulan menyabit, bulan separuh di langit, bulan yang tak ingin bicara padamu, selain kepada penyair, yang dirindu bulan, dirindu cahayanya

Malang, 9 Mei 2011

 

MATAHARI

debu matahari, bercak matahari, demikian hijau matahari, menyembur nyembur. o corona. o corona

magnet. gelombang. berputar matahari. berputar seperti gasing berputar. o ledakan besar!

badai matahari. badai yang sampai. meledak di langit yang jauh. sampai di detak detik jammu. o ilmu pengetahuan!

Malang, 9 Mei 2011

 

SAJAK CINTA YANG INGIN KUTULIS SORE INI

sajak cinta yang ingin kutulis sore ini, adalah sajak yang mengabadikan cerita-cerita kecil, tentang kita

ingatan tak selalu tentang peristiwa besar, karena hal-hal yang remehlah kita merasa berarti

ingatlah saat kita berjalan, di bawah panas matahari, di saat tubuhku gigil ngilu terkena flu, tetapi bahagia, di sampingmu

di jalanan yang panas, debu dan angin menampar, bibir pecah pecah, ah hanya cinta yang tak membuat lelah

bersama, kita belajar untuk tabah, menjalani hari-hari yang yang garang, tapi cinta sanggup menahan segala yang menantang

dunia kita adalah dunia yang kita beri makna sendiri, dengan rasa percaya dengan cinta yang tak pura-pura

kita belajar pada kehidupan, karena kehidupan memberi segala tanpa kita pinta

pada daun-daun jatuh, kita baca tentang keikhlasan

pada hujan yang turun kita baca kerinduan yang ingin dilunaskan

kita adalah kupu-kupu terbang riang di taman, ulat bulu yang tabah menjadi pertapa, dalam kepompong sunyi

aku tulis sajak cinta, karena kita manusia, yang ingin mengenang segala, yang tak ingin dilupa

di saat hujan, atap-atap bocor, dan kita tertawa mengepel lantai berdua

ingatlah baju-baju di dalam kardus, karena kita tak punya lemari

ingatanku berloncatan: bayangkan, kita naik sepeda berdua, di bawah hujan, seperti video klip lagu-lagu cinta

ingatan-ingatan kecil, serpihan kecil dalam hari-hari, karena bahagia adalah detik demi detik, yang kita pinta

kita memang bukan anak remaja, tapi kita punya cinta yang kita pelihara

dengan jejemari kita, disusun bata demi bata, orang menyebutnya sebagai bahagia

aku ingin kau selalu bahagia, karena hidup telah diberi makna

aku ingin menulis sajak cinta, di sore yang cerah, secerah mimpi kita

Malang, 9 Mei 2011

 

MENAPAK KE ARAH SENJA

hidup yang menapak ke arah senja, hidup yang menghabiskan seluruh airmata, sampaikah rindu pada cintaku?

kabarkan pada daun-daun yang luruh, cinta paling mendalam tanah yang basah, selepas hujan, angin telah mempertemukan

kabarkan pada burung-burung yang akan pulang saat senja, sarang yang hangat dan cericit rindu penuh gigil memanggil

aku telah melewati segala senja, senja yang selalu meminta sajak cinta, jemariku menari, mengabadi kata

mungkin engkau sempat mencatat, dari butir-butir hujan, ada yang tak sempat diungkap rahasia rindumu padaku

mungkinkah hujan adalah rindumu padaku, bisik tanah basah kepada awan yang menghitam, di langit yang sedang bersedu sedan

di lelambai pohonan adakah isyarat rindumu, sebagai gumam, sebagai bisik, angin gemerisik

Malang, 2011

 

Mengalirlah Mengalir

mengalirlah mengalir puisi serupa hidup yang mengalir serupa sajak yang berlagu merdu, cinta dan rindu, karena…

manusia punya kehendak, memilih langkah, tuhan punya kehendak, menetapkan takdir. aku ingin mengalir, bersama kehidupan

mengalir bersama waktu, mengalir di dalam cinta, mengalir menuju CINTA maha cinta

aku mengalir dalam sungai cahaya, mengalir menuju Cahaya maha cahaya

cintaku cahaya rinduku cahaya mengalir bersama waktu di dalam waktu menuju waktu yang tiada, Cahaya yang abadi

Malang, 13 Maret 2011

 

mengingat doamu yang penuh cinta

:kunthi hastorini

saat diburu kerja, aku hanya ingin berkabar, satu baris puisi. agar kau ingat, ada yang sempat mengingat, doamu yang penuh cinta

jam terus berdetak. mungkin berdetak juga di dalam dadamu. tiktak waktu. berdetak detik menitik

katakan pada waktu, bahwa aku tetap mencintaimu, sepanjang waktu

Malang, 2011

Di Setiap Senja Aku Ingin Menulis Puisi

aku ingin menyapamu, di setiap senja. sebelum senja melepas cahaya ke balik kelam. sebelum aku menjadi silam.

jika aku berubah gema, itu tetaplah suaramu. suara yang menggaung. dari kedalaman jiwa. jiwa yang perih. cinta dan rindu yang pedih.

puisi, serupa bayang-bayang yang menjulur. di redup cahaya, aku menggambar bayang mimpiku sendiri.

apa yang harus dieja dari bayang-bayang? pernah kugambar kelelawar di tembok. bayang di bawah cahaya lampu yang menempel di tembok.

kelelawar yang muncul dari goa-goa gelap. memasuki angan kanakku. kanak yang merupa bayang di tembok. redup cahaya lampu teplok

puisi mengepak sayap bayang-bayang. dari goa yang gelap dan pengap. menjerit dalam kepalaku.

aku ingin menyapamu, dengan seribu bayang-bayang, yang kugambar dengan sedikit cahaya. senja ini.

seekor kelelawar, membayang dalam puisi, menjerit dalam kepalaku. menembus kelam. menembus malam.

