Archive for January, 2012

Last updated by at .

16 JanMenonton Opera Laki-laki Sejati

Pada 13 Januari 2012 saya mendapat undangan untuk menonton pertunjukan Opera Lelaki Sejati, dari Ananda Sukarlan dan Amadeus Performing Arts Surabaya. Sangat menyenangkan bisa menonton pertunjukan yang terdiri dari dua babak ini. Penonton disuguhi kepiawaian bermain piano dan seni suara yang memukau dari anak-anak dan orang muda berbakat besar, serta tentu saja dari sang maestro piano Ananda Sukarlan.

Pada pertunjukan itu ada dua puisi saya yaitu: Jemari Menari dan Seorang yang Menyimpan Kisahnya Sendiri yang digubah oleh Ananda Sukarlan menjadi sebuah lagu. Ananda Sukarlan memang banyak menciptakan lagu-lagu dari para sastrawan Indonesia, seperti malam itu opera Laki-laki Sejati berdasarkan tulisan Putu Wijaya. Karya-karya para sastrawan Indonesia yang pernah diolah menjadi lagu oleh Ananda Sukarlan antara lain karya: Chairil Anwar, Sutan Takdir Alisyahbana, Rendra, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Eka Budianta, Ook Nugroho, Medy Loekito, Joko Pinurbo, Hasan Aspahani, Aan Mansyur, Abang Edwin, Sitor Situmorang, Putu Wijaya, Nanang Suryadi. Sedangkan karya-karya sastrawan dunia antara antara lain karya-karya dari Walt Whitman, Henry Longfellow, Amado Nervo, Gustavo Adolfo Becquer, Lord Byron.

Saya sangat berterima kasih kepada Ananda Sukarlan dan Amadeus Performing Arts Surabaya yang telah mengundang saya ke Gedung Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur malam itu. Pertunjukan yang sangat mengesankan.

Sila kunjungi juga:

http://anandasukarlan.com

http://musik-sastra.com/

12 JanANGKATAN TERBARU SASTRA INDONESIA; SEBUAH PERBINCANGAN

Oleh: Nanang Suryadi

Pada dunia yang saya sukai dengan cinta keras kepala: sastra, saya mengenal ada pembabakan sejarah sastra Indonesia, ke dalam beberapa angkatan, yaitu: Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, Angkatan 45 serta Angkatan 66.

Dalam hal pembabakan sejarah sastra, ada juga penulis sastra yang enggan menuliskannya berdasarkan angkatan, walaupun tetap menyebutkan fakta bahwa adanya sekelompok orang yang memproklamirkan keberadaan sebuah angkatan. Salah seorang penulis sejarah sastra yang enggan menuliskan pembabakan berdasarkan angkatan antara lain Ajip Rosidi (1986), yang menyatakan: dalam pembabakan ini digunakan istilah “periode” dan bukan “angkatan” karena “angkatan” dalam sastra Indonesia sekarang telah menimbulkan kekacauan. Pembedaan antara periode yang satu dengan yang lain berdasarkan adanya perbedaan norma-norma umum dalam sastra sebagai pengaruh situasi masing- masing zaman. Sedangkan perbedaan antara angkatan yang satu dengan yang lain sering ditekankan pada adanya perbedaan konsepsi masing-masing angkatan. Dalam suatu periode mungkin saja kita menemukan aktivitas lebih dari satu golongan pengarang yaang mempunyai konsepsi yang berbeda-beda; sedangkan munculnya periode baru tidak pula usah berarti munculnya angkatan baru dengan konsepsi baru. Perbedaan norma-norma umum dalam sastra sebagai pengaruh situasi suatu zaman, mungkin menimbulkan suasana baru dalam kehidupan sastra tanpa melahirkan konsepsi sastra baru yang dirumuskan oleh seseorang atau sekelompok sastrawan.

Pada tahun 1998 ini, Kusprihyanto Namma, Sosiawan Leak dan Wowok Hesti Prabowo mencetuskan perlunya angkatan terbaru sastra Indonesia, yang ditandai dengan diterbitkannya Tabloid Angkatan. Secara umum keperluan adanya angkatan terbaru sastra Indonesia ini, dapat tertangkap dari sebuah pertanyaan retoris: mengapa tidak ada lagi angkatan sastra setelah angkatan 1966. Jika tidak ada pencetusan angkatan yang lain sesudah angkatan 66 maka dapat dikatakan bahwa sastrawan yang berkarya pada tahun 1970-an, 1980-an, 1990-an tetap termasuk sebagai bagian dari angkatan 1966.

Setiap angkatan memiliki kredo yang menjabarkan konsepsi yang membedakannya dengan angkatan lain, dan juga memiliki corong yang menyuarakan kehadiran sebuah angkatan. Angkatan Balai Pustaka memiliki konsepsi berdasarkan kebijakan pemerintah Hindia Belanda, seperti dikemukakan oleh Dr. A.Rinkes: “….maka haruslah diadakan kitab-kitab bacaan yang memenuhi kegemaran orang kepada membaca dan memajukan pengeetahuannya, seboleh-bolehnya menurut tertib dunia sekarang. Dalam usahanya itu harus dijauhkan segala yang merusakkan kekuasaan pemerintah dan ketentraman negeri” (Ajip Rosidi, 1986); Angkatan Pujangga Baru lahir dengan konsepsi yang dikumandangkan oleh Sutan Takdir Alisyahbana dalam Majalah Poejangga Baroe. Sedangkan angkatan 45 ditandai oleh konsepsi dalam Surat Pernyataan Gelanggang, serta yang tak kalah pentingnya adalah pembelaan oleh HB. Jassin akan keberadaan angkatan ini. Sedangkan angkatan 1966, keberadaannya diproklamirkan oleh HB. Jassin, yang menulis dalam majalah Horison (1966):” khas pada hasil-hasil kesusastraan 66 ialah protes sosial dan kemudian protes politik”.

Mengingat kelahiran sebuah angkatan diawali oleh adanya sebuah konsepsi yang membedakan dengan angkatan yang lainnya, maka pertanyaannya adalah: sudah adakah sebuah konsepsi lain yang bisa ditawarkan oleh angkatan terbaru sastra Indonesia?
Ataukah sebenarnya kita tidak perlu repot-repot untuk membuat ‘hanya’ satu buah angkatan terbaru. Mengapa tidak dilakukan saja penulisan buku sejarah sastra Indonesia yang lengkap, yang akan menunjukan perkembangan sastra Indonesia secara komprehensif antara lain dengan memberikan ciri-ciri berdasarkan fakta-fakta empiris yang berkembang sepanjang sejarah sastra Indonesia itu sendiri. Sangat mungkin pada rentang waktu 1966-1998 (32 tahun) tersebut akan ada beberapa angkatan, yang pengelompokannya berdasarkan ciri-ciri atau kecenderungan masing-masing, walaupun mungkin para sastrawan yang berkreasi pada masa itu tidak menyatakan adanya sebuah angkatan pada kalangan mereka. Jadi sebenarnya ini merupakan tugas dari sejarawan sastra. Entahlah lagi, jika ada kepentingan lain, yang mungkin dirasakan beberapa sastrawan akan memberikan sumbangan besar terhadap perkembangan sastra, misalnya saja, dengan mencetuskan lahirnya sebuah angkatan sastra terbaru, taruhlah kita beri nama: angkatan reformasi, maka akan lahir konsepsi yang akan menjadikan karya-karya sastra pada angkatan tersebut akan menjadi lebih baik atau bermutu dipengaruhi oleh semangat reformasi.

Tapi, apakah adanya sebuah angkatan sastra menjadi hal yang sangat penting saat ini dan apakah jika tanpa legitimasi angkatan maka sebuah karya sastra menjadi tidak sah sebagai karya sastra, dan akan mengurangi mutunya?

Begitulah, perbincangan tentang keberadaan sebuah angkatan terbaru sastra Indonesia tidaklah sekedar sebuah pernyataan setuju atau tidak. Mungkin, yang perlu dilakukan segera, untuk merunut gairah kreativitas sastra, adalah dengan melakukan penulisan sejarah sastra Indonesia yang jujur dan adil. Dan jangan pula lupa dengan penulisan karya sastra serta kritik sastra, yang merupakan tonggak dari segala macam perdebatan ini.

