Archive for the 'Esai' Category

Last updated by at .

13 AprPuisi dan Pemasaran

Puisi dan pemasaran, dua hal yang seringkali saya gabungkan dalam blog-blog saya. Dua hal ini merupakan hal yang menarik bagi saya, dan tidak dapat dipisahkan dari tulisan-tulisan saya. Ada puisi ada pemasaran. Maka tak heran, jika blog-blog saya akan penuh dengan puisi dan artikel-artikel pemasaran.

Saaat saya menulis artikel pemasaran berjudul Konsumen Cerdas Paham Perlindungan Konsumen, saya tergelitik untuk menulis puisi tentang Konsumen Cerdas. Tapi ide untuk meneruskan menulis puisi tentang “Konsumen Cerdas” ini terhenti begitu saja. Saya pernah menulis puisi tentang matematika, fisika, kimia, mungkin perlu juga meniatkan untuk menulis dengan serius puisi dengan topik pemasaran. :)

 

10 MarMenyoal Puisi Terbaru Indonesia

Jika kita “search” di google, maka sering kali akan ditemukan “puisi terbaru” atau “puisi terupdate” yang menjadi fokus bagi admin blog yang menggunakan teknik SEO untuk mengarahkan mesin pencari ke blognya. Jarang para admin blog puisi yang menggunakan teknik SEO dengan menggunakan kata-kata kunci “Puisi Kontemporer”, “Puisi Mutakhir” atau “Puisi Terkini.”

Jika kita memasukkan frasa kunci “Puisi terbaru” atau “Puisi Update” akan berbeda hasil pencariannya, dibanding hasil pencarian dengan menggunakan frasa kunci “Puisi Kontemporer”, “Puisi Mutakhir” dan “Puisi Terkini.”  Frasa kunci kelompok terakhir akan menghasilkan tulisan-tulisan yang serius, berupa esai atau artikel-artikel kajian akademis, sedangkan frasa pada kelompok pertama akan mengarahkan ke blog-blog puisi.

Perkembangan puisi cyber saat ini memang memungkinkan setiap orang untuk mempublikasikan karya-karyanya dengan bebas melalui media internet. Para admin situs atau blog puisi yang mengerti Search Engine Optimization mengerti juga kebutuhan para pencari “puisi” di internet. Sebagian besar para pencari “puisi” di internet dalam dugaan saya adalah para pelajar yang diberi tugas guru mereka untuk mencari puisi-puisi, maka tak heran jika ada yang memasukkan frasa kunci: “contoh puisi chairil anwar”, “contoh puisi amir hamzah,” “contoh puisi bla…bla..bla…”

Yang patut menjadi renungan dalam proses pencarian ini, saat saya coba mencari menggunakan frasa kunci “puisi mutakhir”, “puisi kontemporer” dan “puisi terkini” banyak artikel bahkan yang merujuk ke sebuah ensiklopedia internet terbesar contoh-contoh puisi hanya menunjuk karya-karya penyair yang dihasilkan di tahun 1970-an, seperti puisi Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono dan seangkatannya. Seakan-akan sejarah sastra mutakhir Indonesia terhenti di tahun 1970-an.

Puisi mutakhir atau puisi kontemporer adalah puisi terkini. Puisi terkini adalah puisi-puisi yang paling tidak dihasilkan oleh para penyair di tahun 2000-an atau puisi-puisi di awal abad 21, yang ditandai dengan puisi cyber yang berkembang pesat di berbagai macam situs, blog, micro blog dan social media semacam facebook, twitter dan google plus.

Jadi, jika kita menemukan puisi dengan frasa kunci: “puisi terbaru”, maka senyatanya itulah “puisi mutakhir” atau “puisi kontemporer” atau “puisi terkini” kita. Terlepas dari kualitas, namun itulah nyatanya. Keberagaman karya puisi di internet sebagai cermin perkembangan “perpuisian” kita saat ini.

12 JanANGKATAN TERBARU SASTRA INDONESIA; SEBUAH PERBINCANGAN

Oleh: Nanang Suryadi

Pada dunia yang saya sukai dengan cinta keras kepala: sastra, saya mengenal ada pembabakan sejarah sastra Indonesia, ke dalam beberapa angkatan, yaitu: Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45 serta Angkatan 66.

Dalam hal pembabakan sejarah sastra, ada juga penulis sastra yang enggan menuliskannya berdasarkan angkatan, walaupun tetap menyebutkan fakta bahwa adanya sekelompok orang yang memproklamirkan keberadaan sebuah angkatan. Salah seorang penulis sejarah sastra yang enggan menuliskan pembabakan berdasarkan angkatan antara lain Ajip Rosidi (1986), yang menyatakan: dalam pembabakan ini digunakan istilah “periode” dan bukan “angkatan” karena “angkatan” dalam sastra Indonesia sekarang telah menimbulkan kekacauan. Pembedaan antara periode yang satu dengan yang lain berdasarkan adanya perbedaan norma-norma umum dalam sastra sebagai pengaruh situasi masing- masing zaman. Sedangkan perbedaan antara angkatan yang satu dengan yang lain sering ditekankan pada adanya perbedaan konsepsi masing-masing angkatan. Dalam suatu periode mungkin saja kita menemukan aktivitas lebih dari satu golongan pengarang yaang mempunyai konsepsi yang berbeda-beda; sedangkan munculnya periode baru tidak pula usah berarti munculnya angkatan baru dengan konsepsi baru. Perbedaan norma-norma umum dalam sastra sebagai pengaruh situasi suatu zaman, mungkin menimbulkan suasana baru dalam kehidupan sastra tanpa melahirkan konsepsi sastra baru yang dirumuskan oleh seseorang atau sekelompok sastrawan.

Pada tahun 1998 ini, Kusprihyanto Namma, Sosiawan Leak dan Wowok Hesti Prabowo mencetuskan perlunya angkatan terbaru sastra Indonesia, yang ditandai dengan diterbitkannya Tabloid Angkatan. Secara umum keperluan adanya angkatan terbaru sastra Indonesia ini, dapat tertangkap dari sebuah pertanyaan retoris: mengapa tidak ada lagi angkatan sastra setelah angkatan 1966. Jika tidak ada pencetusan angkatan yang lain sesudah angkatan 66 maka dapat dikatakan bahwa sastrawan yang berkarya pada tahun 1970-an, 1980-an, 1990-an tetap termasuk sebagai bagian dari angkatan 1966.

Setiap angkatan memiliki kredo yang menjabarkan konsepsi yang membedakannya dengan angkatan lain, dan juga memiliki corong yang menyuarakan kehadiran sebuah angkatan. Angkatan Balai Pustaka memiliki konsepsi berdasarkan kebijakan pemerintah Hindia Belanda, seperti dikemukakan oleh Dr. A.Rinkes: “….maka haruslah diadakan kitab-kitab bacaan yang memenuhi kegemaran orang kepada membaca dan memajukan pengeetahuannya, seboleh-bolehnya menurut tertib dunia sekarang. Dalam usahanya itu harus dijauhkan segala yang merusakkan kekuasaan pemerintah dan ketentraman negeri” (Ajip Rosidi, 1986); Angkatan Pujangga Baru lahir dengan konsepsi yang dikumandangkan oleh Sutan Takdir Alisyahbana dalam Majalah Poejangga Baroe. Sedangkan angkatan 45 ditandai oleh konsepsi dalam Surat Pernyataan Gelanggang, serta yang tak kalah pentingnya adalah pembelaan oleh HB. Jassin akan keberadaan angkatan ini. Sedangkan angkatan 1966, keberadaannya diproklamirkan oleh HB. Jassin, yang menulis dalam majalah Horison (1966):” khas pada hasil-hasil kesusastraan 66 ialah protes sosial dan kemudian protes politik”.

Mengingat kelahiran sebuah angkatan diawali oleh adanya sebuah konsepsi yang membedakan dengan angkatan yang lainnya, maka pertanyaannya adalah: sudah adakah sebuah konsepsi lain yang bisa ditawarkan oleh angkatan terbaru sastra Indonesia?
Ataukah sebenarnya kita tidak perlu repot-repot untuk membuat ‘hanya’ satu buah angkatan terbaru. Mengapa tidak dilakukan saja penulisan buku sejarah sastra Indonesia yang lengkap, yang akan menunjukan perkembangan sastra Indonesia secara komprehensif antara lain dengan memberikan ciri-ciri berdasarkan fakta-fakta empiris yang berkembang sepanjang sejarah sastra Indonesia itu sendiri. Sangat mungkin pada rentang waktu 1966-1998 (32 tahun) tersebut akan ada beberapa angkatan, yang pengelompokannya berdasarkan ciri-ciri atau kecenderungan masing-masing, walaupun mungkin para sastrawan yang berkreasi pada masa itu tidak menyatakan adanya sebuah angkatan pada kalangan mereka. Jadi sebenarnya ini merupakan tugas dari sejarawan sastra. Entahlah lagi, jika ada kepentingan lain, yang mungkin dirasakan beberapa sastrawan akan memberikan sumbangan besar terhadap perkembangan sastra, misalnya saja, dengan mencetuskan lahirnya sebuah angkatan sastra terbaru, taruhlah kita beri nama: angkatan reformasi, maka akan lahir konsepsi yang akan menjadikan karya-karya sastra pada angkatan tersebut akan menjadi lebih baik atau bermutu dipengaruhi oleh semangat reformasi.

Tapi, apakah adanya sebuah angkatan sastra menjadi hal yang sangat penting saat ini dan apakah jika tanpa legitimasi angkatan maka sebuah karya sastra menjadi tidak sah sebagai karya sastra, dan akan mengurangi mutunya?

Begitulah, perbincangan tentang keberadaan sebuah angkatan terbaru sastra Indonesia tidaklah sekedar sebuah pernyataan setuju atau tidak. Mungkin, yang perlu dilakukan segera, untuk merunut gairah kreativitas sastra, adalah dengan melakukan penulisan sejarah sastra Indonesia yang jujur dan adil. Dan jangan pula lupa dengan penulisan karya sastra serta kritik sastra, yang merupakan tonggak dari segala macam perdebatan ini.

Malang, 1 Nopember 1998

Tags:

10 JanKumpulan Puisi Cinta

Kumpulan puisi cinta adalah salah satu kumpulan puisi saya di dalam buku Cinta, Rindu dan Orang-orang yang menyimpan api dalam kepalanya. Buku tersebut memang memuat 3 kumpulan puisi, dengan tema: cinta, kritik sosial dan religiusitas. 

 

Puisi-puisi cinta di dalam buku yang bersub-judul: menemu negeri cahaya itu dibuat untuk istri dan anak-anakku. Mungkin bahasanya sangat sederhana, dan memang saya memilih untuk menyampaikannya dengan cara yang sederhana. Mungkin seperti Sapardi Djoko Damono yang juga menulis: aku ingin mencintaimu dengan sederhana…

10 JanPuisi Persahabatan

Keyword puisi persahabatan ini langsung muncul saat saya memasukkan kata kunci: puisi. Ternyata banyak juga yang mencari puisi dengan tema: persahabatan. Seringkali frasa ini akan secara otomatis ditambahi google.com sendiri dengan nama penyair: Kahlil Gibran. 

Buku-buku puisi dan cerita Kahlil Gibran banyak diterjemahkan di Indonesia, dan menjadi best seller di toko-toko buku. Saya membaca buku puisi terjemahan karya Kahlil Gibran di tahun 80-an saat SMP dan SMA yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Saat itu masih langka penerjemahan karya-karya Kahlil Gibran. Dan saya menamatkan beberapa buku karya Kahlil Gibran ini, serta mengkoleksi bukunya, yang sekarang entah hilang kemana. Yang saya ingat satu baris dari Kahlil Gibran tentang persahabatan: “Sahabat adalah pendiang sukma…”

10 JanSajak Cinta

Sajak cinta seringkali ditulis para orang muda yang sedang jatuh cinta, dan banyak orang yang ingin membaca sajak-sajak cinta ini. Seringkali sajak-sajak cinta yang menyentuh adalah sajak  yang menggambarkan cinta yang tak sampai. Bukankah sajak cinta Chairil Anwar yang berjudul Senja di Pelabuhan Kecil adalah sajak cinta yang patah hati kepada Sri Ajati. Orang mengingat  sajak cinta Chairil Anwar itu dan merasakan kesedihan penyair seakan-akan dialami sendiri oleh pembacannya. Pada sajak cinta  tersebut Chairil Anwar menulis:“Ini kali tak ada yang mencari cinta….”. 

Berikut adalah puisi cinta Chairil Anwar yang sangat terkenal dan banyak dikenang oleh banyak pembaca puisi.

SENJA DI PELABUHAN KECIL
Buat Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis memepercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

09 JanJurnal dan Buku yang membahas dan mengutip puisi karya Nanang Suryadi

Beberapa buku sastra dan bahasa untuk SMA mengutip karya puisiku dalam pembahasan atau apresiasi, antara lain:

“Buku yang diambil sebagai kajian adalah buku: (1) Kaji Latih Bahasa dan Sastra Indonesia 2a dan 2b (2005) yang diterbitkan oleh Penerbit Bumi Aksara, (2) Bahasa dan Sastra Indonesia 1 untuk SMA Kelas X (2004) yang diterbitkan oleh Erlangga, dan (3) Aktif Berbahasa dan Bersastra Indonesia Jilid 2 untuk Kelas XI (2005) yang diterbitkan oleh Empat Kawan Sejahtera. Buku tersebut ditulis dengan mengacu dan menjabarkan pada Standar Kompetensi Kurikulum 2004 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dalam buku tersebut, karya sastra yang digunakan sebagai materi pengajaran sastra meliputi puisi, naskah drama, cerpen, dan novel.

Puisi yang dipilih sebagai materi pengajaran adalah “Sepanjang Jalan Puisi” dan “Ingin Kutulis Untukmu” karya Nanang Suyadi,
“Gadis Peminta-Minta” karya Toto Sudarto Bachtiar, “Balada Tamu Museum Perjuangan” karya Taufiq Ismail, dan “Balada Ibu yang Dibunuh” oleh W.S. Rendra.”

Sumber: Lustantini Septiningsih, PENGAJARAN SASTRA SEBAGAI UPAYA MEMBENTUK MANUSIA YANG CINTA TANAH AIR: HARAPAN DAN KENYATAAN, Kajian Linguistik dan Sastra, Vol. 20, No. 1, Juni 2008: 48-55

 

Kalian telah melakukan pengamatan terhadap berbagai bentuk
puisi remaja, yang dimuat di majalah, surat kabar, atau buku
kumpulan puisi. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, silakan
kalian jawab pertanyaan ini!
1. Apa yang dimaksud puisi remaja?
2. Apa ciri-ciri puisi remaja?
3. Parafrasakan puisi berikut!