Malang, 8 Maret 2011

 

Penyair: Pemungut Cahaya Senja

aku memasuki malam. senja yang kehilangan cahaya. biarkan aku masuk, tanpa mengetuk. aku ucapkan salam.

para pejalan malam. para penyair yang merindukan malam. para pecinta yang memungut cahaya senja. dari matahari. menyalakan api sunyi di malam hari.

aku memasuki malam. dengan api dalam kepala. kan kubakar malam dengan segala sepi. dengan segala mimpi. sunyiku. sendiri.

malam adalah kerinduan yang tak kunjung padam. menyalakan sunyi menjadi api. menerang di dalam mata hati

Malang, 8 Maret 2011

 

Sehalaman Buku, Sehalaman Rumahmu

bagi: yayan triyansyah

sehalaman buku memuat halaman rumahmu. halaman yang kau cintai. halaman yang menyimpan ari-ari

sehalaman kenangan yang tersimpan di bukumu. menampung airmata. rindu yang tak terkatakan

di halaman itu kau tatapi serakan daun yang berguguran. hidup yang tak bisa diterjemah. kapan jatuh. kapan tumbuh

sehalaman buku sehalaman rumahmu sehalaman kenangan kanak yang kau ingat. ayah bunda menanam sesuatu dalam dirimu. Kenangan itu.

Malang, 8 Maret 2011

 

telah kualamatkan airmata ke gedungmu, tapi engkau tak mampu membacanya

tak perlu kau sewa mata mata, kami selalu pamerkan luka, di gedung itu tuan puan bertahta

telah kuingatkan janji janjimu pada kami, namun gedung itu angkuh meludahi

telah kutitipkan derita di gedungmu, tapi kau selalu lupa, hanya menyapa setiap 5 tahun sekali saja

telah kualamatkan airmata ke gedungmu, tapi engkau tak mampu membacanya

kau ingin membangun gedung baru lagi? lalu untuk siapa! tentu bukan untuk airmata kami

percuma!

Malang, 30 Maret 2011

 

karena engkau adalah maha cinta, aku lebur dalam cahaya cintamu

karena engkau adalah maha cinta, aku lebur dalam cahaya cintamu

telah kau tanamkan di dadaku cinta, yang selalu memanggilimu penuh rindu, tapi aku harus menunggu, perjumpaan itu

beri aku cinta! mereka menyerumu, dengan dada terluka, dengan airmata, dengan asap berbau mesiu

sungguh teramat lamat apa yang kuingat, telah dialamat segala gundahku, sampaikah padamu, muara akhir cintaku

Malang, 30 Maret 2011

 

Kanak-Kanak Memanggilmu Ibu

:kunthi hastorini

kanak-kanak memanggilmu ibu, sebagai cinta yang akan lekat sepanjang waktu

kanak-kanak menyusun ingatan, pada tatap matamu, yang mungkin marah, tapi yang teringat adalah cintamu, selalu

kanak-kanak merindu, hangat dada dan puting susu, ibu kau rasa geletar kenang itu?

ciumlah penuh kasih sayang, karena airmatamu akan menyegarkan ingatan kanak pada kehidupan, yang penuh cinta

4 April 2011

 

seranum senyum kanak

: atta & arya

aku menyapamu di senja yang ranum, seranum senyum kanak, yang menyapa usiaku yang sudah bukan kanak lagi

di matamu kanak, aku lihat diriku yang bengal dan nakal, kejenakaan hidup, meluruh lelah sehabis bekerja

di matamu kanak, aku mengaca membaca cinta yang terpantul dari kedalaman jiwa, aku ingin menciummu dengan seluruh cintaku

Malang, 29 Maret 2011

 

aku percaya cinta milik kita, sesungguhnya

:kunthi hastorini

ada yang ingin mencuri kenangan, dari kata yang teralamat kepadamu. pencuri kata

tapi tak ada yang khawatir dengan kenangan yang tercuri. karena kata mengapi di kepala. mengapi api

serupa cinta yang terus mengapi. dalam kepala. dalam dada. dalam mata. menerangi: kata

siapa yang ingin mencuri kata? menanggung derita airmata, luka cinta tak bernama.

