Pioner Sastra Cyber

http://www.beritajatim.com/siapadia.php?newsid=1037

19 November 2011 13:26:13 WIB 
Nanang Suryadi

Pioner Sastra Cyber

Reporter : Brama Yoga Kiswara

Malang(beritajatim.com) - Kau tak dapat berbohong dengan sajak, karena sesungguhnya, hatimu teleh menera jejak. Jika kabar demikian samar, sajak mengajakmu untuk menebak, teka-teki kehendak puisi telah memenuhi ruang kepalaku, riwayat-riwayat yang minta dicatat, keindahan yang minta dikabarkan.

Penggalan syair indah di atas terangkum dalam judul, “Dengan Sajak Kukabarkan Puisi”. Selintas tergambar, ada banyak kata-kata dan untaian peristiwa yang masih menimbun dalam otak seorang Nanang Suryadi. Ya, dalam jagat kepenyairan dan sastra Indonesia, nama Nanang sudah tak asing lagi.

Bapak dua anak yang banyak melakukan terobosan spektakuler dalam perkembangan dunia sastra online, Nanang bisa jadi pionernya. Cybersastra atau sastra online adalah buah pikir yang kini banyak dijadikan kegemaran penyair mempublikasikan seluruh karya-karyannya.

Diera digital online dewasa inilah, cermin perkembangan dunia sastra, semakin dinamis menembus ruang dan waktu. “Saya berharap ada banyak karya sastra lewat media online dan internet. Ke depan, harus ada akses mudah bagi pembaca untuk menikmati sebuah karya sastra,” ungkapnya, Sabtu (19/11/2011).

Siapa sebenarnya Nanang Suryadi? Pria Kelahiran Pulomerak, Serang, Jawa Barat pada 8 Juli 1973 itu ternyata seorang Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya (UB) Malang. Saat ini, Nanang menjabat sebagai Pembantu Dekan III, UB Malang. Aktif sebagai penyair dan sastrawan di tengah kesibukannya di dunia kampus, bak dua sisi keping mata uang. Padatnya jadwal mengajar dan bimbingan kuliah pada Fakultas Ekonomi, tak menyurutkan tekad Nanang untuk terus membukukan karya-karya sastranya.

Nanang adalah penggagas Yayasan Multimedia Sastra (YMS). Ia juga aktif sebagai redaktur pusi pada Cybersastra.net, tempat berkumpulnya karya-karya sastra terbaik dari seluruh penjuru negeri. Kelak, Nanang berharap media internet bisa menjadi lahan subur bagi penyair dengan karya-karya sastra terbaiknya. Di era saat ini, sejumlah penyair pun mengakui jika media internet, punya peranan sangat besar untuk mempubliskan dunia sastra. “Dulu saat muncul sastra cyber banyak yang pesimis. Tapi sekarang, sudah tidak lagi. Sejumlah penyair justru banyak menggunakan internet untuk mempertunjukkan karya mereka,” paparnya.

Darah kepenyairan Nanang ditempa pada era tahun 1990 saat masuk kuliah di Fakultas Ekonomi, UB Malang. Dari sinilah, Nanang akhirnya bertemu dengan tokoh-tokoh penyair asal Malang Raya macam KH Taufan Aminudin, Wahyu Prasetyo, sampai Ratna Idraswari Ibrahim. “Mereka turut memberi warna dalam perjalanan kenpeyairan saya,” kata Nanang yang juga menjadi Pengurus Dewan Kesenian Malang (DKM).

Dijelaskan Nanang, perkembangan dunia sastra di Malang khususnya, perlahan mulai naik daun. Saat ini, sastra di Malang masih berkutat pada proses-proses kreatifnya. Hal itu sangat bagus. Peminat sastra dari kalangan mahasiswa yang sangat tinggi, mencerminkan dunia sastra dan kepenyairan, akan terus berkembang pesat.

Menurut Nanang, kunci jika ingin menjadi seorang penyair gemilang dengan karya-karya terbaiknya hanya ada empat langkah. Pertama banyak-banyaklah menulis, kedua terus menulis, ketiga jangan berhenti menulis, dan yang terakhir banyaklah membaca. “Tulis, tulis dan teruslah menulis. Meskipun hasilnya jelek, jangan takut untuk terus menulis. Jika ingin sukses menulis, banyak-banyaklah membaca apa saja,” paparnya.

Kini, Nanang sukses menerbitkan dua buku terbarunya di tahun 2011 ini. Buku berjudul BIAR berisi kumpulan syair dan karya sastranya, menjadi nominator shortlist penghargaan festivalpembacaindonesia.com. Awal bulan depan, pengumuman pemenang ini, akan digelar di Jakarta. “BIAR, dicetak oleh Indiebook Corner. Tapi sudah banyak juga dan tersebar di sejumlah toko buku,” ucap Nanang yang tinggal di Landungsari Indah Blok I/No16, Kota Malang itu.

Selain BIAR, buku dengan judul Orang-Orang Yang Menyimpan Api Dalam Kepalannya, disebut-sebut menjadi buku best seler, penjualannya saat ini sudah diatas 3.000 eksemplar dengan penerbit UB Press. Buku tersebut, konon lagi, banyak diperbincangkan sejumlah penyair karena melebihi catatan dan tulisan Gunawan Mochammad (GM). “Setiap penulis dan penyair pasti punya penggemar berbeda. Bagi saya, kepopuleran nama-nama penyair besar macam Chairil Anwar, Sutardji ColzOum Bachri, GM, dan lainnya sangat mengilhami jalan kepenyairan saya sampai detik ini,” pungkasnya.

Berikut adalah karya-karya Nanang Suryadi selama menekuni dunia kepenyairan: Sketsa (HP3N, 1993), Sajak Di Usia Dua Satu (1994), dan Orang Sendiri Membaca Diri (SIF, 1997), Silhuet Panorama dan Negeri Yang Menangis (MSI,1999) Telah Dialamatkan Padamu (Dewata Publishing, 2002) sebagai kumpulan puisi pribadi. Sedangkan antologi puisi bersama rekan-rekan penyair, antara lain: Cermin Retak (Ego, 1993), Tanda (Ego- Indikator, 1995), Kebangkitan Nusantara I (HP3N, 1994), Kebangkitan Nusantara II (HP3N, 1995), Bangkit (HP3N, 1996), Getar (HP3N, 1995 ), Batu Beramal II (HP3N, 1995), Sempalan (FPSM, 1994), Pelataran (FPSM, 1995), Interupsi (1994), Antologi Puisi Indonesia (Angkasa-KSI, 1997),Resonansi Indonesia (KSI, 2000), Graffiti Gratitude (Angkasa-YMS, 2001), Ini Sirkus Senyum (Komunitas Bumi Manusia, 2002), Hijau Kelon & Puisi 2002 (Penerbit Buku Kompas). [yog/ted]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title="" rel=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>