Epilog
Nanang Suryadi
Sempurnalah sempurna segala ingin
Di ambang surup matahari mendingin
Segala senja telah kau beri tanda
Di padang padang buru di tebing tebing cuaca
Telah disemayamkan segala kelakar
Terbakar bersama belukar julai akar
Ke dalam diri ke luar diri
Menembus batas segala mimpi
Demikian, sunyi tak terbagi
Milikku sendiri
Sumber: Sutardji Calzoum Bachri, Hijau Kelon dan Puisi 2002. Jakarta: Kompas
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Sumber: Kompetensi Berbahasa dan Sastra Indonesia, Syamsudin Ar dkk, 2008, PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

06 JanReview Puisi-Puisi Nanang Suryadi

Buku puisiku banyak dibahas oleh para kritikus sastra, diantaranya:

06 JanArtikel Jurnal dan Thesis Yang Mengutip Puisi dan Esai Nanang Suryadi

Silakan klik link berikut, yang mengutip puisi dan eseiku:

Cyber-Urban Activism and the Political Change in Indonesia

KAJIAN REPRODUKSI PUISI DIGITAL PADA ANTOLOGI PUISI DIGITAL CYBERPUITIKA 

15 JanKetika Tiga Anak Wayang Berpuisi

esai Nanang Suryadi

Pada Oktober 2002, Forum Kesenian Banten menerbitkan sebuah antologi puisi berjudul Dunia Wayang. Antologi ini memuat 36 puisi karya tiga penyair Banten: Asep GP, Ibnu PS Megananda, dan Ruby Ach. Baedhawy. Antologi ini diberi kata sambutan di halaman pembuka oleh Drs. Didi Supriadi, M.Pd.—kepala dinas pendidikan Propinsi Banten—, dan oleh penyair Toto St. Radik di halaman penutup.

Secara umum, dalam kumpulan puisi Dunia Wayang tema sosial politik tampak menjadi hal menarik bagi ketiga penyair untuk dituangkan dalam sajak. Perubahan yang terjadi di sekitar penyair, baik lokal maupun nasional, menggoda mereka untuk menyikapinya. Mungkin berita-berita koran dan televisi telah menggugah kesadaran mereka. Keganjilan atau ketidakwajaran yang terjadi di sekelilingnya telah merangsang kepekaan jiwa para penyair ini. Diduga, berita-berita tersebut banyak mengilhami lahirnya sajak-sajak dalam buku ini. Namun, dalam menyikapi fenomena sosial politik tersebut, penyair seringkali masih terjebak dalam bahasa yang serupa dengan bahasa di media massa yang mereka baca. Karena itu tak heran jika banyak ditemukan kata semacam slogan dalam sajak-sajak tersebut, membuat sajak menjadi klise atau merupakan repetisi kejadian yang sering menjadi headline koran atau kata-kata dalam spanduk di pinggir jalan.

Dalam sajak-sajak bertema sosial tersebut juga masih banyak ditemukan diksi yang tidak sepadan dalam satu situasi. Dalam pmakaian bahasa, ada semacam kegamangan untuk memilih bahasa yang verbal (langsung) atau bahasa yang simbolik, sehingga terasa sajak-sajak tersebut menjadi tidak utuh dalam keseimbangan. Padahal, sesungguhnya, sajak yang berhasil adalah sajak yang seimbang dalam berbagai hal, antara lain, seimbang dalam hal isi dan kemasannya.

Penyair yang bergelut dengan kata-kata semestinya dapat menyaring bahasa realitas yang prosaik dan verbal yang ditemukan di media massa itu menjadi sebuah dunia baru yang memberikan penafsiran lain terhadap kondisi atau situasi yang terjadi. Pemakai bahasa verbal (langsung) memang tetap dimungkinkan, tetapi penyair yang memberikan penafsiran terhadap realitas akan membuat suatu kejutan, sesuatu yang menghentak emosi dan pikiran pembaca. Pemakaian gaya bahasa yang pas akan sangat membantu sebuah sajak sosial “menjadi”, bukan sekadar tempelan slogan atau kata-kata klise yang dipungut dari berita koran. Kelihaian penyair memainkan “ironi” atau “paradoks”, misalnya, dapat membantu sebuah sajak sosial “menjadi”.

Selain bertema sosial, dalam buku ini juga terdapat sajak-sajak yang merupakan perenungan diri yang masuk ke dunia dalam atau batin penyairnya. Sayangnya, sajak-sajak tersebut terasa belum masuk ke dalam perenungan yang benar-benar mendalam dan total sehingga pengungkapannya terasa menjadi gagap dan sangat normatif. Eksplorasi terhadap kekayaan batin atau pengalaman spiritual yang puitik dalam beberapa sajak Ruby cukup menonjol dan kuat dalam pengungkapannya. Pada sajak-sajak Asep, terasa masih ada jarak antara “diri” dan “diri yang sesungguhnya” sehingga sajak yang tercipta “menjadi”. Ibnu PS Megananda, pada beberapa sajaknya, juga mencoba memasuki dunia keheningan yang diciptakannya melalui sajak-sajak bersuasana perenungan diri di saat menyendiri di suatu tempat, antara lain, di pantai.

Dari 36 sajak (setiap penyair menghadirkan 12 sajak) dalam Dunia Wayang, saya tertarik untuk menyimak 7 sajak lebih lanjut: 2 sajak Asep GP, 1 sajak Ibnu Megananda PS, dan 4 sajak Ruby Ach. Baedhawy.

Pada sajak “Anak I”, Asep mencoba membuat metafora bagaimana seseorang tetap teguh melakoni jalan lurus, panggilan Tuhan, tanpa kenal putusasa dengan cara Asep menceritakan bagaimana “anakku melangkah ke surau”. Sang anak membawa lilin di tangan kiri dan sajadah di tangan kanan. Suatu hal yang aneh, mungkin, jika membayangkan bagaimana seseorang membawa lilin di malam hari untuk berjalan-jalan. Terbayangkan kesulitannya, karena lelehan lilin yang panas akan menetes ke tangan si anak yang berjalan di gulita malam. Kira-kira, di mana hal tersebut terjadi? Dari gambaran yang diberikan dalam sajak, dapat dipahami bahwa kejadian itu terjadi pada malam hari, saat gulita sepanjang jalan. Mungkin, tempat dalam sajak Asep ini sebuah pedesaan yang jauh dari sentuhan modern. Tapi, mengapa Asep memilih lilin sebagai “penerang” jalan, mengapa bukan obor? Dalam hal ini Asep tidak cermat memperhitungkan benda apa yang seharusnya hadir dalam situasi seperti itu. Dalam sebuah sajak, yang menampilkan keruntutan, memang dituntut agar berbagai hal di dalamnya dapat secara logis saling mendukung dan menerangkan. Hingga, dengan demikian, sajak menjadi sesuatu yang utuh dapat dimengerti dan dinikmati pembacanya, tanpa harus menanggalkan akal sehatnya.

Anak I

anakku melangkah ke surau

lilin di tangan kiri

sajadah di tangan kanan

gulita sepanjang jalan

lilin di tangan kiri terus menyala

walau di sepanjang jalan angin menggoyang sinarnya

sajadah di tangan kanan

masih terlihat lipatanlipatan

anakku terus melangkah ke surau

Pada sajak “Doa Orang Tua”, Asep memungut ungkapan yang sebenarnya klise: Seperti padi, semakin berisi semakin merunduk. Namun dengan pengolahan yang menempatkan baris-baris sajaknya dalam ritme pelan, bertutur menasehati, dengan hentakan yang terasa pada pengulangan merunduklah, sajak Asep ini menjadi lebih “berbunyi” atau berirama. Unsur bunyi-bunyian dalam sajak seperti ini menyelamatkannya dari pitutur yang klise dan membosankan.

Doa Orang Tua

Untuk anakku Oki Nadia Puspa

Seperti padi

Merunduklah ketika

Berilmu

Jangan ada kepongahan dalam diri

Karena hidup hanya sesaat

Waktu kian berguna

Hingga kau mencapai citacita

Sungguh berat kelak beban hidup yang kau pikul

Merunduklah seperti padi

Karena isi

Sehingga kau akan berguna bagi negeri

Karena hidup hanya titipan

Yang harus dipertanggungjawabkan

Kelak di akhirat

Merunduklah

22 Juni 2002

Sajak-sajak Ibnu PS Meganda sebagian besar bernada protes pada kondisi yang dianggapnya tidak beres. Kata-kata yang muncul dalam sajak-sajaknya terasa bersemangat menggedor-gedor berbagai pihak yang dianggap bertanggung jawab atas ketidakberesan itu. Dalam banyak sajaknya, Ibnu menyodorkan realita yang disaksikan di sekelilingnya, juga realita yang dibaca dan dilihatnya di media massa. Namun, ada juga beberapa sajak yang berulang-alik antara kesadaran sosial dan dirinya sendiri. Semacam renungan dalam diri penyair. Selain itu, ada juga sajaknya yang memotret suatu peristiwa dan peristiwa itu dihadirkan dalam sajak sebagai renungan untuk dirinya sendiri. Sebuah peristiwa puitik yang dirasakan Ibnu dan dianggapnya penting untuk dibagikan kepada orang lain sehingga dituliskan dalam sebuah sajak.

Sebuah sajak renungan yang cukup berhasil dalam pengungkapannya adalah sajak “Imajinasi Nirwana”. Ibnu berulang-alik dengan suasana alam yang sedang ia nikmati, yang melahirkan perenungan tentang hal lain, sesuatu yang abstrak yang ditemukannya dari kitab-kitab suci, yaitu tentang nirwana. Ia membayangkan bahwa kedamaian di saat itu mungkin seperti nirwana dalam bayangannya selama ini.

Imajinasi Nirwana

Dipaling ujung pantai sana

tak lagi tampak orang berdiri

tinggal buih putih

dibawa angin mengembara

Dilorong riuh gemuruh ombak

aku terima tekateki laut

aku umpamakan alam nirwana

belum juga dapat terjawab

Aku kira itu hanya sedikit nikmat

dan akupun tak mau terpaku

Walau datang keluh kelu

Pada beberapa sajak Ruby Ach. Baedhawy, ditemukan totalitas penyairnya bergelut dengan kata-kata dan permasalahan yang akrab dikenalinya. Dapat dirasakan bagaimana kata-kata tersebut saling mendukung untuk menciptakan atau merekonstruksi pengalaman puitik yang dialami penyairnya. Pengenalan yang mendalam terhadap permasalahan dapat memudahkan penyair untuk menuangkan pengalamannya itu sebagai sebuah keutuhan dalam sebuah sajak, dan dengan demikian dapat diharapkan sajak tersebut sampai kepada pembaca, yang menerima pengalaman putik tersebut dengan membandingkan-bandingkan dengan pengalaman mereka sendiri.

Dalam sajak “Nuansa Kematian”, Ruby coba memotret kondisi tanah air sebelum dan saat reformasi terjadi. Cukup berhasil dalam gaya pengungkapan yang verbal.

“Aku Belajar Membaca Kotaku”, sajak bernarasi yang menunjukkan bagaimana seorang aku dalam sajak tersebut menafsirkan kejadian-kejadian yang terjadi di masa kini dan masa lalu. Penyair membandingkan kenyataan kini dengan cerita-cerita kejayaan tempo dulu: Banten yang jaya. Dalam sajak ini, ritme terjaga dengan baik. Letupan emosi masih ada dalam bingkai narasi. Pilihan-pilihan kata yang sepadan suasananya turut mendukung keberhasilan sajak ini dalam mengantarkan pesan-pesan, sesuatu yang dirasakan penyairnya sebagai pengalaman puitik, kepada pembaca.

Sajak “Menatap Wajah Kerinduanmu”, mulai bait kedua hingga bait keempat, Ruby berhasil mengungkapkan pengalaman spiritualnya yang mengalir alami dengan diksi-diksi khas yang menunjukan penyair akrab dengan istilah-istilah dari khazanah Islam, misalnya, khusyu, tahajjud, sujud, dan tadarrus.

Sajak “Narasi Duka: Anak Kehidupan”, ungkapan langsung penyair, yang terbaca semacam doa kepada Allah. Membaca sajak ini terasa Ruby terhanyut dalam penghambaan total, dengan kata-kata yang mengalir mulus sebagai sebuah doa yang indah bagi sebuah keluarga bahagia sejahtera yang dirahmati-Nya.

Dari beberapa sajaknya yang menelusuri sejarah, lokasi dan riwayat Banten serta yang berhubungan dengan suasana spiritual, Ruby terasa sangat akrab dan di situlah kunci kematangan sajak-sajaknya.

31 DecORANG-ORANG YANG MENYIMPAN API DALAM KEPALANYA

Oleh: Nanang Suryadi

Dia, seorang anak muda yang tak mau disebut namanya, mencoba mempertanyakan hal-hal yang selama ini telah mapan, mungkin dapat disebut juga sebagai orang yang antikemapanan. Adakah telah merasuk dalam benak kepalanya apa yang disebut orang sebagai dekunstruksi (sebuah ajaran dalam wacana postmodernisme) dan ia latah ikut-ikutan melakukannya?

Sepertinya tidak, jika disebut latah ikut-ikutan, ia adalah orang yang mencoba sadar terhadap pilihan-pilihan hidupnya. Salah satu yang paling disukainya, dalam perjalanan hidupnya selama ini, adalah menelaah sejarah. Baginya kesadaran terhadap sejarah harus dimiliki, agar tak terjadi kesalahan-kesalahan yang menimpa umat manusia pada masa lalu tidak terjadi lagi pada masa sekarang atau masa mendatang.

Sebagai seorang anak yang dilahirkan pada masa orde baru, dia tidak mengalami hiruk pikuk pergelutan politik yang sering diceritakan oleh orang-orang tua serta buku-buku yang wajib dibacanya di sekolah menengah atau pada penataran-penataran. Kata orang, pada masa lalu telah terjadi peristiwa yang teramat carut marut, penuh kekerasan yang mengalirkan darah dan airmata. Dia adalah anak yang dibesarkan masa pembangunan orde baru, yang tak pernah menyaksikan atau merasakan pahit getirnya perjuangan revolusi 1945, serta kejadian-kejadian yang menyusul setelah itu, semacam Agresi Militer I dan II, Persidangan Konstituante, Peristiwa DI TII, Peristiwa PRRI-Permesta, Peristiwa pengkhianatan G30S PKI yang gagal serta disusul dengan runtuhnya rezim orde lama yang tidak menjalankan lagi Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen, serta masih banyak lagi peristiwa yang hanya dapat didengar dari para orang tua dan dibacanya dari buku-buku sejarah.