“jangan kau tulis terus cinta, cinta, cinta.” katamu suatu ketika. cinta tak kan membuatku lemah. sungguh.

aku percaya kepada cinta. aku percaya cinta dapat dipercaya. aku percaya cinta milik kita, sesungguhnya.

cinta yang menguatkan. cinta yang membuatku terus tetap bertahan untuk hidup. cinta, ya cinta

“tapi aku cemburu,” katamu memburu. Cintaku cinta umat manusia. Cintaku membawa kabar Maha Cinta. Tak perlu kau cemburu

ada yang ingin mencuri kenangan itu. Kata. tapi tak bisa, karena airmata kita mengalir dari Cinta yang tak terpeta

Malang, 8 Maret 2011

 

KEPADA TUHANKU

Engkaukah yang menyapa di balik jendela pesawat, di putih awan, kabut dan deru angin…

pada jarak dan perhitungan waktu, sedekat nadi sekejap cuma, tapi mengapa terasa jauh dan berlipat abad, lebur dalam cintamu

yang merindu adalah aku, yang mencinta adalah aku, aku tahu kau maha pencemburu

mendedah kata mendedah rindu tak bertepi, aku lirih menyapamu, karena pekik habiskan suara

jika aku berserah, sungguh kau muara segala lelah

Malang, 201

 

Kepada Tuhanku (2)

ada yang mengetuk. waktu. ada. kaukah yang menjenguk. ke dalam lubuk. hati yang terdalam. rindu yang mendalam

berayunlah. berayun. wajahmu yang kian samar. kian pudar. rentangan jarak. waktu. kakiku kian gemetar memburu cintamu

chairil tak sanggup mengingatmu seluruh, hamzah tak sanggup menanggung rindu dendam, tardji mengiau memanggilimu, ah siapa lagi kan terbakar rinducintamu?

aku terkapar, terbakar nyala rindu, biarpun engkau kian samar, dan aku tak selalu berkabar, berilah sabar bagi segala debar

Malang, 4 Maret 2011

 

Dalam Puisi

adalah matahari yang menyalakan api di dalam kepalaku hingga kepalaku memanas dengan segala cinta segala rindu yang memburu

adalah hujan yang menderas di dalam kepalaku hingga mimpi-mimpiku hanyut mengalir ke muara rindu cintaku

adalah lampu-lampu jalanan yang menyihir pejalan kaki dengan senyum yang meredup bikin pejalan ingin pulang ke pelukmu

adalah jam jam yang selalu sibuk berdetak-detak mengingatkan akan waktu kapan kita harus kembali

adalah pohon pohon yang tabah menunggu angin badai tiba, hingga cinta kan sampai dikabarkan, hingga rindu tiba merebahrubuhkan

Malang, 29 Maret 2011

 

 

Ingin Kubuat Sajak. Eh, Sajak malah melawak. Bacalah!

kuburkan kabar kaburkan kabar: bakar! bakar! berarak arak kabar akar. berkibar kibar kabar bara: bakar! bakar! kabarkan kubur. bubar.

yang berderak adalah sumpah. yang berserak adalah sampah. teriaklah hingga serak. geraklah. gerak. gertak gemeretak. biar retak biar kerak.

adakah geletar membuatmu gemetar gelepar, sebagai gelegar kau dengar penuh hingar bingar, menebartebar kabar mendebardebar

beras tumpah dari tampah, sampah meruah dari sumpah, meremah ramah jadi marah, meremas gemas jadi cemas, kata o berubah kota a!

Malang, 12 April 2011

 

Bayang-bayang itu Kau Sebut: Wayang

mari kita pilih warnawarna memulas sunyi yang kita miliki sendiri. karena sunyi, warna menyendiri di dalam diri

kita telah menciptakan dongeng, sebagai sunyi tak terbagi, di dalam pikiran sendiri, asyik sendiri

biarlah kenang kehidupan melintasi ruang waktu, malam yang memberat, di pelupuk mata bayang mengeras deras

ada yang menyelinap, di batas malam, tembang dupa kembang rupa, gending mengalun, bayang menari

di balik bayang bayang kuterka makna. bayang menari. aku menari. angan menari. o tarian!

tembang tembang menyihirku kembali menjadi kenangan. kenangan yang menyilam silam. o kenang

harum dupa. harum bunga. upacara. tembang menggema. gending mengiring. o bayang bayang. wayang

Malang 9-10 April 2011

 

Jejak Isyarat

: untuk commaditya 

jejak yang kau tinggal, berikan isyarat kata, segala yang badai, kan segera reda

pada denting gitar, pada serak suara, ada kau yang memberi tanda, jejak yang tertinggal di rindunya yang kekal

mungkin ada yang tak ingin menafsir, jejak rindumu yang menelusur jarak, cemburu tak bermata

tapi mungkin kau harus tahu bagaimana perempuan itu menatap selalu, mencari jejakmu di lintasan waktu

Malang, 10 April 2011

 

Di Sebuah Senja, ada sebuah Cerita: Manusia

serupa maut, katamu. mengendapendap, menyapamu. di cermin itu tuan, wajah siapa. bersolek di saat senja.

siapkan pedang, kita akan berkelahi dengan bayang, katamu suatu waktu. di awal  malam yang hanya ditemani bulan separuh. dan rinai gerimis.

dadu yang menggelinding di pesta itu, menjelma darah. mungkin engkau menyebutnya  kurusetra. atau palagan yang entah disebut apa. tapi siapa yang menyimpan dendam, kau tahu. kau tahu. masa lalu.

pada gerimis ada yang menatap hari hari bergegas, mungkin dicatat butir butir airmata, menderas: “ catatlah dengan seksama, segala mimpi yang tak kembali, catatlah dengan rapi, segala ingin yang tak kembali.”

telah disimpan dalam usia, riwayat detik detik bahagia, mengapa selalu yang dikenang hanya luka duka

sebagai kau telah tandai senja dengan airmata, sebagai kau tanda duka bahagia, cinta yang meluka

manusia. manusia. dimana akhirnya.

