Archive for the 'buku' Category

Last updated by at .

17 NovArsip Puisi dari Buku Sepilihan Sajak Telah Dialamatkan Padamu

Beberapa waktu yang lalu saya telah mengupload puisi-puisi yang terhimpun dalam buku “Sepilihan Sajak Nanang Suryadi: Telah dialamatkan Padamu.” Buku ini terbit di tahun 2002 dan sudah tidak tersedia lagi di toko buku. Untuk memudahkan bagi para peminat puisi atau peneliti sastra, maka kami sediakan di page : “Telah dialamatkan padamu”.  Puisi-puisi diupload sesuai dengan urutan dalam buku aslinya, dan dapat didownload perhalamanan, sebagai berikut:

DAFTAR ISI  

SEPILIHAN SAJAK NANANG SURYADI

TELAH DIALAMATKAN PADAMU

  1. Kata Pengantar: ‘Erotisme Religius’ Sajak Nanang
  2. Daftar Isi
  3. Intro
  4. Dalam Sajak
  5. Yang Menyimpan Rindu
  6. Berjalan Di Bawah Gerimis
  7. Sketsa Jejak
  8. Bagaimana Diterjemah
  9. Terjemah Hujan
  10. Mata
  11. Tanah Lot
  12. Sang Pertapa
  13. Demikianlah Hujan
  14. Sebutir Biru Berkejapan
  15. Mengaji Kanak
  16. Seperti Kudengar Derai
  17. Bintang Biru Yang Sepi
  18. Kau Katakan Mengenali Jejak
  19. Perempuan Pagi Berwajah Puisi
  20. Ziarah Kenangan
  21. Symphony No.40 in G Minor
  22. Mencatatkan Alamat
  23. Sebusur Panah; Lekaslah!
  24. 23.30
  25. Seperti Engkau Yang Gemetar
  26. Mencintaimu Adalah Mencintai Aliran Air Tak Henti Mengalir
  27. Sebagai Upacara
  28. Jam Yang Menyerpih
  29. Perempuan Yang Bernama Kesangsian
  30. Seperti Kuseka Malam
  31. Seorang Yang Merangkai Bunga
  32. Seorang Yang Melipat Sepi
  33. Tiktaknya Begitu Nyaring Dalam Sunyi
  34. Tari Bulan
  35. Mungkin Kau Adalah Angin
  36. Catatan May
  37. Seperti Sebuah Risau
  38. Memory Pada Sebuah Jalan
  39. Black Hole
  40. Namun Engkau
  41. Ingatan Dari Kuntum Kuntum Mawar Oranye
  42. Istirahlah Di Dalam Mimpiku
  43. Yang Terbubuh Pada Waktu
  44. Imaji Yang Bertanggalan
  45. Hingga Mimpimu Menjelma Jadi Ledakan
  46. Inilah Hujan Di Saat Senja
  47. Igauan Sebuah Topeng
  48. Sketsa Peta Tak Bernama
  49. Tik Tak Tik Tak : 01.05
  50. Abstraksi Diri
  51. Pada Airmata
  52. Cahaya + Kemarau + Kabut
  53. Dongeng Impian Yang Dihancurkan
  54. Amsal Kesabaran
  55. Harap
  56. Bebuahan Cahaya
  57. Bayang
  58. Mengekalkan Airmata
  59. Narasi Orang Bosan
  60. Dongeng Keledai
  61. Berhentilah!
  62. Yang Dibakar Api Murni
  63. =Aiueo? Kosa Kata=
  64. Tanya
  65. Seribu Bulan
  66. Kata Yang Terpatah
  67. Aku Adalah
  68. Kepak Sayapku Tak Sampai Pada Engkau
  69. Mabuk Tarian
  70. Aku Gelandangan Mencari-Mu
  71. Persembahan Darah
  72. Langit Tumbang
  73. Membaca Darah
  74. Jalan Cinta
  75. Di mana Engkau
  76. Tawanan Cahaya
  77. Sampai Rindu Pada Cintaku
  78. Tualang
  79. Gelombang Sunyi
  80. Penari Telanjang
  81. Dirindurindu
  82. Seorang Aku, Menari-Nari
  83. Orang Yang Gemetar
  84. Mawar
  85. Kaulah Segala Takjub
  86. Sungguhkah Aku Mencintaimu
  87. Sepi Yang Membakar
  88. Kenang
  89. Engkau Yang Merindu
  90. Sesayap Sayat
  91. —~~~~~~++
  92. Sebuah Negeri Bernama Cinta
  93. Gapai
  94. Tak Sampai?
  95. Telah Dialamatkan Padamu
  96. Memandang Senja
  97. Menemu Pukau Rinduku
  98. Takluk
  99. Dan Akupun Menyerah
  100. Demikianlah Ia Berbahagia
  101. Kita Berjalan
  102. Epilog
  103. Biodata Penulis

 

16 Nov3 Buku Puisi Terbaru Terbit di Akhir Tahun 2012

Di akhir tahun 2012 ini, tepatnya di bulan November, Nanang Suryadi meluncurkan 3 buku puisi terbarunya di nulisbuku.com. Judul buku puisi yang diluncurkan adalah: Derai Hujan Tak Lerai; Kenangan Yang Memburu serta Yang Merindu Yang Mencinta. Harga perbuku Rp.33.000,- dapat dipesan langsung melalui email: admin@nulisbuku.com dengan menyebutkan judul buku yang dipesan, nama dan alamat pemesan, serta nomor handphone yang bisa dihubungi.

Buku Kumpulan Puisi Nanang Suryadi Yang Merindu Yang Mencinta  Buku Puisi Nanang Suryadi Derai Hujan Tak Lerai   Buku Kumpulan Puisi Nanang Suryadi Kenangan Yang Memburu

10 JanKumpulan Puisi Cinta dan Kesedihan

Sila didownload di sini: Derai Hujan Tak Lerai

10 JanKumpulan Puisi Kenangan

Sila didownload kumpulan puisi Nanang Suryadi di sini: KENANGAN YANG MEMBURU

10 JanKumpulan Puisi: BIAR! Nanang Suryadi

Sila didownload di sini: Biar! Kumpulan Puisi Nanang Suryadi

10 JanKumpulan Puisi Rindu

Silakan di download di sini: Yang Merindu

10 JanKumpulan Puisi Cinta

Kumpulan puisi cinta adalah salah satu kumpulan puisi saya di dalam buku Cinta, Rindu dan Orang-orang yang menyimpan api dalam kepalanya. Buku tersebut memang memuat 3 kumpulan puisi, dengan tema: cinta, kritik sosial dan religiusitas. 

 

Puisi-puisi cinta di dalam buku yang bersub-judul: menemu negeri cahaya itu dibuat untuk istri dan anak-anakku. Mungkin bahasanya sangat sederhana, dan memang saya memilih untuk menyampaikannya dengan cara yang sederhana. Mungkin seperti Sapardi Djoko Damono yang juga menulis: aku ingin mencintaimu dengan sederhana…

09 JanJurnal dan Buku yang membahas dan mengutip puisi karya Nanang Suryadi

Beberapa buku sastra dan bahasa untuk SMA mengutip karya puisiku dalam pembahasan atau apresiasi, antara lain:

“Buku yang diambil sebagai kajian adalah buku: (1) Kaji Latih Bahasa dan Sastra Indonesia 2a dan 2b (2005) yang diterbitkan oleh Penerbit Bumi Aksara, (2) Bahasa dan Sastra Indonesia 1 untuk SMA Kelas X (2004) yang diterbitkan oleh Erlangga, dan (3) Aktif Berbahasa dan Bersastra Indonesia Jilid 2 untuk Kelas XI (2005) yang diterbitkan oleh Empat Kawan Sejahtera. Buku tersebut ditulis dengan mengacu dan menjabarkan pada Standar Kompetensi Kurikulum 2004 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dalam buku tersebut, karya sastra yang digunakan sebagai materi pengajaran sastra meliputi puisi, naskah drama, cerpen, dan novel.