Dia, seorang mahasiswa pada tahun 90-an pada sebuah universitas terkemuka di negeri ini, dengan pikiran-pikiran linear pada awal memasuki perkuliahan, berbekal pesan dari orang tua agar cepat lulus dengan nilai terbaik.Tapi apa mau dikata, sepertinya bukan salah bunda mengandung, Dia, yang memang sejak kecil menyukai dongeng-dongeng sejarah serta rajin membaca, ditambah lagi sedikit kemampuan menulis dan berrorganisasi (yang didapatnya pada sekolah menengah) tergoda untuk mencemplungkan diri pada sebuah arena permainan yang selama ini hanya dikenalnya dari buku-buku sejarah. Pada awalnya dia, yang menonjol bakat kepemimpinannya diajak mengikuti sebuah organisasi mahasiswa ekstra kampus, dan mulailah perjalanan hidupnya diwarnai dengan berbagai hal, dan munculah kembali pertanyaan-pertanyaannya tentang sejarah. Kembali ia tergoda untuk meragukan berbagai hal yang diyakininya selama ini sebagai sebuah keyakinan sejarah yang tak dapat diganggu gugat. Dia membaca berbagai buku serta media massa dengan begitu lahapnya, tanpa memperdulikan dari mana sumber tulisan itu. Dia teramat lapar, ingin dilahapnya semua informasi yang didapatnya, karena dengan begitu, menurutnya akan didapatkan sebuah keseimbangan, sebuah keadilan dalam menilai segala sesuatu.

************

Berbicara dengannya seperti berbicara dengan sejarah yang berlalu lalang di depan mata. Referensi tentang berbagai hal, sepertinya telah dikuasainya dengan sangat mengagumkan. Janganlah lagi jika ditanya tentang gerakan mahasiswa, yang dapat diceritakan dan dianalisisnya secara luar biasa, tentang berbagai hal diluar itu pun seperti filsafat, seni, agama dan masih banyak lagi akan dibahasnya, dari berbagai sudut latar belakang sejarah.

Ada satu hal yang mungkin merupakan kekurangan (atau kelebihannya barangkali), selama ini aku tak melihat ada seorang wanitapun yang menjadi orang istimewa disampingnya atau sebutlah pacar atau kekasih yang menjadi tumpahan perasaan dan perhatiannya. Sepertinya ia memperlakakukan semua orang baik lelaki maupun perempuan dengan perlakuan serta perhatian yang sama. Ah, itu kan urusan dia ya? Mau punya pacar atau tidak, itu kan tidak ideologis, katanya suatu ketika. (Ha…ha.. aku sering ingin tertawa sendiri jika mendengar argumentasinya, sambil menjabarkan tentang segala hal tentang cinta, menurut Erich Fromm, Sigmund Freud, Gibran serta penyair-penyair romantis yang dikenalnya lewat buku-buku, dan menyimpulkannya sendiri dengan muara kepada dirinya sendiri. Dasar! ).

Boleh dibilang, Dia adalah sosok manusia yang humanis yang menempatkan cinta sebagai sebuah wacana universalitas, dan kehidupan manusia demikian penting sehingga harus diberi makna, sesuai kodratnya. Dia akan teramat marah, ketika ketidakadilan nampak di depan matanya. Sebagai seorang aktivis mahasiswa yang mengetahui seluk beluk intrik politik dan permasalahan dalam masyarakat, lengkap dengan teori-teori yang didapat dari buku bacaannya ia seringkali menulis tentang berbagai hal tersebut.

Aku sering membaca tulisan-tulisannya itu baik essay, kolom, artikel, cerpen dan puisi. Ya, rupanya dia memiliki kemampuan lebih dalam dunia tulis menulis. Mungkin kegelisahan yang ia rasakan selama ini membuahkan inspirasi bagi tulisan-tulisannya.

***********

Suatu ketika, aku disodori beberapa tulisannya tentang fenomena kerusuhan yang melanda di segala penjuru tanah air. Sambil mendengarkan penjelasannya yang panjang lebar, aku membaca tulisan-tulisan yang hendak dikirimkannya ke media massa di ibukota. Wah, sepertinya dia teramat marah dan sangat emosional dalam menyikapi permasalahan ini. Seakan dia lupa, bahwa dalam menyikapi sesuatu harus seimbang dan adil penuh objektivitas, seperti yang dikatakannya padaku dulu. Kini, ia teramat subyekif dan sentimentil, dan melantangkan kemarahannya pada satu titik tertentu.

Mungkin, pertemuanku denganya saat itu adalah pertemuan yang terakhir, karena sudah beberapa hari ini aku tak pernah lagi berjumpa dengannya. Mungkin dia mati atau ditangkap saat melakukan aksi, aku tak tahu. Tak ada sumber berita yang dapat aku korek dengan jelas. Yang pasti, sosoknya itu dan pemikiran-pemikirannya telah membuahkan inspirasi bagiku.

Aku belajar menulis kepadanya, menulis essay, cerpen, artikel, kolom, serta puisi. Dia sangat suka kalau aku sodori puisi-puisi yang bertemakan sosial. Katanya, nah ini baru puisi namanya. Aku teringat Dia, seseorang yang berarti bagi sekelilingnya, walau mungkin sejarah tak mencatatnya. Karena katanya, Sejarah hanya milik orang-orang besar dan serdadu!

Untuknya aku pernah menulis begini:

Bicaralah, aku kan mendengarkan kata-katamu sebagai bisikan pilu dari seorang manusia yang menghuni dunia sakit jiwa. Tatapan kosong. Senyum yang ditebarkan pada ruang. Kau lihatkah Freud menyorotkan senternya ke dalam matamu. Menemukan deretan panjang keluhan, ditekan dalam ke alam bawah sadarmu yang gelap. Berapa lagi pil penenang yang harus ditelan untuk melupakan mimpi buruk kenyataan yang berulang datang, dan lari ke dunia mimpi.

Langkah itu begitu ganjil bikin tatapan heran sekelilingmu yang penuh tatakrama. Penuh aturan manusia. Adat istiadat yang mengharuskan kau berbuat normal.Lampu senter yang disorotkan ke dalam mata. melihat keterasingan di dalamnya. Penuh makian!

Dia pun tertawa membacanya, dan berkomentar: ah, kau anggap aku gila ya…mungkin benar juga, tapi sepertinya kita dihimpit oleh persoalan-persoalan yang membelenggu pemakanaan terhadap kehidupan manusia.

****

Namun, ada beberapa tulisan lagi yang belum dibacanya, yang aku tulis setelah pembicaraan tempo hari, mungkin aku terpengaruh argumentasinya.

Meledak juga akhirnya, kemarahan itu, membakar gedung-gedung serta harta benda yang begitu kau cintai. Massa yang mungkin sukar kau mengerti maunya. Orang-orang yang menyimpan api dalam kepalanya dari waktu ke waktu, rasakan berjuta perasaan dalam dada bergalau tak karuan. Orang-orang yang memandang pameran kemewahan, namun mereka tiada mampu memilikinya, walau keringat telah diperas begitu deras, walau tulang belulang telah dibanting dengan begitu keras. Namun tetap saja yang terlihat ketidakadilan yang disodorkan di mana-mana. Mengapa kau tanyakan lagi; apa sebab kerusuhan itu terjadi. Darah membanjir. Air mata mengalir. Sedangkan jeritan itu tiap detik diperdengarkan meminta perhatianmu. Dan tak juga telingamu mendengarnya?

Jemariku melukis dengan gemetar sebuah kota yang gemuruh, yang mencampakkan orang–orang yang kesepian ke dalam plaza, diskotik, cafe yang riuh serta ruang hotel hendak lunaskan mimpi senggama. Karena industrialisasi (juga modernisasi + westernisasi) telah mencemplungkan mereka ke dalam limbah-limbah pabrik dan melemparkannya ke udara yang pengap. Namun tak jera juga manusia mengadu nasibnya dengan map penuh kertas di tangan mengetuk pintu-pintu kantor, dimana mimpi-mimpi akan di simpan di dalamnya .

Dan pada kerusuhan yang meledak di segala penjuru. Kita tatap wajah siapa. Selain orang-orang yang lelah dan benak penuh api, yang akan membakar, apa saja. Di tanganku yang gemetar, kota yang meledak menggigilkan harapan ke sudut-sudut peradaban.
Malang, 22 Juli 1997

Tags: ,

31 DecSCB dan Pembaharuan Estetika Puisi (1)

Esei: Nanang Suryadi

Sutardji Calzoum Bachri (SCB) sering membanggakan tahun-tahun masa kreatifnya tahun 1970-an. Ujarnya, “Tahun 1970-an adalah masa paling semarak dalam ekplorasi kesenian. Bukan hanya sastra tetapi juga dalam bidang seni lainnya: tari, teater, seni rupa. Dalam puisi berbagai perambahan dan pembebasan dilakukan.”

Dengan mengacu kepada buku Korrie Layun Rampan Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia, SCB menunjukkan betapa sulitnya menemukan pembaharuan dalam sejarah sastra kita yang cukup panjang. Katanya, “Bolehlah dikatakan hampir selalu sejarah perpuisian modern sebagai suatu estafet Generasi berikutnya meski berlari sekencang abad teknologi ini, tetaplah masih saja memegang tongkat estafet dari generasi pendahulunya.”

Ujarnya pula: “Pemikiran dan pembebasan puisi dari generasi sebelumnya, tahun 1970-an, masih merupakan landasan tempat bergerak dan bertumpunya kreatifitas penyair dari angkatan 2000-nya Korrie.”

Hal tersebut bukanlah suatu yang mengherankan, karena kata SCB pula: “Semakin panjang sejarah sastra modern dari suatu bangsa semakin sulit bagi generasi berikutnya untuk melakukan eksplorasi sastra. Seakan-akan lahan untuk melakukan pembaharuan semakin sempit.”

Ketika Jamal D Rahman, penyair yang mulai berproses kreatif di tahun 1980-an bertanya: “Apalagi yang bisa dilakukan kalau hampir segala perambahan pengucapan puitik telah dilakukan oleh para penyair sebelumnya?” SCB dengan segera menyatakan, “Carilah kedalaman!”. Tapi SCB pun menyadari bahwa agaknya dalam kehidupan penyair modern atau masa kini, orang lebih terpesona pada pembaharuan dibandingkan dengan pencarian pada kedalaman.

Beberapa pernyataan SCB di atas diambil dari eseinya yang terkumpul dalam buku Gelak Eseai & Ombak Sajak Anno 2001, yang mengantarkan kita pada pemahaman konsepsi SCB tentang perkembangan persajakan di tanah air.

SCB menyatakan pembaharuan. Jika ada pembaharuan, maka harus ada yang diperbaharui. Apakah pembaharuan ini benar-benar baru, orisinal sebagai sebuah ciptaan pribadi sang seniman? Selama ini mengemuka seakan-akan sang seniman pembaharu telah menciptakan sesuatu yang benar-benar baru, orisinal, seperti Archimedes saat berteriak eureka, sesaat setelah menemukan ilham dari bak mandinya.

Mungkin lebih baik dikatakan bukan sebuah penciptaan baru. Sebagaimana dalam kitab suci semitis dinyatakan penciptaan itu telah berakhir di hari ke enam, maka dapat dikatakan hari-hari selanjutnya adalah penemuan-penemuan kembali apa yang tersembunyi selama ini. Columbus yang menemukan kembali “benua baru” Amerika, setelah para Indian juga Amerigo Vespuci menemukannya hari-hari sebelumnya, dapat dianalogikan dalam hal “penciptaan” karya sastra. Kita dapatnya menyebutnya sebagai “recovery”, bukannya kreasi , jika pemakaian kata “kreasi” menuntut syarat sesuatu yang benar-benar baru, sesuatu yang tak ada sebelumnya.

Kita gunakan penemuan kembali (recovery) ini sebagai alat untuk membongkar mitos-mitos pembaruan penciptaan dalam sastra Indonesia. Dengan melakukan studi terhadap kebudayaan dunia yang lebih luas, maka kita teropong apakah benar para seniman tanah air telah “menciptakan” sesuatu yang baru, bukan sebuah hasil dari transfer dari belahan dunia lain yang lebih dulu menemukannya.

Kita mulai dengan Sutardji Calzoum Bachri, yang baru-baru ini mendapatkan penghargaan dari masyarakat melayu, sebagai seniman utama.

Chairil Anwar (CA) adalah mata kanan perpuisian kita, Sutardji Calzoum Bachri (SCB) adalah mata kirinya, demikianlah kata Dami N Toda. Sajak yang mengalami pembebasan kata dari makna yang membebaninya, yang dilontarkan SCB dengan kredo puisinya, diletakkan Dami N Toda sebagai titik ekstrim yang berlawanan dengan sajak-sajak Chairil Anwar. Namun sebagai sepasang mata, mereka akan saling melengkapi.

SCB selalu mengatakan bahwa ia kembali ke tradisi puisi kuno melayu, yaitu mantra. Tapi ada seorang kawan yang meragukannya dan mengatakan bahwa SCB menyerap dari khazanah dadaism yang nihilistic dan surrealism yang berkembang di barat selepas Perang Dunia I. Kawanku itu berargumen bahwa sebuah mantra tak akan dimengerti artinya. Ia merupakan kata-kata rahasia yang diucapkan oleh seorang dukun atau cenayang yang mungkin sedang ekstase dirasuki oleh mambang peri yang dipanggilinya. Namun pada sajak-sajak SCB (yang terkumpul dalam buku O, Amuk, Kapak), kata-kata di situ walaupun dibuat sedemikian rupa sehingga terasa kacau namun dapat ditarik ke sebuah fokus, sebuah tema yang menjadi ide dasar puisi.

Perang dunia I yang menimbulkan korban kemanusiaan yang besar, menimbulkan ketidakpercayaan para dadais terhadap karya seni yang sebelumnya dianggap luhur dan memberikan manfaat bagi kemanusiaan. Mereka dapat dikatakan menjadi anti seni dan nihilistic. Dalam lapangan sastra, para “penyair” dadaism menerabas aturan bentuk-bentuk dalam tradisi perpuisian di barat sebelumnya yang telah memiliki aturan-aturan yang ketat dalam mengatur struktur sebuah sajak, di mana sajak dibuat dengan teratur dalam verses, dengan komposisi ritme dalam jumlah-jumlah baris yang tertentu pula, seperti iambic, trochaic, anapestic dan dactyclic dsb.

Pengaruh surrealism dengan automatic writingnya, dapat ditemukan dengan jelas dalam proses kreatif SCB yang terdapat dalam kredonya itu: dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. Dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari-nari di atas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mundar-mandir dan berkali-kali menunjukan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin ditekankan kepadanya. Sebagai penyair saya hanya menjaga -sepanjang tidak mengganggu kebebasannya – agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri, bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.

31 DecProses Kreatifku (1)

Esei: Nanang Suryadi

Pada November 2002, buku kumpulan puisiku “Telah Dialamatkan Padamu” terbit. Berbeda dengan buku-buku kumpulan puisiku sebelumnya: “Sketsa”, “Sajak di Usia Dua Satu”, “Orang Sendiri Membaca Diri” serta “Silhuet Panorama dan Negeri Yang Menangis” –yang aku terbitkan dan cetak sendiri difotokopi atau dicetak offset, dengan jumlah paling banyak 200-an eksemplar– bukuku yang terakhir ini diterbitkan oleh sebuah penerbit profesional. Penerbitnya adalah Dewata Publishing.