Malang, 1 Nopember 1998

Tags:

11 JanPuisi

Puisi

 

PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
PUISI
NANANG SURYADI @PENYAIRCYBER
MEMO PADA SUATU KETIKA
tiba-tiba kau datang mengirim pesan:
datanglah, saat senja. aku menunggumu, dengan segala impianmu tentang
diriku. kau pernah berpikir bahwa aku bersayap? ya, sayapku berupa
warna-warna gemerlap. mungkin akan mengagumkanmu. mungkin tidak. karena
segalanya kau impikan. diriku diselubungi segala cahaya.
katakan, jangan menangis, padanya. yang mungkin akan kehilangan. jangan
takut. karena segala yang fana akan pudar. akan tamat.
jangan lupa, saat itu
KAU BEGITU MENYEBALKAN
sungguh, kau begitu menyebalkan. dengan impian-impianmu. dunia sudah
sedemikian susah. mengapa kau terus gaduh di situ. mari kita diam saja.
hai, mengapa kau terus mengomel? dasar pemimpi!
“tapi dunia sudah demikian tak memiliki hati. hidup menjadi lintasan
video klip. berkelebat ke sana ke mari. ledakan bom di kota-kota tak
membuat hati kita sedih. pipi cekung kanak-kanak kelaparan tak membuat
kita iba. apa yang salah pada nurani kita? mungkin telah menjadi
batu…”
sungguh, kau begitu menyebalkan, dengan pertanyaan-pertanyaan seperti
itu, membuatku malu…
BUNGA SEKUNTUM
aku ingin sematkan bunga, sekuntum, pada telingamu, agar matamu yang
hitam itu, semakin bercahaya,
ya, bunga-bunga demikan liar bertumbuhan di rumputan, padang terbuka,
mungkin tak sewangi geriap rambutmu, pada angin, menyentuh,
wajahku
ABSTRAKSI KENANGAN
lalu kau tuliskan segala kenangan, pada udara,
seperti guratan hari-hari kita, demikian abstrak,
tak jelas jelas canda atau petaka,
tak jelas nama atau bencana,
lalu, kau hapus segala kenangan,
begitu saja
ya, begitu saja
PADA AIRMATA
(kau ingin rasakan keheningan ini, seperti cucuran airmata, beterjunan
kanak-kanakmu, dalam segala moyak harapan)
sudah lama aku kehilangan air mata, tangisku menjadi api menyala,
jangan, jangan membuatku menangis, karena kota-kota sudah menjadi
puing, kanak-kanak sudah demikian damai dalam lubang besar pemakaman,
(kau ingin rasakan kesunyian ini, seperti cucuran airmata, beterjunan
aku, mencari cintamu)
sudah lama aku kehilangan cinta, tak ada yang tersisa, mungkin pada
pecahan granat atau bau bensin dan pecahan botol, tiada, tiada lagi
yang tersisa, kau lihat sepatuku, perhatikan, di ujungnya, ya merah dan putih,
darah dan sedikit cairan otak, eh ada berhelai rambut juga
(kau ingin rasakan keindahan ini seperti cucuran airmata, beterjunan
mereka, mencari cahaya)
sudah lama aku tak ada cahaya, di sini, dalam hatiku…
cilegon, 1999
DEBU DI LEKUK BENANG
pada kanvas ini, aku serupa titik, mungkin di sela, di lekuk benang,
debu? satu dalam bermilyar debu yang menghambur, menyeru: Kekasih
warna-warna dipulaskan di kanvas: bintang biru, atau pelangi pagi hari,
mungkin juga raguku
depok, 1999
EPISODE PINOKIO
boneka itu, minta menjadi manusia, pinokio, si hidung panjang. aduh,
padahal jadi manusia susah sekali. sudahlah, jadi boneka saja, biar
ditimang, biar kuelus, biar menangis, asalkan kau bukan manusia, yang
punya banyak impian dan masalah
“dan berbunuhan”, kata malaikat kepada Tuhan sebelum dicipta Adam
depok, 1999
STASI TAK TERHINGGA
      buat: eka budianta
tak hanya jakarta, chris
kudatangi negeri-negeri asing
persinggahan tak terhingga
dalam mimpiku
seorang yang mabuk kata-kata
menulis surat untukmu:
“inilah negeri itu,
kita bertatap mata,
rindu sekali”
depok, 1999
DUA PULUH EMPAT SENJA 
tataplah warna keemasan, tataplah dengan hatimu, di langit, adakah
namaku? mungkin di hatimu, kanak-kanak berlarian, dua puluh empat senja,
catatlah dalam-dalam, pada kenangan, sudah habis cucuran airmata, tiada
lagi kesedihan, atau teriakan, memecah sunyimu, dua puluh empat senja,
aku datang padamu, mengalungkan bunga, kanak-kanak yang tertawa
berceloteh, atau lelaki yang membaca, puisi begitu memabukkan,
kata-kata menjadi gelembung, aku bawakan balon warna-warni, dua puluh
empat senja, lilin yang nyala
depok, 5 nopember 1999
ROMANTISME MUSIM
:dp
Aku serasa mencium musim-musim
Bertumbuhan dalam udara
Kemarau yang hijau
Gerimis yang manja
Salju yang tulus
Daun jatuh di musim gugur
Kau ciptakan lagi dongeng
Dalam hatiku yang jauh
Mungkin telah padam
Di hembus angin
Ingatan pada engkau
Cinta, segurat luka
Tapi kucium musim
Melambai dari sunyi
Wajahmu
depok, 1999
INTRO
aku tak mengerti, katamu
pada sajak banyak ruang terbuka
terjemah kehendak, pada langit luas
atau gelombang berdentaman, dalam dada
mungkin cuma gurau melupa duka, karena
manusia menyimpan luka,
berabad telah lewat, apa yang ingin
didusta? pada bening mata
tak bisa sembunyi
pura-pura
CATATAN PADA GERIMIS
buat: dp
Pada dering, mungkin gerimis
Menyapa wajahmu
Harap yang ditumbuhkan
Katakan saja, bahwa kita membutuhkan
Mimpi itu
Menjelma
Seperti dikabarkan langit
Ketentuan itu
Seperti rimis
Menyentuh
Hidungmu
Seperti dulu
depok, 1999
TERJEMAH HUJAN
apa yang diterjemah dari hujan? senyap dan senyap
kenangan dicipta dari dingin, sepotong raut
melambailah engkau dari lampau yang biru
dari gerai rambut, mata bercahaya, ……
tak henti-hentinya, berkelindan, terajut dalam
perca bertaut,
hai, apa kabar?
hujan begitu gaduh katamu,
tapi ia adalah suaramu, begitu merdu
suaramu, dalam senyap
hatiku
cilegon-depok, 1999
SEMARAK CAHAYA
Melintas Insanul kamil
Pada jalan matsnawi, diwan dan rubayat
Sanggupkah ditatap
Semarak cahaya: O Cinta
Pecinta menari dalam kerinduan:
Adawiyah, Ibnu Arabi, Halaj, Jenar,
Sumirang, Sakhrowardi, Attar, Rummi,
Tabriz, Fansuri, Iqbal, Tagore, …..
Cahaya O Maha Cahaya
Cinta O Maha Cinta
Berjumpa
Di hati
Sendiri
depok, 1999
 TARIAN PECINTA
O Pecinta
Menarilah menari
Berputar-putar
Dengan gemulai
Keindahan Cinta
Ada yang berputar dalam atom
Ada yang berputar dalam masjidil haram
Bumi berputar
Planet berputar
Galaksi berputar
Alam Semesta berputar
Dalam Cinta
depok, 1999
INTERTEKS
Ke dalam dada merasuk teks-teks purba
Pengetahuan yang diajarkan pada Adam
Teks terbuka
Pada kitab suci
Pada alam semesta
Manusia mencari hikmah
Di balik yang nyata
Ada banyak tanya
Rahasia
depok, 1999
POTRET PANORAMA KERINDUAN
Bacalah dengan hatimu, keindahan
Panorama sekeliling,
Mungkin kata-kata tak sanggup mengungkap
Puisi
Tapi ada yang ingin berbagi
Cerita
Karena manusia adalah
Cinta
Karena semesta adalah
Cinta
Dipahat kerinduan pada
Maha Cinta
depok, 1999
DI UJUNG LORONG ADA BERKAS CAHAYA
mata, pada pelupuk, dicium angin,
manusia: mimpi, kenangan juga kesunyian, …..
hidup menjadi lorong-lorong
cahaya di ujung
pada berkas
ada harap
mungkin kekalahan juga
atau sesal
mengendap
pada tatap
atau malam
yang ratap
tapi gapai tak sampai
tangis tak usai
terjemah kehendak
atau takdir
tuhan
                                   cilegon-depok, 1999
PADA MATA KANAK
mungkin pada kanak kau temukan harapan,
embun kedamaian terangkum tangkup tangan-tangan mungil.
mata bening yang menghibur hatimu duka
tapi kanak-kanakmu tersesat di chanel televisi 24 jam,
yang mengajari mereka cara membunuh
belajar pada dentum, headline yang tebal,
pada desing, tusukan, rudapaksa, api. siapa mengaduh?
kita mungkin telah kehilangan harap pada dunia, tapi
dapatkah lari dari kehancuran
begitulah kita bermimpi…
seperti kuarungi
matamu
depok, 1999
ILUSI LELAKI
“adakah sedikit saja, untukku,” mungkin ilusi,
bagi lelaki, seperti ditatap, pada penghujung
cerita dibangun dari coretan, goresan, pada usia
mungkin namamu, mungkin bukan namamu,
tapi engkau yang tersedu,
memecah sunyiku
depok, 1999
REPORTASE NOL-NOL
serangkum sepi, perempuanku, merenggut dadaku, mata yang binar, senyum
merahasia, kota-kota, tetap saja, gelisah, seperti duka, tarianmu,
ilalang tertiup angin, mengombak, mengalun, serupa mimpi, bertabur
dalam, bertabur diam, bertabur apa, mungkin di langit, serupa bintang,
pelangi, awan kelabu, omong kosong, yang lain, tembok putih, jeruji,
helaian kertas, seonggok…
kau bunga?
hm, ke mana harummu!
depok, 1999