Malang, 10-11 April 2011

 

Gelombang Pasang, Gelombang Surut, Penyair!

gelombang hidup, gelombang pasang surut, di hidup yang kau pilih atau dipilihkan takdir, gelombang waktu

kau menantang langit, kau menantang gelombang, kau menantang badai, tapi kau takluk pada sepi. sunyi menghunjam diri

pada sunyi kau mencatat perasaan sia sia dan putus asa, wajahmu yang menyeringai kuyu terluka. gelombang hidup, gelombang waktu, memburu

kau ingin rayakan segala luka dan nyeri, menatahkan di segala usia sia sia, segala yang nisbi, segala yang tak nyata, merajam diri

diri!

Malang, 10 April 2011

 

Saat Ingin Menulis Syair yang Ringan

 aku ingin menulis syair, sesuatu yang ringan, seperti balon yang berlepasan dari jemari,

balon yang berlepasan dari jemari kanak, yang berteriak: balon mau kemana, balon mau kemana

pernahkah engkau memegang erat erat seikat balon, seperti kau dekap cintamu demikian erat?

seringan balon, demikian juga mungkin harap, kanak yang khawatir atau tertawa melagukan balonku ada lima

mungkin ada juga yang khawatir, akan meletus balon, akan meledak harap cintanya, dekaplah erat

inilah syair malamku, mengingat kenangan kanak dulu, yang memasuki mimpi malamku

Malang, 10 April 2011

 

Di Saat Hujan Gemericik, Tiba-tiba Aku Teringat Lumpur itu

selepas hujan seharian, masihkah tersisa jejak kaki, yang menyisakan lumpur di ruang tamu

hujan seharian, jejak siapa yang menjenguk kubangan lumpur menggunung, menunggu pecah bendungnya

jika kau punya belas kasih, jenguklah wajah khawatir, hujan tak habis berharihari, lumpur berkunjung ke ruang tamumu

kaki siapa menjejakkan lumpur, mungkin jejak sajak cintaku, sidoarjo lapindo benih yang kau lupa, mengunjungimu malam ini

Malang, 10 April 2011

 

bahasamu demikian rapi tuan

bahasamu demikian rapi tuan, disetrika setiap pagi, apa kabar dunia? ah, demikian pintar tuan mematut diri

di depan kamera, tak perlu basa-basi, terjang sana terjang sini, tuan pintar sekali berdiskusi tentang negeri ini

“tidak semua janji perlu ditepati, apalagi jika akan mengurangi isi periuk nasi”. begitulah tuan punya isi hati

ini sajak tidak serius, jangan terlalu diambil hati, jika tuan suka ambil sajalah, jika tuan tak suka janganlah marah

demikanlah, tuan

Malang, 22 Maret 2011

 

Dari Lereng Panderman

hanya pemandangan indah semata, di kejauhan, gunung gunung anggun dan awan putih menyaput di atasnya, inikah negeri yang dicintai?

seikat edelweis basah oleh hujan, bunga abadi, kata penjual di lereng gunung itu. bunga abadi, cinta abadi

arjuna, bromo, kawi, panderman, semeru, memaku kenangan, negeri yang membuat para perantau selalu ingin pulang

buah buah yang ranum, bunga bunga yang merekah, memanggil hadirmu anak-anak yang hilang, di negeri yang ramah tapi sering menyimpan amarah

dengarlah para petani yang menyapa: “kami menanam padi, menanam sayur mayur, walau tak selalu mencukupi, tapi kami tahu saudara kami di kota membutuhkannya.”

di kotaku sawah sawah menyusut, berganti rumah rumah mewah, ladang ladang tersingkir, adakah yang mau berpikir?

ada yang berkata: “hidup sudah terlalu rumit, kami selalu menghibur diri sendiri, memandang langit selepas hujan, memandang bungabunga dan ilalang liar.”

kudengar juga suara: “pupuk & pestisida telah membuat hati remuk, masih kau ingatkah saat kau nikmati nasi yang empuk?”

benar, hidup sudah terlalu rumit, kami selalu menghibur diri sendiri, memandang jalanan selepas hujan, dalam deru kemacetan

Malang, 30 Maret 2011

 

PROSESI MENELPON DAN MENGIRIM SMS KEPADA MALNA

ada yang menelponmu. mungkin aku. mungkin bukan aku. handphone bersahutan dengan lagu-lagu. dan mailbox. suara yang tak asing. senja kuyup

dimana malna. kata smsku. smsku tak berjawab. tersesat di satelit mana. afrizal malna dimana kamu. dimana. jawab lagu-lagu: dimana?

aku ingin bertemu malna. membicarakan gelas kopi. pembesaran ruang. buku-buku yang bermetamorfosa. handphone yang senyap.

halo. nanang menelponmu. halo di mana malna? halo dimana? lagu-lagu menjawab: dimana. dimana. dimana. simpanlah suaramu di mailbox.

mungkin malna bersama malik. tapi malik juga dimana. dimana malik berada. dimana mana. di warung kopi yang mana. di kafe yang mana.

deni dimana malna? deni sedang kuliah. kuliah tentang senja. atau tentang hujan. mungkin juga puisi atau tatabahasa sikat gigi.

aku cari malna. biarlah telpon bernyanyi sendiri.