Ketika aku memberitahu kepada rekan-rekan bukuku akan diterbitkan oleh sebuah penerbit profesional, banyak dari mereka berkomentar: “wah kamu beruntung sekali”. Bahkan ada seorang penyair yang sudah sangat terkenal menunjukan keheranannya, “wah, masih ada juga ya, penerbit yang mau bikin proyek rugi.”

Memang, dalam dunia perbukuan di tanah air, menerbitkan karya-karya sastra terutama puisi dianggap tidak menguntungkan dalam hal perputaran modal yang ditanamkan. Dibandingkan dengan penerbitan buku-buku pelajaran atau buku-buku jenis lain yang perputaran kembalinya modal serta keuntungan kepada penerbit lebih cepat, buku-buku sastra lebih lambat. Di kelompok buku sastra, mungkin buku novel dan kumpulan cerpen lebih bernasib baik dalam hal menarik minat pembeli dibandingkan terhadap buku puisi.

Tapi syukurlah, hingga saat ini, di tanah air masih ada penerbit yang mau menerbitkan buku kumpulan puisi. Walaupun karya sastra yang diterbitkan sebagian besar adalah karya-karya sastrawan yang ternama, seperti: Amir Hamzah, Chairil Anwar, Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Sitor Situmorang, Toto Sudarto Bahtiar, Soebagyo Sastrowardoyo, Ramadhan KH, Abdul Hadi WM, Darmanto Jatman, Hammid Jabbar, Toety Herati, Isma Sawitri, Slamet Sukirnanto, Ahmadun Yossi Herfanda, Acep Zamzam Noor, Dorothea Rosa Herliani, Joko Pinurbo, Afrizal Malna, Gus Tf dll. Selain itu ada kecenderungan para penerbit untuk menerbitkan terjemahan karya sastra dunia. Saat ini buku puisi dan prosa Kahlil Gibran yang paling banyak diterjemahkan oleh banyak penerbit, dan menghiasi rak-rak toko buku.

Aku teringat tulisan dari Budi Dharma dalam sebuah eseinya, para pembeli buku karya sastra menurut dugaan Budi Dharma adalah para: penulis sendiri serta orang-orang yang ingin menjadi penulis. Mungkin dugaan Budi Dharma itu tidak betul, karena ada pembaca yang benar-benar hanya pembaca, dan tidak ingin menjadi penulis, entah karena memang tidak berbakat untuk menulis atau tidak memiliki minat ke arah sana. Tapi, seseorang terdorong menjadi penulis karena membaca buku bukan sesuatu yang mustahil.

Aku sendiri, misalnya. Sejak kecil, sejak aku dapat membaca buku dengan baik, mungkin kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar, aku membaca banyak buku-buku cerita kanak, majalah-majalah, koran yang ada di rumahku. Aku kira kebiasaan di waktu kecil itu berpengaruh banyak kepadaku untuk membuat karangan. Waktu kecil, abahku sering mendongeng sambil berbaring-baring menunggu kantuk tiba. Aku, adikku dan kakak-kakakku sangat senang mendengarkan dongeng dari abahku itu. Dongeng-dongeng yang dibaca oleh abahku dari buku-buku atau majalah diceritakan kembali, dalam bahasa Sunda, bahasa yang dipakai abahku untuk berbicara dalam keluarga.

Dongeng-dongeng dalam bahasa Sunda selain diperkenalkan abahku melalui dongeng lisan menjelang tidur, juga aku baca sendiri dari buku-buku setelah aku dapat membaca. Aku sangat menyukai dongeng tentang sakadang kuya, sakadang monyet, sakadang peucang, sakadang buhaya, Si Kabayan, Sangkuriang, Lutung Kasarung. Penguasaan bahasa Sunda dalam keluargaku dipengaruhi oleh abahku yang berasal dari Bandung. Selain bahasa Sunda, akupun mengenal bahasa Jawa. Karena dalam keluargaku dipakai dua bahasa daerah, dari abahku aku mengenal bahasa Sunda, sedangkan dari ibuku serta teman-temanku bermain aku mengenal bahasa Jawa banten. Abahku selalu berbicara dalam bahasa Sunda, entah kepada anak-anaknya maupun kepada ibuku. Kami, anak-anaknya menJawab dalam bahasa Jawa atau bahasa Sunda. Sedangkan ibuku, paling sering memakai bahasa Jawa bahkan jika berbicara dengan abah yang sedang berbicara dengan bahasa Sunda. Persoalan pemakaian bahasa yang campur aduk Jawa dan Sunda dalam keluargaku tidaklah menjadi persoalan, karena masing-masing sebenarnya memahami apa yang sedang dibicarakan.

Di rumahku banyak buku bacaan. Buku-buku dan majalah atau koran yang dilanggani abah dan ibuku, karena kantor tempat mereka bekerja mewajibkan berlangganan dengan dipotong dari gaji, menumpuk di rak-rak buku. Abah dan ibuku bekerja sebagai guru. Abahku mengajar di SD dan SMP, sedangkan ibuku mengajar sebagai guru agama di SD dan madrasah ibtidaiyah. Abah dan ibu selalu membawa majalah atau koran yang dilanggani itu setiap pulang mengambil gaji di awal bulan. Aku cepat-cepat meminta majalah itu dan mencari kolom dongeng, cerita serta komik di dalamnya, dan menikmati membaca sambil tidur-tiduran (kebiasaan yang tak bisa aku tinggalkan sampai kini, membaca sambil berbaring).

Selain majalah langganan dari instansinya itu, abahku juga sering membawakan aku buku-buku dari perpustakaan sekolah, yang aku baca sampai habis. Selain itu, aku ikut membaca majalah Bobo (majalah anak-anak) dan majalah Mangle (berbahasa Sunda) dari tetanggaku yang berlangganan. Hanya saja aku tidak diperbolehkan membaca majalah-majalah baru. Aku hanya membaca majalah-majalah yang sudah ditumpuk-tumpuk di rak. Suatu ketika, aku minta abahku berlangganan majalah Bobo. Abah memenuhi permintaanku itu. Aku mengenal Bobo, Deni Manusia Ikan, Juwita dan banyak lagi tokoh-tokoh rekaan dari majalah itu. Selain majalah Bobo saat itu aku juga membaca majalah Kuncung dan Ananda sesekali.

Perkenalan dengan dunia puisi lebih dekat, saat aku kelas lima diminta untuk mewakili sekolahku untuk ikut lomba baca puisi. Aku lupa, puisi apa yang aku baca saat itu. Sepertinya tidak berbeda jauh dengan lomba-lomba pembacaan puisi sekarang, sajak-sajak Chairil Anwar dan Toto Sudarto Bahtiar yang sering menjadi bahan pembacaan puisi.

Saat kelas satu SMP, aku paling menonjol dalam pelajaran bahasa Indonesia. Pernah suatu ketika, guru bahasa Indonesiaku meminta murid-murid di kelasnya menulis sajak dan membacakannya di depan kelas. Saat itu aku menulis sajak bertemakan perjuangan, dan saat membacakannya dengan suara yang lantang dan berapi-api. Aku sangat ingat, Ibu Rahayu, nama guru bahasa Indonesiaku, saat itu langsung memberikan nilai 9 di atas kertas puisiku. Wah, senang sekali rasanya.

Saat di SMP, aku sering meminjam buku-buku sastra di perpustakaan sekolah. Pengelola perpustakaan bernama Bapak Sulaiman, yang sering juga dipanggil Pak Leman. Ia banyak berperan dalam memperkenalkan sastra kepadaku. Jika ada kegiatan lomba pembacaan puisi aku sering diminta untuk mewakili sekolah bersama seorang kakak kelas perempuan. Kakak kelasku itu sampai aku SMA sering bersama-sama aku mewakili sekolah dalam lomba baca puisi. Namanya Lisa Diana. Pada sebuah acara perpisahan kelas 3, Lisa Diana diikutkan Pak Leman membantu aku dan teman-teman sekelasku dalam penampilan parade pembacaan puisi. Pembacaan puisi dilakukan bersahut-sahutan.

Pada masa-masa itulah, aku mulai mencoret-coret bukuku, buku harianku, atau kertas apa saja. Aku mulai keranjingan menulis sajak. Banyak teman-teman yang meminta aku menuliskan sajak untuknya. Aku dengan senang hati menuliskan sajak untuk mereka. Entah sajak jenis apa, aku sudah lupa. Tapi saat ini sisa-sisa sajakku saat itu sepertinya masih ada, kalau aku cari lagi di tumpukan berkas-berkasku. Yang jelas, sajak-sajakku saat itu, tidak terlalu berbeda jauh dengan sajak para remaja yang mulai menulis sajak, yang biasanya semacam curahan hati dengan kata-kata yang patah dan emosional, atau kalau tidak menjadi sajak penuh nasehat yang normatif. Tapi aku sangat percaya diri dengan sajak-sajakku saat itu. Semua coretan-coretan yang aku anggap bagus, aku ketik ulang. Kemudian sajak-sajak itu aku jilid dan diberi sampul kertas yang berwarna-warni (hasil praktek keterampilan mewarna kertas dengan cara mencelupkan ke dalam air yang telah dicampur cat besi dalam berbagai warna). Sajak-sajak dalam manuskripku yang pertama itulah yang aku baca saat ada acara api unggun di awal aku masuk SMA.

31 DecProses Kreatifku (2)

Esei: Nanang Suryadi


Di masa SMA, minatku terhadap dunia seni sastra semakin kuat. Di masa itu, aku mulai membaca karya-karya sastra dari majalah Hai, Kompas, Pikiran Rakyat dan Koran Mingguan Swadesi. Penulis-penulis seperti Gola Gong, Gus Tf, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, Remi Novaris DM, dll, kerap aku jumpai tulisannya di majalah Hai. Ruang pertemuan kecil di Pikiran Rakyat yang diasuh oleh Saini KM menarik perhatianku untuk membacanya, selain tentu saja membaca sajak-sajak yang ditampilkan di sana. Cerita bersambung di Kompas tak urung aku ikuti setiap hari. Sedangkan di koran Swadesi, aku mengikuti kolom sastra warung Diha yang memberikan kiat-kiat bagi penulis. Aku sering menulis surat kepada pengasuhnya, Mbak Diah Hadaning, sambil mengirimkan sajak-sajakku. Hampir tak percaya, suatu minggu aku baca di koran Swadesi pertanyaan dariku dimuat dan diJawab oleh Mbak Diah Hadaning sendiri. Kalau tidak salah pertanyaanku saat itu adalah tentang bagaimana cara mengatasi kemacetan ide dalam berkarya.

Di saat SMA itu, kegiatanku berkesenian dan menulis bertambah. Aku mengurus majalah dinding SMA dan juga menjadi pendiri teater. Puisi-puisiku semakin banyak. Berbagai tema puisi aku ambil, antara lain cinta, politik, sosial, ketuhanan dll. Namun yang cukup dominan sajak yang terlahir adalah sajak-sajak cinta dan patah hati. Terlebih lagi ketika aku jatuh cinta dan patah hati pada seorang adik kelas.

Hampir setiap saat aku menulis sajak. Sajak-sajak yang penuh semangat keremajaan itu seringkali aku bacakan sendiri di sebuah radio di dekat SMA-ku. Setiap hari Jum’at malam pembacaan sajak yang sudah direkam sebelumnya disiarkan pada pukul 22.00 -24.00. Aku pun mulai rajin mengirim karya ke berbagai media dari media instansi yang dilanggani abah dan ibuku, serta majalah dan koran umum.

Kegigihan untuk terus menerus mengirimkan karya itu mulai memperlihatkan hasil. Karya-karyaku mulai dimuat di beberapa media instansi, yaitu di majalah media pembinaan dan tabloid mingguan pelajar. Senang sekali karyaku bisa dimuat media seperti itu. Aku mendapatkan surat-surat dari para pembaca yang menanyakan bagaimana caranya menulis puisi. Akupun menjawab sekenanya saja, malah akhirnya pembicaraan menjadi tidak fokus kepada puisi, tapi kenalan dan membicarakan lain hal.

Kegairahanku terhadap sastra semakin bertambah. Dari perpustakaan sekolah, aku membaca banyak lagi buku-buku puisi, antara lain karya: Kahlil Gibran, Heru Emka, Zawawi Imron, Chairil Anwar, Subagyo Sastrowardoyo, Sapardi Djoko Damono, Rendra, Fariduddin Attar, dll. Selain itu, aku juga suka mengkliping artikel-artikel tentang sastra dan puisi dari berbagai media.

Walaupun di SMA aku mengambil jurusan fisika, aku berpikir kalau kuliah aku tidak mau meneruskan yang berhubungan dengan fisika, kimia atau matematika. Aku sadar, bahwa ternyata aku payah dalam hal hitung menghitung, sering ceroboh, kurang teliti! Dari berbagai alternatif yang ada aku memiliki gambaran bahwa aku ingin masuk ke bidang yang aku minati: kepemimpinan! Aku memilih jurusan manajemen. Selain itu sebenarnya aku memiliki keinginan juga untuk masuk ke IKJ dan jurusan sastra. Hanya saja dengan berbagai pertimbangan, usaha serta nasib, mengantarkanku ke jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Unibraw, Malang.

Di masa-masa kuliah ini, kegiatanku berkesenian serta berorganisasi semakin menjadi. Hampir semua unit kegiatan mahasiswa di fakultasku baik intra dan ektra aku masuki. Dari semua kegiatan organisasi mahasiswa itu, yang sangat berpengaruh bagi minatku menulis dan berkesenian adalah saat mengikuti pers mahasiswa dan teater. Aku aktif unit kegiatan pers mahasiswa fakultas dan universitas. Begitu juga di teater, aku menjadi salah seorang pendiri dan sekaligus menjadi ketua teater mahasiswa di fakultasku. Dan pernah juga menjadi ketua teater di tingkat universitas.

Kegiatan di organisasi mahasiswa, mendorongku untuk membaca buku-buku puisi pamflet Rendra. Aku pernah sangat terkagum-kagum pada sebuah film yang dibintangi Rendra, judulnya: “Yang Muda Yang Bercinta.” Segala gaya membaca puisi Rendra aku tiru saat pembacaan puisi. Dan memang, aku sering didaulat untuk membacakan sajak pada saat acara-acara demonstrasi mahasiswa dan acara penyambutan mahasiswa. Aku masih ingat bagaimana sebagai mahasiswa semester awal, dalam acara pemilihan Badan Perwakilan Mahasiswa, membacakan sajak Rendra yang sarat kritik. Di lain kesempatan di depan ribuan mahasiswa baru di stadion di kampusku, aku bawakan sajak seakan-akan saat itu aku menjadi Rendra sang burung merak. Selain sajak Rendra, sajak-sajak Emha Ainun Nadjib sering menjadi bahan pembacaan sajakku di depan umum. Tentu saja ada beberapa sajakku sendiri yang aku baca, dan pernah diminta oleh seorang intel.