Puisi yang dipilih sebagai materi pengajaran adalah “Sepanjang Jalan Puisi” dan “Ingin Kutulis Untukmu” karya Nanang Suyadi,
“Gadis Peminta-Minta” karya Toto Sudarto Bachtiar, “Balada Tamu Museum Perjuangan” karya Taufiq Ismail, dan “Balada Ibu yang Dibunuh” oleh W.S. Rendra.”

Sumber: Lustantini Septiningsih, PENGAJARAN SASTRA SEBAGAI UPAYA MEMBENTUK MANUSIA YANG CINTA TANAH AIR: HARAPAN DAN KENYATAAN, Kajian Linguistik dan Sastra, Vol. 20, No. 1, Juni 2008: 48-55

 

Kalian telah melakukan pengamatan terhadap berbagai bentuk
puisi remaja, yang dimuat di majalah, surat kabar, atau buku
kumpulan puisi. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, silakan
kalian jawab pertanyaan ini!
1. Apa yang dimaksud puisi remaja?
2. Apa ciri-ciri puisi remaja?
3. Parafrasakan puisi berikut!

Epilog
Nanang Suryadi
Sempurnalah sempurna segala ingin
Di ambang surup matahari mendingin
Segala senja telah kau beri tanda
Di padang padang buru di tebing tebing cuaca
Telah disemayamkan segala kelakar
Terbakar bersama belukar julai akar
Ke dalam diri ke luar diri
Menembus batas segala mimpi
Demikian, sunyi tak terbagi
Milikku sendiri
Sumber: Sutardji Calzoum Bachri, Hijau Kelon dan Puisi 2002. Jakarta: Kompas
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Sumber: Kompetensi Berbahasa dan Sastra Indonesia, Syamsudin Ar dkk, 2008, PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

06 JanReview Puisi-Puisi Nanang Suryadi

Buku puisiku banyak dibahas oleh para kritikus sastra, diantaranya:

02 JanDownload File Ebook Puisi Nanang Suryadi

Silakan rekan-rekan yang ingin membaca  karya-karya puisiku dalam bentuk e-book format pdf. Klik link berikut:

Selamat membaca!

02 JanBuku Nanang Suryadi dikoleksi Perpustakaan Australia dan Amerika Serikat

Beberapa bukuku ternyata di simpan di perpustakaan luar negeri, dapat ditelusuri di link-link berikut:  Worldcat.org ; Catalogue.nla.gov.au ; openlibrary.org

Buku-buku yang menjadi koleksi tersebut adalah:

Silhuet panorama & negeri yang menangis (Book, 1999) 

Telah dialamatkan padamu (Dewata Publishing, 2002)

Analisis makro dan mikro : jembatan kebijakan ekonomi  (Editor: [Khusnul Ashar; Gugus Irianto; Nanang Suryadi)

29 DecKaryaku di Google Books

Jalan-jalan ke search engine google mencari buku yang mencantumkan karya atau menyebut namaku di dalamnya. Ada beberapa buku yang dapat ditemukan, diantaranya:

31 DecProses Kreatifku (1)

Esei: Nanang Suryadi

Pada November 2002, buku kumpulan puisiku “Telah Dialamatkan Padamu” terbit. Berbeda dengan buku-buku kumpulan puisiku sebelumnya: “Sketsa”, “Sajak di Usia Dua Satu”, “Orang Sendiri Membaca Diri” serta “Silhuet Panorama dan Negeri Yang Menangis” –yang aku terbitkan dan cetak sendiri difotokopi atau dicetak offset, dengan jumlah paling banyak 200-an eksemplar– bukuku yang terakhir ini diterbitkan oleh sebuah penerbit profesional. Penerbitnya adalah Dewata Publishing.

Ketika aku memberitahu kepada rekan-rekan bukuku akan diterbitkan oleh sebuah penerbit profesional, banyak dari mereka berkomentar: “wah kamu beruntung sekali”. Bahkan ada seorang penyair yang sudah sangat terkenal menunjukan keheranannya, “wah, masih ada juga ya, penerbit yang mau bikin proyek rugi.”

Memang, dalam dunia perbukuan di tanah air, menerbitkan karya-karya sastra terutama puisi dianggap tidak menguntungkan dalam hal perputaran modal yang ditanamkan. Dibandingkan dengan penerbitan buku-buku pelajaran atau buku-buku jenis lain yang perputaran kembalinya modal serta keuntungan kepada penerbit lebih cepat, buku-buku sastra lebih lambat. Di kelompok buku sastra, mungkin buku novel dan kumpulan cerpen lebih bernasib baik dalam hal menarik minat pembeli dibandingkan terhadap buku puisi.

Tapi syukurlah, hingga saat ini, di tanah air masih ada penerbit yang mau menerbitkan buku kumpulan puisi. Walaupun karya sastra yang diterbitkan sebagian besar adalah karya-karya sastrawan yang ternama, seperti: Amir Hamzah, Chairil Anwar, Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Sitor Situmorang, Toto Sudarto Bahtiar, Soebagyo Sastrowardoyo, Ramadhan KH, Abdul Hadi WM, Darmanto Jatman, Hammid Jabbar, Toety Herati, Isma Sawitri, Slamet Sukirnanto, Ahmadun Yossi Herfanda, Acep Zamzam Noor, Dorothea Rosa Herliani, Joko Pinurbo, Afrizal Malna, Gus Tf dll. Selain itu ada kecenderungan para penerbit untuk menerbitkan terjemahan karya sastra dunia. Saat ini buku puisi dan prosa Kahlil Gibran yang paling banyak diterjemahkan oleh banyak penerbit, dan menghiasi rak-rak toko buku.

Aku teringat tulisan dari Budi Dharma dalam sebuah eseinya, para pembeli buku karya sastra menurut dugaan Budi Dharma adalah para: penulis sendiri serta orang-orang yang ingin menjadi penulis. Mungkin dugaan Budi Dharma itu tidak betul, karena ada pembaca yang benar-benar hanya pembaca, dan tidak ingin menjadi penulis, entah karena memang tidak berbakat untuk menulis atau tidak memiliki minat ke arah sana. Tapi, seseorang terdorong menjadi penulis karena membaca buku bukan sesuatu yang mustahil.

Aku sendiri, misalnya. Sejak kecil, sejak aku dapat membaca buku dengan baik, mungkin kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar, aku membaca banyak buku-buku cerita kanak, majalah-majalah, koran yang ada di rumahku. Aku kira kebiasaan di waktu kecil itu berpengaruh banyak kepadaku untuk membuat karangan. Waktu kecil, abahku sering mendongeng sambil berbaring-baring menunggu kantuk tiba. Aku, adikku dan kakak-kakakku sangat senang mendengarkan dongeng dari abahku itu. Dongeng-dongeng yang dibaca oleh abahku dari buku-buku atau majalah diceritakan kembali, dalam bahasa Sunda, bahasa yang dipakai abahku untuk berbicara dalam keluarga.

Dongeng-dongeng dalam bahasa Sunda selain diperkenalkan abahku melalui dongeng lisan menjelang tidur, juga aku baca sendiri dari buku-buku setelah aku dapat membaca. Aku sangat menyukai dongeng tentang sakadang kuya, sakadang monyet, sakadang peucang, sakadang buhaya, Si Kabayan, Sangkuriang, Lutung Kasarung. Penguasaan bahasa Sunda dalam keluargaku dipengaruhi oleh abahku yang berasal dari Bandung. Selain bahasa Sunda, akupun mengenal bahasa Jawa. Karena dalam keluargaku dipakai dua bahasa daerah, dari abahku aku mengenal bahasa Sunda, sedangkan dari ibuku serta teman-temanku bermain aku mengenal bahasa Jawa banten. Abahku selalu berbicara dalam bahasa Sunda, entah kepada anak-anaknya maupun kepada ibuku. Kami, anak-anaknya menJawab dalam bahasa Jawa atau bahasa Sunda. Sedangkan ibuku, paling sering memakai bahasa Jawa bahkan jika berbicara dengan abah yang sedang berbicara dengan bahasa Sunda. Persoalan pemakaian bahasa yang campur aduk Jawa dan Sunda dalam keluargaku tidaklah menjadi persoalan, karena masing-masing sebenarnya memahami apa yang sedang dibicarakan.

