06 NovGelisah Penyair

seorang penyair bertanya: “jika aku harus menulis puisi, kata apa yang mesti kutuliskan? puisi tinggal sepi, pasi tak berdarah lagi”

penyair menjaring kata, dari ingatan yang lamat, hingga lumat segala penat, hingga sampai ucap pada alamat, hingga tamat

dengan gelisah yang sama penyair juga bertanya: “bagaimana dapat kurasakan luka dengan penuh senda, bagaimana dapat kurasakan pedih perih dengan gurau senantiasa. puisi yang hampa”

di jalan dia bertemu penunggang kuda, penyair menyeru: “tuan, tuan ksatria bukan?” penunggang kuda berlari kencang, ke negeri utara. negeri yang diimpikannya.

sang penyair mendengar kabar penunggang kuda diberi gelar: ksatria. di dalam buku dongeng dia membaca: “engkau kssatria pemberani, pembela rakyat sejati.” ibu ratu mengalungkan medali. Lelaki itu bangga sekali.

penyair mengabadikan nyeri, sambil menghibur diri: semua baik-baik saja tentang negeri ini. ksatria itu telah menuntaskannya

“wahai penyair, kau menangisi diri sendiri?” tanya parang yang berdarah malam tadi. api menjela tiada henti

“menulislah tentang bulan bulat yang teramat indah,” kata sebuah suara. penyair malah menangis. bulan darah, katanya.

penyair ingin mengulang-ulang sajak tentang rembulan, sajak cinta yang berulang-ulang didaur ulang. cinta yang terluka.

 

Download File:

Gelisah Penyair

Comments are closed.