Aku masih rajin menulis sajak dan mengirim ke berbagai media. Di Malang aku bertemu dengan Akaha Taufan Aminudin (ATA), seorang penggerak kegiatan sastra di daerah Batu. Aku sering berkunjung ke rumahnya dan berdialog banyak hal, di rumahnya yang menjadi sekretariat HP3N yang menerbitkan buletin sastra. Aku mengirim sajak-sajakku untuk buletin itu dan mengikuti antologi serta perlombaan yang diadakan HP3N. Beberapa sajakku menghiasi buletin serta antologi yang diterbitkan oleh HP3N-Batu itu. Bahkan ada yang masuk menjadi salah satu puisi terbaik. Selain berdiskusi di rumahnya, ATA juga mengajakku untuk membaca puisi di sebuah radio di atas kota batu (Songgotiti). Setiap malam setelah pukul 24, kami turun ke kota Batu berjalan kaki, dan sebelum kembali ke rumah ATA, bersantai dulu di warung-warung dekat alun-alun Batu, yang saat itu masih ada tugu apelnya.

Lewat organisasi yang dikelola ATA inilah aku mengenal banyak nama-nama penulis dan berkenalan langsung saat ada pemberian hadiah lomba yang diadakan HP3N. Aku mengenal Kusprihyanto Namma, Bonari Nabonenar dll dari “Revitalisasi Sastra Pedalaman” dan ikut menghiasi halaman jurnalnya dengan puisiku. Aku semakin banyak mengenal seniman-seniman sastra di Kota Malang.

Selain ATA, ada sosok lain yang juga membawa pengaruh kepadaku, yaitu: Mas Wahyu Prasetya seorang penyair yang sudah banyak mempublikasikan karyanya. Selain itu adalah pak Hazim Amir (Alm), seorang dosen sastra IKIP Malang, yang cukup disegani dan dikenal sebagai budayawan dari Kota Malang. Dengan dua orang ini aku sering berdialog membicarakan banyak hal, selain meminjam buku-buku mereka yang menarik untuk aku baca. Keduanya memiliki karakter keras. Tidak memberikan ampun bagi karya-karya yang dianggap jelek. Wahyu Prasetya, saat aku perlihatkan beberapa puisiku, dia baca dan dengan seenaknya menyilang sajak-sajak yang dianggapnya jelek.

Suatu ketika, beberapa puisiku dimuat di Republika. Teman-teman banyak yang mengucapkan selamat. Bahkan Pak Hazim Amir, saat bertemu denganku, langsung menyapaku: “hei, penyair.” Wah, aku sudah menjadi penyair! Kataku dalam hati.

30 DecProses Kreatifku (3)

Esei: Nanang Suryadi

Geli juga saat seseorang menyapaku sebagai penyair. Di lingkungan kampus, di antara teman-temanku, di antara lingkungan pergaulan yang lebih luas, mereka seringkali mnghubung-hubungkan aku dengan sastra, khususnya puisi. Dan mereka tak segan memanggilku: penyair. Entah mengapa. Mungkin mereka melihat aku demikian mencintai dunia yang satu ini. Dan aku memang sering mengatakan: “aku mencintainya dengan keras kepala.”

Konsistensi. Mungkin itulah kata kuncinya. Ketika seseorang terus menekuni suatu bidang dengan terus menerus, maka orang lain akan “mengakui” seseorang tersebut “berada” dalam bidang tersebut. Hal inilah yang terpikir dalam benakku saat ada yang meributkan masalah “pengakuan” atas eksistensinya di dunia kepenyairan. Pengakuan dari orang lain atas “keberadaan” dan “keberartian” kita bagi suatu lingkungan, sebenarnya mudah sekali, jika kembali pada satu kata kunci tadi: konsistensi. Apakah seseorang tersebut serius terus menerus menggeluti bidang yang ingin dia diakui keberadaannya. Atau hanya sambil lalu saja. Walaupun, seperti dikatakan Budi Dharma, sebagai sebuah sindiran dalam eseinya terhadap para sastrawan kita, bahwa ternyata kebanyakan hanya iseng, mencoba-coba, sambil lalu saja. Dan kerja iseng itu ternyata telah mendapatkan “pengakuan” luar biasa dari orang lain. Mungkin yang dikatakan Budi Dharma itu benar adanya. Mungkin pula tidak. Mungkin akupun sebenarnya belum sungguh-sungguh alias hanya iseng saja menulis sajak, tidak mau mengeksplorasi penuh dan total untuk menjadikan sajak sebagai sebuah kegiatan yang serius dan penuh perhatian. Walaupun, ternyata kerja “iseng” tadi sudah mendapatkan “pengakuan” dari berbagai redaktur sastra yang memuat sajak-sajakku di ruang koran, majalah, jurnal dan laman situs. Tapi, iseng atau tidak terus terang aku mencintainya. Mengapa aku mencintainya? Sukar aku mengatakannya. Mungkin suatu ketika aku tak mencintai dunia kata-kata ini. Seperti terkadang akupun mulai jenuh dan membencinya. Tapi hal tersebut, selama ini tak berlangsung lama. Saat ada ide yang menggoda, aku pun kembali untuk mencintainya. Ah, padahal puisi tak harus digeluti sampai mati bukan? (aku lupa, apakah kalimat ini pernah dikatakan Tardji pada sebuah tulisannya yang aku baca suatu ketika).

Aku sering mendengarkan komentar orang lain terhadap kegiatanku menulis sajak. Komentar mereka diantaranya: aku terlalu produktif menulis. Salah satu orang yang berkomentar tentang hal yang sama adalah Sutardji Calzoum Bachri. Dia adalah salah seorang teman berdialog kalau bertemu di kafe di Tim. Walaupun dialog sebenarnya tidak terlalu tepat, karena sebenarnya dia

yang paling banyak omong dan aku mendengarkan saja celotehannya tentang berbagai hal. Tardji bilang: “Nanang, jangan terlalu rajin nulis puisi.” Aku hanya tertawa saja, lantas bertanya: “Kenapa bang?”

Terlalu rajin menulis, kata Tardji, akan membuat sajak-sajakku menjadi cair. Cair? Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Tapi apakah aku harus menyiksa diriku untuk tidak menuliskan apa yang harus aku tuliskan. Seperti orang kebelet mau ke WC, lalu ada orang bilang: “Nanang, jangan terlalu rajin, nanti cair.” Hehehe, geli juga aku memakai analogi seperti ini. Aku lebih menyukai sering menulis sajak. Mungkin lebih dari 1000 sajakku saat ini. Bagus atau jelek, aku tetap mengakui itu adalah sajak-sajakku.

Sejak aku belajar menulis, aku merasa lebih mudah membuat sebuah sajak, walaupun hasilnya buruk. Aku pernah mencoba menulis cerpen, jumlah cerpen yang jadi hanya sedikit, sebagian besar tidak terselesaikan, karena sudah menghabiskan berhalaman-halaman tapi tak kunjung dapat aku hentikan. Aku mungkin tak begitu peduli dengan “nasib” cerpen-cerpenku, baik yang sudah jadi maupun yang tak jadi itu. Menulis esei juga merupakan sesuatu yang tidak mudah bagiku. Biasanya aku memiliki gagasan besar, menulis judul, lalu menulis beberapa paragraf, setelah itu berhenti dan aku tinggalkan. Aku pikir, aku menyukai menulis sekali jalan dan dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Mungkin karena itulah, aku lebih cenderung untuk menulis sajak.

Dalam menulis sajak, aku tak peduli apakah hasilnya jelek atau bagus. Aku tak ingin gagah-gagahan mengatakan bahwa aku mempersiapkan kosa kata dan mencari kata sampai ke inti sampai ke tulang sumsum seperti Chairil Anwar misalnya. Aku siap sedia dengan dengan segala keterbatasan kosa kata yang terkumpul selama ini dalam benak kepalaku, dan mulai menulis sajak ketika ada suatu sentuhan yang merangsang kata-kata itu keluar menjadi rangkaian-

kata yang disebut sajak. Sentuhan, yang membuka seluruh pengalaman fisik dan batinku selama ini. Jadi, sebenarnya, puisi itu telah ada dalam diriku, hanya saja harus ada suatu pemicu yang membuka seluruh pengalaman puitikku tadi. Pengalaman puitik sering kudapat saat berjalan-jalan, saat ngobrol, saat nongkrong di WC, saat melamun sendirian berbicara dengan Tuhan, saat apa saja. Memang, pernah pula aku mencoba untuk mencari kata-kata dari kamus dan menyengaja untuk membuat sebuah sajak, namun hasilnya tidak memuaskan, karena menjadi sangat teknis, tidak lancar dan seperti menjadi sekedar keterampilan mengolah kata-kata.

Sajak bagiku adalah sebuah dialog. Dengan sajak aku ingin berdialog, maka tak heran jika sering ditemui kata-kata: “mu”, “kita”, “aku” yang merupakan tanda bahwa ada semacam percakapan di situ, sebuah interaksi. Dalam sajak- sajakku, aku kadang-kadang menempatkan diriku bukan dalam posisi “ku” tapi dalam posisi “mu” atau “dia” atau kata ganti lain.

Aku seringkali menyapa seseorang dengan kata-kata yang akrab dikenalinya. Kata-kata yang sering diucapkannya, atau dituliskannya. Dalam sajakku aku tak ragu untuk menyapa Chairil yang menyapaku lewat sajaknya yang menyentuh saat kubaca. Hal yang sama bisa aku lakukan dengan sajakku aku pun menyapa Amir Hamzah, Rendra, Sapardi, Sutardji, Goenawan, Eka Budianta, Afrizal Malna, Subagio Sastrowardoyo, Acep Zamzam Noor, Gus Tf, Dorothea Rosa Herliani, Wahyu Prasetya, Kunthi Hastorini, Anggoro, Yono Wardito, Rukmi Wisnu Wardani, Indah Irianita Puteri, Hasan Aspahani, TS. Pinang, Saut Situmorang, Heriansyah Latief, Medy Loekito, Tulus Widjanarko, Sutan Iwan Soekri Munaf, Ramli, Suhra, Nietszche, Adonis, Rummi, Attar, Octavio Paz, Pablo Neruda atau siapa saja. Bahkan, sebenarnya yang paling sering aku lakukan adalah: menyapa Tuhan melalui sajak-sajakku. Ya, dengan sajak aku

berdialog.

Aku tak takut pada pengaruh para penulis-penulis lain. Aku terima segala pengaruh itu dengan senang hati. Yang memperkaya pengalaman jiwaku. Dan aku mencoba berdialog saat membaca karya-karya tersebut. Aku menciptakan kembali sajak tersebut menjadi puisi dalam angan pikiranku. Mungkin tak sama dengan apa yang dimaui pengarangnya. Tapi bukankah aku berhak memaknai kata-kata yang telah dituliskan, dengan pemaknaan sesuai pengalamanku sendiri, sesuai dengan imajinasiku sendiri.

Kadang-kadang saat membaca sajak, aku mencoba mencari inti kata yang merupakan kekuatan dari sajak tersebut. Aku “mencuri” kata itu dan menjadikannya titik tolak untuk berdialog. Aku coba mengolahnya kembali menjadi rangkaian kata-kata lain dengan apa yang aku rasakan saat

membacanya. Aku tulis terus menerus mengikuti apa yang terlintas dalam benak kepalaku mengembangbiakan kata yang aku “curi” tadi. Hal ini sering terjadi saat aku membaca sajak melalui milist, yang pada saat itu kubaca saat itu pula aku tergoda untuk menanggapinya. Aku jadi terbiasa menulis spontan. Mungkin pada saat itu aku sedang membangkitkan rasa yang terpendam dalam alam bawah sadarku. Mungkin. Hanya saja, bagi orang lain mungkin sajak-sajakku menjadi monoton, karena kosa kata yang muncul sering diulang-ulang dalam banyak sajak-sajakku.

Kegiatan bersastra di internet selama 4 tahun belakangan ini, aku akui mendorongku untuk menulis lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya. Seringkali aku menulis sajak demikian banyak, ketika aku berhadap-hadapan dengan email yang berisi sajak teman-teman, dan aku tergoda untuk membalasnya dengan sajak pula. Belum lagi, bila sajak atau email itu ditulis oleh seseorang yang aku cintai. Aku dengan sangat bersemangat untuk membalasnya, dengan sajak pula. Sajak-sajak interaktif ini mungkin dapat diteropong sebagai sebuah gejala baik yang muncul dari kegiatan bersastra di internet (lewat mailing list, chat room, buku tamu dan fasilitas

interaktif lainnya). Ada satu perangkat yang aku pakai juga untuk menulis sajak, yaitu melalui SMS di handphone. Aku sering berbalas-balas sajak melalui SMS tadi.

Baiklah, aku akhiri dulu penuturanku tentang proses kreatif ini. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku ungkapkan. Tapi lain kali saja, kalau sempat.***

30 DecTujuh Musim Setahun, Waktu Mencari Makna Cinta

Esei: Nanang Suryadi

Adakah daya tarik novel yang ditulis dari sudut pandang seorang perempuan yang bercerita tentang kaumnya? “Tujuh Musim Setahun”, sebuah novel karya Clara Ng, mencoba membeberkan secara subtil mengenai orientasi manusia terhadap ruang dunia yang terus berubah, dari beragam pandangan yang berbeda. Di mana muatan ceritanya memunculkan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam perhelatan persahabatan 5 orang perempuan, yang ditulis oleh seorang perempuan. Penghayatan penulis perempuan atas dirinya sendiri barangkali akan berbeda hasilnya jika permasalahan yang sama diceritakan oleh seorang novelis lelaki.

Satu hal lagi yang patut diperhitungkan oleh kehadiran novel ini adalah novel-novel sebelumnya yang terbit di masa yang sama dan mengambil tematik yang hampir serupa. Clara Ng sebagai penulis yang muncul pada masa yang sama dengan Ayu Utami dan Dewi Lestari, novelis yang pada beberapa tahun terakhir ini karyanya banyak dibicarakan. Pada sebagian pembaca mungkin akan segera membandingkan novel karya Clara Ng ini dengan novel “Saman” dan “Larung” karya Ayu Utami serta “Supernova” karya Dewi “dee” Lestari. Apakah Clara Ng menemukan sebuah celah cara pandang yang berbeda dalam melihat perubahan nilai-nilai yang terjadi? Dengan membaca novel ini dapat kita ketahui apa perbedaannya, juga perbedaan dalam penyampaiannya.

Pertanyaan yang mengemuka dalam novel ini: Apa itu waktu? Apa itu Cinta? Pertanyaan itu menjadi tema yang mengikat seluruh rangkaian dalam novel ini. Novel ini dalam banyak babnya menggunakan judul dengan kata awal: musim. Tiap musim yang menandai pergantian bab dalam novel ini sebenarnya dapat dibaca sebagai sebuah cerita yang berdiri sendiri, karena di sana memiliki tokoh utama nya sendiri, namun jika dibaca sebagai sebuah rangkaian novel, maka tiap-tiap bab dan musim itu menunjukan rentangan antar peristiwa yang terjadi, sebab dan akibat yang terjadi.