Di rumahku banyak buku bacaan. Buku-buku dan majalah atau koran yang dilanggani abah dan ibuku, karena kantor tempat mereka bekerja mewajibkan berlangganan dengan dipotong dari gaji, menumpuk di rak-rak buku. Abah dan ibuku bekerja sebagai guru. Abahku mengajar di SD dan SMP, sedangkan ibuku mengajar sebagai guru agama di SD dan madrasah ibtidaiyah. Abah dan ibu selalu membawa majalah atau koran yang dilanggani itu setiap pulang mengambil gaji di awal bulan. Aku cepat-cepat meminta majalah itu dan mencari kolom dongeng, cerita serta komik di dalamnya, dan menikmati membaca sambil tidur-tiduran (kebiasaan yang tak bisa aku tinggalkan sampai kini, membaca sambil berbaring).

Selain majalah langganan dari instansinya itu, abahku juga sering membawakan aku buku-buku dari perpustakaan sekolah, yang aku baca sampai habis. Selain itu, aku ikut membaca majalah Bobo (majalah anak-anak) dan majalah Mangle (berbahasa Sunda) dari tetanggaku yang berlangganan. Hanya saja aku tidak diperbolehkan membaca majalah-majalah baru. Aku hanya membaca majalah-majalah yang sudah ditumpuk-tumpuk di rak. Suatu ketika, aku minta abahku berlangganan majalah Bobo. Abah memenuhi permintaanku itu. Aku mengenal Bobo, Deni Manusia Ikan, Juwita dan banyak lagi tokoh-tokoh rekaan dari majalah itu. Selain majalah Bobo saat itu aku juga membaca majalah Kuncung dan Ananda sesekali.

Perkenalan dengan dunia puisi lebih dekat, saat aku kelas lima diminta untuk mewakili sekolahku untuk ikut lomba baca puisi. Aku lupa, puisi apa yang aku baca saat itu. Sepertinya tidak berbeda jauh dengan lomba-lomba pembacaan puisi sekarang, sajak-sajak Chairil Anwar dan Toto Sudarto Bahtiar yang sering menjadi bahan pembacaan puisi.

Saat kelas satu SMP, aku paling menonjol dalam pelajaran bahasa Indonesia. Pernah suatu ketika, guru bahasa Indonesiaku meminta murid-murid di kelasnya menulis sajak dan membacakannya di depan kelas. Saat itu aku menulis sajak bertemakan perjuangan, dan saat membacakannya dengan suara yang lantang dan berapi-api. Aku sangat ingat, Ibu Rahayu, nama guru bahasa Indonesiaku, saat itu langsung memberikan nilai 9 di atas kertas puisiku. Wah, senang sekali rasanya.

Saat di SMP, aku sering meminjam buku-buku sastra di perpustakaan sekolah. Pengelola perpustakaan bernama Bapak Sulaiman, yang sering juga dipanggil Pak Leman. Ia banyak berperan dalam memperkenalkan sastra kepadaku. Jika ada kegiatan lomba pembacaan puisi aku sering diminta untuk mewakili sekolah bersama seorang kakak kelas perempuan. Kakak kelasku itu sampai aku SMA sering bersama-sama aku mewakili sekolah dalam lomba baca puisi. Namanya Lisa Diana. Pada sebuah acara perpisahan kelas 3, Lisa Diana diikutkan Pak Leman membantu aku dan teman-teman sekelasku dalam penampilan parade pembacaan puisi. Pembacaan puisi dilakukan bersahut-sahutan.

Pada masa-masa itulah, aku mulai mencoret-coret bukuku, buku harianku, atau kertas apa saja. Aku mulai keranjingan menulis sajak. Banyak teman-teman yang meminta aku menuliskan sajak untuknya. Aku dengan senang hati menuliskan sajak untuk mereka. Entah sajak jenis apa, aku sudah lupa. Tapi saat ini sisa-sisa sajakku saat itu sepertinya masih ada, kalau aku cari lagi di tumpukan berkas-berkasku. Yang jelas, sajak-sajakku saat itu, tidak terlalu berbeda jauh dengan sajak para remaja yang mulai menulis sajak, yang biasanya semacam curahan hati dengan kata-kata yang patah dan emosional, atau kalau tidak menjadi sajak penuh nasehat yang normatif. Tapi aku sangat percaya diri dengan sajak-sajakku saat itu. Semua coretan-coretan yang aku anggap bagus, aku ketik ulang. Kemudian sajak-sajak itu aku jilid dan diberi sampul kertas yang berwarna-warni (hasil praktek keterampilan mewarna kertas dengan cara mencelupkan ke dalam air yang telah dicampur cat besi dalam berbagai warna). Sajak-sajak dalam manuskripku yang pertama itulah yang aku baca saat ada acara api unggun di awal aku masuk SMA.

31 DecProses Kreatifku (2)

Esei: Nanang Suryadi


Di masa SMA, minatku terhadap dunia seni sastra semakin kuat. Di masa itu, aku mulai membaca karya-karya sastra dari majalah Hai, Kompas, Pikiran Rakyat dan Koran Mingguan Swadesi. Penulis-penulis seperti Gola Gong, Gus Tf, Acep Zamzam Noor, Soni Farid Maulana, Remi Novaris DM, dll, kerap aku jumpai tulisannya di majalah Hai. Ruang pertemuan kecil di Pikiran Rakyat yang diasuh oleh Saini KM menarik perhatianku untuk membacanya, selain tentu saja membaca sajak-sajak yang ditampilkan di sana. Cerita bersambung di Kompas tak urung aku ikuti setiap hari. Sedangkan di koran Swadesi, aku mengikuti kolom sastra warung Diha yang memberikan kiat-kiat bagi penulis. Aku sering menulis surat kepada pengasuhnya, Mbak Diah Hadaning, sambil mengirimkan sajak-sajakku. Hampir tak percaya, suatu minggu aku baca di koran Swadesi pertanyaan dariku dimuat dan diJawab oleh Mbak Diah Hadaning sendiri. Kalau tidak salah pertanyaanku saat itu adalah tentang bagaimana cara mengatasi kemacetan ide dalam berkarya.

Di saat SMA itu, kegiatanku berkesenian dan menulis bertambah. Aku mengurus majalah dinding SMA dan juga menjadi pendiri teater. Puisi-puisiku semakin banyak. Berbagai tema puisi aku ambil, antara lain cinta, politik, sosial, ketuhanan dll. Namun yang cukup dominan sajak yang terlahir adalah sajak-sajak cinta dan patah hati. Terlebih lagi ketika aku jatuh cinta dan patah hati pada seorang adik kelas.

Hampir setiap saat aku menulis sajak. Sajak-sajak yang penuh semangat keremajaan itu seringkali aku bacakan sendiri di sebuah radio di dekat SMA-ku. Setiap hari Jum’at malam pembacaan sajak yang sudah direkam sebelumnya disiarkan pada pukul 22.00 -24.00. Aku pun mulai rajin mengirim karya ke berbagai media dari media instansi yang dilanggani abah dan ibuku, serta majalah dan koran umum.

Kegigihan untuk terus menerus mengirimkan karya itu mulai memperlihatkan hasil. Karya-karyaku mulai dimuat di beberapa media instansi, yaitu di majalah media pembinaan dan tabloid mingguan pelajar. Senang sekali karyaku bisa dimuat media seperti itu. Aku mendapatkan surat-surat dari para pembaca yang menanyakan bagaimana caranya menulis puisi. Akupun menjawab sekenanya saja, malah akhirnya pembicaraan menjadi tidak fokus kepada puisi, tapi kenalan dan membicarakan lain hal.