COBA TOREH
coba toreh, pada dada, ada apa, mungkin darah, cinta, atau luka,
abad-abad mabuk, terjungkal, beri aku apa saja, mungkin gemulai, atau
tatapan, sedingin es, atau senyuman sepanas matahari, atau tubuhmu?
(pada jamuan terakhir, seteguk anggur sepotong roti: makan dan
minumlah…)
tak seperti rummi, ternyata, tarian para peniru darwis itu, tak ada
pecinta yang sungguh-sungguh merindukan, dengan kata-kata, seperti
bibirku, berdarah dan luka, seperti kebohongan yang kusulut diam-diam,
seperti?
api yang meledakkan rumahmu, dengan sekam, dengan bara, dengan nyala,
dengan dendam tak bermata, dengan cekam, dengan geram, dengan?
tatap matamu, sungguh
menyilaukan
depok, 1999
AKU BERLINDUNG PADA ALLAH
aku berlindung pada Allah,
dari kebodohan napsu,
yang dihembuskan setiap detik waktu,
aku berlindung pada Allah,
dari kesesatan pikiran,
yang merajalela
aku berlindung pada Allah,
dari segala kegamangan,
aku berlindung pada-Mu
sungguh,
jangan tinggalkan aku
depok, 1999

DZIKIR TELEVISI
pada petang menangkup
apa yang diseru? musik berdentangan di televisi
selewat adzan, bersambung nyanyi
pada kabel didzikirkan syahwat, mencuat
pada gelas, didawamkan tipu daya
pada Engkau? begitu penat lidahku, semenit saja
inikah hamba yang mengharap sorga?
inikah manusia yang tak mau dijilat api neraka?
Allah, betapa mudah kutipu diri sendiri….
depok, 1999
HUJAN YANG TURUN SENJA HARI
mungkin engkau menangis kekasih, di ujung senja, aku tahu mengapa
tak usah lagi dikata, karena derita manusia datang sebagai coba,
mari, kita tatapi senja yang turun, bersama pelangi, langit jingga
mungkin doa, hanya doa yang pantas kita bacakan,
begitu lindap warna-warna yang ada dalam benak kita, nuansa
sebagai bayang-bayang samar,
sebuah kesaksian, sebuah impian
mungkin hanya itu milik kita
depok, 1999

GURATAN PUKUL 23.55
apa yang kau ingat, dari 23 jam 55 menit yang lalu
kaukah manusia yang merugi?
kemarin dan hari ini telah terjalani,
pada neraca akan terlihat
dan esok? masihkah kita melihat matahari
terbit dari timur
tak kutahu. sungguh tak kutahu
Depok, 2 Desember 1999

BIOGRAFI PENYAIR
        buat: arisel ba
Puisi telah mengalir dalam tubuh
Sebagai darah
Helaan napas
Ketukan jemari
Menuju Yang Satu: Allah
Di balik kata ada hikmah
Asam garam kehidupan
Juga kenangan pada: nenek, ibu, ayah dan guru
Ada seorang menulis sajak
Ia menuliskan hidupnya yang puisi
depok, 1999

KAMERA
 buat: fudzail
Wajah bangsa dipotret, mungkin redup
Tapi ia wajah kita sendiri, menyeringai
Mungkin malu
Atau kesakitan
Sungguh, teramat sulit untuk bicara jujur
Ketika ketakutan mengepung di mana-mana
Ada seorang memotret, dengan jemarinya
Mungkin wajah kita di situ
depok, 1999

SEPATU ITU MASIH DATANG, TEHRANI?

 buat: tehrani faisal
Sepatu itu masih datang,
Padamu?
Dengan derap
Yang mungkin menggetarkan lantai
Tapi tidak hatimu
Karena kekuasaan manusia
Bukan untuk ditakutkan
Karena suara sepatu
Hanya derap menggetarkan pada jalanan
Tapi tidak hatimu
Ada kawanku,
Dengan keberanian
Meyakini itu
depok, 1999
GUMAM PUKUL 23.15
sebentar lagi, ya sebentar lagi,
pada malam, keheningan yang menciptakan rindu
“ternyata kita tak lebih baik,” katamu
terlihat capek, dengan segala perasaan sia-sia
ke mana kita akan pergi, pada kelam atau silam?
wajah itu demikian kusam, tak seperti kanak
ya, tak seperti impian kita, dunia yang damai
penuh cinta, pada dongeng wonder land
tapi  ia akan datang juga
mengganggu kita, hook dengan tangan kait besi
menjangkau sayap mungil, dan menghancurkannya
tak berkedip, tak berkedip
mari kita tidur saja, semoga perompak itu
tak merampok kebahagiaan dalam mimpi kita
malam ini
depok, 1 Desember 1999

DONGENG Y2K PUKUL 23.35
merangkak detik dari 23.35 mungkin menggigilkanmu
jam akan datang pada abad 00.00
(2000 tahun manusia dirayakan, seekor kutu
terselip dalam layar monitor, ucapkan: selamat datang!)
cahaya itu begitu menyilaukan
dari mana datangnya, mungkin dari benua ketiga
(2000 tahun manusia dirayakan, seekor kutu
terselip dalam hulu ledak nuklir, ucapkan: selamat tinggal!)
“halo…halo..james,
h…a…aa..l…o ma…i…h di …siiitu?”
krrrrreeeezzzzzssskkk
mungkin itu, gemerisik terakhir
dari pesawat telponmu
depok, 1 Desember 1999

DUA DAN SATU KERINDUAN
mari,
kugenggam jemari,
engkau yang cahaya purnama,
mari menari,
dalam hari
engkau yang tertawa bahagia,
mari, ke mari
di sisiku bidadari
engkau yang ku cinta
malang, 11 oktober 1999
SUPERMAN
buat: tomita dan suhra
1.
“aku ingin jadi hero, pahlawan pembela kebenaran”, kata kanak dengan
mata berbinar,
mungkin ia dari masa lalu, seperti buku komikku menguning, seperti
louis & clark, batman dan robin, zoro, janggo, phantom, gundala, flash
gordon, ….
“aku ingin jadi super man”, kata seseorang
aku seperti pernah mendengar entah siapa bicara, mungkin lelaki,  dari
sebuah negeri yang jauh, mengatakan: “kita telah membunuhnya”
dan aku tak percaya bualnya
2.
dan ia datang padaku, membisikkan: “telah diringkus promotheus, dan ia
menjadi bait puisi, karena mencuri api, karena ia mencuri api”*

SEPOTONG SENJA DI KOTAMU
buat: medy
ada yang bercerita, tentang senja, maghrib yang lengang di televisi,
aku tatapi senja, “aduh seno, jangan kau potong senjaku… biarlah
alina..biarlah.” senja begitu indah, cahaya disela awan,
bahtiar,  mochtar, ada yang nyala di buku, seperti
mimpi
depok, 1999

LABIRINTH MUMET ATAU MOZAIK PERCA
kenangan untuk: raymond valiant
malam yang merangkak di bawah rembulan sepotong, bercangkir kopi, kita
nyalakan tanya: tentang cinta, perempuan dan tuhan?
“aku ingin lari dari belenggu harapan,” kata kinyur menunjuk erich fromm.
“dimanakah engkau wanitaku?” dedi begitu parau menyuarakan sepi, seperti
willy
ah, mengapa teks mitos dan logos terbakar. mengapa? adakah yang membenci
kebenaran? suara senyap yang menggigilkan ujung tanya
ada yang bertanya padamu: habermas, mana jalan ke frankfurt? lewat watu gong
atau betek? atau sepi perpustakaan, buku berdebu, internet yang nyala…
(ada dering di kejauhan, halo di mana kamu?)
depok, 1999

KAUKAH PEREMPUAN ITU
kau menyeru: “ibu, ibu, habis gelap terbitlah terang!*”
kaukah perempuan itu, yang datang dalam mimpi, selepas malam,
udara begitu buruk, dan kau masih tetap di situ, menulis gelap,
dengan jemarimu, yang luka
ada kuingat, perempuan di titik nol; masihkah kau ingin perdebatkan lagi
tentang clitoris yang dipotong habis,
aku begitu menggigil, seperti malam keramat, mahfoud mengabarkan perempuan yang
mendongeng, kau ingat: bayi yang ditimbun pasir, dilempar ke got, …..
ia manusia, dan
aku mencintainya
depok, 1999

