INTERAKSI SAJAK (3)

Esei Nanang Suryadi

Dalam beberapa bulan terakhir, sebagai redaktur puisi cybersastra.net, saya menemukan banyak kejutan-kejutan saat membaca sajak-sajak yang masuk. Ah, bikin mabuk, membaca semua sajak-sajak ini, bayangkan paling tidak 50 sajak setiap harinya, berapa waktu yang harus dicadangkan untuk membaca semuanya? Selain kejutan-kejutan itu, banyak juga ditemui sajak-sajak yang tak beranjak dari model-model Pujangga Baru yang tenang kemilau, atau “Aku”-nya Chairil Anwar. Tidak menawarkan sesuatu yang baru mengikuti perkembangan jaman. Mungkin saya keliru mengidentifikasi, sebagaimana diutarakan di muka. Karena menurut seorang rekan yang meneliti sajak-sajak dalam bahasa Inggris, ia bilang banyak poems yang lurus-lurus saja (atau jangan-jangan ia sebenarnya tidak tahu belokannya di mana? Hehehe). Tapi jika memang dugaan saya betul bahwa sajak-sajak itu tak beranjak dari model Pujangga Baru yang tenang dan kemilau atau “Aku” sang fenomenal Chairil, maka sangat disayangkan, karena ternyata informasi yang melimpah ruah yang ditawarkan berbagai media (antara lain internet) tidak dimaksimalkan untuk menjelajahi dunia baru, dunia entah, dunia antah berantah.

Dalam menyikapi fenomena di atas, ada sebagian pengamat mengatakan bahwa itu karena pembelajaran sastra di sekolah yang salah, yang hanya menyodorkan karya-karya jaman “baheula” dan menghafal nama-nama sastrawan, periodesasi dsb. Atau ada juga yang mengatakan, bahwa ada skenario besar yang menghegemoni pemikiran, bahwa hanya karya-karya tertentu milik sastrawan tertentu yang baik dan lazim, yang menurut mereka hal ini dilakukan dengan cara penobatan dan ekpansi oleh pihak “pemenang” sebuah pertarungan estetika (politik?) di waktu lampau.

Ada tinjauan lain yang dapat ditawarkan, yaitu melihat motivasi seorang ketika menulis dan menyiarkan sajak. Tinjuan terhadap motivasi ini dapat mengidentifikasi apakah seseorang itu bersungguh-sungguh ingin menjadi penyair yang “berprestasi” atau hanya penyair “sekedar.”

Sebagai sebuah kegiatan, menulis dan menyiarkan sajak tentu saja adalah hasil sebuah dorongan, baik internal maupun eksternal yang melakukannya. Dorongan ini bisa terlihat hasilnya secara fisik, namun seringkali merupakan hal yang berkaitan dengan psikologis. Secara teoritis banyak hal yang membuat seseorang termotivasi. Saya meminjam dua teori motivasi yaitu teori Abraham Maslow tentang Hierarchy of needs dan McClelland theory of needs. Dua teori ini mengungkap bahwa seseorang melakukan sesuatu karena didorong untuk memenuhi kebutuhannya (needs). Masslow membuat hierarki kebutuhan yang harus dipenuhi tersebut, yaitu physiological, safety, social, esteem dan self actualization. Sedangkan McLelland membagi kebutuhan manusia menjadi Need for Achievement, Need for Power dan Need for Affilization. Dari kedua teori ini, faktor apa yang dominan seorang penyair menulis dan menyiarkan karya-karyanya? Demikian banyak penyair, maka tak akan mudah untuk mengidentifikasi apa yang memotivasinya. Karena kemungkinan-kemungkinannya menyebar ke semua faktor tersebut di atas.

Dalam beberapa kali kesempatan kegaiatan sastra, Sutardji Calzoum Bachri menyatakan: achievement! Yang katanya “achivement” ini akan menjadikan seseorang tidak menjadi penyair yang “sekedar”. Dari kedua teori di atas apa yang dikatakan Sutardji tersebut dapat dibaca bahwa untuk menjadi seorang penyair “besar”, maka ia harus melampaui kebutuhan-kebutuhan yang lain (dalam hierarki kebutuhan Masslow) seperti Phisiological, Safety, Social, karena achievement dalam hierarki ini termasuk ke dalam “Esteem” (tangga ke empat dari hierarki). Pertanyaannya mengapa hanya sampai tangga ke empat? Tidak sampai pada tangga puncak Self –Actualization?

Lalu hubungannya dengan model-model yang tak beranjak dari Pujangga Baru itu bagaimana? Mungkin begitu pertanyaan selanjutnya. Dengan memakai kategori “penyair berprestasi” dan “penyair sekedar” maka dapat dikatakan bahwa upaya sungguh-sungguh untuk menjadi “penyair berprestasi” didorong untuk memenuhi kebutuhan “achivement”. Dan itu akan menunjukan perilaku yang berbeda, penyair itu akan mencari banyak hal, belajar sungguh-sungguh, mengupayakan pendobrakan-pendobrakan estetika dsb. Di sisi lain, “penyair sekedar” tak memerlukan itu, karena ia memang tak membutuhkan itu dari sebuah sajak, ia dapat mencapai achivement bahkan self-actualization dari kegiatan lain, misalnya di kantor ia bekerja, sebagai CEO atau Presiden Komisaris di perusahaan multinasional….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title="" rel=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>