Kegairahanku terhadap sastra semakin bertambah. Dari perpustakaan sekolah, aku membaca banyak lagi buku-buku puisi, antara lain karya: Kahlil Gibran, Heru Emka, Zawawi Imron, Chairil Anwar, Subagyo Sastrowardoyo, Sapardi Djoko Damono, Rendra, Fariduddin Attar, dll. Selain itu, aku juga suka mengkliping artikel-artikel tentang sastra dan puisi dari berbagai media.

Walaupun di SMA aku mengambil jurusan fisika, aku berpikir kalau kuliah aku tidak mau meneruskan yang berhubungan dengan fisika, kimia atau matematika. Aku sadar, bahwa ternyata aku payah dalam hal hitung menghitung, sering ceroboh, kurang teliti! Dari berbagai alternatif yang ada aku memiliki gambaran bahwa aku ingin masuk ke bidang yang aku minati: kepemimpinan! Aku memilih jurusan manajemen. Selain itu sebenarnya aku memiliki keinginan juga untuk masuk ke IKJ dan jurusan sastra. Hanya saja dengan berbagai pertimbangan, usaha serta nasib, mengantarkanku ke jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Unibraw, Malang.

Di masa-masa kuliah ini, kegiatanku berkesenian serta berorganisasi semakin menjadi. Hampir semua unit kegiatan mahasiswa di fakultasku baik intra dan ektra aku masuki. Dari semua kegiatan organisasi mahasiswa itu, yang sangat berpengaruh bagi minatku menulis dan berkesenian adalah saat mengikuti pers mahasiswa dan teater. Aku aktif unit kegiatan pers mahasiswa fakultas dan universitas. Begitu juga di teater, aku menjadi salah seorang pendiri dan sekaligus menjadi ketua teater mahasiswa di fakultasku. Dan pernah juga menjadi ketua teater di tingkat universitas.

Kegiatan di organisasi mahasiswa, mendorongku untuk membaca buku-buku puisi pamflet Rendra. Aku pernah sangat terkagum-kagum pada sebuah film yang dibintangi Rendra, judulnya: “Yang Muda Yang Bercinta.” Segala gaya membaca puisi Rendra aku tiru saat pembacaan puisi. Dan memang, aku sering didaulat untuk membacakan sajak pada saat acara-acara demonstrasi mahasiswa dan acara penyambutan mahasiswa. Aku masih ingat bagaimana sebagai mahasiswa semester awal, dalam acara pemilihan Badan Perwakilan Mahasiswa, membacakan sajak Rendra yang sarat kritik. Di lain kesempatan di depan ribuan mahasiswa baru di stadion di kampusku, aku bawakan sajak seakan-akan saat itu aku menjadi Rendra sang burung merak. Selain sajak Rendra, sajak-sajak Emha Ainun Nadjib sering menjadi bahan pembacaan sajakku di depan umum. Tentu saja ada beberapa sajakku sendiri yang aku baca, dan pernah diminta oleh seorang intel.

Aku masih rajin menulis sajak dan mengirim ke berbagai media. Di Malang aku bertemu dengan Akaha Taufan Aminudin (ATA), seorang penggerak kegiatan sastra di daerah Batu. Aku sering berkunjung ke rumahnya dan berdialog banyak hal, di rumahnya yang menjadi sekretariat HP3N yang menerbitkan buletin sastra. Aku mengirim sajak-sajakku untuk buletin itu dan mengikuti antologi serta perlombaan yang diadakan HP3N. Beberapa sajakku menghiasi buletin serta antologi yang diterbitkan oleh HP3N-Batu itu. Bahkan ada yang masuk menjadi salah satu puisi terbaik. Selain berdiskusi di rumahnya, ATA juga mengajakku untuk membaca puisi di sebuah radio di atas kota batu (Songgotiti). Setiap malam setelah pukul 24, kami turun ke kota Batu berjalan kaki, dan sebelum kembali ke rumah ATA, bersantai dulu di warung-warung dekat alun-alun Batu, yang saat itu masih ada tugu apelnya.

Lewat organisasi yang dikelola ATA inilah aku mengenal banyak nama-nama penulis dan berkenalan langsung saat ada pemberian hadiah lomba yang diadakan HP3N. Aku mengenal Kusprihyanto Namma, Bonari Nabonenar dll dari “Revitalisasi Sastra Pedalaman” dan ikut menghiasi halaman jurnalnya dengan puisiku. Aku semakin banyak mengenal seniman-seniman sastra di Kota Malang.

Selain ATA, ada sosok lain yang juga membawa pengaruh kepadaku, yaitu: Mas Wahyu Prasetya seorang penyair yang sudah banyak mempublikasikan karyanya. Selain itu adalah pak Hazim Amir (Alm), seorang dosen sastra IKIP Malang, yang cukup disegani dan dikenal sebagai budayawan dari Kota Malang. Dengan dua orang ini aku sering berdialog membicarakan banyak hal, selain meminjam buku-buku mereka yang menarik untuk aku baca. Keduanya memiliki karakter keras. Tidak memberikan ampun bagi karya-karya yang dianggap jelek. Wahyu Prasetya, saat aku perlihatkan beberapa puisiku, dia baca dan dengan seenaknya menyilang sajak-sajak yang dianggapnya jelek.

Suatu ketika, beberapa puisiku dimuat di Republika. Teman-teman banyak yang mengucapkan selamat. Bahkan Pak Hazim Amir, saat bertemu denganku, langsung menyapaku: “hei, penyair.” Wah, aku sudah menjadi penyair! Kataku dalam hati.

30 DecProses Kreatifku (3)

Esei: Nanang Suryadi

Geli juga saat seseorang menyapaku sebagai penyair. Di lingkungan kampus, di antara teman-temanku, di antara lingkungan pergaulan yang lebih luas, mereka seringkali mnghubung-hubungkan aku dengan sastra, khususnya puisi. Dan mereka tak segan memanggilku: penyair. Entah mengapa. Mungkin mereka melihat aku demikian mencintai dunia yang satu ini. Dan aku memang sering mengatakan: “aku mencintainya dengan keras kepala.”

Konsistensi. Mungkin itulah kata kuncinya. Ketika seseorang terus menekuni suatu bidang dengan terus menerus, maka orang lain akan “mengakui” seseorang tersebut “berada” dalam bidang tersebut. Hal inilah yang terpikir dalam benakku saat ada yang meributkan masalah “pengakuan” atas eksistensinya di dunia kepenyairan. Pengakuan dari orang lain atas “keberadaan” dan “keberartian” kita bagi suatu lingkungan, sebenarnya mudah sekali, jika kembali pada satu kata kunci tadi: konsistensi. Apakah seseorang tersebut serius terus menerus menggeluti bidang yang ingin dia diakui keberadaannya. Atau hanya sambil lalu saja. Walaupun, seperti dikatakan Budi Dharma, sebagai sebuah sindiran dalam eseinya terhadap para sastrawan kita, bahwa ternyata kebanyakan hanya iseng, mencoba-coba, sambil lalu saja. Dan kerja iseng itu ternyata telah mendapatkan “pengakuan” luar biasa dari orang lain. Mungkin yang dikatakan Budi Dharma itu benar adanya. Mungkin pula tidak. Mungkin akupun sebenarnya belum sungguh-sungguh alias hanya iseng saja menulis sajak, tidak mau mengeksplorasi penuh dan total untuk menjadikan sajak sebagai sebuah kegiatan yang serius dan penuh perhatian. Walaupun, ternyata kerja “iseng” tadi sudah mendapatkan “pengakuan” dari berbagai redaktur sastra yang memuat sajak-sajakku di ruang koran, majalah, jurnal dan laman situs. Tapi, iseng atau tidak terus terang aku mencintainya. Mengapa aku mencintainya? Sukar aku mengatakannya. Mungkin suatu ketika aku tak mencintai dunia kata-kata ini. Seperti terkadang akupun mulai jenuh dan membencinya. Tapi hal tersebut, selama ini tak berlangsung lama. Saat ada ide yang menggoda, aku pun kembali untuk mencintainya. Ah, padahal puisi tak harus digeluti sampai mati bukan? (aku lupa, apakah kalimat ini pernah dikatakan Tardji pada sebuah tulisannya yang aku baca suatu ketika).