DONGENG NEGERI DONGENG
pada catatan pinggir, goen, ada warna sepia? kamus terbuka, terumbu,
kersik, lokan, poci, confety, menjadi abadi? lalu berjejalan di
kota-kota semangka, sepatu, migrasi dari kamar mandi, 100 meter dari
kota ciledug, sedekat malna menulis surat untukku? atau kapak, ngiau,
rabu yang ditakik? tarji tergelak
ilalangtelahdinikahkankah rosa? serupa dingin, beringsut di angin,
mungkin sebuah perubahan, gus, mungkin serupa didaktika catur…
tapi kota-kota mulai gelap, chairil, seperti karet, karet tempatmu
y.a.d, mungkin pula pada pelabuhan tempat laut hilang ombak…
tapi ada yang bergegas, dengan tegas, saut, ke mana sobron, ke mana,
kemana wispi, ke mana iramani, ke mana mimpi itu pergi? ke mana,
hamzah, ke mana taufiq, ke mana willy, ke mana?
sobron menulis:, aku buat tape ketan, rendang, di negeri orang, wispi
dulu di nanking, iramani? coba tanyakan pram, mungkin ia tahu di mana…
heh, hamzah berdiri di senja senyap, taufiq di padang ilalang bertopi
jerami mungkin ingat umbu, atau malu menjadi orang indonesia, dan willy
duduk di samping seonggok jagung…
dan sepotong senja, di tangamu seno, serupa mimpiku, segera kan
tenggelam….
seperti
matanya
depok, 1999

DONGENG NEGERI
Jangan Kau Dongengkan Lagi Untukku
Impian Kosong
Aku Sudah Bosan Dengan Segala Janji
Aku Sudah Jemu Dengan Segala Khayalan
Kita Tak Berada Dalam Surga
Dari Barat Sampai Ke Timur
Itukah Milik Kita?
Jamrud Khatulistiwa, Indah Beraneka, Rimbun Pohonan,
Biru Lautan, Tambang Emas Permata, Siapa Punya?
Pipi Cekung, Mata Melotot, Daki Menempel, Ingus Di
Hidung, Pengap Kereta Api, Perut Lapar, Siapa Punya?
Jangan Lagi Bicara
Jika Hanya Janji Untuk Diingkari
Jakarta, 1999
CATATAN 12 MEI 1998
Anak Muda Tak Tahu Apa
Menganga Luka
Dari Senjata Siapa?
CATATAN 13-14-15 MEI 1998
Apa Yang Harus Ditulis
Dari Tubuh Terbakar
Hangus
Perangkap Menjebak
Orang Lapar
Seperti Tikus Menggelepar
Ditelan Panas
CATATAN 20 MEI 1998
Bapak, Kami Sudah Bosan
Dengan Segala Dusta
Turunlah Segera!
 AMBON
Dua Saudara Berhantam
Siapa Tertawa?
ACEH (1)
Bapak, Rencong Yang Dulu Menusuk Dada Kape
Haruskah Ditusukkan Ke Saudara Sendiri ?
ACEH (2)
Sepatu Lars Hitam,
Topi Hijau
Di Tengah Pekik Ketakutan
PETAKA (1)
sepotong roti
serentetan tembakan
senyum
siapa?
di lorong gelap
malam serasa kelam
walau api menyala
di mana-mana
jakarta, 1999
PETAKA (2)
ada yang dipecahkan, dari kenanganmu
sumpah pada kebenaran, kesejatian
“berbahasa satu bahasa kebenaran!”
lalu siapa khianat?
pat gulipat di balik punggung
tak kutahu bahasa uang
tapi molotov
siapa yang nyalakan?
jakarta, 1999
CATATAN PADA BUKU BAPAK IBU
bapak ibu, lelehan darah dan airmata
menggenang di aspal hitam,
kau catat di buku harianmu?
nama-nama siapa sepanjang pidie, ambon, semanggi,
priok
mungkin kau tahu
mungkin kau tak ingin tahu
jakarta, 1999
GUGURAN BUNGA
temanku tertembak siapa seusai unjuk rasa, di
tangannya segenggam roti,
tahun yang lalu temanku yang lain tertembak di
kampusnya,
hari-hari kemarin teman-temanku hilang begitu saja,
entah ke mana?
siapa menabur bunga baginya? bapak ibu lupa
menyampaikan salam untuk mereka. mungkin kalian lupa.
tapi tak kulupa. mereka pemberani menentang bahaya…
bunga yang gugur
bunga yang sedang mekar
tak kau catat pula di hatimu?
jakarta, 1999
TELEVISI OKTOBER
mungkin bukan musim bunga hongaria, ketika kau rayakan
kemenangan taburan pujian dan harapan, mungkin letusan
petasan atau ucapan syukur:
“interupsi!”
itukah demokrasi? impian surealis yang kau bayangkan
di tengah gemuruh demonstrasi. perdebatan di ruang
diskusi. janji di kerumunan kampanye.
“interupsi!”
lalu ada yang kecewa dan meledakannya dengan api.
karena ibu tak berdiri di mimbar. karena ibu
dikalahkan terus…
“interupsi!”
ibu berdiri di mimbar. tapi masih ada juga yang
kecewa. masih ada yang menyimpan sesal!
“interupsi!”
jakarta, 1999

OBITUARI
lelaki yang menatap malam: kesunyian, warna hitam
pada silhuet panorama,  negeri yang menangis,
orang sendiri membaca diri,……..
lelaki pemimpi: eksistensi! lalu wajah-wajah menari-nari:
marx, darwin, hegel, nietszche, jesper, camus, heideger, foucoult, walter
benyamin, adorno,……
obituari? penguburan segala kenangan. requiem sepi.
begitu lengang rumah sakit jiwa ini. juga pemakaman!
1999


sajak buat suhra
kemudian kuusap matamu: tak ada airmata!
tapi tergenang cerita masa ke masa
ada yang menari, suhra, di langit
mungkin bidadari
mari ke mari, bintang biruku
sebelum maut berpaut
: ada senyum
juga cahaya
terang sekali

MENCATAT PERPISAHAN
buat: fudzail
apa yang harus disesalkan dari sebuah perpisahan? pertemuan! kata
seseorang. bukan, karena sebuah perjumpaan menciptakan kenangan indah,
ucapkan syukur atas segala yang terberi…
“tapi aku akan merindukanmu”, katanya mengusap mata
sebuah sore, akhir pertemuan, ada yang bernyanyi: sayonara…sayonara..
sampai berjumpa pula, buat apa susah…buat apa susah…susah itu tiada
gunanya

SERIBU BULAN
ada yang mencarimu dengan tak sungguh-sungguh mencari karena
manusia ini tak pintar bersyukur tak pintar memuji tak pintar menahan
diri tak pintar mengaji tak pintar merendahkan hati karena
mungkin bengal mungkin bebal mungkin kesal mungkin sial mungkin
tapi ingin diraih bulan seribu bulan bersinar cemerlang seperti surga
seperti janjimu seperti orang-orang yang berjalan di jalan yang lempang
dan lurus
duh gusti, ajari aku, menjadi…