Malang, 6 April 2011

 

AKU INGIN MENULIS SAJAK YANG TENANG

aku ingin menulis sajak yang tenang, agar jiwaku tenang. aku ingin menulis semilir angin, senja yang nyaman, udara yang sejuk. aku ingin….

aku ingin menulis sajak yang tak berteriak. agar jiwaku tak selalu ingin berontak. aku ingin menulis sajak-sajak cinta yang tulus & bahagia

aku ingin menulis sajak yang sekedar bisik. bisik yang pelan sekali. agar kau tak terkaget-kaget oleh baris-baris yang garang. ah, aku ingin

aku ingin menulis sajak yang tenang, tentang semerbak bunga, warna-warna bunga, warna-warna pohonan, mungkin juga tentang warna langit

aku ingin menulis sajak yang tenang rindu yang tak terlalu menggebu, cinta yang bersahaja, senja yang redup dan murung, langit abu abu

aku ingin menulis sajak yang tenang, senja yang tenang, langit yang tenang, burung-burung yang tenang riang dan berbahagia, juga manusia

aku ingin menulis sajak yang tenang, tak gaduh, tak garang, tak berteriak. tenang setenang permukaan danau yang dihembus semilir angin senja

aku ingin menulis sajak yang tenang tentang gerimis yang turun dengan tenang di sore yang tenang dari langit yang tenang

aku ingin menulis sajak untuk diriku sendiri agar diriku sendiri merasa tenang dan senang dengan sajakku yang tenang

aku ingin menulis sajak yang tenang. tenang. tenang. tenang. tenang. tenang. tenang. tenang. tenang. tenang. tenanglah tenang nanang

Malang, 23 Maret 2011

 

Percakapan Segitiga: Sajak, Puisi & Syair

di dalam sajak, engkau menyimpan jejak tangis, gerimis tak habis-habis

pada baris-baris sajak engkau dirikan kenang yang manis, mungkin juga tangis yang disimpan diam-diam, serupa jejak metafora

apa yang harus dikhawatirkan, dari diksi di dalam puisi, sajak meletak bentuk, menyusun pikiran dan geletar jiwa yang tersembunyi

bergeraklah bergerak, mengikuti irama, detak jantungmu yang merancak, sajak yang beriak, sajak yang mengalun, sajak yang berderak

di dalam sajak, ada yang berteriak, ada yang menyalak, ada yang terbelalak, ada yang tertembak, ada yang tergeletak

kita saling bertanya, siapa kamu, kata puisi kepada sajak, sajak bertanya yang sama kepada puisi. siapa kita sesungguhnya?

kita adalah anak-anak yang terluka, dan selalu saling bertukar nama, kata sajak kepada puisi, dirinya sendiri

kita juga menyimpan kerinduan, cinta, dan airmata, kata puisi kepada sajak yang tak pernah tergelak

mengapa para penulis puisi atau sajak itu disebut penyair? syair bertanya. entah kepada siapa. bukan pertanyaan pandir.

bukankah para penulis puisi lebih pantas disebut pemuisi, para penulis sajak sebagai penyajak. para penulis dirikulah penyair

tuliskan diriku penyair, jangan menulis puisi atau sajak, tulislah syair karena engkau penyair. tuliskan syair. tuliskan syair

mari kita berdenyut, kata cinta kepada puisi, sajak, dan syair. cinta pun berdenyut. memompa darah kata. berdenyut-denyut

sajak berdenyut, puisi berdenyut, syair berdenyut, mengiramakan cinta, hingga mabuk mereka, di dalam cinta yang fana

karena cinta, karena cinta, kita harus ada. sajak, puisi, syair berteriak bersama. ya, karena cinta, segala yang berbeda, harus tetap ada

Malang, 14 Maret 2011

04 OctSajak-sajak Nanang Suryadi 2010

BURUNG-BURUNG BERNYANYI DI PAGI HARI

setiap pagi burung burung mampir di halaman rumahku. bernyanyi bersama pagi. bersama matahari ?

apa kabar kataku, pada nyanyiannya yang riang. mereka mematuk remah-remah dan berdendang. di coklat tanah. di halaman rumah

aku ingat arcana menyimpan nyanyi burung. dalam ingatannya yang puisi. burung burung membuat sarang, bertelur dan mengeram.

kanak-kanak burung mencericit. burung burung mencari makan sambil bernyanyi setiap pagi. menyambut matahari

AKU TAFSIRKAN FIRASAT

dari ayat puisi yang tersendat karena engkau penyair sekarat selesaikan kalimat?

sajak yang letih mendongakkan kepalanya ke langit. bulan sabit, langit hitam, bintang berkedip. seperti galau di dadanya

demi cinta yang tak kau pahami, tapi kau rasa, dalam gelincir airmata

Yang Merindu adalah Aku, Yang Mencinta adalah Aku

penyair yang merindu adakah diriku penyair yang mencinta adalah diriku menatah syair di lintas waktu? melintas  ke dalam dada, mungkin kenang yang membuatmu gila. karena cinta demi cinta tersebab cinta huruf huruf menghunjamnya

CINTAMU DEMIKIAN MURNI

Serupa bunga bunga mekar liar di hutan perawan.?

SEPERTI KANAK

yang selalu mencipta dunianya sendiri. Demikian juga engkau. Demikian riang. Sebening mata. Tanpa dosa..?