Aku sering mendengarkan komentar orang lain terhadap kegiatanku menulis sajak. Komentar mereka diantaranya: aku terlalu produktif menulis. Salah satu orang yang berkomentar tentang hal yang sama adalah Sutardji Calzoum Bachri. Dia adalah salah seorang teman berdialog kalau bertemu di kafe di Tim. Walaupun dialog sebenarnya tidak terlalu tepat, karena sebenarnya dia

yang paling banyak omong dan aku mendengarkan saja celotehannya tentang berbagai hal. Tardji bilang: “Nanang, jangan terlalu rajin nulis puisi.” Aku hanya tertawa saja, lantas bertanya: “Kenapa bang?”

Terlalu rajin menulis, kata Tardji, akan membuat sajak-sajakku menjadi cair. Cair? Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Tapi apakah aku harus menyiksa diriku untuk tidak menuliskan apa yang harus aku tuliskan. Seperti orang kebelet mau ke WC, lalu ada orang bilang: “Nanang, jangan terlalu rajin, nanti cair.” Hehehe, geli juga aku memakai analogi seperti ini. Aku lebih menyukai sering menulis sajak. Mungkin lebih dari 1000 sajakku saat ini. Bagus atau jelek, aku tetap mengakui itu adalah sajak-sajakku.

Sejak aku belajar menulis, aku merasa lebih mudah membuat sebuah sajak, walaupun hasilnya buruk. Aku pernah mencoba menulis cerpen, jumlah cerpen yang jadi hanya sedikit, sebagian besar tidak terselesaikan, karena sudah menghabiskan berhalaman-halaman tapi tak kunjung dapat aku hentikan. Aku mungkin tak begitu peduli dengan “nasib” cerpen-cerpenku, baik yang sudah jadi maupun yang tak jadi itu. Menulis esei juga merupakan sesuatu yang tidak mudah bagiku. Biasanya aku memiliki gagasan besar, menulis judul, lalu menulis beberapa paragraf, setelah itu berhenti dan aku tinggalkan. Aku pikir, aku menyukai menulis sekali jalan dan dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Mungkin karena itulah, aku lebih cenderung untuk menulis sajak.

Dalam menulis sajak, aku tak peduli apakah hasilnya jelek atau bagus. Aku tak ingin gagah-gagahan mengatakan bahwa aku mempersiapkan kosa kata dan mencari kata sampai ke inti sampai ke tulang sumsum seperti Chairil Anwar misalnya. Aku siap sedia dengan dengan segala keterbatasan kosa kata yang terkumpul selama ini dalam benak kepalaku, dan mulai menulis sajak ketika ada suatu sentuhan yang merangsang kata-kata itu keluar menjadi rangkaian-

kata yang disebut sajak. Sentuhan, yang membuka seluruh pengalaman fisik dan batinku selama ini. Jadi, sebenarnya, puisi itu telah ada dalam diriku, hanya saja harus ada suatu pemicu yang membuka seluruh pengalaman puitikku tadi. Pengalaman puitik sering kudapat saat berjalan-jalan, saat ngobrol, saat nongkrong di WC, saat melamun sendirian berbicara dengan Tuhan, saat apa saja. Memang, pernah pula aku mencoba untuk mencari kata-kata dari kamus dan menyengaja untuk membuat sebuah sajak, namun hasilnya tidak memuaskan, karena menjadi sangat teknis, tidak lancar dan seperti menjadi sekedar keterampilan mengolah kata-kata.

Sajak bagiku adalah sebuah dialog. Dengan sajak aku ingin berdialog, maka tak heran jika sering ditemui kata-kata: “mu”, “kita”, “aku” yang merupakan tanda bahwa ada semacam percakapan di situ, sebuah interaksi. Dalam sajak- sajakku, aku kadang-kadang menempatkan diriku bukan dalam posisi “ku” tapi dalam posisi “mu” atau “dia” atau kata ganti lain.

Aku seringkali menyapa seseorang dengan kata-kata yang akrab dikenalinya. Kata-kata yang sering diucapkannya, atau dituliskannya. Dalam sajakku aku tak ragu untuk menyapa Chairil yang menyapaku lewat sajaknya yang menyentuh saat kubaca. Hal yang sama bisa aku lakukan dengan sajakku aku pun menyapa Amir Hamzah, Rendra, Sapardi, Sutardji, Goenawan, Eka Budianta, Afrizal Malna, Subagio Sastrowardoyo, Acep Zamzam Noor, Gus Tf, Dorothea Rosa Herliani, Wahyu Prasetya, Kunthi Hastorini, Anggoro, Yono Wardito, Rukmi Wisnu Wardani, Indah Irianita Puteri, Hasan Aspahani, TS. Pinang, Saut Situmorang, Heriansyah Latief, Medy Loekito, Tulus Widjanarko, Sutan Iwan Soekri Munaf, Ramli, Suhra, Nietszche, Adonis, Rummi, Attar, Octavio Paz, Pablo Neruda atau siapa saja. Bahkan, sebenarnya yang paling sering aku lakukan adalah: menyapa Tuhan melalui sajak-sajakku. Ya, dengan sajak aku

berdialog.

Aku tak takut pada pengaruh para penulis-penulis lain. Aku terima segala pengaruh itu dengan senang hati. Yang memperkaya pengalaman jiwaku. Dan aku mencoba berdialog saat membaca karya-karya tersebut. Aku menciptakan kembali sajak tersebut menjadi puisi dalam angan pikiranku. Mungkin tak sama dengan apa yang dimaui pengarangnya. Tapi bukankah aku berhak memaknai kata-kata yang telah dituliskan, dengan pemaknaan sesuai pengalamanku sendiri, sesuai dengan imajinasiku sendiri.

Kadang-kadang saat membaca sajak, aku mencoba mencari inti kata yang merupakan kekuatan dari sajak tersebut. Aku “mencuri” kata itu dan menjadikannya titik tolak untuk berdialog. Aku coba mengolahnya kembali menjadi rangkaian kata-kata lain dengan apa yang aku rasakan saat

membacanya. Aku tulis terus menerus mengikuti apa yang terlintas dalam benak kepalaku mengembangbiakan kata yang aku “curi” tadi. Hal ini sering terjadi saat aku membaca sajak melalui milist, yang pada saat itu kubaca saat itu pula aku tergoda untuk menanggapinya. Aku jadi terbiasa menulis spontan. Mungkin pada saat itu aku sedang membangkitkan rasa yang terpendam dalam alam bawah sadarku. Mungkin. Hanya saja, bagi orang lain mungkin sajak-sajakku menjadi monoton, karena kosa kata yang muncul sering diulang-ulang dalam banyak sajak-sajakku.

Kegiatan bersastra di internet selama 4 tahun belakangan ini, aku akui mendorongku untuk menulis lebih banyak daripada tahun-tahun sebelumnya. Seringkali aku menulis sajak demikian banyak, ketika aku berhadap-hadapan dengan email yang berisi sajak teman-teman, dan aku tergoda untuk membalasnya dengan sajak pula. Belum lagi, bila sajak atau email itu ditulis oleh seseorang yang aku cintai. Aku dengan sangat bersemangat untuk membalasnya, dengan sajak pula. Sajak-sajak interaktif ini mungkin dapat diteropong sebagai sebuah gejala baik yang muncul dari kegiatan bersastra di internet (lewat mailing list, chat room, buku tamu dan fasilitas

interaktif lainnya). Ada satu perangkat yang aku pakai juga untuk menulis sajak, yaitu melalui SMS di handphone. Aku sering berbalas-balas sajak melalui SMS tadi.