HAI, KATAMU (I)
hai, katamu. lalu kita bersalaman. berjabatan erat. genggaman
ketulusan. lalu kita cipta angan-angan. merangkai bulan. merangkai
mimpi. aku ingin terbang. aku ingin terbang…
“hebat, bisa terbang”, katamu
lalu kau beri aku replika pesawat. menderu-deru dalam benak kanakku.
aih, jangan cemberut begitu. bolehlah kau ikut. ke ujung dunia. ke awal
atau akhir kata. ke mana kau mau?
“emang di bulan ada coklat?”, katamu menggoda
lalu tubuhku menjadi menjadi supermarket: pasta gigi, sabun, wastafel,
sosis, …. aha! kau tertawa. mentertawakan dunia? sekarat dan sakit
jiwa
kita bergenggaman jemari. bergenggaman….
HAI, KATAMU (II)
hai, aku ingin sekejap saja memicingkan mata dari mimpi-mimpi manusia.
seperti diledakan dalam kepalaku. deretan gambar dan huruf bergetar
dari tabung-tabung: mampuslah manusia! mampuslah kemanusiaan!
aku menemukan diriku etalase benda-benda. tubuh yang hanya daging.
berdenyut. denyut. ih, mengapa dilempar ideologi ke kamarku?
sudahlah, lupakan saja apa yang kita bicarakan, seperti waktu lalu.
seperti waktu lalu…
kita susun kembali rumah pasir. kita susun lagi…
HAI KATAMU (III)
hai, apa yang bisa disembunyikan oleh manusia. tatap-Nya begitu tajam
mengiris-iris. apa yang bisa dirahasia manusia? tiada! karena gerak
tetap terlihat. karena tindak akan tercatat. karena….
kebusukan akan terbaui juga akhirnya. pada jalan sebentang. pada
jembatan timbangan. pada layar…
neraca! usia sia-sia! defisit! merugi semata!
PANORAMA KEMATIAN
engkau tersedu? waktu telah menutup
mungkin bunga di tabur
tonggak ditancapkan
serupa ingatan? musim berguguran
beringsut mendekat
perlahan menuju
engkau kekasihku? wajah dipalingkan
duh, rindu tak sampai
lintasan tak usai
karena nyala? usia dihabiskan sia-sia
depok, 1999
SEPUCUK SENJATA SEIKAT KEMBANG
karena manusia ingin kuasa
jangan lagi, kau letuskan pada hari
dustamu melantakkan kepala & dadaku
apa arti manusia bagimu? daging hidup!
pada gelembung ludah, dicipta mimpi
teror menghantu, ladang-ladang mayat
duh, berapa airmata lagi kan dialirkan?
TANYA
ada yang gelisah mengetuk-ngetuk pintu tapi langit tak terbuka bagi
pertanyaan pertanyaan seperti hitam seperti kelam seperti malam
tersaruk saruk membawa lampu dimatikan sekilat cahaya berjalan guruh di
telinga tak terdengar terang cahaya tak terlihat karena sesat menjerat
karena telah dikutuk laknat
siapa berani terombang ambing dalam gelombang tak henti henti tak
menepi tak berujung tak habis tak habis duka lara duka gelisah racauan
resah manusia
sepucuk senjata sejuta taburan bunga sekering pipimu anak-anak di
pingir pinggir disepak ke sana ke mari sebagai bola sebagai impian
busuk dan buruk
mengapa risau juga lalu tanya seperti apa tapi manusia tak punya kuasa
karena
tanya
KOTA YANG KEHILANGAN
kemudian kota-kota berguguran,
kehilangan cinta
di mana kau sembunyikan?
tak ada mimpi di sini,
milik penyendiri
di mana kau letakkan?
pada geriap rambut,
atau teduh mata
di mana kau simpan?
pada telapak sepatu
atau bianglala
di mana kau tuliskan?
sebaris sepi
atau kerinduan
duh, mengapa rahasia juga?
tanya manusia
tanya manusia!
=aiueo? kosa kata=
apa yang terbakar pada hari-harimu adalah usia sia-sia berangkat pada
senja tak tahu mengapa hendak apa menerjuni kata menerjuni dusta
berdentuman tanya menjelma apa ada gema ada suara ada sia!
tiada siapa siapa ada siapa di mana suara? pecahlah rahasia!
meluncur mendesak menekan merangsak menetak menyalak : ach! dada dada!
kehancuran! nisbi! kenihilan! beri aku tanda!
begitu gemuruh begitu luruh begitu lumpuh begitu utuh begitu: tubuh!
: tak henti-henti meruntuh
=wak wak diputar wek wek memutar mutar wak wak berputar putar=
kemudian berputaranlah engkau dalam ruang sebagai gasing berputar putar
sebagai dalam labirin berputar putar sebagai dalam gelas berputar putar
sebagai dalam botol berputar putar sebagai dalam udara berputar putar
sebagai tanya berputar putar sebagai rahasia berputar putar sebagai:
tiada!
kemudian diputar putar kelamin diputar syahwat diputar putar dusta
diputar putar curi diputar putar syak wasangka diputar putar belati
diputar putar kuda tunggangan: manusia sepotong napsu membara
kemudian memutar waktu memutar millenium memutar abad memutar generasi
memutar windu memutar tahun memutar bulan memutar jam memutar menit
memutar detik: tik..tik tiba di ujung siapa gigil siapa rintih siapa
takut siapa? nyala!
BERHENTILAH!
berhentilah sejenak berhentilah nanang jangan terus berlari mengejar
bayang bayang ke ujung cakrawala ke ujung impianmu tak ada habis
habisnya huruf dideret dileburkan dalam darah dalam airmata dalam dalam
begitulah sepi memagut cinta melarut sebagai sungai melaut melintas
berputar menguap ke udara ke udara
metamorfosis? seperti kupu kepompong ulat telur kupu: hai pertapa!
berapa sunyi maumu berapa laut hausmu berapa langit harapanmu berapa
mimpi impianmu berapa cinta pintamu
berhentilah sejenak berhentilah nanang jangan menangis lagi jangan
terus menulisi udara bertuba darah mengalir otak tercecer daki menempel
pipi kering luka menganga gelisah manusia api menyala bom meledak kanak
tersungkur
berhentilah!
GERIMIS DI HUTAN
buat: yono
sepucuk surat: hutan begitu gelap kawan, hutan begitu gelap…
lalu keriuhan hewan berdengung di pohonan, aku merindukanmu, suara
dari kesunyian
tak sanggup kutatap mata, karena cerita akan ditemu juga, berkelebat
bayang-bayang melintas, panorama
dari kegundahan
biarlah, mimpi kucipta sendiri, biarlah pada benakku sendiri, biarlah
gerimis di hutan kunikmati sendiri, seperti
sepiSila ditengok juga:

11 JanKumpulan Puisi Pamflet

STOP PRESS, 1998

“untuk hidup mengapa begitu rumitnya?”
televisi menyala:
rupiah terpuruk jatuh
harga membumbung tinggi
banyak orang hilang tak tentu rimbanya
12 Mei 1998
mahasiswa mati tertembak siapa?
13-14 Mei 1998
kota-kota terbakar kerusuhan
perkosaan, teror!
21 Mei 1998: “sang raja lengser keprabon”
graffiti menyala di tembok-tembok: “pendukung reformasi”
eksodus: “singapura-hongkong-china-taiwan!”
munaslub: “turunkan para pengkhianat!”
ninja beraksi, orang berlari, maubere: “referendum!”
“mengapa hidup begitu rumitnya?”
seorang ayah bunuh diri bersama empat anaknya
1998, belum usai…
(hari ini ada berita apa lagi?)

Malang, 1998 


DERING TELPON DARI MANA ASALNYA
dering telpon dari mana asalnya, berdering-dering saja, kabarkan apa,
apakah berita yang sama seperti kemarin, tentang sebuah negara berkembang, negara dunia ketiga?
hai, kau jangan memaki di situ, nanti telingaku pekak karena umpatanmu
kau kirim kabar apalagi kali ini? aduh, jangan lagi kau cerita tentang korupsi,
kolusi, tirani atau apa saja berita basi, aku tak mau dengar lagi…
kau mau demonstrasi?
silakan kalau berani!
cilegon 1996, malang 1997
SURAT UNTUK IBU PERTIWI (1)
ibu, salam sayang selalu dari anak-anakmu, yang merindukan dongeng terlantun dari bibirmu penuh cinta. seperti dulu, kau tembangkan syair lagu kepahlawanan. bikin daku hendak jadi ksatria.
jika angin malam tiba, rambutmu yang keperakan meneri-nari, seperti juga daun nyiur di depan rumah kita itu. ibu, anak-anak yang kau cintai berkumpul di sini, membacakan syair, menyanyikan lagu: kami jadi pandumu…
ah, indah sekali, ketika kami ingat senyummu, tebarkan kerinduan kenangan kanak dulu.
ibu, anak-anakmu kini tetap nakal dan lucu, seperti dulu, anak-anak yang sayang padamu, dan kadang juga tak mematuhi nasehatmu.
tapi, air mata itu, mengapa menetes ibu? meleleh di kedua belah pipi. mengapa ibu? adakah kau marah pada kami, anak-anakmu yang kian nakal saja, tak menggubris petuahmu.
ujarmu:”hormatilah orang tua, lindungi dan sayangilah saudara-saudaramu. berbuatlah adil dan jujur. jangan tamak dan serakah terhadap hak orang lain…”
ya, nasehat yang masih kuingat benar hingga kini, dan anak-anakmu yang lain mungkin masih mengigatnya juga, ibu.
di tengah derum pembangunan, anak-anakmu yang perkasa bertebaran. menjelajahi tempat-tempat yang kau dongengkan. tempat peri baik hati. tempat pahlawan-pahlawan dilahirkan dan dibesarkan. tempat binatang-binatang bercakapan. di sana, dengan doa darimu, kami buka hutan perawan, mengolah tanah, menyemaikan benih dan memetik hasilnya ketika panen tiba. kami gali tambang emas permata. kami ungkap segala rahasia semesta. ya, inilah yang kami lakukan untuk pembangunan, seperti yang diucapkan pemimpin, anak-anakmu juga ibu. begitulah ibu, anak-anakmu berjuang untuk hidup…
dan tangismu itu ibu, sepertinya aku tahu mengapa? memang akupun turut merasakan apa yang sebenarnya engkau rasakan. ya, betapa kasihmu tak terperikan. kau akan menangis, melihat anak-anak yang kau cintai, bernasib malang, tergusur dari tanahnya sendiri. rasanya aku dengar teriakanmu begitu histeris, melihat anak-anakmu tenggelam dalam lautan darah dan airmata…
ya, ibu, aku rasakan itu kau menangis melihat saudara-saudaraku berbuat kejam terhadap kami, anak-anakmu yang yang malang. anak-anakmu yang begitu lemah, menghadapi kekuasaan yang begitu menakutkan!
dan tangis itu, sepertinya, bicara begitu…
malang, 21 maret 1995
YouTube Preview Image
SURAT UNTUK IBU PERTIWI (2)

