Archive for December 27th, 2002

Last updated by at .

27 DecRambatan Usia

Rambatan usia sebagai sulur-sulur antara gelap dan cahaya

Menelusur riwayat hingga jejak yang terakhir

Ke batas segala lindap segala senyap

Hingga tetamburan diri henti gemuruh riuhnya

8 Juli 2002

 

27 DecBurung Kata-Kata

Jutaan kata melesat ke angkasa

Terbang tak tentu sampai ke mana

(jutaan burung kata-kata menyerbu langit mencari arah pulang menabrak mega-mega menabrak atmosfir menabrak bulan menabrak bintang menabrak nebula menabrak meteor menabrak asteroid menabrak lubang hitam)

— di mana tahta Sang Raja kata-kata?

 

Tags:

27 DecSeputih Lupa Sebiru Ingatan

Seputih lupa, katamu. Tapi ingatan berwarna-warna. Dengan jemari kulukisi kanvas waktumu. Hingga sorot matamu menerawang menerbang ke masa lalu. Terowongan yang tak habis kau telusuri. Hingga warna segala warna memasuki tidurmu. Mimpimu yang berwarna. Mungkin biru. Ingatan yang biru.

Ingatan demikian biru. Seperti langit. Seperti laut. Seperti rindu dari masa lalu. Tapi ada yang ingin menghapus segala kenang. Seputih lupa, katamu. Di sudut mata. Menggenang butir airmata.

Tags:

27 DecHuruf Yang Minta Dibunuh

Sehuruf kata meminta penyair

Membunuh dirinya sendiri

!

Depok, 5 September 2002

Tags:

27 DecBatu Hitam

batu hitam. batu hitam. meluncur di malam kelam. dari langit jauh.

dari waktu yang entah.

batu hitam. batu hitam. mendiam di sudut.

seperti kenangan yang melesat. batu hitam melesat dari ruang entah

pada saat entah.

bintang jatuh katamu. pada malam yang rapuh.

menemu gigil lelaki. yang mendirikan kenangan dari sorga yang jauh.

 

Tags: ,

27 DecMemasuki Kota Menhir

memasuki kota menhir, sayatan pahat pada batu-batu, aroma purba

arus mimpi mengundangku datang menemu wajahmu kota tua

seperti kutemukan wajahku di situ

tubuh yang disalibkan di pancang batu

telah tersesat domba-domba beterjunan ke lumpur hitam

hingga mengembik di sekarat legam

doa doa apa yang dilontarkan ke langit

sebagai deru sebagai teriak jerit pahit

memasuki kota menhir, lingga patah, yoni retak

wajah mimpiku pecah berderak

Depok, 11 September 2002

Tags: ,

27 DecSEBAGAI NYERI DALAM DADA

senyeri dalam dadaku kekasih engkau adalah tikaman hunjaman sayatan ke dalam dadaku yang tak henti dengan segala tatap yang memporakan segala rahasia hidupku kekasih yang kau asingkan ke dunia demikian asing dan penuh goda hingga terasa sia-sia segala usia di mana tak kutemukan engkau dalam nadi jiwaku selain denting denting yang timbul tenggelam dari masa lalu dalam hilap dan alpa yang menggunting gunting ingatan hingga compang camping hidupku dengan segala khianat perselingkuhan pada kesejatian cintamu dengan goda sihir dunia yang dihembus sebagai silir angin nafsu birahi pada kelamin yang menegang dan mata yang membelalak terpukau pada selain engkau o kekasih yang jauh dalam kenanganku di mana engkau aku mencarimu dengan segala luka dalam jiwaku merindu dirimu dengan tangan menggapaigapai ingin jumpa dirimu dalam sekarat mautku dalam derita kesepian bikin nyeri menjadi-jadi dalam dada sendiri demikian lebur dalam amuk sajak tak henti ingin menemu akhir dan mula katakata

Depok, 2002

 

27 DecSEBAGAI ORANG YANG MENZALIMI DIRI SENDIRI

sebagai adam yang terusir dari negeri jauh itu akupun menangis dan memohon ampun atas penzaliman diri sendiri sebagai nuh yang menangis mendoa di hujan deras meminta ampunan bagi kanaknya yang durhaka sebagai yunus yang lari dari kaumnya di perut ikan nun sebagai ibrahim yang berdoa meminta ampunan bagi bapak pembuat berhala aku berdoa sebagai orang-orang yang telah menzalimi diri sendiri di usia sia-sia tak henti menerima kekalahan diri sendiri dari goda dari angan mimpi yang dikejar sebagai bayang tiada habis ke ujung cakrawala gairah yang menyala sambil mencoba menipu diri sendiri menipu tatapmu berulangkali dengan khianat tapi engkau demikian tajam menatap tak aku sanggup sembunyi bahkan dari diri sendiri yang menyeru agar aku berhenti menzalimi diri sendiri di lintasan waktu yang membuat dada cintaku pecah berhamburan peristiwa-peristiwa kegilaan pikiran memuncak puncak ke cakrawala otakku hingga burai segala isi sebagai pecahan-pecahan kaca kepingan wajahmu terbanting ke lantai kasar jiwaku yang gelap rindu cahaya cintamu rindu cahaya ampunmu rindu cahaya kasihsayangmu selalu.

Depok, 2002

 

27 DecADALAH KANAK-KANAKMU

Kanak-kanak berlarian ke ujung cakrawala. Adalah kanak-kanakmu yang memburu harap. Dengan mimpinya yang tumbuh dari dalam kepala. Bersulur-sulur ingin gapai pelangi, bintang, rembulan, matahari dan biru langit. Adalah kanak- kanak yang berlarian telanjang kaki dengan keperihan dalam dada. Menyeru nama ayah ibu. Menyeru masa lalu. Karena compang camping sejarah dijejalkan ke dalam tempurung kepala. Sebagai perca penuh darah dan nanah.

Sebagai kanak-kanak mereka berlari mengejar bayang-bayang. Dalam tatap bengis orang dewasa. Dalam letus senapan. Dalam ledak bom. Mereka berlari memegang ranting zaitun. Menggambar burung merpati di setiap tembok kota.

Mereka adalah kanak-kanakmu, menyeru namamu. Merindu negeri jauh itu.

Depok, 16 Desember 2002

 

Tags: ,