Clara Ng, penulis novel ini, membuat jalinan peristiwa antar bab yang melibatkan banyak tokoh dalam berbagai kombinasi bercerita. Teknik yang sering dipakai untuk memahami logika cerita dengan merunut waktu kejadian adalah dengan banyaknya penggunaan tanggal, sehingga dapat terasa seperti membaca buku catatan harian para tokoh dalam novel ini. Selain dengan model-model catatan harian, sering juga dipakai penceritaan memakai email serta chating melalui internet. Terkadang, penulis juga menjadi pihak pertama yang menceritakan tokoh-tokohnya sebagai pihak ketiga, kepada pembaca (pihak kedua). Selain itu, teknik yang sering kali dipakai adalah penceritaan oleh sang tokoh utama dalam bab, yang dibiarkan bercerita langsung kepada pembaca. Mereka menceritakan dirinya sendiri, juga bercerita tentang rekan-rekan dalam lingkaran persahabatan. Pada beberapa pengadegan dibuat dengan teknik kilas balik (flash back) atau seperti dalam sebuah film yang menggambarkan perbedaan ruang dalam kesamaan waktu, dengan berselang-seling penceritaannya. Dalam penceritaan oleh tokoh-tokoh dalam novel ini, rentangan yang menghubungkan peristiwa satu dengan yang lainnya pada bab berbeda, tokoh Lara sering muncul pada semua bab.

Secara umum dialog-dialog antar tokoh dalam novel ini tidak terpaku kepada bahasa Indonesia baku. Bahkan pada beberapa penceritaan oleh tokoh, ketidakbakuan itu pun muncul bukan hanya dalam dialog, namun dalam tuturan atau narasi. Dengan demikian dialog antar tokoh menjadi terasa ringan dan apa adanya dalam kehidupan sehari-hari pergaulan. Walaupun begitu, dialog-dialog serius pun masih tetap ada, hal ini dapat ditemui pada beberapa dialog antara tokoh laki-perempuan. Selain itu nampak pula perbedaan ketika dialog batin (konflik psikologis) yang muncul dibuat puitis dan menjadi terasa sublim.

Dalam novel ini terasa bahwa peristiwa demi peristiwa berlangsung pada kelas sosial tingkat menengah – atas. Para tokoh dapat dikatakan sebagai generasi cyber, rata-rata umur para tokohnya berkisar belasan hingga 20-an tahun saat berbagai peristiwa itu digambarkan dalam novel ini. Penggunaan alat komunikasi melalui internet sudah bukan hal yang asing dilakukan oleh para tokoh dalam novel ini. Selain itu digambarkan pula bahwa para tokoh dalam novel ini adalah lulusan perguruan tinggi, diantaranya ada yang sekolah di Amerika Serikat. Wawasan yang terbangun dalam lintas informasi dan pergaulan tersebut dapat meyakinkan latar belakang mengapa pada beberapa tokoh dalam novel ini mengetahui banyak wacana ilmu pengetahuan dan tertarik pada kata-kata hikmah dari berbagai ajaran agama.

Hal yang menarik dapat ditemukan dalam novel ini bahwa ada konsistensi penyelesaian masalah oleh penulisnya. Yaitu dengan membiarkan beberapa tokohnya larut atau menyerahkan pada naluri, yang dicitrakan antara lain dengan ditandai seperti hadirnya kejutan-kejutan listrik atau proses kimiawi yang aneh dalam tubuh.

Tokoh-tokoh dalam novel ini memiliki masalahnya masing-masing, yang penceritaannya dapat diketahui dari tuturan langsung sang tokoh tentang dirinya sendiri, maupun tuturan kesaksian oleh tokoh dalam bab tentang tokoh-tokoh lain dalam bab yang yang lain. Berikut gambaran para tokoh dalam novel tersebut.

Lara, tokoh yang banyak diceritakan dalam novel ini, baik diceritakan oleh penulis, dirinya sendiri, maupun oleh teman dan kekasihnya. Lara diperlihatkan sebagai sosok yang terobsesi dengan kenikmatan birahi. Ia menikmati berbagai sensasi kenikmatan jasmaniah dengan fantasi dunia maya (cyber)/ masturbasi dan real, misalnya berhubungan dengan: Alfa, Nata (masturbasi, cyber dan nyata)dan Michael (di pesawat). Perilaku yang dapat ditelusuri dari masa kecil, di mana secara gamblang Lara menceritakan dirinya sangat menikmati masturbasi sejak umur 7 tahun.

Tokoh Mei dan Kris, sepasang suami istri yang memiliki masalah dalam perkawinan mereka. Mei secara sepintas ia mungkin dapat dikatakan berbahagia, dengan suami dan anak, sepanjang perkawinan, namun ia bermasalah karena tidak pernah mengalami orgasme. Ia hanya mendapatkannya ketika bermasturbasi dengan membayangkan orang lain (atas saran dari Lara, melalui email). Selain itu masalah yang dihadapi Mei adalah perselingkuhan yang dilakukan Kris (suaminya). Agak mirip dengan tokoh Rana di novel “Supernova” karya Dewi Lestari. Jika di novel “Supernova” Rana yang berselingkuh maka dalam novel tujuh musim setahun, suami Mei (Kris) yang berselingkuh. Kris mirip dengan tokoh Arwin dalam novel “Supernova”, yang tidak memuaskan istrinya. Kris berselingkuh dengan istri orang (pelanggan tokonya), yang mengajak berselingkuh. Akhirnya ketahuan. Namun Mei memaafkannya.

Tokoh Iris dan Phoebe, pasangan lesbian yang memproklamasikan diri melalui wawancara di majalah. Hubungan sebab akibat terlihat dalam proses panjang yang menjadikan mereka menjadi sepasang lesbian. Sosok Iris dengan sangat cermat digambarkan oleh Clara dalam berbagai peristiwa. Iris adalah sosok perempuan yang oidipus complex yang akhirnya kecewa dengan laki-laki, antara lain dapat diketahui dari penceritaan tentang ayahnya yang meninggalkan ia dan ibunya; seorang pemuda yang dicintainya di waktu kecil mengalami kecelakaan; guru yang ditaksirnya menolak; dosen yang berselingkuh dengannya menghina di depan umum. Sedangkan Phoebe sejak remaja telah merasakan tanda-tanda bahwa ia hanya menyukai perempuan, jika pun ia pernah menikah dengan Ben (selama 2 tahun yang terasa sebagai neraka) itu disebabkan karena ia masih takut dengan resiko sosial yang harus diterima dari lingkungan keluarga dan masyarakat.

Tokoh Selena, sangat peduli dengan keperawanan. Ia merasa kesepian, karena agak terlambat dibandingkan dengan teman-temannya mengenal sentuhan lelaki. Ia baru merasakan kenikmatan sex setelah perkawinannya dengan Abraham sepupunya yang berbeda agama. Mulanya tidak direstui orang tuanya. Namun mereka kawin lari, menikah dengan memakai catatan sipil. Setelah mengetahui kejadian itu barulah orang tua mereka memberikan restu dan mengadakan pesta perkawinan yang sangat meriah.

Tokoh Nata, berpacaran dengan dua orang Rana (cyber) dan Nuna (real). Nuna, pacar Nata di Amerika, mati setelah koma sekian lama akibat tertembak saat terjebak dalam peristiwa perang antar gang. Nuna agnostic, saat dia mati karena tidak dicapai kesepakatan antar kerabatnya agama apa yang dianut oleh Nuna maka diadakan upacara doa dengan memakai semua agama. Nata menolak kenyataan bahwa Nuna sudah mati. Sangat terpukul dengan kematian Nuna dan terhalusinasi kupu-kupu sebagai jelmaan Nuna, akhirnya bunuh diri terjun dari gedung tinggi, dengan bayangan ia bergabung dengan Nuna menjadi seekor kupu-kupu yang terbang. Klimaks yang bagus, cukup mendebarkan, dengan penggambaran adegan Lara memacu mobilnya, diantara sela-sela penceritaan berbagai hal melalui email berbagai tokoh dalam buku ini, ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Nata.

Tokoh Michael, dihantui penyesalan karena Tania (pacarnya di SMA) mati karena aborsi ilegal. Dalam penyesalannya tersebut, saat berdialog dengan temannya yang bernama Tommy, dia membayangkan jika ia dapat kembali ke “waktu” sebelum kematian Tina. Apa yang dapat ia lakukan agar Tania tidak mengalami kematian. Dapatkah ia mencegah Tania meninggal. Apa yang akan dilakukannya dengan Tania dengan tetap hidup dan mengandung anak di luar nikahnya itu. Michael membayangkan beberapa kemungkinan yang akan ia lakukan jika dapat kembali ke masa lalu, namun alternatif dalam bayangannya itu selalu berakhir buruk (tidak bahagia). Jika akhirnya Michael aktif di LSM advokasi perempuan, adalah seperti sebagai penebusan rasa bersalah kepada Tania. Michael sudah lama tinggal di Amerika. Pertemuannya dengan Lara di pesawat menuju Amerika menjadi titik awal hubungannya dengan perempuan yang terobsesi nafsu birahi itu. Maka tak aneh, jika suatu ketika Lara bercerita kepada rekannya ia bersetubuh dengan Michael di closet pesawat.

Demikianlah gambaran sekilas tokoh-tokoh dalam novel tersebut. Berbagai peristiwa yang dialami oleh tokoh-tokoh yang hadir dalam novel ini dapat merefleksikan banyak perubahan yang terjadi di sekitar kita, yang dengan lancar dirangkai dan dikemas oleh Clara dengan bahasa yang tidak sulit untuk dipahami. Bahkan ketika harus menceritakan tentang segala macam bintang dan konsep jarak dalam ribuan tahun cahaya.

30 DecINTERAKSI SAJAK (1)

Esei: Nanang Suryadi

Sajak tercipta sebagai sebuah reaksi terhadap sesuatu hal yang menyentuh relung puitik seorang penyair. Sebenarnya tak ada yang mengharuskannya menuliskan pengalaman puitiknya itu menjadi sebuah karya. Ia bisa menyimpannya menjadi sebuah pengalaman individual, tak perlu orang lain tahu. Tapi, secara manusiawi banyak orang akan mengabarkan apa yang dirasakannya kepada orang lain, entah itu perasaan suka tak suka, sedih, gembira, marah dan sebagainya. Ya, penyair dalam hal ini ketika menulis sajak-sajaknya ia telah menjadi orang yang mengabarkan sesuatu yang terjadi dalam dirinya saat berinteraksi dengan berbagai hal di luar dirinya.

Apakah sebuah sajak dapat mewakili dengan utuh “Puisi” (dengan P besar, sebagai pengalaman puitik sang penyair). Kata-kata atau bahasa memiliki keterbatasan-keterbatasan untuk mengungkapkan pengalaman puitik tersebut. Jika saja ada sebuah alat yang dapat menghubungkan kepala penyair dengan kepala penikmatnya (seorang rekan menyebutnya alat intersubyektif) tentu tak diperlukan lagi kata-kata atau bahasa untuk mengabarkan pengalaman puitik itu. Bahasa bisa berlebih-lebihan menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi, atau sebaliknya ia bisa mengurang-ngurangi apa yang sesungguhnya terjadi. Dan sesungguhnya tak semua bisa dikatakan dengan ungkapan verbal dengan bahasa yang terucap oleh mulut. Seringkali lewat tatap mata, atau gerak tubuh dapat dapat bercerita banyak dibandingkan dengan kata-kata yang terucap atau tertulis.

Seringkali dikatakan bahwa penyair adalah orang yang sering melebih-lebihkan, menceritakan hal-hal yang tak pernah dialaminya. Dengan kata lain penyair menjadi sosok tertuduh sebagai pendusta. Jika ini dihubungkan dengan keterbatasan kata atau bahasa sebagai alat ungkap, kemungkinan besar itu akan terjadi. Seorang penyair dengan memakai kata-kata atau bahasa tulis yang penuh dengan keterbatasan itu, akan menjadi berlebih-lebihan atau sebaliknya mengurangi apa yang dialami (pengalaman puitik) yang didapatnya dari sebuah interaksi.

Dalam mengungkapkan pengalaman puitiknya itu, seorang penyair berusaha memaksimalkan kemampuan kata-kata (bahasa), yang terbatas itu, menjadikan sajak seakan-akan menayang ulang kejadian puitik yang sesungguhnya. Sebuah sajak yang dapat mengungkap kembali pengalaman puitik sang penyair akan ditangkap oleh pembaca sebagaimana yang ingin diungkapkan. Berbagai teknik dapat dicoba untuk itu. Efek-efek yang timbul dari sajak diharapkan dapat mengungkap kembali hal-hal yang berhubungan dengan bunyi, pemandangan, rasa di lidah, bau di hidung, kasar halus pada kulit sesuai dengan pengalaman puitik yang didapat penyairnya.

Seorang penyair yang merasa telah mapan dengan teknik yang ia kuasai, cenderung malas untuk mencoba-coba. Ia merasa, dengan mencoba-coba maka ia tak memiliki gaya unik yang miliknya sendiri. Dan itu berarti karya-karyanya akan menjadi tak teridentifikasi sebagai karyanya yang orisinal.

 

30 DecINTERAKSI SAJAK (2)

Esei: Nanang Suryadi

Keorisinalan gaya seringkali menjadi beban bagi penyair. Seakan-akan menjadi dosa besar ketika terlihat pengaruh orang lain dalam karyanya. Hal itu diperkukuh dengan vonis-vonis dari kritikus yang cenderung melihat pengaruh orang lain terhadap karya sang penyair sebagai sesuatu yang negatif.

Secara logis, pengaruh orang lain ke dalam karya seorang penyair tidak dapat dihindarkan. Terlebih lagi, sajak adalah hasil interaksi dengan hal-hal di luar diri penyair. Seorang kritikus dapat menelusuri pengaruh-pengaruh tersebut bermula. Ia dapat saja keliru mengidentifikasi. Terlebih lagi di saat sekarang berbagai informasi dari berbagai penjuru dunia demikian banyak, sehingga sangat besar kemungkinan antara identifikasi kritikus terhadap apa yang mempengaruhi karya seseorang bisa meleset. Saya mengandaikan misalnya seorang kritikus menyebut: ada pengaruh Chairil Anwar, Goenawan Mohammad, Sapardi Djoko Damono, Rendra, Subagio Sastrowardoyo, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, Afrizal Malna, Dorothea Rosa Herliani dalam karya seseorang, sedangkan sesungguhnya sang penyair jarang membaca sajak-sajak mereka, bisa jadi yang sering dia baca adalah sajak-sajak dari Rummi, Attar, Nietszche, Adonis, Maya Angelou, Emily Dickinson, Edgar Allan Poe, EE Cumming, Pablo Neruda, Octavio Paz, Ezra Pound, Lipo dan banyak lagi penyair-penyair besar dunia lainnya. Dalam hal ini, untuk mengidentifikasi dan membedah karya penyair masa kini akan semakin tidak mudah, karena sebagaimana hypertex dalam dunia internet yang membuka kemungkinan untuk memasuki dunia antah berantah yang masing-masing berbeda dalam penemuannya, maka zigzag perkembangan wawasan dan estetika seorang penyair akan berbalapan dengan sorotan kritikus. Dan hingga saat ini, sepertinya kritikus kita masih selalu berbicara penelusuran ke dalam negeri, locally!