Langit hijau, rumput biru, hujan es krim, ngeong burung. Semua adalah fiksi. Kecuali cintamu, padaku.

ini duniamu kanak. Coretan di tembok. Mainan berserak di lantai di sofa di meja. Ah kanak, tak ada yang perlu dirisaukan

Ada yang menyerpih, mungkin Ingatan

aksara menggelepar di langit yang putih. serupa engkau yang merindu kata. kata yang terus memburu. hingga engkau dan huruf gemetar?

ingatan yang menyerpih kau susun satu demi satu. seserpih rindu. seserpih cinta. serpih serpih masa lalu. di dalam puisi.

Di perbatasan Senja

Senja dan malam berbagi gelap dan terang, secuplik cahaya dan temaram?

Memandang Senja yang Hujan

ku duduk di sini. memandang senja yang hujan. tak ada engkau. hanya angin dan sisa cahaya menyelinap dalam temaram. kau dimana?

sebagai pena, ingin kutulis sajak dalam baris-baris yang ganjil, sesuatu yang mungkin teramat asing, dan kau menyebutnya: puisi

kau kenang juga daun yang gugur di senja puisi, sebagai cinta yang mencium keningmu?

biarkan aku menyelinap, dalam kenangmu yang biru. agar kau tahu, ada aku yang merindukanmu. selalu.

kenang yang biru. langit yang biru. mimpi yang biru. dan juga rindu yang biru. kau pulas di kanvas hidupku.

kanvas yang kau hias dengan segenap rindu, telah kupajang di galeri. kupandang selalu. penuh cinta

Secangkir Teh yang Penuh Airmata

secangkir teh, mungkin kau sebut sebagai kenang. atau kasih sayang. kuseduh penuh cinta dan airmata. mungkin kau rasa asinnya??

Akulah Angin

akulah angin. yang ingin menciummu dengan kelembutan. agar engkau terlelap dalam tidur. mimpikan aku. sepenuh rindu.?

Kita Tulis Senjahari

senjakah itu yang tersenyum. hingga engkau digenang kenang. mari kemari. kita tulisi senjahari. dengan puisi. pegang ini jemari.?


 

karena hujan yang puisi

kaulah kabut selepas hujan. gigilkan kenangku. padamu. di dalam puisi hujan menyihirku menjadi penyair. seperti ini kali.?

rambut hijau. rumput hijau. bertumbuhan di dalam benakku. karena hujan yang puisi. serupa rindu yang tak mau menunggu. cintamu

 

Biarlah Aku Hangat Matahari

Cintamu mungkin membeku dalam kulkas kenangan. Tapi cintaku akan melumerkannya.?

Kenang gigilkanmu dalam rindu. Matahari dalam diriku menyapamu. Agar hangat. Agar kau ingat. Ada aku di dekatmu.

Kau cintai aku seperti kau cintai dirimu. Kucintai engkau seperti kucintai diriku sendiri. Begitulah, cermin berkata.

 

Silsilah

matahari dan hujan melahirkan pelangi. aku dan engkau menjadi puisi.?

Yang Membeku adalah Waktu

Yang membeku adalah waktu. Saat engkau demikian membisu. Yang membeku adalah diriku. Saat kau diamkan melulu.?

Sepi yang Hijau

sepi yang hijau. sepi yang pukau. dan aku? ingin racau. muntah kata.?

 

 

Di Kotamu

di kotamu segala menjadi mungkin. mungkin engkau akan lupa. tapi tidak untukku. kau, kota dan senja tertera di dalam ?mata.

di kotamu, senja membawa gema adzan. tataplah langit, biarpun sebentar. agar kau tahu ada doa mengepak di sisa cahaya.

di kota ini masih tersisa jejakmu, pada tembok dan patung di sudut itu. seperti engkau tetap menunggu.

di kotamu hujan mencipta sungai sungai puisi. mobil dan motor menjelma ikan. berenang di arusnya. mungkinkah itu airmatamu?

di kotamu kekasih, kenangan menjelma gelembung gelembung yang ditiup kanak. mencipta alun alun yang sama. senja itu.

 

KARENAMU.

Jarum jam mengaduh. Ingin kembali ke titik nol. Perjumpaan denganmu?

Mungkin Kau Tak Ingin Dengar

masihkah kau dengar lonceng-lonceng rindu. digemakan angin. tapi mungkin engkau tak ingin. dan menulikan semua dari masa lalu.?

 

KAU RINDUKAN MALAM

yang murni. Serupa puisi yang tak henti menari. Dari jemari waktu kau tunggu. Menitik dari puncak sunyi ?

Segala tentang Mungkin, Sesuatu tentang Cinta

mungkin racauku racau mimpi siang bolong. tapi kata telah mengutukku. menitipkan benihnya di kepala. dan kukabarkan padamu: kata!?

aku tulis sajak cinta karena usia tak ingin sia-sia. dan cinta harus dikabarkan. dari cinta ke cinta. dari rasa ke rasa. dari aku kepadamu.

mungkin ingin kau hitung, berapa benih kau tanam. dan pahala hamil tua. tapi apakah cinta membutuhkan itu semua?

mungkin engkau akan bisikkan segala yang rahasia. atau kau teriakkan segala yang menjadi sesal. tapi biarkan aku menerjuni arusmu

mungkin kau ingin menulis. pada buku. tentang halaman-halaman yang hilang. catatan yang raib. dalam kepul asap. dan peniadaan.

mungkin waktu. yang akan mengabarkan. pada angka-angka yang bertanggalan. dari kalender. kau akan tetap mengingat. atau lupakan.