Baiklah, aku akhiri dulu penuturanku tentang proses kreatif ini. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku ungkapkan. Tapi lain kali saja, kalau sempat.***

30 DecTujuh Musim Setahun, Waktu Mencari Makna Cinta

Esei: Nanang Suryadi

Adakah daya tarik novel yang ditulis dari sudut pandang seorang perempuan yang bercerita tentang kaumnya? “Tujuh Musim Setahun”, sebuah novel karya Clara Ng, mencoba membeberkan secara subtil mengenai orientasi manusia terhadap ruang dunia yang terus berubah, dari beragam pandangan yang berbeda. Di mana muatan ceritanya memunculkan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam perhelatan persahabatan 5 orang perempuan, yang ditulis oleh seorang perempuan. Penghayatan penulis perempuan atas dirinya sendiri barangkali akan berbeda hasilnya jika permasalahan yang sama diceritakan oleh seorang novelis lelaki.

Satu hal lagi yang patut diperhitungkan oleh kehadiran novel ini adalah novel-novel sebelumnya yang terbit di masa yang sama dan mengambil tematik yang hampir serupa. Clara Ng sebagai penulis yang muncul pada masa yang sama dengan Ayu Utami dan Dewi Lestari, novelis yang pada beberapa tahun terakhir ini karyanya banyak dibicarakan. Pada sebagian pembaca mungkin akan segera membandingkan novel karya Clara Ng ini dengan novel “Saman” dan “Larung” karya Ayu Utami serta “Supernova” karya Dewi “dee” Lestari. Apakah Clara Ng menemukan sebuah celah cara pandang yang berbeda dalam melihat perubahan nilai-nilai yang terjadi? Dengan membaca novel ini dapat kita ketahui apa perbedaannya, juga perbedaan dalam penyampaiannya.

Pertanyaan yang mengemuka dalam novel ini: Apa itu waktu? Apa itu Cinta? Pertanyaan itu menjadi tema yang mengikat seluruh rangkaian dalam novel ini. Novel ini dalam banyak babnya menggunakan judul dengan kata awal: musim. Tiap musim yang menandai pergantian bab dalam novel ini sebenarnya dapat dibaca sebagai sebuah cerita yang berdiri sendiri, karena di sana memiliki tokoh utama nya sendiri, namun jika dibaca sebagai sebuah rangkaian novel, maka tiap-tiap bab dan musim itu menunjukan rentangan antar peristiwa yang terjadi, sebab dan akibat yang terjadi.

Clara Ng, penulis novel ini, membuat jalinan peristiwa antar bab yang melibatkan banyak tokoh dalam berbagai kombinasi bercerita. Teknik yang sering dipakai untuk memahami logika cerita dengan merunut waktu kejadian adalah dengan banyaknya penggunaan tanggal, sehingga dapat terasa seperti membaca buku catatan harian para tokoh dalam novel ini. Selain dengan model-model catatan harian, sering juga dipakai penceritaan memakai email serta chating melalui internet. Terkadang, penulis juga menjadi pihak pertama yang menceritakan tokoh-tokohnya sebagai pihak ketiga, kepada pembaca (pihak kedua). Selain itu, teknik yang sering kali dipakai adalah penceritaan oleh sang tokoh utama dalam bab, yang dibiarkan bercerita langsung kepada pembaca. Mereka menceritakan dirinya sendiri, juga bercerita tentang rekan-rekan dalam lingkaran persahabatan. Pada beberapa pengadegan dibuat dengan teknik kilas balik (flash back) atau seperti dalam sebuah film yang menggambarkan perbedaan ruang dalam kesamaan waktu, dengan berselang-seling penceritaannya. Dalam penceritaan oleh tokoh-tokoh dalam novel ini, rentangan yang menghubungkan peristiwa satu dengan yang lainnya pada bab berbeda, tokoh Lara sering muncul pada semua bab.

Secara umum dialog-dialog antar tokoh dalam novel ini tidak terpaku kepada bahasa Indonesia baku. Bahkan pada beberapa penceritaan oleh tokoh, ketidakbakuan itu pun muncul bukan hanya dalam dialog, namun dalam tuturan atau narasi. Dengan demikian dialog antar tokoh menjadi terasa ringan dan apa adanya dalam kehidupan sehari-hari pergaulan. Walaupun begitu, dialog-dialog serius pun masih tetap ada, hal ini dapat ditemui pada beberapa dialog antara tokoh laki-perempuan. Selain itu nampak pula perbedaan ketika dialog batin (konflik psikologis) yang muncul dibuat puitis dan menjadi terasa sublim.

Dalam novel ini terasa bahwa peristiwa demi peristiwa berlangsung pada kelas sosial tingkat menengah – atas. Para tokoh dapat dikatakan sebagai generasi cyber, rata-rata umur para tokohnya berkisar belasan hingga 20-an tahun saat berbagai peristiwa itu digambarkan dalam novel ini. Penggunaan alat komunikasi melalui internet sudah bukan hal yang asing dilakukan oleh para tokoh dalam novel ini. Selain itu digambarkan pula bahwa para tokoh dalam novel ini adalah lulusan perguruan tinggi, diantaranya ada yang sekolah di Amerika Serikat. Wawasan yang terbangun dalam lintas informasi dan pergaulan tersebut dapat meyakinkan latar belakang mengapa pada beberapa tokoh dalam novel ini mengetahui banyak wacana ilmu pengetahuan dan tertarik pada kata-kata hikmah dari berbagai ajaran agama.

Hal yang menarik dapat ditemukan dalam novel ini bahwa ada konsistensi penyelesaian masalah oleh penulisnya. Yaitu dengan membiarkan beberapa tokohnya larut atau menyerahkan pada naluri, yang dicitrakan antara lain dengan ditandai seperti hadirnya kejutan-kejutan listrik atau proses kimiawi yang aneh dalam tubuh.

Tokoh-tokoh dalam novel ini memiliki masalahnya masing-masing, yang penceritaannya dapat diketahui dari tuturan langsung sang tokoh tentang dirinya sendiri, maupun tuturan kesaksian oleh tokoh dalam bab tentang tokoh-tokoh lain dalam bab yang yang lain. Berikut gambaran para tokoh dalam novel tersebut.

Lara, tokoh yang banyak diceritakan dalam novel ini, baik diceritakan oleh penulis, dirinya sendiri, maupun oleh teman dan kekasihnya. Lara diperlihatkan sebagai sosok yang terobsesi dengan kenikmatan birahi. Ia menikmati berbagai sensasi kenikmatan jasmaniah dengan fantasi dunia maya (cyber)/ masturbasi dan real, misalnya berhubungan dengan: Alfa, Nata (masturbasi, cyber dan nyata)dan Michael (di pesawat). Perilaku yang dapat ditelusuri dari masa kecil, di mana secara gamblang Lara menceritakan dirinya sangat menikmati masturbasi sejak umur 7 tahun.

Tokoh Mei dan Kris, sepasang suami istri yang memiliki masalah dalam perkawinan mereka. Mei secara sepintas ia mungkin dapat dikatakan berbahagia, dengan suami dan anak, sepanjang perkawinan, namun ia bermasalah karena tidak pernah mengalami orgasme. Ia hanya mendapatkannya ketika bermasturbasi dengan membayangkan orang lain (atas saran dari Lara, melalui email). Selain itu masalah yang dihadapi Mei adalah perselingkuhan yang dilakukan Kris (suaminya). Agak mirip dengan tokoh Rana di novel “Supernova” karya Dewi Lestari. Jika di novel “Supernova” Rana yang berselingkuh maka dalam novel tujuh musim setahun, suami Mei (Kris) yang berselingkuh. Kris mirip dengan tokoh Arwin dalam novel “Supernova”, yang tidak memuaskan istrinya. Kris berselingkuh dengan istri orang (pelanggan tokonya), yang mengajak berselingkuh. Akhirnya ketahuan. Namun Mei memaafkannya.