30 DecINTERAKSI SAJAK (3)

Esei Nanang Suryadi

Dalam beberapa bulan terakhir, sebagai redaktur puisi cybersastra.net, saya menemukan banyak kejutan-kejutan saat membaca sajak-sajak yang masuk. Ah, bikin mabuk, membaca semua sajak-sajak ini, bayangkan paling tidak 50 sajak setiap harinya, berapa waktu yang harus dicadangkan untuk membaca semuanya? Selain kejutan-kejutan itu, banyak juga ditemui sajak-sajak yang tak beranjak dari model-model Pujangga Baru yang tenang kemilau, atau “Aku”-nya Chairil Anwar. Tidak menawarkan sesuatu yang baru mengikuti perkembangan jaman. Mungkin saya keliru mengidentifikasi, sebagaimana diutarakan di muka. Karena menurut seorang rekan yang meneliti sajak-sajak dalam bahasa Inggris, ia bilang banyak poems yang lurus-lurus saja (atau jangan-jangan ia sebenarnya tidak tahu belokannya di mana? Hehehe). Tapi jika memang dugaan saya betul bahwa sajak-sajak itu tak beranjak dari model Pujangga Baru yang tenang dan kemilau atau “Aku” sang fenomenal Chairil, maka sangat disayangkan, karena ternyata informasi yang melimpah ruah yang ditawarkan berbagai media (antara lain internet) tidak dimaksimalkan untuk menjelajahi dunia baru, dunia entah, dunia antah berantah.

Dalam menyikapi fenomena di atas, ada sebagian pengamat mengatakan bahwa itu karena pembelajaran sastra di sekolah yang salah, yang hanya menyodorkan karya-karya jaman “baheula” dan menghafal nama-nama sastrawan, periodesasi dsb. Atau ada juga yang mengatakan, bahwa ada skenario besar yang menghegemoni pemikiran, bahwa hanya karya-karya tertentu milik sastrawan tertentu yang baik dan lazim, yang menurut mereka hal ini dilakukan dengan cara penobatan dan ekpansi oleh pihak “pemenang” sebuah pertarungan estetika (politik?) di waktu lampau.

Ada tinjauan lain yang dapat ditawarkan, yaitu melihat motivasi seorang ketika menulis dan menyiarkan sajak. Tinjuan terhadap motivasi ini dapat mengidentifikasi apakah seseorang itu bersungguh-sungguh ingin menjadi penyair yang “berprestasi” atau hanya penyair “sekedar.”

Sebagai sebuah kegiatan, menulis dan menyiarkan sajak tentu saja adalah hasil sebuah dorongan, baik internal maupun eksternal yang melakukannya. Dorongan ini bisa terlihat hasilnya secara fisik, namun seringkali merupakan hal yang berkaitan dengan psikologis. Secara teoritis banyak hal yang membuat seseorang termotivasi. Saya meminjam dua teori motivasi yaitu teori Abraham Maslow tentang Hierarchy of needs dan McClelland theory of needs. Dua teori ini mengungkap bahwa seseorang melakukan sesuatu karena didorong untuk memenuhi kebutuhannya (needs). Masslow membuat hierarki kebutuhan yang harus dipenuhi tersebut, yaitu physiological, safety, social, esteem dan self actualization. Sedangkan McLelland membagi kebutuhan manusia menjadi Need for Achievement, Need for Power dan Need for Affilization. Dari kedua teori ini, faktor apa yang dominan seorang penyair menulis dan menyiarkan karya-karyanya? Demikian banyak penyair, maka tak akan mudah untuk mengidentifikasi apa yang memotivasinya. Karena kemungkinan-kemungkinannya menyebar ke semua faktor tersebut di atas.

Dalam beberapa kali kesempatan kegaiatan sastra, Sutardji Calzoum Bachri menyatakan: achievement! Yang katanya “achivement” ini akan menjadikan seseorang tidak menjadi penyair yang “sekedar”. Dari kedua teori di atas apa yang dikatakan Sutardji tersebut dapat dibaca bahwa untuk menjadi seorang penyair “besar”, maka ia harus melampaui kebutuhan-kebutuhan yang lain (dalam hierarki kebutuhan Masslow) seperti Phisiological, Safety, Social, karena achievement dalam hierarki ini termasuk ke dalam “Esteem” (tangga ke empat dari hierarki). Pertanyaannya mengapa hanya sampai tangga ke empat? Tidak sampai pada tangga puncak Self –Actualization?

Lalu hubungannya dengan model-model yang tak beranjak dari Pujangga Baru itu bagaimana? Mungkin begitu pertanyaan selanjutnya. Dengan memakai kategori “penyair berprestasi” dan “penyair sekedar” maka dapat dikatakan bahwa upaya sungguh-sungguh untuk menjadi “penyair berprestasi” didorong untuk memenuhi kebutuhan “achivement”. Dan itu akan menunjukan perilaku yang berbeda, penyair itu akan mencari banyak hal, belajar sungguh-sungguh, mengupayakan pendobrakan-pendobrakan estetika dsb. Di sisi lain, “penyair sekedar” tak memerlukan itu, karena ia memang tak membutuhkan itu dari sebuah sajak, ia dapat mencapai achivement bahkan self-actualization dari kegiatan lain, misalnya di kantor ia bekerja, sebagai CEO atau Presiden Komisaris di perusahaan multinasional….

30 DecBeberapa Permasalahan Kritik Sastra Indonesia

Esei Nanang Suryadi

Dalam sebuah essaynya Saut Situmorang menyimpulkan sekaligus bertanya tentang krisis sastra Indonesia “Jadi apa yang terjadi di Indonesia sejak jaman Balai Pustaka sampai jaman Windows98 sekarang adalah krisis kritik sastra yang nampaknya belum ada tanda-tanda bakal berubah. Quo Vadis, kritik sastra Indonesia?” (1) Setelah membaca berbagai artikel tentang kritik sastra Indonesia, saya coba menarik benang merah, apakah sinyalemen Saut Situmorang itu benar adanya. Dalam acara membedah karya Goenawan Mohammad, 21 Maret 2000, di TIM, F Rahardi menyatakan, “membaca sekaligus memahami puisi Goenawan Mohamad bukanlah perkara mudah. Butuh kerja keras dan kerutan dahi untuk memahami belantara kata-kata yang ditanamnya. Semua itu bermula dari tradisi Goenawan dalam menulis puisi yang kental dengan referensi. Puisi mantan Pemimpin Redaksi Tempo itu dinilai banyak dilatari kecerdasan, pengetahuan, dan pengalaman yang posisinya berada di atas rata-rata orang Indonesia.”(2) Sebenarnya, bukan hanya Goenawan Mohamad yang bisa seperti itu. Sajak-sajak referensial semakin banyak dapat kita temukan dalam khazanah sastra berbahasa Indonesia. Dengan demikian seorang kritikus semakin ditantang untuk banyak tahu tentang segala hal atau dalam ungkapan Sapardi Djoko Damono, pengkritik harus lebih pintar dari yang dikritik. Lebih jauh lagi, mungkin kita dapat mendengarkan impian seorang Nirwan Dewanto, katanya:”dapatkah kita bayangkan seorang kritikus atau penelaah sastra lulusan sebuah universitas di Jakarta atau Yogyakarta yang pada suatu hari menelaah puisi liris Indonesia 1968-1990 bukan sebagai sebagai kelanjutan atau pencanggihan puisi “angkatan” sebelumnya namun sebagai risiko wajar dari tumbuhnya puisi modern di khazanah mana pun? ” (3) Namun demikian, perkembangan kritik sastra Indonesia, tidak seperti impian Nirwan Dewanto. Ternyata Sastra Indonesia masih menyimpan berbagai permasalahan. Persoalan pusat dan daerah yang muncul dalam permasalahan politik akhir-akhir ini, mencuat juga dalam perbincangan tentang sastra. Dalam sebuah pertemuan sastra, Mursal Esten melukiskan betapa salah kaprahnya penguasa sastra atau orang-orang di pusat yang menilai Saman karya Ayu Utami sebagai karya Indonesia terbaik dan dipuji selangit. padahal menurutnya karya Ediruslan jauh lebih baik daripada karya Ayu. Mengapa itu bisa terjadi? Mursal menduga mungkin menurut penguasa sastra di Jakarta yang nuansa daerah tinggi tidak perlu diberi tempat. Dalam karya sastra, bisa saja unsur Jawa, Minang atau Melayu-nya begitu kental dan itu tetap sastra Indonesia. selama ini karya sastra yang nuansa kedaerahnnya kental terutama Melayu cenderung terpinggirkan. Namun bagi sastrawan di daerah hal itu tak menjadi masalah sebab pusat daerah pun bisa jadi pusat-pusat kebudayaan. (4). Dengan demikian, pada kasus ini, kritik sastra merupakan sebuah perbincangan tentang sastra politik yang berbicara tentang penguasa sastra yang mendominasi arus opini masyarakat terhadap perkembangan sastra. Gejala pemusatan kritik sastra yang disinyalir Mursal Esten itu sebenarnya pernah disimbolkan oleh seorang HB. Jassin, yang sering disebut paus sastra, dan dianggap dapat memberikan legitimasi apakah seseorang layak disebut sastrawan atau tidak. Tapi, menurut Agus Noor, kritik sastra saat ini telah kehilangan kekuatan legitimasinya, sebagaimana masa HB. Jassin, tahun 60-an, yang mampu mengukuhkan kehadiran karya sastra dan sastrawan melalui kritik-kritiknya.

Perubahan inilah yang bisa jadi kemudian menjadi sumber “kekecewaan” terhadap kritik sastra kita, yang tak bisa lagi mengukuhkan satu pelopor, angkatan, atau kecenderungan estetik tertentu, meski cukup banyak kritikus yang terus menuliskan pandangan-pandangannya. Seiring dengan merebaknya postmodernisme dalam kebudayaan kita, kritik sastra juga mengalami peluruhan-peluruhan. Kebebasan menginterpretasi karya, keberagaman pandangan, menjadikan setiap karya sastra bisa dimasuki dari mana saja. Hal itu membawa konsekwensi: tak adanya pandangan atau penilaian dominan yang dianggap mutlak kesahihannya. (5) Namun demikian, masih ada sebagian kalangan yang melihat kritikus sastra adalah sebagai sebuah hasil pendidikan resmi sebuah institusi bernama fakultas sastra. Seperti terungkap dalam pernyataan Yono Wardito, seorang penggiat sastra internet dalam sebuah diskusi “yang memiliki kapabilitas sebagai seorang kritikus sastra adalah para kalangan dari akademisi sastra. diluar dari itu boleh, namun yang harus dipertanyakan dari mereka adalah kemampuan kritis yang akseptabel,mumpuni dan mempunyai nalar kemana arah karya yang dikritik tersebut akan di interpretasikan, hal ini memang harus ada, karena seperti kita ketahui bahwa banyak terjadi sebuah karya yang di kritik oleh banyak kalangan diluar akademisi seperti kehilangan nilai. Saya tidak mengatakan bahwa yang di luar akademisi supaya tidak berfungsi sebagai kritikus, tidak, tapi hal yang terjadi adalah adanya “effortless” nilai-nilai suatu karya di mata publik, terutama para penikmat, padahal bukankah telah ada “kesepakatan” bahwa para kritikus tersebut sebagai The Bridge Linking antara Kreator,Penggiat Seni, dan Publik ?” (6) Apakah akedemisi sastra (yang dipersepsikan memiliki bergudang-gudang teori) mampu menjawab tantangan kritik sastra terkini? Budi Darma, dalam sebuah essay mengingat HB Jassin mengatakan: “Ingat, kritik sastra yang diusahakan untuk rasional, ditopang pula dengan teori- teori, belum tentu sanggup menembus persoalan sastra. Dan ingat, kritik sastra yang diusahakan rasional dengan dimuati teori ini dan teori itu, ternyata tidak jarang hanya bergerak pada format penulisan dan bukan pada jantung substansi sastra.(7) Mengapa Budi Darma sampai menyatakan hal tersebut? Bukankah teori menjadi suatu alat bagi seorang akademisi untuk membedah sebuah fenomena. Dengan peringatan Budi Darma ini, seakan-akan teori telah menjadi sebuah ajang gagah-gagahan. Mungkin. Karena sebagai seorang akademisi sastra yang sekaligus praktisi kratif sastra, pernyataannya adalah sebuah hal yang mengejutkan Walau demikian, sesungguhnya jika tepat pemakainnya, teori sastra, paling tidak dapat melihat fenomena sastra dengan lebih objektif Kegunanaan kritik sastra, meminjam pernyataan Mursal Esten, tidak saja memberikan penilaian buruk dan baik kepada pembaca, tetapi juga menjelaskan nilai-nilai dan dimensi-dimensi yang tersembunyi serta terkandung di dalam sebuah karya sastra. Oleh karena itu kritik sastra harus mampu mengikuti perkembangan sastra, mengenal konvensi-konvensi sastra yang hidup dan berkembang dan juga harus peka gejala-gejala pemberontakan terhadap konvensi tersebut. (8) Apakah kritik sastra Indonesia sebuah status quo, seperti ditanyakan Saut Situmorang. Sepertinya tidak juga. Dengan melihat beberapa ilustrasi tersebut di atas, kritik sastra telah hadir berbeda dari pada masa lalu. Tentu saja dengan perbedaan-perbedaan pandangan tentang kritik sastra itu sendiri. Sebuah pluratitas. Mungkin masih ada yang melihatnya secara konservatif, namun ada juga yang melihatnya sesuatu yang dinamis, sebagaimana diungkapkan Agus Noor, “Kritik dan kritikus hanyalah teman dialog, yang membuka dan memberi peluang cara pandang, mendekati dan mengapresiasi.” (9)

Tags: ,

30 DecIMPIAN SASTRA DI DUNIA CYBER

Esei Nanang Suryadi

Perkembangan sastra Indonesia kita ke depan akan menemui kemungkinan-kemungkinan baru.Jika selama ini para sastrawan hanya menampilkan karyanya pada buku, majalah, koran yang berwujud kertas, maka saat ini kita bisa menemukan karya-karya mereka tersebar di media Internet, sebuah dunia maya, yang menghubungkan satu komputer dengan berjuta-juta komputer lainnya yang sangat mungkin di belahan dunia yang berbeda. Internet merupakan hal yang baru bagi hampir semua orang. Dimulai dari proyek pertahanan Amerika Serikat dan eksperimen di dunia akademis pada tahun 1969 dan semakin populer di akhir abad 20 ketika para kapitalis (pemodal)/ industrialis melihat peluang ini dan semakin memperhebat berbagai fasilitas yang semakin memungkinkan mengawinkan berbagai kemudahan teknologi. Tengok saja TV, telepon, fax, selular, menjadi hibrida teknologi informasi.