jangan menangis ibu, kan kami rayakan ulangtahunmu kali ini, entah yang ke berapa, aku lupa. dengan mengingat senyummu dan dongeng kepahlawanan.
jangan khawatirkan nasib kami, bukankah peruntungan tiap orang tak sama, ibu?
jika kami menggusur rumah saudara kami sendiri, itu bukan berarti kami tak sayang kepada mereka. kami telah beri mereka kesempatan untuk menjelajahi hutan, tempat peri baik hati, seperti ceritamu dulu. dan kami beri mereka ganti rugi secukupnya, seratus dua ratus rupiah untuk semeter persegi tanah yang harus mereka tinggalkan. bukankah itu cukup adil, ibu?
kami pinggirkan mereka ke tepi hutan. bukankah itu lebih baik, karena dengan begitu, mereka akan hidup damai di sana. jauh dari kegaduhan yang kini sering mengganggu kami.
ya, anak-anakmu yang lain, tetap saja nakal, ibu. mereka telah menjadi pengacau! namun tenang sajalah, ibu, kami telah tangkapi mereka, yang
selalu menghasut, membuat kejahatan, membuat keonaran, membuat semuanya menjadi buruk. biarpun mereka saudara kami sendiri. bukankah hukum harus selalu ditegakkan, ibu?
dan mungkin kau sering mendengar tentang hal ini, tetangga-tetangga yang selalu mengoceh tentang hak asasi manusia, demokratisasi, ketidakadilan, dan masih banyak lagi. ya, rasanya itu akan membuatmu terganggu, ibu. aku pun merasa begitu.kadang aku bertanya: mengapa mereka berbuat seperti itu, seperti kurang kerjaan saja. dan engkau mungkin setuju pada pendapatku tentang hal itu. mengapa mereka selalu ribut, ketika saudara kami sendiri kami beri pelajaran, agar mereka tak keliru.
jelas bukan? demi keamananmu, demi senyummu yang dulu. kami harus tega menghukum mereka, orang-orang itu (mungkin saudara kami sendiri) yang akan merusak namamu…
baiklah ibu, sebenarnya ada yang lebih penting dari itu semua:
mmmm, bolehkah kugadaikan negeri ini ke pasar dunia?
malang, 21 maret 1995
YouTube Preview Image
DIALOG KEBINGUNGAN

banten, 8 Juli 2045
(serupa bayang-bayang, mungkin dari masa lalu, aku merasa hadir. serasa
mimpi. semcam de javu………………………………
…………………………………………………………………
…………………………………………………………………
…………………………………………………………………
…………………………………………………………………
bacalah catatan ini, mungkin tulisan kakekku):
malang, 30 Oktober 1995
kuguratkan pena pada lembar buku sejarah bangsa ini, berjuta rasa kekaguman,
kegundahan, serta pertanyaan tak berjawab.
“kau masih perlu belajar banyak dari kehidupan, asam garam dunia pahit pedih
perjuangan, harus kau nikmati, anakku,” katamu
ya, aku kini belajar pada sejarah, yang ditulis begitu kacau, mengalahkan akal
sehat dan logika, tumbal sulam penuh manipulasi kata-kata, menghipnotis dengan
kecanggihan sihir informasi satu arah (yang ada hanya satu versi sejarah resmi,
yang lainnya sub versi, tak akan diakui!)
“apa yang kau ketahui tentang sejarah, anak muda? sedang kau sendiri tak pernah mengalami kepahitan bangsa ini berjuang melepaskan diri dari penjajahan, bergelut dengan segala pengkhianatan,
tahukah kau betapa merahnya darah yang mengalir dari luka-luka bangsa ini? dan betapa revolusi (yang mungkin tak akan kau pahami) harus dibayar dengan darah
dan airmata
engkau masih teramat hijau memandang dunia”
ya bapa,
kami memang tak merasakan semua deru revolusi. kami memang tak merasakan kepahitan pertikaian generasimu. kami memang tak merasakan itu semua (dan kami tak ingin menanggung seluruh warisan permusuhan, sebuah dosa besar di masa lalu yang kau pikulkan pada anak-anakmu)
“jangan sekali-kali melupakan sejarah!”
catatan sejarah siapa yang harus kami percaya?
“anak muda, jangan terlalu banyak membantah omongan orang tua. jangan pula banyak
bicara yang tiada guna, karena apa yang kami katakan itulah kebenaran sejati,
kau tak akan sanggup merekonstruksi sejarah masa lalu, selain kami sendiri yang
menuliskannya untukmu, jangan percaya siapapun selain kepada kami, yang menyelamatkan negeri ini
bukankah kebenaran akan selalu menang?
dan kamilah kebenaran, karena kamilah yang menang
bersiaplah saja untuk menjadi pewaris kami,
pemimpin masa depan…”
ya, mungkin begitu katamu, kami akan menjadi pemimpin masa depan, tapi sungguh, kami tak mengerti apa maumu sebenarnya? kau suruh kami kami jadi calon pemimpin, tapi tak pernah kau beri kesempatan. kau bilang kami harus kritis, ketika kami bicara kau menindas dengan kekuasaan yang bengis. jangan salahkan kami, jika menjadi generasi tanpa arah, karena memang selalu dibingungkan dengan sikapmu yang tak jelas. sebenarnya apa maumu?
“apa maumu, anak durhaka?!”
cilegon 1997 – malang 1999
MENYAPA JAKARTA SIANG HARI
selamat siang jakarta. udaramu panas sekali.
seperti juga panasnya persaingan orang mencari penghidupan.
orang-orang berdesakan dalam bis kota
(sementara sebagian lagi harus menyewa para joki untuk melewati jalur three in one).
orang-orang berdiri di pinggir jalan
dengan peluh meleleh sekujur tubuh.
mobil-mobil terjebak kemacetan
—berapa banyak lagi mobil akan banjir di sini?—
(apa kabar timor, baleno, cakra, paijo, nanang, wahyu, taufan…)
orang-orang berteriak
dengan klakson
dan suara mesin yang meraung
(juga knalpot yang menyemprotkan makian)
panas sekali udara di sini,
seperti juga panasnya persaingan politik.
orang-orang berdesakan, sikut menyikut, berebut mendekati pusat kekuasaan.
banyak orang- menjelma menjadi gelombang televisi dan radio resmi
( dan sebagian menjelma menjadi pamflet-pamflet gelap dan graffiti
di tembok-tembok kota)
selamat siang jakarta, aku kepanasan!
Jakarta, Cilegon, Malang, 1996
PERKABUNGAN
buat: goen
perkabungan yang kuhantarkan ke jalan-jalan,
kabarkan kematian sebuah keinginan
terbunuh kata-kata di dalam koran,
televisi dan podium
sedangkan diam menjadi tanda tanya
duka yang menjadi samudera
menghantam-hantamkan ombaknya
ke karang batinku
bikin darah leleh di kedua belah mata
matahari ini kian panas, katamu
tombaknya meruncing
tikami tubuh
dan sengatannya kian berbisa
ah, anak-anak yang berarak di jalanan,
menantang ketidakpastian
perkabungan yang kuhantarkan ke jalan-jalan, diarak anak-anak muda
–yang menatap kehidupan dengan mata bening,
penuh kejujuran memandang dunia
mereka lelehkan airmata untuk sebuah kehidupan yang mati sore tadi
Cilegon 1994/Malang 1995
PERISTIWA
ada yang tak dimengerti
dari sebuah berita yang diguratkan
di hari penuh dusta dan teriakan
karena kekesalan yang memuncak.
dan kau lempar sebuah peristiwa
pada kerumunan massa yang haus
kan lambang-lambang penuh kebebasan.
serombongan anak muda yang penuh darah dan api
dalam kepalanya. membawa bendera…
mengertikah kau makna itu,
ketika anak muda menjadi beringas
membawa kemarahan yang menjadi api,
membakar gedung-gedung,
mobil-mobil terjungkal di pinggir jalan,
toko-toko berhamburan isinya…
ah, hiruk pikuk yang mungkin juga tak akan kau mengerti.
karena kata-kata itu: politik!
ia telah menjadi burung, bersayap dan terbang
dan peristiwa yang kau gambar sore ini, manisku
adakah tentang cinta kita yang berlalu?
Malang, 1994
BAPAK! BUKA PINTU….
setelah puisi menjadi bom waktu yang menakutkan.
buku-buku terlempar ke balik terali.
dan berita kebenaran menjadi kesenyapan yang nyata.
anak- anak yang berteriak di jalanan
mengusung keranda kematian sebuah keinginan di pagi hari.
sedang bapak yang teramat sayang kepada rumah
hantamkan pentungan pada kepala anak-anaknya.
yang menjadi beringas melempari kaca dan genting.
anak-anak melelehkan tangis.
dipanggang segepok makian.
karena bapak telah menjadi hantu yang menakutkan!
bapak, ya bapak…
jangan tutup pintu
bapak, ya bapak …
biarkan terbuka
anak-anak yang berarak,
telah antri di depan pintu gerbang,
menanti kapan bapak berbaik hati,
mempersilahkan masuk,
ke rumah mereka sendiri
malang, 7 april 1994/1996
BENANG KUSUT
mana ujung mana pangkal berputar berbelit tak karuan
omongan melantur nurani membentur karang
berdarah-darah kepalaku: pusing tujuh keliling
di mana keberanian di letakkan?
menantang angin semilir atau badai
cuma gerutuan terlontar
upeti dipersembahkan
raja di raja meminta tumbal sesaji
di letakan di hadapan
tak puas juga kah dihisap darah
tak jera jugakah berbuat salah
berputar-putar isi benakku
tangan meninju angin lalu
sebenarnya tahukah ke mana kita menuju?
Malang, 16 Nopember 1997
NURANI
satu titik dalam dadaku, meronta
ke mana kan dilarikan ini cita-cita
membentur-bentur melulu
mataku menatap
sebuah batu
betapa muram
betapa suram
tak terasa meleleh juga air mata
dalam hatiku yang mungkin kian jelaga
Malang, 16 Nopember 1997
DOA SEORANG PESAKITAN