Beranda Milik Kita, ada Puisi Berangin

ada puisi yang berangin. di beranda buku terbuka. engkau membaca. mengeja kata. bersama angin dan dingin. bersenda. senda.?

beranda milik kita. tanpa kursi dan meja. hujan menempias tembok, lantai dan wajah kita. dan kita tertawa. demikian bahagia.

Langit Kenang

di langit malam siapa yang kau lihat? aku atau bayang kenangmu. serupa ciuman yang menghantu bibirmu.

kau ingin pupus hapus kenang itu? yang membuatmu gila sasar rindu dendam. peluklah aku, seperti ingin kau peluk langit itu.?

Aku Selalu Bertanya, dan Engkau tak Pernah Bosan

aku selalu tersesat dengan tanyaku sendiri. tapi engkau selalu menunjukkan ramburambu dan peta. di garis tangan di garis hidup aku bertanya?

Jagalah: Mulutmu!

ada yang akan menerkammu. mungkin kata. yang tak kau jaga. beranak pinak di belantara. liar. mengintaimu diam diam.?

Selamat Pagi!

selamat pagi! matahari sepenggalah tingginya. menghangatkan jiwamu jiwaku. penuh seluruh. sehangat cinta. seceria bahagia?

selamat pagi, katamu kepada matahari. dirimu sendiri. yang mencahaya demikian lembut. menyingkap kabut. mencium embun di daundaun.

ada yang debar mungkin dari kabar

?ada yang debar. mungkin dari kabar: serbuk karbit, logam berkarat, secarik ancaman yang sakit.

mungkin wajahmu yang nyeri. atau dadaku yang ngeri. meraba kelam semakin geram. di kepala yang sakit. di hati yang pahit. kau simpan apa?

mungkin dendamlah yang kau peram. karena cinta tak pernah kau paham. dan segala demikian waham.

seteguk demi seteguk kopi pahit. bayang menyilang dari darah bersimbah. wajah yang lelah. menatapmu.

hidup demikian pahit. surga teramat jauh. melintasi padat jalan raya. sepeda demikian rapuh. dan cinta?

cinta  demikian asing. tak henti merahasia.

 

Di Puncak Malam

pangeran, aku harus pergi. malam akan sampai puncaknya. cinderella berteriak dalam hati, karena masih ingin merengkuh jemari yang kukuh.

malam yang menua. malam yang akan menyirnakan segala mimpi. pada dentang ppenghabisan, dia kan temukan nasibnya.

27 JulAku Bawakan Terang Bulan, Sayang

aku bawakan terang bulan. bulan terang, sayang. manis legit harum terpanggang. aku bawakan terang bulan sayang saat bulan terang. semanis bahagia selegit gembira seharum cinta. aku bawakan terang bulan saat bulan terang.

04 JanDemikianlah Sunyi

Buat : TS Pinang

dihembus sunyi bersama nafasmu, o pejalan sendiri. menembangkan suluk

kerinduan pesisir pada hamparan sawah-sawah: bulir-bulir padi yang penuh

padat merunduk tunduk. kusampaikan salam hangat angin garam dari lautan.

seasin airmata. seasin airmata.

dihembus sunyi bersama nafasmu, o pejalan sendiri. menembangkan suluk

kerinduan pesisir pada puncak merapi: o asap yang mengepul dari mulutmu,

seperti kurasa gelegak di dasar bumi. kusampaikan hangat angin gelombang

lautan. seamuk mimpimu. seamuk mimpimu.

di sebalik sunyi, sehuruf puisi menari sendiri. menemu kenangan kembali.

Depok, 28 Agustus 2002

 

04 JanEngkaukah

Engkaukah yang suatu ketika mengajakku. Terbang ke langit. Hingga daging menjerit. Karena ia mencintai dunia. Walau fana.

Engkaukah yang suatu ketika mengajakku. Telusuri lorong waktu. Ruang tak terhingga batasnya. Hingga daging tersayat. Melepuh di pucuk api.

Engkaukah yang suatu ketika mengajakku. Dalam gigil doa. Menjelang pagi. Melecutku berulangkali.

Depok, 11 September 2002

04 JanKESABARAN WAKTU MENUNGGU

:nc

waktu. disusun detik demi detik keyakinan. di puing silam.

hingga tak ada kesangsian membusur. memanah luka yang sama.

waktu. ditata bata demi bata harap. di porak lalu.

hingga utuh jadi. menatap atap memayungi.

bahagia mimpi.

 

04 JanNARASI MAWAR

serindu-rindu mawar menanti harumnya menebar tebar menunggu tunggu kabar tersampai.

“sioux, kutunggu beritamu.”

serindu-rindu mawar ingin dikalung cinta pada leher menutup dada bidang dagu biru.