Salah satu keunggulan pemanfaatan teknologi Internet adalah adanya pemotongan jalur distribusi. Rentang jalur distribusi pemasaran konvensional yang dulu sangat panjang akan terpotong dengan sendirinya karena produsen akan berhadap-hadapan dengan konsumennya secara langsung baik b to c (bussines to consumer) maupun b to b (business to business). Belum lagi pemanfaatan jaringan (networking) yang akan akan menjadi networking relationship, di mana akan terjadi sinergi dari berbagai potensi yang ada. Dengan menggunakan teknologi Internet ini bisa kita maksimalkan untuk pendistribusian karya sastra ke seluruh penjuru dunia. sesuatu hal yang akan sangat mahal jika dilakukan secara konvensional. E-book, situs, mailing list, e-mail, digital library akan semakin memudahkan kita untuk mengakses banyak informasi dan memperkaya wawasan kita. dan itu harus ada yang memulai, dan harus ada yang terus menerus mengembangkan. Ya, dengan menggunakan internet kita dapat mengatasi kesulitan masalah sosialisasi yang banyak dikeluhkan oleh banyak penulis yaitu dengan cara distribusi langsung ke mailbox-mailbox para pelanggannya atau menyajikan karyanya di situs yang dapat diakses 24 jam sehari semalam. Dalam hal ini penulis dan pembaca akan saling diuntungkan. Penulis dapat menyebarkan karyanya ke banyak orang dan pembaca menerima karya secara langsung dalam kotak surat elektroniknya. Jika karya itu tercantum dalam situs, maka dengan sedikit usaha mencari melalui search engine, maka kita dapat surfing ke berbagai situs yang dibutuhkan tanpa dihalangi oleh keterbatasan waktu dan jarak, yang akan sulit ditemui pada penerbitan, toko buku atau perpustakaan konvensional.

Lintas informasi yang sangat cepat antar komputer yang terhubung dalam jaringan Internet ini menciptakan fenomena-fenomena baru, baik yang baik maupun yang buruk. Bagaimana seorang sastrawan harus menyikapi media Internet ini? Konon, seorang sastrawan kondang dari belahan dunia Barat sana pernah apriori dan alergi dengan media bernama Internet ini. Tentu saja, bukan sebuah sikap yang bijak, jika kita apriori terhadap sesuatu yang mungkin belum kita kenal dengan baik. Internet memiliki sisi baik dan buruk, namun itu sangat bergantung kepada para pelakunya. Memang, harus diakui bahwa teknologi internet dengan fasilitas windows-nya akan membuat kita sangat mudah menemukan situs-situs yang kontradiktif secara moralitas dengan membukanya pada kesempatan yang sama.

Seorang ahli Internet menceritakan bahwa tahap-tahap awal orang memasuki dunia maya ini, akan mencari situs-situs pornografi dan akan mengalami juga masa “chating” (dengan memakai fasilitas “web chat” atau irc), dan pada akhirnya akan mengalami kejenuhan. setelah itu mulailah ia akan menggunakan Internet sebagai suatu kegiatan “bermanfaat”, yaitu untuk mencari informasi-informasi yang ia butuhkan. Selain tentu saja ia akan menggunakan lebih banyak e-mail sebagai alat komunikasi yang ia gunakan sehari-hari.

Sebagai sarana pertukaran informasi yang sangat luas, Internet dapat membuka wawasan seseorang. Berbagai informasi yang dulu sangat sulit ditemui sekarang dapat dengan mudah ditelusuri pada berbagai situs. Bagi seorang sastrawan dengan wawasan yang luas seperti itu, dapat diharapkan kualitas karya seorang sastrawan akan semakin meningkat. Hal yang sangat penting untuk dipersiapkan guna mengakses berbagai informasi tersebut yaitu faktor bahasa. Mengapa demikian? Karena banyak sekali informasi disuguhkan dalam bahasa-bahasa lain non-Indonesia. Sebuah contoh menarik tentang pemanfaatan internet untuk bahan mengerjakan tugas dari sekolah dilakukan oleh seorang siswa SMU dari Surabaya. Ia mengirim e-mail kepada redaksi www.cybersastra.net, isinya meminta informasi alamat situs Suman Hs, seorang sastrawan Indonesia, sebagai bahan untuk membuat tugas pekerjaan rumah. Suatu hal yang menarik, ketika e-mail dan situs telah menjadi perbendaharaam kata yang wajar dalam kehidupan kita saat ini. E-mail (surat elektronik) telah dimanfaatkan banyak orang saat ini. Hal tersebut terutama karena kelebihannya, yaitu dalam hal kecepatan pengiriman. Detik ini dikirim, beberapa detik berikutnya sudah dapat dibaca oleh penerimanya, jika si penerima sedang on-line. Demikian juga halnya dengan situs atau laman, sebutan bagi sites atau homepages di Internet, telah dimanfaatkan banyak orang untuk mencari informasi berbagai hal. Bukan hal yang mengherankan ketika siswa SMU dari Surabaya tersebut akan mencari informasi tentang sastra Indonesia dengan menggunakan fasilitas teknologi yang memberikannya kemudahan.

Siswa SMU ini mungkin dapat dikatakan sebagai bagian dari generasi komputer dan internet. Rhenald Khasali, seorang akademisi pemasaran, menyebut generasi yang lahir tahun 70-80 an sebagai cohort komputer dan Internet. Memang begitulah adanya, pengguna Internet saat ini banyak orang-orang muda bahkan kebanyakan penggagas-penggagas pengembangan Internet adalah orang-orang muda. Dengan latar belakang pendidikan pengguna yang cukup (minimal high school dan kebanyakan perguruan tinggi).

Yang menarik dari e-mailnya itu adalah keinginan untuk mendapatkan informasi alamat situs Suman Hs, yang memuat karya serta biografi sastrawan ternama Indonesia ini. Sebuah keinginan yang wajar. Namun agak susah untuk memenuhinya. Mungkin kita dapat menggunakan search engine semacam yahoo, google, catcha serta banyak lagi guna mencarinya, dengan keyword “suman hs”, “roman”, “sastra indonesia”, namun adakah alamat situsnya? Atau paling tidak ada situs yang salah satu content-nya tentang sastrawan Indonesia ini. Berapa banyak sastrawan Indonesia yang memiliki situs? Atau paling tidak berapa banyak sastrawan Indonesia yang karya-karyanya dipublikasikan lewat Internet?

Jika kita tengok (kita bisa mencarinya dengan search engine), beberapa sastrawan ternama Indonesia terlihat karya-karyanya muncul di Internet. Beberapa karya Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohammad, Eka Budianta, Sutardji Calzoum Bachri, Rendra, Emha Ainun Nadjib, Dorothea Rosa Herliani, D Zawawi Imron, Agus R Sarjono, Jamal D Rahman serta banyak nama lagi dapat kita temui di sana. Karya-karya mereka tidak hanya dimuat oleh situs lembaga kesenian semacam yang dimiliki Yayasan Lontar yang beralamat di http://www.lontar.org namun juga oleh individu-individu yang membuat situs pribadi. Pembuatan situs individu ini banyak berkembang di tengah kemudahan yang ditawarkan oleh para industrialis Internet, antara lain dengan memberikan penyimpanan gratis content situs-situs tersebut. Tak heran, jika di geocities.com, tripod.com, angelfire.com, theglobe.com serta banyak lagi, dapat kita temui situs-situs pribadi. Dimana individu-individu ini selain memuatkan segala hal tentang dirinya pada situs yang dibuatnya, juga memuatkan puisi buatannya sendiri, serta tak lupa memamerkan puisi-puisi

dari sastrawan ternama yang disukainya. Puisi telah menjadi menu yang banyak disuguhkan pada situs pribadi!

Selain individu-individu tersebut, beberapa lembaga yang bergerak di bidang kesenian juga telah memiliki situs, antara lain Yayasan Lontar, Yayasan Taraju, KSI, Akubaca, Aksara dan Aikon. Lalu, adakah situs khusus sastrawan ternama Indonesia? Ada, kita bisa tengok situs milik Taufiq Ismail yang berlamat di http://www.taufiq.ismail.com (pada kesempatan terakhir menengok, sepertinya situs ini tidak berfungsi lagi), Sobron Aidit di http://lallement.com, Afrizal Malna, Hamid Jabbar, Sitor Situmorang (di http://www.geocities.com), serta Pramoedya Ananta Toer.

Melihat nama-nama sastrawan Indonesia, sebagian besar penyair, telah memiliki situs khusus untuk karya-karyanya, menandakan bahwa bagi sebagian pelaku sastra Indonesia, dunia cyber atau Internet telah menjadi alternatif media untuk publikasi karya, disamping media-media lainnya. Mereka go international dengan karya-karya sastra berbahasa Indonesia! Tunggu dulu, bukan hanya dalam bahasa Indonesia. Jika kita masukkan nama Ahmadun Yosie Herfanda dan Medy Loekito di Search Engine http://www.poetry.com, kita dapat menemukan karya-karya mereka dalam bahasa Inggris. Juga karya Sutardji Calzoum Bachri dalam bahasa Spanyol di sebuah situs Festival Puisi Internasional.

Kita patut pula berbangga bahwa penyair Indonesia telah dideretkan (diberi folder khusus) dengan penyair-penyair dunia lainnya, misalnya Sutardji Calzoum Bachri dan Rendra, dapat kita temukan di http://www.everypoet.com (yang sayangnya belum memuat karya-karya mereka).

Selain para sastrawan ternama Indonesia tersebut, yang telah sering ditemui karya-karyanya pada media buku, koran,majalah dan jurnal itu, kita juga dapat menemui banyak karya sastra di Internet oleh penulis yang mungkin karyanya hanya dapat ditemui di media Internet saja. Para penulis itu antara lain Yono Wardito (Balikpapan), Aranggi Soemarjan (Memphis), Fransisca Oetami (Memphis), Samsul Bahri (Jakarta), Anna Siti Herdiyanti (Ohio) serta banyak lagi. Karya-karya mereka diperkenalkan melalui mailing list penyair@egroups.com, puisikita@egroups.com, serta mailinglist-mailinglist lain yang menjadi wahana diskusi sastra dan penampilan karya sastra yang berlangsung duapuluh empat jam sehari.

Di tengah maraknya gairah berkarya dan berdiskusi duapuluh empat jam sehari ini di Internet ini, tak luput ada juga yang menunjuk bahwa menjamurnya sastra di Internet itu akan menjadi “sampah-sampah” baru bagi sastra Indonesia. Ada seorang sastrawan yang prihatin imbas Internet terhadap sastra. Ia mengatakan dampak pemunculan karya dalam media Internet adalah

dalam hal selektivitas karya yang ditampilkan. Karya sastra yang dimunculkan lewat Internet melalui situs-situs pribadi atau mailing list tidak selalu karya-karya yang baik. Namun, apakah ini bisa disebut sebagai sebuah kelemahan? Tergantung pada perspektif mana kita melihatnya. Bagi

para penikmat sastra atau kritikus sastra yang sangat alergi dengan karya-karya “jelek”, tentu akan membuat mereka segan untuk menelusuri satu persatu situs sastra atau mungkin menerima e-mail karya sastra yang tak terkontrol kualitasnya itu.

Tuduhan bahwa karya-karya sastra di Internet adalah hanya sekedar sampah perlu dibuktikan kebenarannya. Ini merupakan tantangan bagi kritikus sastra untuk membedah karya-karya yang muncul di internet. Namun, sudah adakah kritikus sastra Indonesia yang memanfaatkan Internet sebagai sumber informasi atau bahan kritiknya? Yang tentu saja pertanyaan ini akan berlanjut, berapa banyakkah informasi sastra yang tersedia di Internet yang siap diakses? Pertanyaan yang menjadi pekerjaan rumah bagi kita. Mungkin, beberapa waktu lagi kita dapat menemukan situs khusus HB Jassin, Chairil Anwar, Suman Hs, Sutan Takdir Alisyahbana, Amir Hamzah dan sastrawan kita lainnya, sebagai karya klasik yang menjadi kebanggaan bangsa, seperti juga karya-karya sastrawan dunia semacam Shakespeare, Jalaluddin Rumi, Pablo Neruda, Octavio Paz yang saat ini dengan mudah dicari dalam berbagai situs di Internet, dengan tanpa mengeluarkan biaya selain pulsa telepon dan biaya langganan ke provider. Kecenderungan pengguna Internet tertarik dengan kemudahan, kenyamanan dan hemat biaya ini, merupakan hal yang perlu dicermati bagi pengembangan sastra di dunia maya ini.

Kecenderungan para pengguna internet untuk mencari informasi dengan mudah dan berbiaya murah ini seakan bersambut dengan kecenderungan para “Sastrawan Internet” yang tak mengharapkan honor dari tulisannya di Internet (entahlah kalau sudah berbentuk cetakan?) Banyak penulis di Internet yang menyuguhkan esei serta karya-karya sastra yang tak kalah bagus dengan artikel di media cetak. Sebutlah misalnya, selain nama-nama yang telah disebutkan di muka, di internet dapat terlihat juga karya-karya “Proletar” internaut kontroversial yang sering menulis di Indonesia-L (http://www.indopubs.com) , Deo Et Patria, Saut Situmorang, Sobron Aidit, Hersri Setiawan dll, yang rajin membuat esei-esei atau sajak di berbagai mailing list. Pada beberapa nama, mungkin telah lama menggunakan media massa kertas sebagai tempat curahan tulisannya, antara lain Saut Situmorang dan Sobron Aidit . Teknologi Internet memungkinkan banyak penulis diaspora, yang entah karena alasan politik, ekonomi atau hal lain harus pergi meninggalkan tanah air Indonesia, saling berbagi karya melalui mailing list dan situs dalam bahasa ibu yang dikuasainya. Internet mempertemukan kembali karya para penulis-penulis ini, yang akan sangat sukar ditemui di media cetak, karena label plat merah atau masuk daftar hitam penguasa di masa orde baru.

Ada beberapa hal lain yang belum sempat diungkapkan di sini yang merupakan kecenderungan para penggiat sastra di internet atau dunia cyber, antara lain kegiatan mereka akan dipengaruhi oleh munculnya istilah-istilah khas yang muncul dari dunia maya ini, antara lain copy left, copy wrong , share ware, free ware, online interaction dan istilah lain yang pada banyak hal akan membedakan mereka dengan penggiat sastra yang selama ini ada.

Demikianlah, banyak hal baru yang akan ditemui di dunia cyber. Kita tak pernah tahu tentang masa depan, tapi dapat memimpikan serta mewujudkan apa yang kita inginkan. Eksplorasi sastra dengan menggunakan media baru sebagai dunia impian antah berantah ini bisa menjadi sangat menggairahkan. Berani menerima tantangan?

Siapa takut!