tuhan
betapa sukar kutemukan keadilan di sini
di negeri yang sesungguhnya aku cintai
beberapa detik lagi,
mungkin sebagai sokrates
yang tabah hadapi kematian,
aku coba simpan keyakinan dalam jiwa
ya, betapa membosankan semua kepalsuan ini,
keadilan hanya sekedar omongan,
tertulis di buku-buku
dan dengan sesuka hati,
hukum didustai, dilecehkan, ditikam berulang kali
tuhan, aku letih bertanya tentang kebenaran
karena sepertinya, kebenaran telah menjadi klaim sepihak kekuasaan
kebenaran harus dilihat dari kacamata mereka, jika tidak: subversi!
aku saksikan: hukum dihina para hakim, mereka jual belikan keputusan,
lembaga peradilan di jadikan gedung sandiwara,
oh, masih beranikah aku katakan tentang keadilan di sini
dan kini, aku rasakan betapa pedihnya penderitaan ini,
ketika ketidakadilan menyergapku,
aku ingin berteriak, namun lidahku kelu
ya tuhan, aku bertanya
apakah keadilan masih engkau amanatkan kepada manusia,
jika ya, ketlingsut dimana ia
karena hari-hari ini, tak kutemukan ia,
aku saksikan
pencuri uang rakyat dilepaskan
para penguasa yang jahat tak terjamah oleh hukum
ya tuhan, aku serahkan semua ini pada keadilanmu
malang, 5 mei 1994
DI ALUN-ALUN KOTA

apa yang kita cari di sini.
pada gerimis yang turun malam hari.
pada dingin yang menggigit.
kau bacakan sajak dari masa lalu.
di atas bangku-bangku taman.
aku tertidur….
marilah kita bermimpi saja
bahwa kita yang menguasai semua ini.
kekuasaan seluas dunia.
wanita-wanita cantik .
pabrik-pabrik .
senjata-senjata.
emas permata.
tambang di mana-mana.
serta hutan yang terus ditumbangkan.
tak usah kita berteriak lagi seperti tempo hari.
di tempat ini.
dalam panas terik matahari.
menyumpahi kekuasaan yang korup.
dengan kemarahan yang membakar kerongkongan dan dada.
lihatlah, seragam itu
yang membuatmu trauma,
karena patah tulang rusakmu,
pecah mata kirimu.
karena popor senjata dan pentungan memang keras.
dan panser yang akan melibas
mimbar-mimbar yang kau dirikan.
bikin kau semakin sakit hati saja.
aku tertidur.
kau terus membacakan puisi bagiku.
dalam gerimis yang turun malam hari.
kita di sini mencari apa?
“bermimpi sajalah …” katamu
ANAK MUDA DAN PESTA KEMERDEKAAN

Nyalang matanya menatap gedung penuh warna lampu,
iklan menyala, dan kekaburan cerita dalam buku-buku,
dihapus dari kejujuran kata,
sejarah sebuah bangsa yang dibikin amnesia
Anak muda sangsai hidupnya,
mengeja nasionalisme yang sekarat
diterpa badai globalisasi.
Anak muda menangis memanggil ibu pertiwi.
Di hari kemerdekaan.
Yang ada hanya upacara.
Pesta.
Merayakan hari-hari amnesia.
Ah, apa yang harus aku katakan tentang kemerdekaan?
Mengingat proklamasi Soekarno-Hatta.
Atau ledakan meriam 10 Nopember 1945.
Atau menghitung gedung-gedung mewah
yang menggusur perkampungan kumuh!
Sementara mantera itu…
Menggerakkan seluruh sendi untuk terus bergerak, bergerak, bergerak…
Pembangunan! beri aku pengorbanan, barang selaut dua laut airmata darahmu. barang sepetak dua petak tanahmu, barang satu dua nyawamu
Anak muda merah matanya memandang langit: “Adakah bagia di sana, dalam belaian tangan-tangan malaikat. Yang akan mengangkataku dari kekumuhan ini. Dari keraguan memandang masa depan”.
Ia bergerak dalam lautan massa. Dalam gelora yang sama. Kata-kata menjadi generik. Kata-kata menjadi ilusi yang menakutkan: Penuh wajah garang dan kokangan senjata!
Sementara televisi menawarkan bahasa baru. Menawarkan mimpi-mimpi baru: dunia adalah perkampungan besar…
Anak muda menatap hidup penuh kabut:
” Adakah arti kemerdekaan bagiku., Yang tak pernah merasa merdeka. Dari belitan sejarah. Dan cengkraman kehidupan yang semakin sulit”.
Bendera berkibar
“Indonesia raya. Indonesia Raya. Adakah kau dengar kata-kataku ini. Menawarkan cerita penuh luka. Anak-anak sejarah kebingungan menatap cuaca”
Anak muda menatap Indonesia raya:”Merdeka?”
Malang, 26 April 1995
BERSAMA CERITA WAHYU

anak-anak muda menatap cerobong pabrik,
kantor penuh uang,
tambang emas permata
sebagai sebuah masa depan
rasakan kecemburuan luar biasa
ketika pintu-pintu buat mereka tak pernah dibuka
sedang etalase tawarkan mimpi-mimpi yang harus dibeli
seteguk demi seteguk menelan kebencian,
berkobarlah api di dalam dadanya
karena kenyataan begitu pahit
berbutir pil dan minuman keras bersarang di perutnya
(dengan belati di tangan menyergap rizki di tengah jalan!)
malang, 2 Oktober 1996
YouTube Preview Image
SEBUTIR MATA
mengingat: w.t.
perempuan itu,
istri seorang demonstran,
berkata: karena perjuangan harus dilanjutkan,
kang mas, aku relakan sebutir mataku untukmu.
menggantikan mata kirimu yang pecah saat unjuk rasa.
malang, 1996
MENONTON SULAPAN
kursi menjelma
dari kepala-kepala bercucuran darah
kursi menjelma
dari tubuh tubuh bercucuran darah
letusan senjata bikin nganga luka,
pada jantung,
pada hati nurani
hutan menjelma
menjadi angka
dalam rekening bankmu.
ajaib
ajaib
siapakah engkau wahai:
penyihir yang menipu mata berjuta kepala
Malang, 9 Januri 1996

10 JanKumpulan Puisi Cinta dan Kesedihan

Sila didownload di sini: Derai Hujan Tak Lerai

10 JanKumpulan Puisi Kenangan

Sila didownload kumpulan puisi Nanang Suryadi di sini: KENANGAN YANG MEMBURU

10 JanKumpulan Puisi: BIAR! Nanang Suryadi

Sila didownload di sini: Biar! Kumpulan Puisi Nanang Suryadi

10 JanKumpulan Puisi Rindu

Silakan di download di sini: Yang Merindu

10 JanKumpulan Puisi Cinta

Kumpulan puisi cinta adalah salah satu kumpulan puisi saya di dalam buku Cinta, Rindu dan Orang-orang yang menyimpan api dalam kepalanya. Buku tersebut memang memuat 3 kumpulan puisi, dengan tema: cinta, kritik sosial dan religiusitas. 