“sioux, acung kapak dengan berani”

serindu-rindu mawar ingin terbang menemu yang dirindu. menemu tatapmu

“sioux, di altar persembahan darah perawan akan menetes”

( kelopak bunga di sela-sela rambutmu

26 DecMANUSIA MANUSIA TANPA KEPALA

manusia manusia tanpa kepala berloncatan dari televisi yang penuh tahyul dan dongeng iklan manusia berkulit putih mulus setelah 3 minggu berlulur krim hingga tak dapat dibedakan mimpi dan nyata manusia tak berkepala menyorongkan horor tak menakutkan dari dunia setan arwah gentayangan sundel ke dalam kamarmu yang penuh dengan perselingkuhan sebagai sinetron yang memaparkan kecantikan dan kegantengan dan kemewahan sebagai mimpimu membunuh rasa lapar hingga semangkok mie instan serasa hidangan lezat restoran yang diobrakobrik manusia penghutang yang berjejalan di dompetnya credit card dan berhandphoe terbaru dengan dering lenguhan ranjang hotel-hotel yang menyimpan kematian kesetiaan karena cinta adalah transaksi jual beli sebagai untung rugi di tangan para calo yang tak peduli apa-apa selain berlipat modal berlipat lipat hingga mimpi dapat dibeli hingga angan dapat dicapai gapai hingga tak ada kalimat tak boleh bahkan maling asal kaya dan punya kekuasaan dihormati dipuja-puja sebagai dewa yang menawarkan kesejahteraan bagi rakyat banyak di panggung kampanye yang menipumu dengan janji-janji palsu dan kau tak pernah kapok untuk memilihnya kembali dan menindasmu lagi dan menipumu lagi dan memberaki kepalamu yang kudisan penuh kutu ketombe memimpikan rambut hitam mulus di televisi dengan air liur yang kau telan terus menerus mengimpikan hingga suatu ketika manusia manusia tanpa kepala berloncatan dari dalam televisi dan menyumpal mulutmu dengan kondom rasa rambutan!

Depok, 2002

26 DecDONGENG HANTU DI KOTA SAJAK

Buat: penyair w

hantu telah meledakan mimpi kota kota di malam malam panjang mengerikan sebagai teror yang dicipta dalam koran dan televisi dan film holywood di mana tak ada rambo atau james bond yang mampu mencegahnya karena kesumat telah menjadi seamuk mayat yang dibangkitkan dari kuburnya dengan dendam dan belatung dari borok luka yang penuh darah dan nanah gentayangan menghampiri sajak yang penuh kegelapan bahasa yang telah menjadi sulapan dari dunia kegelapan menghantuimu dengan mulut mulut nganga berbau busuk propaganda tak henti henti dari botol botol minuman impor berlabel franchise formula dan resep paha ayam bumbu tepung menyerbu lambung kanak kanakmu sebagai sampah yang dilesakan ke dalam lapar negara negara dunia ketiga yang mabuk bahasa iklan dan ekstasi yang menjungkirbalikan kepala hingga di bawah telapak kaki para monster yang telah menciptakan frankenstein dan domba dolly berkepala manusia di pesta pora membunuh angka angka data statistik demografi dengan remote control dan satelit mata-mata dari balik lelambai patung liberty ada yang berteriak tentang kebebasan dan persamaan dan persaudaraan sebagai omong kosong yang dikapalkan pada perang saudara dan terbunuhnya para manusia berkulit merah dan perbudakan kulit hitam ke negeri negeri penuh harapan bagi sebagian manusia hingga sajak kehilangan arti bagi dirinya sendiri pada hiroshima dan nagasaki dan camp camp konsentrasi dan getho getho musium kekejian bagi arwah yang melolong dengan mata mendelik dalam gas beracun inilah catatan yang tak henti diteruskan hingga asia diburu dengan bom napalm karena ideologi kepentingan tak dapat didamaikan dengan jamuan pesta malam di atas meja perjudian kartu-kartu domino yang akan meluncur jatuh menyerakan seluruh keinginan di batas batas peta yang digaris merah hitam biru di mana ladang ladang minyak mineral emas menjadi milik diri sendiri: apalah arti manusia dunia ketiga bagi mereka yang telah merasa memiliki dunia dan mencipta hantu setiap saat untuk menakuti tidur jagamu!

Depok, 2002

26 DecIA YANG MEMBAYANGKAN DIRINYA YANG MISKIN

ia membayangkan bagaimana seseorang itu duduk di sebuah museum dan menulis tentang orang-orang miskin di sekelilingnya seperti ia yang miskin dan harus dipinjami uang terus menerus oleh sahabatnya yang ingin agar buku itu selesai dan ia terus membayangkan tentang rumahnya di desa yang jauh dan ia tidur di kamar yang sempit di sebuah rumah yang disewa-sewakan kamarnya yang berbau apak dan bau alkohol murahan serta sedikit muntah dari mulutnya semalam saat ia membayangkan bagaimana mungkin seorang kelas menengah dapat menulis tentang derita dan kemiskinan para buruh yang bekerja di antara bising deru mesin di antara modal yang tak menghitung tenagamu selain sebagai kelipatan keuntungan rente bagaimana mungkin ia hidup dengan tenaga yang terus dihisap dihisap oleh para pemodal yang menyeringai di kamarnya yang hangat dekat tungku besar di saat salju turun tiba di saat loncengberdentangan dari gereja yang megah mengingatkan liburan akan tiba bagaimana dengan hadiah untuk anak-anak dan istrinya di kampung halaman bagaimana dengan makannya di hari liburan itu di mana ia harus mendapatkan uang karena tak ada yang meminjaminya lagi ia uang karena tangan dan kakinya telah terlindas mesin di minggu kemarin!

2002

 

Tags: ,