Tokoh Iris dan Phoebe, pasangan lesbian yang memproklamasikan diri melalui wawancara di majalah. Hubungan sebab akibat terlihat dalam proses panjang yang menjadikan mereka menjadi sepasang lesbian. Sosok Iris dengan sangat cermat digambarkan oleh Clara dalam berbagai peristiwa. Iris adalah sosok perempuan yang oidipus complex yang akhirnya kecewa dengan laki-laki, antara lain dapat diketahui dari penceritaan tentang ayahnya yang meninggalkan ia dan ibunya; seorang pemuda yang dicintainya di waktu kecil mengalami kecelakaan; guru yang ditaksirnya menolak; dosen yang berselingkuh dengannya menghina di depan umum. Sedangkan Phoebe sejak remaja telah merasakan tanda-tanda bahwa ia hanya menyukai perempuan, jika pun ia pernah menikah dengan Ben (selama 2 tahun yang terasa sebagai neraka) itu disebabkan karena ia masih takut dengan resiko sosial yang harus diterima dari lingkungan keluarga dan masyarakat.

Tokoh Selena, sangat peduli dengan keperawanan. Ia merasa kesepian, karena agak terlambat dibandingkan dengan teman-temannya mengenal sentuhan lelaki. Ia baru merasakan kenikmatan sex setelah perkawinannya dengan Abraham sepupunya yang berbeda agama. Mulanya tidak direstui orang tuanya. Namun mereka kawin lari, menikah dengan memakai catatan sipil. Setelah mengetahui kejadian itu barulah orang tua mereka memberikan restu dan mengadakan pesta perkawinan yang sangat meriah.

Tokoh Nata, berpacaran dengan dua orang Rana (cyber) dan Nuna (real). Nuna, pacar Nata di Amerika, mati setelah koma sekian lama akibat tertembak saat terjebak dalam peristiwa perang antar gang. Nuna agnostic, saat dia mati karena tidak dicapai kesepakatan antar kerabatnya agama apa yang dianut oleh Nuna maka diadakan upacara doa dengan memakai semua agama. Nata menolak kenyataan bahwa Nuna sudah mati. Sangat terpukul dengan kematian Nuna dan terhalusinasi kupu-kupu sebagai jelmaan Nuna, akhirnya bunuh diri terjun dari gedung tinggi, dengan bayangan ia bergabung dengan Nuna menjadi seekor kupu-kupu yang terbang. Klimaks yang bagus, cukup mendebarkan, dengan penggambaran adegan Lara memacu mobilnya, diantara sela-sela penceritaan berbagai hal melalui email berbagai tokoh dalam buku ini, ingin mengetahui apa yang terjadi dengan Nata.

Tokoh Michael, dihantui penyesalan karena Tania (pacarnya di SMA) mati karena aborsi ilegal. Dalam penyesalannya tersebut, saat berdialog dengan temannya yang bernama Tommy, dia membayangkan jika ia dapat kembali ke “waktu” sebelum kematian Tina. Apa yang dapat ia lakukan agar Tania tidak mengalami kematian. Dapatkah ia mencegah Tania meninggal. Apa yang akan dilakukannya dengan Tania dengan tetap hidup dan mengandung anak di luar nikahnya itu. Michael membayangkan beberapa kemungkinan yang akan ia lakukan jika dapat kembali ke masa lalu, namun alternatif dalam bayangannya itu selalu berakhir buruk (tidak bahagia). Jika akhirnya Michael aktif di LSM advokasi perempuan, adalah seperti sebagai penebusan rasa bersalah kepada Tania. Michael sudah lama tinggal di Amerika. Pertemuannya dengan Lara di pesawat menuju Amerika menjadi titik awal hubungannya dengan perempuan yang terobsesi nafsu birahi itu. Maka tak aneh, jika suatu ketika Lara bercerita kepada rekannya ia bersetubuh dengan Michael di closet pesawat.

Demikianlah gambaran sekilas tokoh-tokoh dalam novel tersebut. Berbagai peristiwa yang dialami oleh tokoh-tokoh yang hadir dalam novel ini dapat merefleksikan banyak perubahan yang terjadi di sekitar kita, yang dengan lancar dirangkai dan dikemas oleh Clara dengan bahasa yang tidak sulit untuk dipahami. Bahkan ketika harus menceritakan tentang segala macam bintang dan konsep jarak dalam ribuan tahun cahaya.

30 DecINTERAKSI SAJAK (1)

Esei: Nanang Suryadi

Sajak tercipta sebagai sebuah reaksi terhadap sesuatu hal yang menyentuh relung puitik seorang penyair. Sebenarnya tak ada yang mengharuskannya menuliskan pengalaman puitiknya itu menjadi sebuah karya. Ia bisa menyimpannya menjadi sebuah pengalaman individual, tak perlu orang lain tahu. Tapi, secara manusiawi banyak orang akan mengabarkan apa yang dirasakannya kepada orang lain, entah itu perasaan suka tak suka, sedih, gembira, marah dan sebagainya. Ya, penyair dalam hal ini ketika menulis sajak-sajaknya ia telah menjadi orang yang mengabarkan sesuatu yang terjadi dalam dirinya saat berinteraksi dengan berbagai hal di luar dirinya.

Apakah sebuah sajak dapat mewakili dengan utuh “Puisi” (dengan P besar, sebagai pengalaman puitik sang penyair). Kata-kata atau bahasa memiliki keterbatasan-keterbatasan untuk mengungkapkan pengalaman puitik tersebut. Jika saja ada sebuah alat yang dapat menghubungkan kepala penyair dengan kepala penikmatnya (seorang rekan menyebutnya alat intersubyektif) tentu tak diperlukan lagi kata-kata atau bahasa untuk mengabarkan pengalaman puitik itu. Bahasa bisa berlebih-lebihan menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi, atau sebaliknya ia bisa mengurang-ngurangi apa yang sesungguhnya terjadi. Dan sesungguhnya tak semua bisa dikatakan dengan ungkapan verbal dengan bahasa yang terucap oleh mulut. Seringkali lewat tatap mata, atau gerak tubuh dapat dapat bercerita banyak dibandingkan dengan kata-kata yang terucap atau tertulis.

Seringkali dikatakan bahwa penyair adalah orang yang sering melebih-lebihkan, menceritakan hal-hal yang tak pernah dialaminya. Dengan kata lain penyair menjadi sosok tertuduh sebagai pendusta. Jika ini dihubungkan dengan keterbatasan kata atau bahasa sebagai alat ungkap, kemungkinan besar itu akan terjadi. Seorang penyair dengan memakai kata-kata atau bahasa tulis yang penuh dengan keterbatasan itu, akan menjadi berlebih-lebihan atau sebaliknya mengurangi apa yang dialami (pengalaman puitik) yang didapatnya dari sebuah interaksi.

Dalam mengungkapkan pengalaman puitiknya itu, seorang penyair berusaha memaksimalkan kemampuan kata-kata (bahasa), yang terbatas itu, menjadikan sajak seakan-akan menayang ulang kejadian puitik yang sesungguhnya. Sebuah sajak yang dapat mengungkap kembali pengalaman puitik sang penyair akan ditangkap oleh pembaca sebagaimana yang ingin diungkapkan. Berbagai teknik dapat dicoba untuk itu. Efek-efek yang timbul dari sajak diharapkan dapat mengungkap kembali hal-hal yang berhubungan dengan bunyi, pemandangan, rasa di lidah, bau di hidung, kasar halus pada kulit sesuai dengan pengalaman puitik yang didapat penyairnya.