 

Puisi-puisi cinta di dalam buku yang bersub-judul: menemu negeri cahaya itu dibuat untuk istri dan anak-anakku. Mungkin bahasanya sangat sederhana, dan memang saya memilih untuk menyampaikannya dengan cara yang sederhana. Mungkin seperti Sapardi Djoko Damono yang juga menulis: aku ingin mencintaimu dengan sederhana…

10 JanPuisi Persahabatan

Keyword puisi persahabatan ini langsung muncul saat saya memasukkan kata kunci: puisi. Ternyata banyak juga yang mencari puisi dengan tema: persahabatan. Seringkali frasa ini akan secara otomatis ditambahi google.com sendiri dengan nama penyair: Kahlil Gibran. 

Buku-buku puisi dan cerita Kahlil Gibran banyak diterjemahkan di Indonesia, dan menjadi best seller di toko-toko buku. Saya membaca buku puisi terjemahan karya Kahlil Gibran di tahun 80-an saat SMP dan SMA yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Saat itu masih langka penerjemahan karya-karya Kahlil Gibran. Dan saya menamatkan beberapa buku karya Kahlil Gibran ini, serta mengkoleksi bukunya, yang sekarang entah hilang kemana. Yang saya ingat satu baris dari Kahlil Gibran tentang persahabatan: “Sahabat adalah pendiang sukma…”

10 JanSajak Cinta

Sajak cinta seringkali ditulis para orang muda yang sedang jatuh cinta, dan banyak orang yang ingin membaca sajak-sajak cinta ini. Seringkali sajak-sajak cinta yang menyentuh adalah sajak  yang menggambarkan cinta yang tak sampai. Bukankah sajak cinta Chairil Anwar yang berjudul Senja di Pelabuhan Kecil adalah sajak cinta yang patah hati kepada Sri Ajati. Orang mengingat  sajak cinta Chairil Anwar itu dan merasakan kesedihan penyair seakan-akan dialami sendiri oleh pembacannya. Pada sajak cinta  tersebut Chairil Anwar menulis:“Ini kali tak ada yang mencari cinta….”. 

Berikut adalah puisi cinta Chairil Anwar yang sangat terkenal dan banyak dikenang oleh banyak pembaca puisi.

SENJA DI PELABUHAN KECIL
Buat Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis memepercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

09 JanKeyword: Puisi

Saya sering mencari kata puisi, namun seringkali google.com sudah menyediakan frasa tambahan, misalnya: puisi cintapuisi cinta bahasa inggrispuisi cinta lucupuisi cinta romantispuisi kangenpuisi kehidupanpuisi kematianpuisi kenanganpuisi kesepianpuisi lucupuisi penantianpuisi perjalanan cintapuisi perjalanan hiduppuisi perjuanganpuisi persahabatanpuisi rindupuisi romantispuisi ulang tahunsajaksajak cintasajak kekasihsajak keluargasajak ulang tahunsyair cintasyair kehidupan.

Selain itu sering kali muncul nama Kahlil Gibran, seorang penyair dunia yang terkenal saat memasukkan kata-kunci: puisi. Sedangkan nama para penyair Indonesia yang sering kali langsung muncul di mesin pencari google.com adalah: Chairil, Anwar, Nanang Suryadi, Saut Situmorang, Gola Gong, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Amir Hamzah, Afrizal Malna, Joko Pinurbo, Toto Sudarto Bachtiar, Dorothea Rosa Herliani, Goenawan Mohamad, Sitok Srengenge, Sitor Situmorang, Widji Thukul, Hasan Aspahani, Nirwan Dewanto, Binhad Nurrohmat,  dll. Coba masukkan kata puisi lalu tulis huruf pada nama depan penyair Indonesia di google.com, biasanya google akan langsung melengkapi nama tersebut. Hal tersebut menandakan puisi penyair tersebut sering dicari di intenet menggunakan gooogle.com.

Tags:

09 JanJurnal dan Buku yang membahas dan mengutip puisi karya Nanang Suryadi

Beberapa buku sastra dan bahasa untuk SMA mengutip karya puisiku dalam pembahasan atau apresiasi, antara lain:

“Buku yang diambil sebagai kajian adalah buku: (1) Kaji Latih Bahasa dan Sastra Indonesia 2a dan 2b (2005) yang diterbitkan oleh Penerbit Bumi Aksara, (2) Bahasa dan Sastra Indonesia 1 untuk SMA Kelas X (2004) yang diterbitkan oleh Erlangga, dan (3) Aktif Berbahasa dan Bersastra Indonesia Jilid 2 untuk Kelas XI (2005) yang diterbitkan oleh Empat Kawan Sejahtera. Buku tersebut ditulis dengan mengacu dan menjabarkan pada Standar Kompetensi Kurikulum 2004 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dalam buku tersebut, karya sastra yang digunakan sebagai materi pengajaran sastra meliputi puisi, naskah drama, cerpen, dan novel.

Puisi yang dipilih sebagai materi pengajaran adalah “Sepanjang Jalan Puisi” dan “Ingin Kutulis Untukmu” karya Nanang Suyadi,
“Gadis Peminta-Minta” karya Toto Sudarto Bachtiar, “Balada Tamu Museum Perjuangan” karya Taufiq Ismail, dan “Balada Ibu yang Dibunuh” oleh W.S. Rendra.”

Sumber: Lustantini Septiningsih, PENGAJARAN SASTRA SEBAGAI UPAYA MEMBENTUK MANUSIA YANG CINTA TANAH AIR: HARAPAN DAN KENYATAAN, Kajian Linguistik dan Sastra, Vol. 20, No. 1, Juni 2008: 48-55

 

Kalian telah melakukan pengamatan terhadap berbagai bentuk
puisi remaja, yang dimuat di majalah, surat kabar, atau buku
kumpulan puisi. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, silakan
kalian jawab pertanyaan ini!
1. Apa yang dimaksud puisi remaja?
2. Apa ciri-ciri puisi remaja?
3. Parafrasakan puisi berikut!

Epilog
Nanang Suryadi
Sempurnalah sempurna segala ingin
Di ambang surup matahari mendingin
Segala senja telah kau beri tanda
Di padang padang buru di tebing tebing cuaca
Telah disemayamkan segala kelakar
Terbakar bersama belukar julai akar
Ke dalam diri ke luar diri
Menembus batas segala mimpi
Demikian, sunyi tak terbagi
Milikku sendiri
Sumber: Sutardji Calzoum Bachri, Hijau Kelon dan Puisi 2002. Jakarta: Kompas
○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○ ○

Sumber: Kompetensi Berbahasa dan Sastra Indonesia, Syamsudin Ar dkk, 2008, PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

06 JanReview Puisi-Puisi Nanang Suryadi

Buku puisiku banyak dibahas oleh para kritikus sastra, diantaranya:

06 JanArtikel Jurnal dan Thesis Yang Mengutip Puisi dan Esai Nanang Suryadi

Silakan klik link berikut, yang mengutip puisi dan eseiku:

Cyber-Urban Activism and the Political Change in Indonesia

KAJIAN REPRODUKSI PUISI DIGITAL PADA ANTOLOGI PUISI DIGITAL CYBERPUITIKA 

04 JanMakalah dan Power Point Nanang Suryadi di TSI III Tanjung Pinang

Pada 28-30 Oktober 2010 saya berkesempatan menjadi pemakalah di Temu Sastrawan Indonesia  III bertempat di Tanjung Pinang, bersama: Putu Wijaya, Akmal N. Basral, Hasan Aspahani. Berikut makalah yang saya sampaikan beserta powerpointnya.

FENOMENA SASTRA INDONESIA MUTAKHIR (Powerpoint)

FENOMENA SASTRA INDONESIA MUTAKHIR 2010 (Makalah)

Selamat membaca :)

02 JanDownload File Ebook Puisi Nanang Suryadi

Silakan rekan-rekan yang ingin membaca  karya-karya puisiku dalam bentuk e-book format pdf. Klik link berikut:

Selamat membaca!

02 JanBuku Nanang Suryadi dikoleksi Perpustakaan Australia dan Amerika Serikat

Beberapa bukuku ternyata di simpan di perpustakaan luar negeri, dapat ditelusuri di link-link berikut:  Worldcat.org ; Catalogue.nla.gov.au ; openlibrary.org

Buku-buku yang menjadi koleksi tersebut adalah:

Silhuet panorama & negeri yang menangis (Book, 1999) 

Telah dialamatkan padamu (Dewata Publishing, 2002)

Analisis makro dan mikro : jembatan kebijakan ekonomi  (Editor: [Khusnul Ashar; Gugus Irianto; Nanang Suryadi)