Seorang penyair yang merasa telah mapan dengan teknik yang ia kuasai, cenderung malas untuk mencoba-coba. Ia merasa, dengan mencoba-coba maka ia tak memiliki gaya unik yang miliknya sendiri. Dan itu berarti karya-karyanya akan menjadi tak teridentifikasi sebagai karyanya yang orisinal.

 

30 DecINTERAKSI SAJAK (2)

Esei: Nanang Suryadi

Keorisinalan gaya seringkali menjadi beban bagi penyair. Seakan-akan menjadi dosa besar ketika terlihat pengaruh orang lain dalam karyanya. Hal itu diperkukuh dengan vonis-vonis dari kritikus yang cenderung melihat pengaruh orang lain terhadap karya sang penyair sebagai sesuatu yang negatif.

Secara logis, pengaruh orang lain ke dalam karya seorang penyair tidak dapat dihindarkan. Terlebih lagi, sajak adalah hasil interaksi dengan hal-hal di luar diri penyair. Seorang kritikus dapat menelusuri pengaruh-pengaruh tersebut bermula. Ia dapat saja keliru mengidentifikasi. Terlebih lagi di saat sekarang berbagai informasi dari berbagai penjuru dunia demikian banyak, sehingga sangat besar kemungkinan antara identifikasi kritikus terhadap apa yang mempengaruhi karya seseorang bisa meleset. Saya mengandaikan misalnya seorang kritikus menyebut: ada pengaruh Chairil Anwar, Goenawan Mohammad, Sapardi Djoko Damono, Rendra, Subagio Sastrowardoyo, Sutardji Calzoum Bachri, Abdul Hadi WM, Afrizal Malna, Dorothea Rosa Herliani dalam karya seseorang, sedangkan sesungguhnya sang penyair jarang membaca sajak-sajak mereka, bisa jadi yang sering dia baca adalah sajak-sajak dari Rummi, Attar, Nietszche, Adonis, Maya Angelou, Emily Dickinson, Edgar Allan Poe, EE Cumming, Pablo Neruda, Octavio Paz, Ezra Pound, Lipo dan banyak lagi penyair-penyair besar dunia lainnya. Dalam hal ini, untuk mengidentifikasi dan membedah karya penyair masa kini akan semakin tidak mudah, karena sebagaimana hypertex dalam dunia internet yang membuka kemungkinan untuk memasuki dunia antah berantah yang masing-masing berbeda dalam penemuannya, maka zigzag perkembangan wawasan dan estetika seorang penyair akan berbalapan dengan sorotan kritikus. Dan hingga saat ini, sepertinya kritikus kita masih selalu berbicara penelusuran ke dalam negeri, locally!

30 DecINTERAKSI SAJAK (3)

Esei Nanang Suryadi

Dalam beberapa bulan terakhir, sebagai redaktur puisi cybersastra.net, saya menemukan banyak kejutan-kejutan saat membaca sajak-sajak yang masuk. Ah, bikin mabuk, membaca semua sajak-sajak ini, bayangkan paling tidak 50 sajak setiap harinya, berapa waktu yang harus dicadangkan untuk membaca semuanya? Selain kejutan-kejutan itu, banyak juga ditemui sajak-sajak yang tak beranjak dari model-model Pujangga Baru yang tenang kemilau, atau “Aku”-nya Chairil Anwar. Tidak menawarkan sesuatu yang baru mengikuti perkembangan jaman. Mungkin saya keliru mengidentifikasi, sebagaimana diutarakan di muka. Karena menurut seorang rekan yang meneliti sajak-sajak dalam bahasa Inggris, ia bilang banyak poems yang lurus-lurus saja (atau jangan-jangan ia sebenarnya tidak tahu belokannya di mana? Hehehe). Tapi jika memang dugaan saya betul bahwa sajak-sajak itu tak beranjak dari model Pujangga Baru yang tenang dan kemilau atau “Aku” sang fenomenal Chairil, maka sangat disayangkan, karena ternyata informasi yang melimpah ruah yang ditawarkan berbagai media (antara lain internet) tidak dimaksimalkan untuk menjelajahi dunia baru, dunia entah, dunia antah berantah.

Dalam menyikapi fenomena di atas, ada sebagian pengamat mengatakan bahwa itu karena pembelajaran sastra di sekolah yang salah, yang hanya menyodorkan karya-karya jaman “baheula” dan menghafal nama-nama sastrawan, periodesasi dsb. Atau ada juga yang mengatakan, bahwa ada skenario besar yang menghegemoni pemikiran, bahwa hanya karya-karya tertentu milik sastrawan tertentu yang baik dan lazim, yang menurut mereka hal ini dilakukan dengan cara penobatan dan ekpansi oleh pihak “pemenang” sebuah pertarungan estetika (politik?) di waktu lampau.

Ada tinjauan lain yang dapat ditawarkan, yaitu melihat motivasi seorang ketika menulis dan menyiarkan sajak. Tinjuan terhadap motivasi ini dapat mengidentifikasi apakah seseorang itu bersungguh-sungguh ingin menjadi penyair yang “berprestasi” atau hanya penyair “sekedar.”

Sebagai sebuah kegiatan, menulis dan menyiarkan sajak tentu saja adalah hasil sebuah dorongan, baik internal maupun eksternal yang melakukannya. Dorongan ini bisa terlihat hasilnya secara fisik, namun seringkali merupakan hal yang berkaitan dengan psikologis. Secara teoritis banyak hal yang membuat seseorang termotivasi. Saya meminjam dua teori motivasi yaitu teori Abraham Maslow tentang Hierarchy of needs dan McClelland theory of needs. Dua teori ini mengungkap bahwa seseorang melakukan sesuatu karena didorong untuk memenuhi kebutuhannya (needs). Masslow membuat hierarki kebutuhan yang harus dipenuhi tersebut, yaitu physiological, safety, social, esteem dan self actualization. Sedangkan McLelland membagi kebutuhan manusia menjadi Need for Achievement, Need for Power dan Need for Affilization. Dari kedua teori ini, faktor apa yang dominan seorang penyair menulis dan menyiarkan karya-karyanya? Demikian banyak penyair, maka tak akan mudah untuk mengidentifikasi apa yang memotivasinya. Karena kemungkinan-kemungkinannya menyebar ke semua faktor tersebut di atas.

Dalam beberapa kali kesempatan kegaiatan sastra, Sutardji Calzoum Bachri menyatakan: achievement! Yang katanya “achivement” ini akan menjadikan seseorang tidak menjadi penyair yang “sekedar”. Dari kedua teori di atas apa yang dikatakan Sutardji tersebut dapat dibaca bahwa untuk menjadi seorang penyair “besar”, maka ia harus melampaui kebutuhan-kebutuhan yang lain (dalam hierarki kebutuhan Masslow) seperti Phisiological, Safety, Social, karena achievement dalam hierarki ini termasuk ke dalam “Esteem” (tangga ke empat dari hierarki). Pertanyaannya mengapa hanya sampai tangga ke empat? Tidak sampai pada tangga puncak Self –Actualization?

Lalu hubungannya dengan model-model yang tak beranjak dari Pujangga Baru itu bagaimana? Mungkin begitu pertanyaan selanjutnya. Dengan memakai kategori “penyair berprestasi” dan “penyair sekedar” maka dapat dikatakan bahwa upaya sungguh-sungguh untuk menjadi “penyair berprestasi” didorong untuk memenuhi kebutuhan “achivement”. Dan itu akan menunjukan perilaku yang berbeda, penyair itu akan mencari banyak hal, belajar sungguh-sungguh, mengupayakan pendobrakan-pendobrakan estetika dsb. Di sisi lain, “penyair sekedar” tak memerlukan itu, karena ia memang tak membutuhkan itu dari sebuah sajak, ia dapat mencapai achivement bahkan self-actualization dari kegiatan lain, misalnya di kantor ia bekerja, sebagai CEO atau Presiden Komisaris di perusahaan multinasional….